Selasa, 14 Januari 2014

Mathlabul Ulum; Antara Tren Tradisionalisme dan Tren Modernisme



Oleh: Muhammad Rasyidi
        Transformasi model pendidikan dan pengajaran yang kian marak dewasa ini, dari model yang dianggap hanya sebatas pendidikan dan pola pengajaran yang stagnan dan monoton, tapi adapula model-model yang dianggap mempunyai kontribusi besar terhadap pertumbuhan peserta didik sehingga dengannya, peserta didik atau murid menjadi anak yang lebih produktif dibandingkan dengan mengaplikasikan model pembelajaran yang monoton, biasanya model pembelajaran yang produktif tadi, digunakan di sebuah lembaga yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya, seperti lembaga-lembaga yang bertaraf nasional maupun internasional.
Dalam sebuah tulisan yang mungkin sangat sederhana ini, penulis akan sedikit mengupas dan menghidangkan kepada para pembaca yang budiman, sebuah model pembelajaran yang sangat, sangat dan sangat tradisional sehingga mungkin model pembelajaran ini banyak dihiraukan dan didiskreditkan oleh kebanyakan pendidik. Model pembelajaran ini biasanya banyak diterapkan pada lembaga-lembaga kaum sarungan, kaum peci hitam tapi juga tak ketinggalan, yakni di pesantren-pesantren yang notabene peserta didiknya para penggiat sarung dan peci hitam, yakni sebuah model klasik tapi tak ketinggalan dengan apa yang berkembang di era modern.
Dalam tulisan sederhana ini, penulis kerucutkan sedikit model pendidikan ini yang diterapkan pada sebuah lembaga yang sangat sederhana, dan berada di tempat terpencil namun bisa menjadikan peserta didiknya mengetahui mana yang hak dan mana yang bathil, yaitu Pondok Pesantren Mathlabul Ulum Jambu Lenteng Sumenep Madura.
Dan juga, penulis akan menghidangkan bagaimana pola kehidupan dan kebersamaan dalam penjara suci yang lahir dari pola pengajaran klasik tapi menghasilkan kaum sarungan yang berkualitas dan menghasilkan peserta didik atau santri yang multi fungsi dan multi talenta.
Hikmah di balik petuah “huruf alif” di sini sama dengan huruf “alif” di Madinah”.
            Adalah Pondok Pesantren Mathlabul Ulum yang berada di sebuah desa yang bernama Jambu kec. Lenteng Timur, dimana pesantren ini dengan ketabahan dan kesabaran serta ke-tafaqquh fiddin-nya KH. Taufiqqurrahman Fathul Mu’in mendirikan dan merintis pesantren yang tetap teguh dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan tetap berafiliasi pada Nahdhatul Ulama’. Mengapa tidak, seorang KH. Taufiqqurrahman FM yang menjadi tokoh panutan di masyarakat khususnya masyarakat sumenep, ketua dewan Syuro NU Cab. Sumenep selalu disandang oleh kiyai yang notabene berlatar belakang dari keluarga NU ini.
            Ada sebuah kisah yang lucu dan penulis tertatih-tatih saat mendengarkan cerita dari pak kiyai sewaktu penulis menuntut ilmu di sana, dimana kisah ini melatar belakangi berdiri tegaknya Pondok Pesantren Mathlabul Ulum yang kebanyakan santrinya mengetahui akan kisah ini, dimana, sewaktu setelah KH. Taufiqurrahman lulus dari almamaternya Darussalam di Gontor Ponorogo, beliau berkeinginan untuk melanjutkan studinya ke sebuah Universitas di Madinah. Dan sebelum beliau melanjutkan studinya beliau bercerita kepada kedua orang tuanya akan keinginannya tersebut. Kesedihan dan rasa prihatin menghampiri kedua orang tua beliau, dikarenakan kadua orang tua KH. Taufiqurrahman tidak mempunyai banyak biaya untuk membiayai anaknya yang berkeinginan melanjutkan studinya ke Madinah tersebut. Dengan ketabahan dan rasa tanggung jawab sebagai orang tua, akhirnya orang tua KH. Taufiqurrahman menjual sebidang tanah guna membiyai anaknya (tanah yang dijual oleh orang tua beliau yang sekarang dibangun kantor POLSEK Bluto).
            Saat sebelum berangkat ke Madinah, KH. Taufiqurrahman FM, berniat ingin meminta restu dan do’a ke salah satu kiyai besar, panutan masarakat Madura, yaitu KH. Asnawi (ghafarallahu dzunubahu), agar dalam menuntut ilmu di sana senantiasa mendapat ridho Allah sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat. Sesampai di kediaman KH. Asnawi, Kiyai Taufiq mencurahkan keinginannya dan menceritakan kepada Kiyai Panutan Madura tersebut dengan sangat santun dan penuh tatakrama, akan tetapi keinginan kiyai taufiq muda yang diceritakan kepada beliau (kiyai Asnawi) seakan berbalik arah, seakan harapan dan keinginnanya hilang sekejap mata setelah kiyai Asnawi mengatakan (adebu) dengan santainya “mau ngapain jauh2 nuntut ilmu ke Madinah, huruf “alif” di sini sama dengan huruf “alif” di Madinah”.
            Setelah mendengar wejangan dari kiyai Asnawi, kiyai Taufiq muda hanya terdiam tanpa aksara, hatinya terasa gundah gulana bak orang yang lagi dilema asmara, dimana dia harus memilih antara meneruskan keinginannya studi ke Madinah dan mematuhi apa yang telah di katakan oleh Kiyai Asnawi –red-.
            Namun setelah bertafakkur secara matang dengan kesabaran dan ketabahan serta rasa ta’dzim kepada kiya-kiyai yang ada di Madura. kiyai Taufiq muda memilih untuk tetap pada garis penghormatan terhadap apa yang telah dikatakan oleh kiyai Asnawi tadi, yakni tetap berada di Madura untuk menuntut ilmu.
            Ternyata benar, petuah-petuah yang disampaikan oleh Kiyai Asnawi ini banyak mengandung hikmah. Secara garis besar ada dua hikmah apabila diamati dari petuah kiyai Asnawi ini. Pertama, dibalik petuah yang disampaikan oleh kiyai Asnawi ternyata ada modus (dalam bahasa remaja sekarang) yaitu; kiyai Asnawi mungkin melihat sosok kiyai Taufiq muda ini terdapat rasa tanggung jawab besar dalam dirinya, sehingga tak lama kemudian kiyai Taufiq muda diminta untuk menjadi pemimpin bagi putri kiyai Asnawi yaitu Nyai Ulfah Umamiyah (putri kiyai Asnawi Imam). Kedua, setelah menikah dengan putri kiyai Asnawi, terdapat hikmah besar yang mungkin menjadi torehan tinta bagi perjalanan hidup kiyai Taufiq muda ini, yaitu; mendirikan Pondok Pesantren yang diberi nama “Mathlabul Ulum” yang awalnya hanya sebuah lembaga pendidikan diniyah (sekolah sore).
            Dua hikmah inilah, yang mungkin tak bisa ditukar dengan keinginan kiyai Taufiq muda melanjutkan studi ke Madinah dengan petuah sederhana kiyai Asnawi “alif” di sini sama dengan “alif” di Madinah”.
Antara Tren Tradisionalisme Dan Tren Modernisme
            Seperti yang telah penulis sebutkan di atas bahwa, model pembelajaran yang dianut oleh kaum sarungan dan kaum penggiat peci hitam ini tidak terkesan apatis terhadap tren-tren klasik yang telah mengakar menjadi tradisi, dan juga tidak kalah saing dengan tren modernisme yang marak dewasa ini. Dengan kurikulumnya, Mathlabul Ulum ini telah menjembatani antara khazanah keilmuan ukhrawi (agama) dan khazanah keilmuan duniawi (umum). Pondok pesantren Mathlabul Ulum ini tidak hanya berkutat pada khazanah keilmuan agama saja yang notabene benyak diterapkan di pesantren-pesantren di tanah Jawa, akan tetapi pondok sederhana ini juga menerapkan dan mengajarkan pelajaran-pelajaran umum, sehingga para santri sekalipun bertahun-tahun berada di penjara suci, mereka juga tidak ketinggalan dengan apa yang berkembang di luar pesantren.
            Terbukti dengan mata pelajaran yang di terapkan di Ma’hadul Mu’allimin al-Islamie (MMI), di sana ada berbagai mata pelajaran yang harus dipelajari oleh santri, sehingga para santri dapat menyandang santri yang multi fungsi dan multi talenta. Tak ada yang namanya jurusan IPA dan tak ada yang namanya jurusan IPS, di MMI ini semuanya serba ada, mulai dari pelajarang yang bernuansa agamis dan pelajaran yang umum, sehingga para santri dapat memilah dan memilih mana yang akan ia tekuni dan mana yang ia senangi.
            Begitu pula dengan kehidupan para santri yang ada di penjara suci ini, sekalipun kurikulum yang diterapkan di pesantren ini adalah kurikulum modern, tapi para santri tetap gegap gempita dengan sarung dan peci hitam kebanggaannya, kebersamaan dan kekeluargaan serta kesederhanaan selalu melekat dalam pribadi setiap santri, tak kenal dengan namanya yang kaya dan yang miskin, kesetaraan dan kesejajaran itulah yang selalu mereka anut dalam berkehidupan sehari-hari. Berpenampilan rapih dan bersih serta berjalan dengan tegap seakan menjadi hal aksiomatik (Qhat’iyah) dalam pesantren ini, tradisi klasik seperti tahlilan, diba’an juga merupakan kegiatan rutinitas yang dilakukan oleh santri setiap malam jum’at, akan tetapi mereka juga tidak ketinggalan bagaimana mereka belajar retorika baik retorika berbahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Maka dengan seperti ini para santri benar-benar telah merasakan bagaimana benarnya adagium “al-Muhafadzatu ‘ala Qodimi as-Sholih wa al-Akhdu bilJadidil ashlah” (menjaga tradisi yang lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).
            Inilah pola kehidupan seorang santri ala Mathlabul Ulum Islamic Boarding School. Bangga dengan tradisi lamanya yang baik, tapi tak lupa dengan tradisi baru yang lebih baik. Harapan penulis semoga pesantren ini tetap konsisten pada jalan yang telah lama diterapkan dan tak goyah dengan model pendidikan yang diaplikasikan di pesantren-pesantren lainnya. Tetap jadi diri sendiri dan mandiri agar menghasilkan santri yang multifungsi.
Wassalam, semoga bermanfaat…….!!

1 komentar: