Jumat, 29 November 2013

Proyek Joseph Schacht Tentang Otentisitas Hadis



Oleh: Muhammad Rasyidi[1]
Abstrak
            Perkataan, perbuatan, ketentuan serta sifat-sifat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, mungkin inilah terminologi yang kita kenal dari makna “hadis” itu sendiri. Berangkat dari diskursus tentang hadis, maka tak wajar kita menjumpai pro dan kontra tentang hadis, karena memang teks sekunder ini masih banyak yang diperdebatkan dan dipertanyakan, baik dari segi matan (redaksi) dan sanad (jalur perawi)-nya.
            Adapun pro kontra ini tidak hanya datang dari individu internal Islam saja, bahkan non muslimpun juga sangat antusias untuk mengkaji dan menggali bahkan mengkritik teks sekunder ini.
Berangkat dari kegalauan intelektual ini, penulis merasa tertarik untuk mengkaji bagaimana gerakan-gerakan orang non muslim dalam mengkritik otentisitas hadis. Namun penulis di sini memilih tokoh kontroversial berkebangsaan Jerman berdarah Yahudi serta tokoh yang mempunyai animo besar dalam melakukan otokritik terhadap otentisitas hadis yaitu “Joseph Shacht”.
Orientalis ulung ini banyak menimbulkan kemarahan dan kemurkaan para sarjana mulsim seperti Muhammad Mustafa Azami dkk. Pernyataannya yang kontroversial dalam bukunya “we shall not meet any legal tradition from the prophet which can be considired authentic”[2],  bahwa menurutnya tidak ada hadis yang benar-benar dari Nabi Muhammad, dan kalaupun ada dan bisa dibuktikan jmlah hadis yang otentik sangat sedikit jumlahnya.
Joseph Shacht berada di garda terdepan dalam melakukan kritik hadis ini, bahkan dia digolongkan termasuk tokoh orientalis yang ekstrim[3] bersama seniornya Ignaz Goldziher. Dengan demikian mari kita mengkajji bersama, bagaimana proyek Joseph Shacht ini tentang otentisitas hadis dan apa argumentasi yang ia ajukan dalam melakukan kritik pedas ini?. Proyek “projecting back”-nya adalah proyek yang berhasil ia garap bagaiamana memahami dan mengkaji otentisitas dan validitas hadis ala Joseph Shacht.
Kata kunci: otentisitas, validitas, Thobaqat
Berkebangsaan Jerman, Berdarah Yahudi dan Sang Profesor Muda
            Joseph Shacht adalah tokoh orientalis yang lahir di Silisie Jerman pada tanggal 15 maret 1902, meraih gelar doktor dari universitas Berslauw pada tahun 1923, ketika berumur 21 tahun.
            Ia diangkat menjadi dosen di Universitas Fribourg pada tahun 1925 dan dikukuhkan menjadi guru besar pada tahun 1929. Tokoh orientalis ini bahkan pernah mengajar bahasa Arab dan bahasa Suryani di Universitas Fuad Awal (sekarang Universitas Kairo) di Mesir dan diangkat sebagai guru besar.
            Joseph Shacht pindah ke Inggris dari Mesir pada perang dunia ke II dan bekerja di radio BBC, menariknya sekalipun Joseph shacht ini berasal dari Jerman, dia memihak pada Inggris bahkan iapun menikah dengan perempuan Inggris. Dengan ketekunan dan kesabarannya dan tidak pandang unmur, sekalipun ia adalah seorang Profesor Doktor yang muda dan berbakat, ia diangkat menjadi Profesor pada Umr 27 ia melanjutkan studinya kembali pada program magister dan Doktor di pasca sarjana universitas Oxfotd pada tahun 1948-1952.
            Iapun meninggalkan Inggris pindah ke Belanda pada tahun 1954 dan mengajar di Universitas Laiden serta diangkat sebagai guru besar di Universitas tersebut. Joseph Shacht juga pindah ke New York dan mengajar di Universitas Columbia dan juga menjadi guru besar sampai ia meninggal pada tahun 1969.[4]
Menyoal Proyek Joseph Schacht “Projecting Back”
            Tawaran Schacht dalam mengkritisi otentisitas hadis ini sangat menarik apabila kita kaji yakni teori “projecting back”. Teori projecting back adalah proyeksi ke belakang, dimana menisbatkan argumentasi ulama-ulama abad kedua dan ketiga hijriyah kepada ulama-ulama yang terdahulu atau ulama abad sebelum kedua hijriyah, orang Iraq menisbatkan pendapat mereka kepada Ibrahim an-Nakha’I misalnya (wafat 95 H). teori ini lebih memprioritaskan kritikannya pada sanad hadis daripada matannya. Ia berpendapat bahwa hadis Nabi itu adalah produk ulama pada abad akhir hijriyah, rentetan perawi yang terdapat pada sanad hadis itu hanyalah rekayasa ulama akhir hijriyah, apalagi hadis-hadis tentang hukum, rasionalisasi menurut Schacht bahwa apabila hadis hukum itu sudah ada pada zaman Nabi, maka hadis-hadis tersebut pasti digunakan dalam diskusi-diskusi atau dijadikan hujjah. Sedangkan faktanya pada abad tersebut tidak terjadi seperti demikian “The best way to proving that a tradition did not exist at a certain time, is to show that it was not used as a legal argument in a discussion which would have made reference to it, if it had existing[5].
            Jadi tawaran Schacht ini menyimpulkan bahwa rentetan perawi  ini sengaja direkayasa dan sengaja diambil tokoh-tokoh yang terkenal di setiap zamannya.[6]
Masih menurut Schacht, ia mengklaim bahwa kitab kutub as-sittah yang notabene adalah kitab referensi utama hadis umat Islam tidak dapat dijamin keasliannya “even the classical corpus contain a great many tradition wich cannot possibly be authentic[7]. Dan menurutnya juga bahwa sistem mulai diadakannya sanad atau istilah sanad ini baru muncul pada abad kedua hijriyah “the reguler practice of using isnad is older than the beginning of the second century[8]
            Apabila kita lihat dari berbagai pendapat yang diungkapkan oleh Joseph Schaht ini lebih menitik beratkan pada waktu dan umurnya istilah-istilah yang digunakan oleh orang Islam dalam mengkaji hadis serta banyak mempertanyakan hal ihwal tentang keaslian hadis ini. Orientalis yang satu ini memang sangat berani dalam melancarkan proyeknya, dengan argumentasi-argumentasinya dia berusaha menelaah hadis-hadis yang menurutnya tipertanyakan otentisitas dan validitasnya.
            Ringkasnya dapat kita simpulkan bahwa teori “projecting Back” ala Joseph Schacht ini terdapat empat poin, yaitu:
1.      Istilah serta penggunaan Isnad ini bermula pada abad kedua Hijriyah atau akhir abad pertama hijriyah.
2.      Peletakana isnad di setiap tingkatannya di letakkan secara sembarangan, yang terpenting adalah tokoh yang paling terkenal pada saat itu di setiap zamannya.
3.      Hadis-hadis yang berkaitan dengan hukum itu baru tersebar luaskan setelah masa as-Sya’bi.
4.      Semua hadis Nabi adalah Produk rekayasa ulama.
Kendatipun demikian kritikan-kritikan yang Joseph Schaht lakukan ini tidak terlepas dari pelbagai ancaman dan balasan terhadap kritikannya dari para sarjana muslim, seperti MM Azami dan lain sebagainya.
Kritik Otentisitas Hadis ala Joseph Schacht
            Dalam proyeknya Schacht mengotak atik dan mengkritik hadis yang dianggapnya tidak otentik. hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar misalnya. Hadis ini termaktuh dalam kitab maghazi yang berbunyi Nabi Muhammad SAW bersabda:
Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah SAW tidak mengecualikan Fatimah ra. (dalam masalah hukum pidana)”.
Menurut Schacht redaksi hadis di atas menunjukkan pengingkaran terhadap keistimewaan keluarga Nabi SAW. Dalam ranah tentang hukum pidana. Maka dari itu hadis ini dianggap sebagai hadis yang anti terhadap keluarga ‘Ali (alawiyyin). Karena dalam hadis tersebut ada pernyataan tidak ada pengakuan akan adanya keistimewaan terhadap keluarga ‘Alawiyyin  dalam persoalan hukum pidana.
Antitesis kata “Islam” Sebagai Agama
            Kata Islam adalah sebuah nama dari agama yang bertuhankan Allah dan bernabi Muhammas SAW, namun ada kritik terhadap kata “Islam” ini, para orientalis sangat antitesa terhadap penggunaan kata Islam dijadikan sebuah agama, orientalis lebih setuju dengan nama “muhammadanisme” atau bisa diartikan menjadi pengikut Muhammad atau bahkan dalam bahasa kasar anak buah Muhammad, akan tetapi Joseph Schacht pernah menggunakan kata ini pada tulisannya dengan mengatakan “Islamic law” sedangkan pada karyanya yang monumental yang termasuk rujukan utama para orientalis, ia mengatakan dan menamakan karyanya dengan judul “Muhammadan Jurisprudence”.
Apriori teori “Projecting Back”
            Dari sekian kritik yang dilakukan oleh Joseph Schacht terhadap otentisitas hadis ini tidak terlepas dari tanggapan-tanggapan para sarjana muslim terhadap pendapatnya.
            Pendapat Joseph Schacht ini tidak memenuhi standar akademik dalam menganalisa hadis, dimana Schacht menggunakan kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik dan al-Umm dan ar-Risalah karya Imam as-Syafi’I sebagai landasan dasar dalam penelitiannya dalam mengkritik otentisitas dan validitas hadis. Sedangakan yang kita ketahui kitab-kitab rujukan tersebut adalah kitab fiqih dan dikarang oleh ulama yang concern pada bidang fiqih. Semestinya Joseph Schacht menggunakan kitab-kitab hadis dalam penilitiannya. Jadi hasil dari penelitian Schacht ini tidak dapat diterima karena apabila kitab yang bercorak fiqih dikaitkan dengan persoalan hadis dan mengkritik hadis-hadis hukum yang terdapat dalam kitab fiqih tersebut tidak akan tepat.[9]
            Mengenai masalah hadis-hadis tentang hukum misaknya, yang Schacht katakan bahwa hadis hukum itu adalah buatan orang atau ulama dapa akhir abad pertama dan awala abad kedua sekitar pada masa Imam Syafi’I dan muncul pada masa sesudah al-Sya’bi (wafat 110 H). Pendapat ini tidak dapat diterima karena hadis yang berkaitan dengan hukum sudah muncul sejak zaman Nabi Muhammad SAW, karena untuk menentukan hukum ini dilakukan melalui ijtihad, sedangkan ulama-ulama pada masa Nabi Muhammad sudah melakukan Ijtihad bahkan pada masa sahabat juga demikian melakukan ijtihad.
            Dalam menjawab kritik Schacht ini Prof. Dr Muhammad Mustafa Azami berada di garda terdepan. Beliau melakukan penilitian terhadap hadis-hadis Nabi yang terdapat pada naskah-naskah klasik. Seperti naskah karya Suhail bin Abu Shalih (safat 138 H). serta naskah karya ayah Abu Suhail sendiri yang notabene adalah murid dari Abu Hurairah sahabat Nabi Muhammad SAW, sehingga bentuk sanadnya Abu Hurairah--Abu Suhail—Suhail.
            Dalam hal ini MM Azami melihat Naskah Suhail ini ada 49 hadis dan beliau meneliti perawi di tingkatan yang ketiga yakni sampai Suhail. Azami membuktikan bahwa pada tobaqot al-Tsalitsah ini terdapat sekitar 20 sampai 30 perawi dan di antara semua perawi yang terdapat pada tobaqot al-Tsalisah ini berasal dari daerah yang berjauhan, sekitar dari India sampai Maroko dan dari Turki sampai Yaman dan dari semua perawi yang meriwayatkan hadis redaksinya sama dan tidak ada perbedaan di antara semua perawi tersebut.
            Jadi dapat kita tarik kesimpulan bahwasanya dari hasil penelitian MM Azami ini mereka (para perawi) mustahil dan tidak mungkin berkompromi dan melakukan konspirasi untuk menciptakan hadis palsu, karena daerah asal para perawi tersebut masing-masing berjauhan.
Telaah Hadis dalam Menjawab Kritik Joseph Schacht
            Adapun kritik terhadap kritik Joseph Schacht tentang otentisitas hadis Prof. Dr Mustafa Azami berada di garda terdepan. Sebagai contoh yang dilakukan beliau adalah hadis Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda “apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka hendaknya  ia mencuci tangannya, karena ia tidak tahu semalam tangannya berada dimana”. Dalam naskah Suhail bin Abi Shalih hadis ini berada pada nomor urutan 7, dan pada jenjang pertama (generasi sahabat) ia diriwayatkan oleh lima orang perawi, yakni Abu Hurairah, Ibnu Umar, Jabir, A’isyah dan ‘Ali Radhiyallahu ‘anhum.
            Abu Hurairah sendiri kemudian meriwayatkan hadis di atas kepada 13 orang tabi’in (tobaqot al-Tsani). Ketiga belas tabi’in ini kemudian menyebar ke pelbagai penjuru negeri Islam. 8 orang tetap tinggal di Madinah, seorang tinggal di kufah, 2 orang tinggal di Bashrah, dan seorang tinggal di Yaman, kemudian seorang lagi tinggal di Syam.
            Kemudian ketiga belas tabi’in ini meriwayatkan lagi kepada generasi selanjutnya (al-Tobaqat al-Tsalitsah atau athba’ al-Thabi’in), dan jumlah mereka menjadi tidak kurang dari 16 orang. 6 orang tinggal di Madinah, 4 orang tinggal di Bashrah, 2 orang Tinggal di Kufah, dan 1 orang tinggal di Makkah, juga1 orang tinggal di Yaman, 1 orang pula di Khurasan, dan yang terakhir 1 orang tinggal Syam.[10]
            Rasionalisasinya mustahil dari 15 orang yang domisilinya berpencar-pencar di tujuh kota yang berjauhan itu pernah berkumpul pada suatu saat untuk bersama-sama membuat hadis palsu yang redaksinya sama. Dan mustahil pula apabila mereka secara sendiri-sendiri di kediamannya masing-masing membuat hadis, dan kemudian diketahui bahwa redaksi hadis tersebut secara kebetulan sama.
            Kemudian keenam belas orang rawi di atas adalah hanya rawi-rawi dari jalur sanad Abu Hurairah. Apabila jumlah rawi itu ditambah dengan rawi-rawi yang berada di empat jalur yang lain, yaitu Ibnu Umar, Jabir, ‘Aisyah, dan Ali, maka jumlah rawi itu akan menjadi lebih banyak. Sementara dalam teori Schacht, jumlah rawi sedikit sekali, di samping redaksi hadis yang diriwayatkan tidak sama, bahkan bertentangan, karena ia merupakan produk ahli fiqih yang seperti lazimnya berbeda pendapat.
Sarjana Muslim Pengagum Joseph Schacht
            Dengan segala kemampuan dan kapasitas keilmuannya dalam memahami khazanah keilmuan keislaman, Joseph Schacht merupakan tokoh orientalis yang berhasil dalam mengembangkan proyeknya (Projecting Back), banyak orang yang pro terhadap tesis ini, bahkan sarjana muslimpun ada yang mengaguminya, seperti A. A. Fyzee misalnya, dia adalah seorang hakim muslim yang berada pada jajaran Mahkamah Agung negara bagian Bombay India, dimana ia mengungkapkan dalam bukunya A Modern Approach to Islam ia menerima tanpa syarat tesis-tesis Schacht. Sama halnya dengan Fazlurrahman, tokoh hermeneutika ini dan juga sebagai direktur Islamic Center di Karachi yang kemudian pindah ke Chicago, dalam bukunya Islam ia menyanggah dasar-dasar pandangan Schacht mengenai terbentuknya aliran-aliran hukum Islam., akan tetapi ia juga menerima tesis pokok dari Schacht tentang diedarkannya hadis dan ia adalah salah satu tokoh cendekiawan muslim penganut teori projecting Back-nya Joseph Schacht.
Rival Joseph Schacht dari internal Islam
            Jika penulis di atas menyebutkan ada beberapa sarjana muslim pengagum tokoh orientalis kontradikti dan distorsif ini, maka penulis juga akan menginformasikan bahwa ada salah seorang dari sarjana muslim yang sangat antitesa terhadap tesis-tesis Joseph Schacht yakni cendikiawa muslim berasala dari tanah India Prof Dr. Muhammad Mustafa Azami. Alumni Universitas Cambridge ini menghajar habis-habisan gagasan-gagasan yang dilontarkan Schacht.
            Bukan hanya Joseph Schacht saja yang menjadi incarannya, akan tetapi banyak tokoh orientalis lain yang ia kritik, seperti Robson, Guillaune, Sachau, Wensinck, dan lain-lain, namun ada tokoh orientalis yang menjadi musuh bebuyutannya yaitu Ignaz Goldziher dan Josep Schacht, kedua tokoh ini dipandang berbahaya oleh Azami, dimana kedua tokoh ini adalah tokoh yang paling ambisius dalam melancarkan kritikannya terhhadap Islam terutama mengenai hadis Nabi. Kedua tokoh ini juga bkan hanya di mata orang muslim yang kontroversial, dalam kaca mata orang-orang non muslimpun banyak yang antitesa terhadap tesis kedua tokoh ini. Beruntuk Azami ini diperbolehkan dan diizinkan untuk mengkritik Joseph Schacht oleh Universitas Cambridge. Berbeda dengan rekan seperjuangannya yang tidak diperbolehkan oleh universitas tersebut yakni Dr. Muhammad Amin al-Mishri.[11]
            Azami juga melakukan klarifikasi istilah-istilah hadis terhadap kisalahpahaman akibat ketidaktahuan yang dilakukan oleh kebanyakan orientalis, seperti tuduhan orientalis yang mengatakan bahwa hadis itu tidaj pernah ditulis pada masa Nabi, sebenarnya tuduhan beranhkat dari kesalahan dalam memahami pernyataan Imam Malik bahwa “orang yang pertama menulis hadis adalah Ibnu Syihabal-Zuhri”. Penelitian Azami membuktikan bahwa tidak kutang dari 52 sahabat memiliki naskah-naskah catatan hadis. Demikian pula dengan tabi’in, sekitar 247 tabi’in juga memiliki naskah catatan hadis.
            Usaha Prof. Dr Muhammad Mustafa Azami ternyata tidak sia-sia dan banyak membuahkan hasil, dengan kesabaran dan ketabahannya serta dengan seluruh kapasitas keilmuannya yang sangat luas, beliau juga sukses dalam menjawab kritik orientalis.
            Penghargaan yang sangat mengesankan adalah M. M Azami mendapat penghormatan dan penghargaan dari tokoh orientalis yang terkemuka di Universitas Cambridge yaitu Profesor A. J. Alberry. Maka tak wajar bila seorang Azami mendapatkan penghargaan tersebut.
            Peluh emaspun mengalir setelah ia banyak mengeluarkan peluh dan berjuang dalam menegakkan kebenaran dan meluruskan ketidak pastian dalam hal urusan agama. Kebenaran akan dibalas dengan kebenaran, kebaikan juga akan dibalas dengan kebaikan bahkan lebih. “Faman ya’mal mitsqola dzarrotin khoiron yaroh, wa man ya’mal mitsqola dzarrotin Syarron Yaroh”.
Dalam penghargaannya yang sangat mengesankan dan mengagumkan adalah terbukti ketika Profesor A. J. Alberry berkata “No Double the most important field of reseach, relative to the studyof hadith,  is the discovery, verivication, and evaluation of  the smaller collection of tradition antedating the six canonical collections of al-Bukhari, Musli and the rest. In this field Dr. Azami has done pioneer work of the highest value, and he has done it according to the exact standards of scholarship. The thesis which presented, and for which Cambridge conferred on him the degree of Ph. D., is in my opinion one of te most exciting ang original investigation in this field of modern times”.[12] (tidak diragukan lagi, bahwa bidang penelitian yang paling penting dan berkaitan deng bidang kajian hadis, adalah menemukan, meneliti dan mengevauasi otentisitas kitab-kitab hadis yang kecil-kecil, yang sudah ada sebelum munculnya enam kitab-kitab hadis yang besar-besar dan dijadikan rujukan, yaitu Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan lain-lainnya. Dalam hal ini, Dr. Azami telah melakukan pekerjaan yang unggul dan sangat berharga, serta hal itu dilakukan berdasarkan standar-standar yang benar menurut penelitian ilmiyah. Dan disertasi yang ia ajukan, dimana ia kemudian dianugerahi gelar doktor dalam filsafat dari Universitas Cambridge, menurut pendapat saya adalah termasuk penelitian yang paling mengagumkan dan paling asli yang dilakukan dalam bidang itu pada masa sekarang).
            Rasanya memang pantas seorang Prof. Dr Azami menerima sanjungan dan pujian dari berbagai belah pihak, bahkan dari orientalispun beliau juga pantas menerima sanjungan, karena hal terbaik telah diberikan oleg Azami, serta penelitian ilmiyah yang monumental telah ia persembahkan agar tidak ada kesalahfahaman antar umat beragama. Dan dalam melakukan kritik agar bernuansi akademik dan tidak bercorak polemik. Inilah yang dilakukan oleh Azami agar tidak ada permusuhan antar umat beragama dan terjalin harmonisme antar umat beragama.
            Adakalanya hadis yang tidak benar, tapi adakalanya juga hadis yang benar datang dari Rasulullah SAW. Boleh seseorang meneliti hadis yang yang dianggap tidak asli atau palsu, asalkan lakukan penelitian tersebut sesuai dengan standar akademik, agar tercipta hasil penelitian yang makzimal dan tidak pula kontroversial, seperti Takhrij Hadits misalnya, melakukan telaah terhadap redaksi maupun rentetan perawi yang terdapat pada hadis dengan menggunakan kitab-kitab rujukan yang dapat dipercaya seperti mu’jam al-Mufahros dan lain-lain.
Daftar Rujukan
Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. Kedua 2011.
Wahyudin Darmalaksana, Hadis di Mata Orientalis; Telaah atas Pandangan Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht, Bandung: Benang Merah Press, 2004.
Joseph Schacht, The Origins of Muhammadan Jurisprudence, Oxford: Clarendon Press, 1959; cetakan pertama 1950.
Dr. Syamsuddin Arif, Orientasme dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani Press, cet. Pertama 2008

           


[1] Penulis adalah mahasiswa Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta semester tujuh
[2] Lihat Joseph Shacht The Origins of Muhammadan Jurisprudence, cetakan kedua (Oxford: Clarendon Press, 1959; cetakan pertama 1950), hal. 149.
[3] Lihat Hasan Abdurrauf el-Badawi, Abdurrahman Ghirah, Orientalisme dan Misionarisme Menelikung Pola Pikir Umat Islam, PT Remaja Rosdakarya, 2008; cetakan kedua, hal. 40.  
[4] Prof. Dr Ali Mustafa Yaqub, MA, Kritik Hadis, Jakarta: Pustaka firdaus cetakan keenam 2011, hal. 20
[5] Prof. Dr Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, hal. 22
[6] Wahyudin Darmalaksana, Hadis Dimata Orientalis, Bandung: Benang Merah Press cetakan pertama 2004, hal. 117.
[7] Dr. Syamsuddin Arif, Orientasme dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani Press, cet. Pertama 2008, hal. 32
[8] Josep Schacht, The Origins of Muhammadan Jurisprudence, Oxford: Clarendon Press, cet pertama 1950, hal. 37
[9] Prof. Dr Ali Mustafa Yaqub, kritik Hadis, Hal. 21. Pendapat ini dikutip dari buku karya Prof. Dr Muhammad Mustafa Azami, dalam karyanya yang berjudul dirasat fi al-Hadits al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih, al-Maktab al-Islami, Beirut 1980, cetakan kedua, hal. 398.
[10] Mustafa Azami part two, The Edited Texts, hal. 16, dikutip dari buku Kritik Hadis karya Prof. Dr Ali Mustafa Yaqub, MA pada halaman 29.
[11] Prof. Dr Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, hal. 27
[12] Prof. Dr Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, hal. 27 dikutip dari buku karya M. M Azami dengan juudul Studies in Early Hadith Literature, American Trust Publication, IndianaPolis-Indiana, 1978, Foreword.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar