Kamis, 26 Desember 2013

DEKONSTRUKSI WACANA “MADESU”



DEKONSTRUKSI WACANA “MADESU”
Oleh: Muhammad Rasyidi
            Terasa bising mungkin telinga seorang mahasiswa bila niat lurusnya dari kampung ke Jakarta hanya ingin menuntut ilmu dan sesampai di Jakarta tiba-tiba mendengar kata “MADESU” alias Masa Depan Suram, kata ini secara tidak langsung akan meneteskan secercah pesimisme pada diri mahasiswa itu sendiri dan akan menghilangkan jati diri seorang mahasiswa, karena dengan kata tersebut akan mematahkan semangat seorang mahasiswa apabila Jurusan yang sudah ia pilih ternyata mengalami “status Quo”. Dalam tulisan sederhana ini penulis akan menanam sedikit demi sedikit benih-benih optimisme dan membangkitkan gairah mahasiswa Tafsir Hadis Khususnya dan mahasiswa Ushuluddin pada umumnya, agar mereka tetap merasa bangga pada jalan ia pilih.
Quo Vadis Jurusan Tafsir Hadis
            Tafsir Hadis adalah sebuah jurusan yang biasanya berada pada kampus-kampus Islam di bawah naungan Fakultas Ushuluddin. Namun jurusan ini seakan mengalami krisis trust baik dari kalangan pemerintah maupun dari kalangan masyarakat, karena jurusan ini memang sedikit mempunyai peluang kerja baik di sekolah-sekolah atau di instansi manapun, padahal jurusan ini juga mempunyai hak otoritas untuk mengajar pelajaran yang berbasis agama di sekolah-sekolah Islam dan dari segi keilmuanpun mungkin jurusan Tafsir Hadis juga tak kalah saing dengan Jurusan-Jurusan lain yang berbasis agama, karena jurusan ini memang concern pada bidan kajian khazanah klasik dan ilmu-ilmu keagamaan.
            Namun ini semua hanya sebatas tiupan angin yang menyapa dengan kecepatannya sehingga tak terlihat oleh mata. Mahasiswa Tafsir Hadis selalu dipandang sebelah mata oleh pemerintah sehingga tak heran dan tak bisa dipungkiri bila seorang mahasiswa yang hendak mendaftarkan dirinya di kampus-kampus Islam selalu mencantumkan jurusan Tafsir Hadis ini pada pilihan kedua.  
            Memang inilah nasib kita. Jangankan menyediakan lapangan kerja bagi alumni Tafsir Hadis, masalah gelar saja  sampai saat ini tak pernah menemukan titik temu, antara satu kampus dengan kampus yang lainnya gelarnyapun berbeda, di UIN Sunan Ampel dan UIN Alauddin Makasar misalnya dari tahun 2012 kemaren sudah menggunakan gelar S. Ud (Sarjana Ushuluddin) dan di Kampus UNSIQ Wonosobo juga berbeda, mereka menggunakan gelar SQ (Sarjana al-Qur’an), sedangkan di kampus kita ini masih tetap merasa gagah dengan gelar S. Th. I (Sarjana Theologi Islam), entah hal ini apakah ada rekomendasi khusus dari pemerintah terkait perbedaan gelar ini atau hanya sebatas testing belaka.
            Belakangan ini juga muncul isu tentang pemisahan jurusan antara Tafsir dan Hadis. Masalah ini juga telihat tidak serempak dan tidak kompak, antara kampus satu dengan yang lainnya sudah ada jurusan yang dipisah antara Tafsir dan Hadis dan adapula kampus yang masih tetap merasa nikmat dengan jurusan Tafsir Hadisnya. Di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dari Tahun ajaran baru kemarin sudah dipisah antara Tafsir dan Hadis sedangkan di kampus kita ini masih tetap duduk manis menikmati jurusan Tafsir Hadis.
            Penulis merasa bertanya-tanya akan hal ini semua. Apa kontribusi pemerintah khususnya Kementrian Agama kepada jurusan Tafsir Hadis ini, sehingga selalu mengotak atik gelar maupun jurusan yang sudah setengah baya ini??
            Mungkin itulah sebagian masalah yang melanda jurusan Tafsir Hadis yang sampai saat ini juga belum kunjung selesai, baik masalah yang terkait dengan gelar ataupun pemisahan antara jurusan Tafsir dan jurusan Hadis. Kemanakah jurusan ini akan dibawa oleh pemerintah yang terpenting adalah tanggung jawab seorang mahasiswa tetap tertanam kuat dalam dirinya.
Anda tersesat di Jalan Yang Benar
            “anda tersesat di jalan yang benar”. Terinspirasi dari kata ini, rasanya pantas apabila pepatah ini dilontarkan kepada segenap civitas akademika Jurusan tafsir Hadis, dimana mungkin mayoritas Mahasiswa yang masuk di Jurusan Tafsir Hadis secara terpaksa dan juga mungkin mayoritas mahasiswa yang diterima di Jurusan ini adalah pilihannya yang kedua. Mereka-merekalah yang tersesat bagai orang yang masuk hutan  dan merasa kebingungan karena tidak ada jalan lain yang harus ia lewati kecuali hutan itu, dengan secara terpaksa orang tersebut tetap melewati hutan itu.
            Akan tetapi, janganlah anda merasa pesimis sekalipun anda telah tersesat, di ujung hutan belantara sana ada panorama indah yang akan anda dapati dan tak pernah anda lihat sebelumnya, sehingga bila anda menatapnya seakan anda terpana diam tanpa kata. Mengapa tidak, jurusan Tafsir Hadis ini adalah jurusan yang multifungsi dan mahasiswanyapun multi talenta, terbukti sekalipun jurusan yang sudah setengah baya selalu didiskreditkan oleh pemerintah, para alumninya telah melalang buana ke berbagai instansi-instansi negeri maupun swasta, baik para alumni yang duduk manis di gedung Megah Senayan sana (DPR) atau pengamat-pengamat politik, dan bahkan di kementrianpun alumni Tafsir Hadis selalu mencicipinya.
            Prof. Dr Nazaruddin Umar, M. A selaku wakil Mentri Agama dan guru besar Fakultas Ushuluddin, beliau terlahir dari benih jurusan Tafsir Hadis, begitu juga dengan Prof. Dr Said Agil Munawwar, M. A yang juga sebagai Guru besar Fakultas Ushuluddin pernah mendapat jatah sebagai Mentri Agama dulu. Di ranah politik misalnya, adalah Afifuddin S. Th. I alumni Tafsir Hadis yang sekarang mengabdi di Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan pemimpin Ormas-Ormas Islam juga banyak yang terlahir dari Rahim Jurusan Tafsir Hadis atau dari Fakultas Ushuluddin ini, seperti Dr. Din Syamsudin yang sekarang masih tetap memimpin Ormas Islam Muhammadiyah, dan masih banyak lagi alumni-alumni Tafsir Hadis yang sukses di luar sana.
            Namun hal ini semua akan menimbulkan tanda Tanya besar, kenapa Jurusan yang selalu didiskreditkan oleh pemerintah ini, para Alumninya banyak yang menjadi orang-orang besar?. Semua ini tidak lepas dari tanggung jawab seorang mahasiswa yang sudah penulis sebutkan di atas. Seorang mahasiswa harus tetap teguh pendirian, tetap mengeratkan kepalan tangannya dan jangan pernah berfikir setelah lulus anda mau kemana. Buku dan menulis harus tetap selalu menjadi santapan utamanya dan juga kebiasaan diskusi harus selalu tetap menjadi agenda rutinitasnya. Itulah tugas dan tanggung jawab seorang mahasiswa yang harus selalu terpatri dalam dirinya.
Dekonstruksi Wacana “MADESU”
            Para tokoh besar penggerak bangsa made in Tafsir Hadis di atas tadi, apabila kita amati memang ada beberapa alumni setelah lulus kemudian bekerja ada yang tidak linier dengan jurusan yang diambil sewaktu kuliah dulu. Maka dari itu, meminjam Bahasa abang Iwan Fals dalam salah satu iklan kopi “Bongkar Kebiasaan Lama” artinya, yang semula kita apatis dengan kebiasaan membaca, diskusi, menulis. Hal ini harus dibongkar besar-besaran, harus diputar balik menjadi 180 derajat, harus bertaubat dan kembali kepada kebiasaan yang benar, agar para mahasiswa yang tersesat tadi, benar-benar menemukan panorama yang tak sekedar fatamorgana, agar menjadi mahasiswa aktif bukan mahasiswa pasif, agar wacana Masa Depan Suram menjadi Masa Depan Sukses.
            Masa depan mahasiswa di jurusan manapun, itu berada pada diri mereka sendiri, tangan-tangan merekalah yang menetukan masa depan mereka masing-masing, mahasiswa mempunyai hak otoritas masing-masing terhadap masa depan mereka sendiri. Bagaimana dan seperti apa mahasiswa tersebut menggapai masa depannya itu tergantung dari kinerja dan aktifitasnya selama menjadi mahasiswa. Jika yang ia kerjakan hanya sebatas canda, tawa, nangkring alias nongkrong, atau futsal (olahraga) yang berlebihan, dan lain sebagainya, maka yang akan ia dapat tak akan melebihi dari itu. Akan tetapi, masa depan suram akan berputar dan berbalik arah, bila seorang mahasiswa selalu bertanggung jawab terhadap masa depannya sendiri dengan mengerjakan hal-hal yang positif dan bermanfaat serta mengaplikasikan apa yang telah ia dapat selama dibangku kuliah.
            Maka dari itu, tepaplah semangat, tetaplah bergerak karena diam itu mati, tetaplah melangkah di jalan yang benar. Katakan anda tidak pernah kenal dan tidak pernah berjumpa dengan yang namanya “Masa Depan Suram”………!!!. 
Sekian terima kasih……

1 komentar: