Sabtu, 14 Desember 2013

SEPOTONG SURGA DI “KAMPUNG PERGERAKAN”



            Nak….!! setelah lulus nanti kamu kuliahnya di STAIN Kediri aja yah, ibu dan bapak khawatir terjadi apa-apa kalau evi kuliahnya jauh-jauh
Begitu tutur orang tua evi saat kedua orang tuanya mengirim Evi di Pondok Pesantren Darul Muttaqien, di penjara suci tempat Evi menuntut ilmu.
            Evipun yang saat itu sudah kelas akhir di Pesantrennya merasa kebingungan setelah mendengar nasehat mulia dari orang tuanya tersebut, bak orang yang disuguhi jamu dan susu dan merasa kebinguangan yang manakah yang akan dia minum, sebab dia sudah mempunyai tekak kuat untuk melanjutkan studinya ke salah satu universitas favoritnya, dengan kegemarannya akan ilmu-ilmu agama yaitu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayaatullah Jakarta.
            Hari demi haripun ia lewati dengan penuh semangat di Penjara suci, agar ia bisa cepat lulus dan bisa lulus dengan hasil yang memuaskan. Ujian akhirpun sudah di depan mata dan Evi jarang keluar kamar, karena ia harus fokus untuk mempersiapkan ujian akhirnya.
            Alhamdulillah berkat kesemangatannya iapun lulus dengan predikat “mumtaz” di pesantrennya. Dengan wajah berseri ia pulang ke rumahnya dan memberikan kabar gembira kepada kedua orang tuanya, karena ia telah lulus dengan predikat mumtaz.
            Kebingungan dan kegalauan telah melandanya yang sedang dilema, dimana, ia merasa takut dikatakan tidak taat kepada orang tua, karena dia disuruh orang tuanya untuk kuliah di dekat rumahnya, sedang ia sangat ingin melanjutkan studinya di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta seperti kakak kelasnya yang juga kuliah di sana.
            Dengan keberaniannya, ia mencoba menghampiri ibunya dan menceritakan keinginan yang ia simpan di dalam lubuk hatinya.
            Evi       : ibu…..
            Ibu       : iya nak, Evi sudah shalat…??
            Evi       : Alhamdulillah sudah ibu
            Ibu       : oh… syukurlah kalau begitu nak…
            Dengan rasa tegang, Evi menghela nafas dalam-dalam dan mengucapkan bismillah dalam hatinya agar curahan hatinya bisa diterima oleh ibunya. 
            Evi       : ibu, evi boleh cerita gak….??
            Ibu       : silahkan nak, mau cerita apa…??
            Evi       : ibu… ada kakak kelas Evi dia orangnya pinter waktu di pondok dulu, sekarang dia sudah kuliah.
            Ibu       : kuliah dimana nak…??
            Evi       : sekarang dia sudah semester tiga kuliah di Jakarta ibu, dia sangat aktif di organisasi dan juga sering keluar daerah untuk mengikuti acara-acara penting yang diakan di luar kampusnya.
            Ibu       : oh… gitu, Evi juga harus lebih dari anak itu. Carilah ilmu kemana yang Evi mau, agar kelak nanti bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat, Nusa dan bangsa.
            Evi       : iya ibu, dengan doa’ dan restu ibu, Evi akan berusaha dengan seluruh kemampuan Evi, agar bisa menjadi seperti apa yang ibu ucapkan tadi. Dengan segala ta’dzim dan memohon restu ibu, Rasanya Evi juga ingin melanjutkan studi ke sana.
            Ibu       : tadi malam, ibu sempat membicarakan masalah itu sama bapakmu nak, dan bapak juga bilang, terserah Evi mau melanjutkan studinya kemana aja, asalkan Evi bisa menjaga diri baik-baik dan selalu ingat usaha orang tua di sini yang susah payah mencari nafkah untuk biaya kuliah Evi.
            Dengan rasa lega dan tenang Evipun bersyukur dan langsung memeluk ibunya, tak terasa cucuran air matapu jatuh dari matanya.
            Tepat seminggu setelah Evi meminta restu kepada ibunya, iya berangkat ke Jakarta untuk menuntut ilmu di Universitas dambaannya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan Evipun Alhamdulillah diterima di Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin.
            Awal perkuliahan, ia terpana tanpa sekalipun kedipan mata saat melihat sekelompok mahasiswa yang berjalan sambil bercanda ria kemudian duduk bersama sambil berdiskusi, dan di sana terpampang sebuah banner berukuran kecil yang bertuliskan “Masa Perkenalan Anggota Baru (MAPABA) PMII KOMFUSPERTUM” dengan tema yang mereka tulis pada banner tersebut “Menanamkan jiwa Nasionalis, Religius dan Idealis” dengan dihiasi gambar sosok Gusdur, dimana Gusdur memang tokoh dambaan dan tokoh favorit Evi sewaktu ia di Pesantren dulu.
Kemudian Evi melanjutkan lambaian tangannya ke lantai 3 untuk mengikuti perkuliahan. Sesampai di kelas, evi masih teringat dengan sekelompok orang yang sedang berkumpul dan sambil berdiskusi tadi, Evipun kurang konsentrasi mendengarkan penjelasan mata kuliah yang diterangkan oleh dosen, karena dalam fikirannya masih terngiang gambar sosok Gusdur seperti apa yang sudah ia lihat di banner sebelum ia masuk kelas tadi.
Setelah mengalami kegelisahan dan rasa penasaran, Evi menanyakan kepada sekelompok orang yang sedang berkumpul tadi setelah ia keluar kelas. Namun ada seorang lelaki yang terlihat antusias untuk menyambut Evi dan semangat untuk menjawab pertanyaan Evi tersebut, dengan tebar pesona seakan lelaki itu ingin mendekatinya, Evipun bertanya kepada lelaki itu.
Evi       : kak…!! Mau Tanya nih, Ini ada acara apa yah…??
Kakak  : oh iya dek silahkan duduk, ini ada acara pelatihan untuk mahasiswa baru. Kita ini adalah anggota oraganisasi yang bernama PMII, adek kalau mau ikut silahkan daftar aja.
Evi       : oh iya kak, Boleh…boleh….. Evi daftar yah….!! Gratis gak?
Kakak  : untuk pelatihan ini dikenakan Rp. 15. 000, dengan fasilitas penginapan selama 3 hari, makan, serta sertifikat dan transportasi. Pelatihannya Dari tanggal 19-21 September bertempat di Bogor Puncak dek….
Evi       : oh iya kak Evi daftar. Makasih ya kak, yaudah Evi Pulang dulu. Assalamualaikum…
Kakak  : iya dek sama-sama, Waalaikumsalam, semangat yah….!!
Setelah ia bertanya dan mendaftar acara yang tercantum pada bener tadi, iya merasa lega dan merasa gembira sekali, karena dengan ia daftar di organisasi yang tadi ia ikuti akan menjadi langkah awal bagi Evi, untuk menyalurkan apa yang ia dapat selama di pesantren dulu dan menggali ilmu serta pengalaman yang terdapat di PMII.
Hari demi hari ia lewati, dengan segala aktifitasnya satu persatu Evi mulai kenal dengan teman-teman sesama mahasiswa baru, saling bercanda ria dengan teman barunya, serta saling silaaturrahmi ke kosan teman-temannya. Namun hal itu semua tak terasa ternyata esok harinya adalah tanggal 19, dimana Evi harus mengikuti acara MAPABA yang sudah ia daftar dari jauh-jauh hari. Dengan itu Evi bersiap-siap dan mengkemas semua barang-barangnya untuk bekal ganti baju saat MAPABA nanti.
Gemuruh angin, seramnya langit, seketika itu tampaknya akan turun hujan, namun hal itu tak mengurangi tekad bulat yang sudah Evi Genggam, iapun tetap melangkahkan kakinya ke Bestmen Fakultas Ushuluddin tempat seluruh peserta MAPABA berkumpul sebelum berangkat. Ke puncak tempat MAPABA akan dilaksanakan.
Sesaat Evi sampai di Bestment Ushuluddin, ia melihat banyak dari teman-temannya yang juga ikut acara tersebut, Evipun menghampirinya dan menyalami teman-teman barunya yang ia kenal. Kemudian semuan teman-temannya mulai menaruh barang bawaannya ke dalam mobil TNI yang mentereng dan berjejer di depan Fakultas Ushuluddin seakan ingin pergi ke medan perang melawan tentara FBI, dan satu pesatu semua peserta MAPABA menaiki mobil seksi tersebut, setelah semua peserta telah menaiki mobil para peserta mulai berangkat menuju lokasi acara.
Sesampai di lokasi MAPABA Evi serasa terpana dengan bertengadah melihat keindahan Puncak Bogor yang mengingatkan dia di kampung halamannya. Semilirnya angin dan sejuknya cuaca membuatnya semakin beresemangat untuk mengikuti acara MAPABA tersebut.
Dengan kesederhanaan dan kebersamaan seakan semua peserta MAPABA adalah keluarga Evi sendiri. Dengan kertas yang digelar sepanjang lapangan hanya digunakan sebagai alas makan. Campuran kerupuk emas dan kritingnya mie instan membuatnya merasakan benarnya adagium al-barokatu ma’al jama’ah”. Evi merasa terharu dan merasa mempunyai amanah besar yang ia emban dari Mbah Khasyim Asy’ari untuk membesarkan Nahdhatul Ulama yang beliau dirikan.
Di lokasi MAPABA ada hal yang membuat Evi tersenyum dan bertanya. Karena di antara salah satu seniornya ada yang benar-benar mirip dengan artis sekaligus penyanyi yang ia favoritkan yaitu Judika. Wajahnya memang mirip, hanya badannya yang mungkin perlu ditarik agar agak lebih tinggi sedikit. Evi selalu tersenyum saat ia melihat kakak seniornya tersebut yang mungkin mirip Judika “KW2”. Tapi, senyuman dan rasa penasarannya seakan berkurang dan tergantikan dengan rasa kaget setelah Evi mengetahui bahwa orang yang selalu ia senyumi diam-diam ternyata adalah Presidennya sendiri, yaitu Presiden BEMJ Tafsir Hadis.
Kebersamaan, kekeluargaan dan kekompakan seakan tergantikan dengan kesedihan, karena acara MAPABA sudah tinggal hitungan jarum jam lagi. Penutupan MAPABApun sudah dilaksanakan. Semua peserta berada di ruangan untuk mengikuti acara penutupan. Dan satu hal lagi yang membuat Evi terharu, dimana, saat lantunan keindahan Mars PMII dinyanyikan dengan seksama, seakan ruh KH. Khasyim Asy’ari benar-benar merasuk dalam jiwa Evi dan seakan ruh KH. Khasyim sedang melihat antusias anak-anaknya. Sungguh merdunya lagu itu, sungguh syahdunya lagu itu. Saat mendengarkannya sambil mengenang bagaimana perjuangan ulama-ulama Nahdhiyyin dulu memperjuangkan berdiri dan tegaknya bendera Nahdhatul Ulama’.
Setelah penutupan, semua peserta mengemas barang-barangnya dan membawanya ke dalam mobil. Dan setelah semua berada di dalam mobil beranjaklah mobil eksotis itu ke kota perjuangan yakni Ciputat alaihissalam.
Kesedihan yang melanda Evi saat meninggkalkan teman-temannya, ternyata hal itu semua hanya sekejab saja. Evi berprasangka bahwa teman-temannya akan berpisah dan tidak akan berkumpul lagi. Ternyata prasangka itu hanyalah sekejap melintas di benak Evi. Saat di ciputatpun peserta dan panitia serta para senior selalu berkumpul. Ziarah bersama ke luar batang, jalan bersama dengan kuda besi yang berjejer bak orang yang lagi konvoi kampanye CAPRES, denga bendera kuning sangsaka PMII yang selalu dibawa kemanapun Evi jelan bersama dengan temannya di PMII KOMFUSPERTUM. Makanpun juga masih ala MAPABA. Evi merasa tak bosan makan kerupuk emas dengan kritingnya mie Instan, semua itu terasa nikmat di dahaga. Ngecrek bersama, tahlilan setiap malam jum’at serta diba’an, saling membantu antar teman yang lagi terkena musibah, takziyah bersama ke rumah temannya yang lagi terkena musibah, silaturrahmi ke komisariat fakultas lain dengan mendatangi lokasi MAPABA yang dari komisariat lainnya.
Semua hal itu Evi rasakan dengan sangat gembira dan bangga menjadi kader PMII, kekhawatiran dan ketakutan tak pernah melintas dalam dirinya, karena sekalipun ia adalah perempuan Evi merasa banyak teman yang selalu melindunginya dan menganggap Evi seperti keluarganya sendiri, begitu juga sama halnya yang dirasakan dengan teman perempuan Evi lainnya.
Evi merasa ada bingkisan khusus yang sengaja dipaketkan oleh pos dari surga, karena semua yang ia rasakan adalah kesemangatan hidup, kebersamaan serta kekeluargaan. Dan bingkisan itu telah Evi dapatkan dan telah Evi genggam di sebuah kampung sederhana namu bisa membuat orang terpana, kampung para pejuang namun bisa membuat orang menjadi tercengang, yaitu di KAMPUNG PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)….

Sekian terima kasih……

1 komentar: