Senin, 02 Desember 2013

MENYOAL HERMENEUTIKA ALA NASH HAMID ABU ZAYD; dari Konstruksi ke Rekonstruksi


Oleh: Muhammad Rasyidi
Abstrak
            Percaturan pemikiran kian semakin marak tentang hermeneutika, aplikasi hermeneutika yang dulunya hanya sebatas model dan cara yang diperuntukkan kepada bible, sekarangpun mulai hadir gagasan baru, dimana, teori hermeneutika ini ditarik ke dalam ranah kajian keislaman, dimana, hermeneutika ini diaplikasikan untuk membaca dan memahami teks-teks keagamaan, baik teks primer (al-qur’an) maupun sekunder (hadis Nabi), para intelektual muslimpun juga ikut larut dalam persoalan ini. Banyak cendikiawan muslim yang menerapkan teori hermeneutika dalam mengkaji al-Qur’an.
Di sini penulis akan membahas seorang tokoh penggiat hermeneutika yang diterapkan dalam pembacaan al-Qur’an, yaitu tokoh kontroversial yang diasingkan dan siusir hanya gara-gara statmentanya yang terdapat pro kontra “al-Qur’an adalah produk budaya”. Yaitu seorang Nashr Hamid Abu Zaid. Bagaimana gagasan-gagsan yang ditawarkan oeh dia dalam mengkaji al-Qur’an agar al-Qur’an tetap dalam adagium “shorih likulli zaman wa makan”-nya.
Ada tiga hal yang ditawarkan oleh Nashr Hamid Abu Zaid dalam memahami al-Qur’an, yang biasa disebut dengan trilogi, yaitu; pengarang, teks, dan penafsir. Menurutnya hubungan antara teks dan pengarangnya ini harus benar dicarikan titik temu, agar penafsir dapat memahaminya dengan benar. Karena pengarang lebih banyak mendapat pern bagaimana sosio historis dari si pengarang tersebut. Penafsir juga demikian, harus memahami betul dalam menganalisis teks yang dimaksudkan dari si pengarang.
Begitu juga apabila kita tarik kajian teks ini ke dalam ranah kajian al-Qur’an. Seorang mufassir juga harus terlepas dari kungkungan dan tidak terkecoh pada keilmuan yang ia tekuni. penafsir yang selalu bergelut dalam kajian fiqih misalnya, ia tidak melulu mengkaji dan melakukan interpretasi al-Qur’an yang bercorak fiqhi. Seorang mufassir harus terlepas dari model penafsiran terebut agar menghasilkan penafsiran-penafsiran yang dapat difahami oleh berbagai kalangan. Inilah tawaran model baru yang digagas oleh Nash Hamid Abu Zayd.
Model pemahaman Nashr Hamid Abu Zaid ini biasa dikenal dengan “rekonstruksi”, dimana model ini mengkonstrusi kembali pamahaman-pemahaman al-Qur’an yang memarginalkan konteks. Padahal konteks itu sangatlah penting dalam upaya menafsirkan al-Qur’an, agar mengetahui apa maksud dari teks itu diturunkan dan bagaimana sosio historis sebelum ayat itu diturunkan. Dan teori Hermeneutika Nahr Hamid ini sering disebut dengan hermeneutika “inklusif”
Nashr Hamid dalam mengaplikasikan teori hermeneutikanya ini dia banyak terpengaruh dan meniru model hermeneutika ala Gadamerian, dimana teori hermeneutika Gadamer ini selalu mengedepankan dan memprioritaskan kebebasan dalam berfikir dan antitesa terhadap metode.

to be continued....

             

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar