Jumat, 27 November 2015

DRAMATURGI TRANSENDENTAL PETANI TEMBAKAU; oleh Pribumi atas Pribumi

           
Penulis di sini ini tidak bermaksud untuk melakukan aksi rasisme dalam tulisan ini. Tulisan ini hadir atas keluhan masyarakat yang mereka berprofesi sebagai petani. Apa yang mereka alami ternyata berbeda jauh dengan apa yang diwacanakan oleh orang banyak, kalau boleh penulis katakan, dengan meminjam bahasa Prof. Dr. Nur Syam seorang guru besar sosiologi agama UIN Sunan Ampel. “Dramaturgi Transendental atas Petani Pribumi oleh Pribumi”.
Pernyataan yang tak jarang kita dengar di kalangan orang banyak (pribumi) adalah, “hati-hati dengan orang asing (China)”. Pernyataan tersebut seakan menjadi bahasa ampuh untuk menumbuhkan rasa benci terhadap orang non pribumi yang tinggal di Indonesia. Akibat dari pernyataan tersbut, akhirnya masyarakat mengalami ksisis truth (krisis kepercayaan) terhadap orang non pribumi, dalam hal ini juga sama dengan apa yang dilakukan oleh para petani.
Petani adalah sebuah profesi yang sangat mulia. Jika tidak ada petani di negeri ini, maka kemungkinan negara kita ini akan selalu mengalami ketergantungan kepada negara-negara asing, jika tidak ada petani, kita tidak akan bisa makan. Dan bila kita lihat mayoritas penduduk Indonesia ini berprofesi sebagai petani.
Seorang petani yang begitu ikhlas, gigih, serta rela berpanas-panasan di bawah terik matahari, hanya untuk menjadikan hasil tanamannya bagus hingga bisa dijual dengan harga yang cukup tinggi, dan biaya dari hasil penjualan tanaman tersebut semata-semata untuk membiayai keluarganya. Tanaman yang berpendapatan besar biasanya tanaman tembakau.
Indonesia merupakan penghasil tembakau terbesar keenam di dunia http://komunitaskretek.or.id/ragam/2013/03/6-negara-produsen-tembakau-terbesar-dunia/ . oleh sebab itu, apabila tembakau di negeri ini anjlok, maka besar kemungkinan APBN kita akan menurun drastis.
Ada beberapa permasalahan yang pernah penulis dengar dari para petani, khususnya petani tembakau diantaranya:
Pertama, ketidak jelasan harga. Petani tembakau cenderung tidak mengetahui berapa harga hasil tanamannya (tembakau) pada setiap musimnya. Mereka hanya bermodalkan percaya kepada bos atau pengusaha tembakau serta berharap dan berdoa agar hasil tembakaunya laku dengan harga tinggi. Harga tembakau dengan sewenang-wenang ditentukan oleh perusahaan atau pemodal tanpa diketahui oleh para petani, dan untuk menentukan harga, biasanya perusahaan mengundang petani yang pro terhadap perusahaan tersebut dan itupun hanya sedikit petani yang diundang. Biasanya, alibi yang digunakan oleh pemodal jika ingin menentukan harga adalah faktor musim atau cuaca, jika cuaca saat menanam tembakau itu mendukung, maka harga tembakau kemungkinan tinggi, begitu juga sebaliknya jika cuaca buruk, maka harga tembakau akan menjadi anjlok. Padahal barometer kualitas tembakau itu bukan dengan cuaca, banyak sekali tembakau yang hasilnya bagus di saat cuaca buruk. Untuk menentukan kualitas tembakau itu dari bibit tembakau itu sendiri, bila bibitnya bagus maka tak bisa diragukan lagi akan melahirkan kualitas tembakau yang bagus pula. Praktek permainan harga kebanyakan dilakukan oleh orang pribumi atau sesama saudara setanah air sendiri, karena orang pribumilah yang lebih banyak mengerti dan mengetahui kondisi lapangan dibanding bos-bos Asing (China) lainnya, sehingga dengan semena-mena mereka (pribumi) mempermainkan saudaranya sendiri. Para pemodal yang pribumi sering membeli hasil tanaman saudaranya sendiri dengan harga murah, hal ini berbeda dengan pemodal asing, dia sering membeli tembakau para petani dengan harga yang relatif tinggi, dan akhirnya mayoritas di mata para petani tembakau, mereka lebih memilih menjual tembakaunya kepada pemodal asing, bukan kepada saudaranya sendiri yang suka membuli, padahal mereka sering memakai peci.
Kedua, PPHP (Pemodal Pemberi Harapan Palsu). Para petani tembakau yang hasil tanamannya tidak laku biasanya mereka menitipkan kepada pemodal untuk dimasukkan (dijual) ke pabrik dengan kesepakatan biasanya pemodal itu memberikan seperempat sampai setengah harga di pasaran kepada petani tersebut. Dan yang terjadi mayoritas pemodal tersebut selalu mengatakan tidak laku, padahal sebenarnya tembakau tersebut sudah masuk gudang (pabrik). Dan praktek ini juga banyak dilakukan oleh pemodal pribumi sendiri.
Ketiga, subsidi pemerintah yang tidak berkualitas. Pemerintah dalam hal ini kementrian pertanian memang punya keinginan yang baik untuk memajukan pertanian di Indonesia, maka dari itu pemerintah sering memberikan subsidi kepada para petani. Subsidi yang diberikan kepada petani khususnya petani tembakau biasanya berupa pupuk dan bibit. Hal ini penulis tidak menyalahkan pemerintah, akan tetapi kekurangan dari subsidi yang pemerintah berikan kepada para petani tembakau selalu menggunakan sistem tender. Jika sudah menggunakan sistem tender, maka harga yang termurah itulah yang akan lolos dalam tender tersebut (diluar permainan pemerintah dengan pemenang tender). Jika sudah begitu maka, yang menjadi korban tak lain adalah para petani tembakau itu sendiri, karena bila subsidi (pupuk/bibit) murah, maka bibit/puput tersebut akan berkualitas buruk dan nantinya akan berdampak pada keburukan tembakau itu sendiri.
Itulah sekelumit “permasalahan (Dramaturgi) yang tak jarang orang mengetahui dan tak menyangka itu bisa terjadi (Transendental)” yang didera oleh para petani tembakau saat ini dan mungkin sudah sejak dulu, oleh sebab itu sebagai penutup penulis ingin memberikan sedikit masukan kepada pemerintah yaitu:
1. Untuk menghindari terjadinya permainan harga di kalangan elit pengusaha tembakau. Agar dibentuk PERDA/PERGUB tentang harga tembakau, supaya menjadi patokan bagi para bos-bos yang nakal. http://www.lombokpost.net/2015/11/25/harusnya-ada-perda-harga-tembakau/ 
2. Untuk menjaga kualitas tembakau, maka subsidi pemerintah (Kementrian Pertanian) tidak usah menggunakan sistem tender, lebih baik langsung di berikan kepada kepada desa masing-masing atau kepada kelompok tani masing-masing di setiap daerah. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar