Senin, 14 Oktober 2013

ANTARA IRI DAN BENCI ATAU SAKIT HATI?


            Tulisan ini terinspirasi dari senyuman penulis terhadap kritik konstruktif (?) dari seseorang, se (jin), se (syetan) atau se (malaikat). Penulis menyebutkan semua makhluk Tuhan tadi, karena memang tidak tercantum jelas profil dan identitas pada karya tulisnya pada blog yang beralamatkan ardimahardian.wordpress.com yang melakukan kritik pedas terhadap penulis. Dengan wajah ceria dan penuh dengan senyuman sambil berucap kalimat “subhanallah” saat penulis membaca torehan tinta emas dari orang (?) yang moderat dan mengaku netral ini.

            Ketika kita berbicara belajar, maka kita tidak akan terlepas dengan yang namanya proses, segala sesuatu dan sebelum memulai sesuatu pasti kita akan membutuhkan proses (proccess is important), maka tak wajar jika dalam proses kita banyak menemukan hal yang masih jauh dari kesempurnaan, apalagi kita menjumpai berbagai kritikan dan masukan dari orang memperhatikan tingkah laku kita dalam proses manggapai suatu keinginan, namun ada dua hal yang paling penting dalam menanggapi kritikan yang menampar kita, pertama, berterima kasih kepadanya karena sudah ada orang yang memperhatikan kita dan telah berusaha untuk tidak bersikap apatis antar sesama umat muslim, dari sekte manapun itu dan berasal dari manapun itu, kedua, menganalisis maksud dari kritikus tersebut.
            Berawal dari kisah penulis (Qisshatun mujizatun) dalam menjalani proses belajar menjadi seorang pemimpin di tataran demokrasi berskala kecil, yaitu di Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadis (BEMJ-TH), saat mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menurut penulis itu sangat menguntungkan bagi mahasiswa Tafsir Hadis, namun hal itu tak lepas dari pro kontra dari berbagai belah pihak. Ide mengadakan pelatihan makalah untuk mahasiswabaru Tafsir Hadis misalnya, itu juga tidak lepas dari ocehan sampah yang berlimpah. Contoh lain, dalam acara Ta’aruf mahasiswa barupun juga tidak terlepas dari santapan pedas cabe rawit campur gula merah itu, tinggal bagaimana kita menyantapnya. Dikunyahkah?? Atau kita telan mentah-mentah??.
            Kembali pada dua hal yang sangat penting dalam menanggapi kritik pedas yang telah penulis sebutkan tadi di atas. Pertama, penulis sangat berterima kasih banyak kepada sese……. (titik-titik), karena telah sudi meluangkan waktunya dengan sekuat tenaga, menulis dan berfikir dengan segala kemampuannya untuk mengkritik penulis yang masih na’if ini (kecil, hitam, kampungan) dan masih jauh dari kesempurnaan. Kedua, dalam benak penulis dilanda tanda celurit besar (?) dan mencoba mendekati maksud dari kritikus tersebut, seperti teori hermeneutika Schlaimacher yang berusaha mencoba mendekati maksud dari si pengarang. Dalam hal ini ada beberapa pertanyaan besar dalam fikiran nakal penulis dalam usaha mendekati maksud ArdiMahardian yang ganteng dan idealis dalam karyanya yang monumental itu.
Berikut di bawah ini fikiran binal penulis:
       1.      Sekuat apakah alat kelamin anda, sehingga anda tidak mencantumkan profil dan identitas yang jelas pada profil blog dan facebook anda?
      2.      Data apa dan dari manakah anda dapatkan bahwa penulis ini pernah meminta nomor orang tua mahasiswa baru dan mengatakan kepada mereka agar anaknya diwajibkan mengikuti acara ta’aruf Jurusan Tafsir Hadis?
        3.      Seberapa gantengkah kritikus itu dengan mengatakan bahwa penulis ini kecil, hitam dan tua?
       4.      Dengan gampangnya anda mengatakan bahwa penulis tidak punya etika dalam berorganisasi. Etika organisasi manakah yang anda gunakan, ketika acara anda dan kanda yunda anda dengan sengaja selalu dibentrokkan dengan acara kami?
       5.      Pernahkah kita mengusik Latihan Kaderisasi anda, ASUS (Asosiasi Seni Ushuluddin) anda, Pelatihan Jurnalistik anda, dan Malam Inagurasi anda,?
       6.      Seberapa takut dan khawatirkah anda memberikan waktu satu jam saja kepada penulis, untuk berbicara di depan mahasiswa baru Tafsir Hadis pada acara OPAK kemarin?
      7.      Seberapa mahalkah microphone yang anda gunakan pada saat OPAK, sehingga anda ketakutan saat penulis memegangnya?
      8.      Siapakah yang penulis rekomendasikan dari BEMJ-TH untuk panitia OPAK, sehingga dengan jigong tebal warna keemasan yang selalu setia menemani mulut anda dengan mudah mengatakan bahwa penulis tidak pernah ikut rapat panitia OPAK?
      9.      Dengan mahasiswa Tafsir Hadis yang 6 kelas, Masih kurangkah kader anda yang sudah 83 dari mahasiswa baru yang telah mengikuti Latihan Kaderisasi anda kemarin?
       10.  Dengan berbagai macam kritikan dan masukan bahkan bisa dikatakan tuduhan yang anda ludahkan pada muka penulis, apakah anda iri dengan kader organisasi penulis yang saat ini melimpah, atau anda merasa benci kepada penulis, padahal penulis tidak pernah mengusik acara anda bahkan ketika penulis mengeritik antek-antek andapun tidak serta merta merujuk langsung kepada objek kritikan tersebut,  atau pula anda merasa sakit hati dan kebakaran jenggot karena anda merasa kesulitan dalam rekrutmen mahasiswa baru Tafsir Hadis untuk mengikuti Latihan Kaderisasi anda, sehingga kader baru anda hanya berjumlah 83 orang (yah lumayanlah buat nambah-nambah pojokan)?
Apapun kritikannya, hanya senyuman dan do’a selalu penulis panjatkan untuk orang yang seksi akan intelektualitasnya ini. Penulis merasa bangga dan berbunga-bunga, bukan hanya seorang kekasih yang setia pada pasangannya, ternyata Ardi Mahardianpun juga masih selalu setia memperhatikan lenggokan-lenggokan tingkah laku penulis (takut selingkuh sama mahasiswi baru kali).
Yang terpenting dalam benak penulis adalah jangan takut pada kritikan, tetap focus dengan apa yang dilakukan, selama itu berada pada jalan kebenaran. Orang-orang besar dahulu juga tidak terlepas dari berbagai kritikan dari berbagai belah pihak, bahkan Nabi Muhammadpun tidak lepas dari cercaan dan hinaan dari kafir Quraisy Mekkah.
Penulis sadar, bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, tapi setidaknya melalui coretan inilah senyuman ini dapat terealisasikan. Dan penulis juga yakin, setelah tulisan ini pasti ada respon dari seseorang yang selalu setia memperhatikan kemolekan tubuh penulis, maka dari itu, penulis tunggu edisi cabe rawit jilid keduanya yang lebih pedas lagi. Terakhir harapan penulis, semoga kebenaran ini akan lekas tampak dan kebatilan ini akan lekas musnah, amin…amin…ya Rabbal alamin…!!!

14 Oktober saat bulan juga ikut tersenyum melihat Rivalitas makhluk Tuhan-nya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar