Sabtu, 23 November 2013

TRANSFORMASI NALAR "dari polemik menuju akademik"

Abstrak
            Kehidupan memang butuh kelompok adakalanya antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya saling membutuhkan (simbiosis mutualisme) dan ada juga antar kelompok yang saling berlomba untuk membela kolompoknya sendiri. Hal inipun terjadi pada dua agama terbesar dunia, yakni agam Islam dan Kristen, kedua agama ini salaing berkompetisi dalam membela kitab suci mereka masing-masing hingga menimbulkan polemik dan kontradiksi antar dua agama ini, sehingga terkesan agama hanyalah sebagai tabir keharmonisan antar umat beragama. Pertanyaan sederhananya adalah, kapan antar dua agama ini mengalami pertarungan intelektual hingga menimbulkan polemik dan kapan kedua agama ini mengalami pertarungan intelektual yang akademis dan harmonis?
            Animo sarjana barat untuk malakukan otokritik terhadap kajian Islam terutama tentang kajian al-Qur’an dan hadis terlahir pada sekitar abad ke-9 M sampai abad ke-18. Akan tetapi pertarungan antar cendikiawan dari dua agama ini mulai memanas sekitar dari abad ke-12 sampai abad ke-18 hingga pertarungan ini agak bernuansa polemik atau cenderung bermusuhan. Hal itu dikarenakan sarjana muslim mengkritik bible seperti Nuh al-Anbari dan al-Kindi dengan mengatakan bahwa penetapan tanggal penyaliban yesus berbeda yang terdapat dalam bible. Kemudian orang non muslimpun melakukan hal serupa dengan mengritik kitab suci Islam.
            Tampaknya para cendikiawan antar dua agama ini semakin dewasa dalam menyikapi masalah ini. Sehingga pada abad ke 19 pertarungan intelektual ini yang biasanya bernuansa polemik menjadi kompetisi sportif yang bercorak akademis.
            Para orientalis menawarkan tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam pendekatan al-Qur’an, yaitu; 1) pendekatan kritik historis, 2) pendekatan interpretative, 3) pendekatan deskriptif sosia-Antropogis.

            Sebenarnya menurut peneliti sarjana barat, pada abad ke-18 sudah ada kajian Islam yang bernuansa akademik, terbukti Abraham Geiger dengan karya monumentalnya yang berjudul “was hat Muhammad Ausdem Judentume aufgenommen”.

to be continued....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar