Sabtu, 27 Oktober 2012

TREN JILBAB DALAM KONTEKS MODERNITAS



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Islam sebagai agama terakhir dan diwahyukan kepada Nabi yang terakhir pula, telah dijamin oleh Allah kesempurnaan ajarannya. Kesempurnaan di sini mengacu kepada aturan-aturan yang terkandung di dalamnya, yang telah mengatur kehidupan manusia dari seluruh aspeknya yang berpusat pada Tauhid mutlak. Tauhid adalah payung utama ajaran Islam, akidahnya mutlak bertumpu pada tauhid, yang juga merupakan ajaran agama Allah yang diwahyukan kepada para rasul sebelumnya.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah [5]: 3)

Ayat ini yang menjadikan yahudi iri dengan Islam karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan Islam. mereka berangan-angan seandainya ayat ini turun kepada mereka, niscaya akan mereka jadikan hari turun ayat tersebut sebagai hari perayaan bagi kaum yahudi.
Seorang ahli tafsir terkemuka –Ibnu Katsir rahimahullah- berkata tentang ayat ini, “Inilah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang tebesar bagi umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama ini, juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Maka perkara yang halal adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan dan perkara yang haram adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan.”

Telah kita ketahui bahwasanya ayat dia atas turun menjelaskan tentang kesempurnaan agama Allah yaitu agama yang paling sempurna dan agama yang paling mulia.
Kendatipun demikian, ayat ini juga dipertegas dengan sabda Rasulullah SAW, beliau bersabda:
Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian”
Ajaran ibadah juga bertumpu pada tauhid Uluhiyyah yang mengajarkan bahwa hanya Allah-lah Tuhan yang wajib dan berhak disembah. Bidang ahklak diajarkan secara pasti, atas dasar-dasar dan nilai Ilahi, tidak berdasarkan atas nilai-nilai manusiawi yang relatif, situasional dan kondisional. Bidang mu’amalat diajarkan dalam bentuk global yang penerapannya diperlukan pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan kehidupan masyarakat yang tentu tetap berpegang pada nilai-nilai transendental.
Ajaran Islam yang mengatur tata cara hidup disebut hukum. Dalam Ushul fiqh, hukum didefinisikan sebagai titah Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, yang berupa tuntutan untuk melakukan sesuatu, yang berarti perintah yang wajib dikerjakan, atau tuntutan untuk meninggalkan sesuatu, yang berarti larangan dan haram dikerjakan, atau berupa ketetapan hukum itu berupa hal yang mubah (fakultatif) yang berarti boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan, maupun ketetapan hukum yang menjadikan dua hal berkaitan dan salah satu menjadi sebab atau syarat atau menjadi penghalang bagiyang lain.
Salah satu ajaran Islam, yang banyak diklaim sebagai bagian dari budaya Islam adalah jilbab.Ayat-ayat yang berbicara mengenai jilbab ini turun untuk merespon kondisi dan konteks budaya masyarakat, yang penekanannya kepada persoalan etika, hukum dan keamanan masyarakat dimana ayat itu diturunkan.Dalam Islam wanita harus menutup tubuhnya dalam pergaulan dengan laki-laki yang secara hukum tidak termasuk muhrimnya dan tidak boleh memamerkan dirinya.
Dalam Islam, penekanan fungsi jilbab adalah untuk menutup aurat, yaitu menutup anggota tubuh tertentu yang dianggap rawan dan dapat menimbulkan fitnah. Selain itu sebagai wujud nyata bentuk penghormatan terhadap wanita.
Muhammad Sa’id al-‘Asymawi yang berpendapat bahwa hijab dalam pengertian penutup kepala atau di Indoneia dikenal dengan jilbab, bukanlah kewajiban agama. Itu merupakan tradisi masyarakat yang bisa diikuti ataupun ditentang.Karena itu, masalahhijab ini tidak memiliki konsekuensi iman-kafir, selama dasarnya tetap kesopanan dan kehormatan.
Demikian juga menegenai jilbab tren masa kini yang penulis ingin rumuskan dalam penelitian ini dan sering kita jumpai, ada tiga model jilbab yang marak pada zaman sekarang ini, antara lain sebagai berikut:

1. Jilbab panjang (jilbab yang hampir menutupi stengah badan seorang perempuan yang berukuran lumayan besar)
2. Jilbab biasa (jilbab yang kebanyakan orang indonesia pakai yang berukuran tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil)
3. Jilbab modis (jilbab yang biasa dipakai kaum perempuan dengan berbagai perhiasan di jilbabnya untuk memperindah jilbabnya dalam mekainya, sehingga terlihat mempesona dan menarik).
Oleh karena itu sangat menarik sekali apabila kita kaji secara mendalam berbagai model jilbab yang sering dipakai oleh kaum perempuan khususnya di indonesia, dan juga tujuan-tujuan dan maksud kaum perempuan mengenai jilbab seperti yang penulis sebutkan di atas.

B. Permasalahan
1. Identifikasi masalah
Adapaun masalah yang kebanyakan timbul dalam pembahasan tentang jilbab maupun tentang tren dan model jilba atau tentang batas-batas penggunaan jilbab pada wanita antara lain sebagai berikut:

1) Adanya ketidak jelasan dan ketidak pastian dalil batas pemakaian jilbab pada wanita sehingga para ulama berbeda pendapat
2) Kebanyakan dari kaum perempuan kurang memahami dalil tentang jilbab baik dalam al-Qur’an maupun hadits, sehingga sebagian kaum perempuan memakai jilbab hanya ikut-ikutan saja
3) Tidak ada kriteria khusus bagaimana jilbab yang baik dan bagus
4) Model jilbab masa kini banyak yang transparan, sehingga lekuk tubuh seorang
wanita dapat kelihatan oleh kaum laki-laki

2. Batasan masalah

Untuk menghindari pembahasan masalah yang terlalu luas dalam penelitian, maka penulis membatasi masalah dengan ruang lingkup yang lebih sempit. Pembahasan dibatasi pada masalah model jilbab saja yaitu:
Apa sajakah model atau tren jilbab yang sering digunakan oleh kaum perempuan dan apa maksud mereka menggunakan jilbab yang seperti itu?

C. Tujuan dan manfaat

Adapun tujuan dari permasalahan yang kami sajikan dalam penelitian ini yaitu
• Untuk mengetahui apa maksud para kaum perempuan mengenai jilbab yang mereka kenakan dan dari mana keinginannya
• Untuk mengetahui apa saja tren dan model jilbab pada saat sekarang ini
Adapula manfaat yang yang insya Allah akan kami dapatkan setelah kami melakukan penetian ini, yaitu:
• Mengetahui maksud dari jilbab yang oleh kaum perempuan pakai
• Mengetahui model jilbab yang saat ini sering dipakai oleh kaum wanita
• Mengetahui dari mana datangnya keinginan untuk memakai jilbab yang mereka kenakan. Dari diri mereka endiri atau dari ideologi mereka atau dari yang lain-lain.

D. Kajian terdahulu
Penelitian yang kami lakukan ini ebenarnya sudah ada yang meneliti tentang hal jilbab ini, akan tetapi bukan dalam konteks modernitas seperti yang kami lakukan. Informasi yang kami dapatkan mengenai kajian terdahulu yang oernah mengusung penelitian tentang jilbab yaitu mahasiswa Perbandingan madzhab hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogjakarta yang bernama Suardi, dengan judul skripsinya “JILBAB DALAM PANDANGAN ABU AL-A’LA AL-MAUDUDI DAN MUHAMMAD SA’ID AL-‘ASYMAWI”.
Dalam skripsinya, dia mengemukakan kontroversial mengenai jilbab dalam perspektif dua tokoh tersebut yaitu, Abu al-A’la al-Maududi dan Muhammad Sa’id al-Asymawi.
Abu al-a’la al Maududi menganalisis jilbab dengan pendekatan bahasa, dimana menggunakan bahasa hijab domestik dan hijab non domestik. Dalam pendapatnya dia mengatakan domestik adalah bahwa wanita muslimah dianjurkan tinggal di dalam rumahnya dan menjaga dirinya untuk tidak meninggalkan rumah bahkan untuk melaksanakan shalat di masjid berjama’ah. Sedangkanhijab non domestik (publik) adalah dengan memakai pakaian yang tertutup rapat, kecuali apa yang biasa terlihat seperti wajah dan kedua telapak tangan

Berbeda dengan tokoh yang satu ini yaitu Muhammad Sa’id al-Asymawi, beliau berpendapat bahwa hijab dalam pengertian penutup kepala atau di Indoneia dikenal dengan jilbab, bukanlah kewajiban agama. Itu merupakan tradisi masyarakat yang bisa diikuti ataupun ditentang.Karena itu, masalahhijab ini tidak memiliki konsekuensi iman-kafir, selama dasarnya tetap kesopanan dan kehormatan.
Karena banyak juga tokoh yang mengatakan bahwa jilbab bukanlah suatu hal yang wajib dengan berdasarkan argumen bahwa konteks turunnya ayat tentang jilbab tersebut dilatarbelakangi oleh situasi kota Madinah yang kala itu belum mempunyai tempat buang hajat di dalam rumah, sehingga ketika hendak buang hajat, mereka harus ketempat sepi di tengah padang pasir. Kesulitan tentu dihadapi oleh wanita muslimah yang ketika akan buang hajat sering diikuti oleh laki-laki iseng yang menyangka bahwa mereka adalah budak. Untuk membedakan antara wanita muslimah dengan budak tersebut, maka turunlah ayat tersebut.Sehinga dengan memakai jilbab, wanita muslimah dikenali dari pakaian mereka, sehingga mereka terhindar dari gangguan laki-laki iseng.
Mungkin hanya itu yang kami dapat dari kajian terdahulu mengenai analisis jilbab semoga menjadi tambahan wawasan bagi pembaca yang budiman, amin.

E. Metode penelitian

1. Jenis Penelitian
• Data meliputi:
- Data dari buku-buku tentang masalah jilbab (studi pustaka)
- Hasil wawancara
- Observasi
• Tekhnik pengumpulan data meliputi:
- Studi pustaka
- Wawancara
- Observasi
• Kemudian dilanjutkan dengan analisis data

F. Sistematika penulisan
Sistematika yang dipakai dalam penulisan skripsi ini terbagi menjadi beberapa bab dengan penyusunan sebagai berikut:
Bab pertama merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari sub-sub bab, yaitu latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat dan tujuan penelitian, kajian terdahulu, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab dua adalah kerangka teori, menjelaskan tentang sekilas tentang pengertian jilbab dan pemakaian jilbab menurut sebagian ulama.

Kemudian bab tiga terdiri dari data penelitian dan subyek dari penelitian yang kami lakukan.

Dilanjutkan dengan bab empat yang terdiri dari berbagai sub-sub yaitu, analisis data hasil wawancara, data yang telah kami ambil dan hasil observasi dari subyek penelitian kami.
Bab lima merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan dari rumusan masalah yang sudah kami rumuskan di atas dan saran agar penelitian kami ini berguna dan bisa dipergunakan dengan baik di masa yang akan datang dan harapan kritik konstruktif dari pembaca.


BAB II
KERANGKA TEORI
KAJIAN TENTANG JILBAB DAN PEMAKAIANNYA MENURUT SEBAGIAN ULAMA


A. Pengertian jilbab
Dalam kamus bahasa Arab Munjid arti kata jilbab adalah: “al qomiisu awissaubul waasi’” yang artinya pakaian yang lebar atau luas (Mansur M. H., 2003: 1)
Arti kata jilbab ketika Al Quran diturunkan adalah kain yang menutup dari atas sampai bawah, tutup kepala, selimut, kain yang di pakai lapisan yang kedua oleh wanita dan semua pakaian wanita, ini adalah beberapa arti jilbab seperti yang dikatakan Imam Alusiy dalam tafsirnya “Ruuhul Ma`ani”.
Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan; Jilbab berarti kain yang lebih besar ukurannya dari khimar (kerudung), sedang yang benar menurutnya jilbab adalah kain yang menutup semua badan.

Dari atas tampaklah jelas kalau jilbab yang dikenal oleh masyarakat indonesia dengan arti atau bentuk yang sudah berubah dari arti asli jilbab itu sendiri, dan perubahan yang demikian ini adalah bisa dipengaruhi oleh berbagai factor, salah satunya adalah sebab perjalanan waktu dari masa Nabi Muhammad Saw sampai sekarang atau disebabkan jarak antar tempat dan komunitas masyarakat yang berbeda yang tentu mempunyai peradaban atau kebudayaan berpakaian yangberbeda.

Namun yang lebih penting ketika kita ingin memahami hukum memakai jilbab adalah kita harus memahami kata jilbab yang di maksudkan syara`(agama), Shalat lima kali bisa dikatakan wajib hukumnya kalau diartikan shalat menurut istilah syara`, lain halnya bila shalat diartikan atau dimaksudkan dengan berdoa atau mengayunkan badan seperti arti shalat dari sisi etemologinya.

Allah Swt dalam Al Quran berfirman:

 •                      

Artinya:Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang.
(Al Ahzab.59).

Ayat di atas turun ketika wanita merdeka (seperti wanita-wanita sekarang) dan para budak wanita (wanita yang boleh dimiliki dan diperjual belikan) keluar bersama-sama tanpa ada suatu yang membedakan antara keduanya, sementara madinah pada masa itu masih banyak orang-orang fasiq (suka berbuat dosa) yang suka mengganggu wanita-wanita dan ketika diperingatkan mereka (orang fasiq) itu menjawab kami mengira mereka (wanita-wanita yang keluar) adalah para budak wanita sehingga turunlah ayat di atas bertujuan memberi identitas yang lebih kepada wanita-wanita merdeka itu melalui pakaian jilbab.

Hal ini bukan berarti Islam membolehkan untuk mengganggu budak pada masa itu, Islam memandang wanita merdeka lebih berhak untuk diberi penghormatan yang lebih dari para budak dan sekaligus memerintahkan untuk lebih menutup badan dari penglihatan dan gangguan orang-orang fasiq sementara budak yang masih sering disibukkan dengan kerja dan membantu majikannya lebih diberi kebebasan dalam berpakaian.
Ketika wanita anshar (wanita muslimah asli Makkah yang berhijrah ke Madinah) mendengar ayat ini turun maka dengan cepat dan serempak mereka kelihatan berjalan tenang seakan burung gagak yang hitam sedang di atas kepala mereka, yakni tenang -tidak melenggang- dan dari atas kelihatan hitam dengan jilbab hitam yang dipakainya di atas kepala mereka.

Ayat ini terletak dalam Al Quran setelah larangan menyakiti orang-orang mukmin yang berarti sangat selaras dengan ayat sesudahnya (ayat jilbab), sebab berjilbab paling tidak, bisa meminimalisir pandangan laki-laki kepada wanita yang diharamkan oleh agama, dan sudah menjadi fitrah manusia, dipandang dengan baik oleh orang lain adalah lebih menyenangkan hati dan tidak berorentasi pada keburukan, lain halnya apabila pandangan itu tidak baik maka tentu akan berdampak tidak baik pula bagi yang dipandang juga yang melihat, nah, kalau sekarang kita melihat kesebalikannya yaitu ketika para wanita lebih senang untuk dipandang orang lain ketimbang suaminya sendiri maka itu adalah kesalahan pada jiwa wanita yang perlu dibenarkan sedini mungkin dan dibuang jauh jauh terlebih dahulu sebelum seorang wanita berbicara kewajiban berjilbab.

B. Pememakaian jilbab menurut sebagian ulama


I. memakai jilbab dengan arti aslinya yaitu sebelum diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi bahasa yang baku, adalah aturan yang mana para shahabat dan ulama` berbeda pendapat ketika menafsirkan ayat Al Quran di atas. Perbedaan cara memakai jilbab antara shahabat dan juga antara ulama itu disebab bagaimana idnaa`ul jilbab (melabuhkan jilbab atau melepasnya) yang ada dalam ayat itu. Ibnu Mas`ud dalam salah satu riwayat dari Ibnu Abbas menjelaskan cara yang diterangkan Al Quran dengan kata idnaa` yaitu dengan menutup semua wajah kecuali satu mata untuk melihat, sedangkan shahabat Qotadah dan riwayat Ibnu Abbas yang lain mengatakan bahwa cara memakainya yaitu dengan menutup dahi atau kening, hidung, dengan kedua mata tetap terbuka.

Adapun Al Hasan berpendapat bahwa memaki jilbab yang disebut dalam Al Quran adalah dengan menutup separuh muka, beliau tidak menjelaskan bagian separuh yang mana yang ditutup dan yang dibuka ataukah tidak menutup muka sama sekali.Dari perbedaan pemahaman shahabat seputar ayat di atas itu muncul pendapat ulama yang mewajibkan memaki niqob atau burqo` (cadar) karena semua badan wanita adalah aurat (bagian badan yang wajib ditutup) seperti Abdul Aziz bin Baz Mufti Arab Saudi, Abu Al a`la Al maududi di Pakistan dan tidak sedikit Ulama`-ulama` Turky, India dan Mesir yang mewajibkan bagi wanita muslimah untuk memakai cadar yang menutup muka, Hal di atas sebagaimana yang ditulis oleh Dr.Yusuf Qardlawi dalam Fatawa Muashirah, namun beliau sendiri juga mempunyai pendapat bahwa wajah dan telapak tangan wanita adalah tidak aurat yang harus ditutup di depan laki-laki lain yang bukan mahram (laki-laki yang boleh menikahinya), beliau juga menegaskan bahwa pendapat itu bukan pendapatnya sendiri melainkan ada beberapa Ulama` yang berpendapat sama, seperti Nashiruddin Al Albani dan mayoritas Ulama`-ulama` Al Azhar, Qardlawi juga berpendapat memakai niqob atau burqo`(cadar) adalah kesadaran beragama yang tinggi yang man bila dipaksakan kepada orang lain, maka pemaksaan itu dinilainya kurang baik, sebab wanita yang tidak menutup wajahnya dengan cadar juga mengikuti ijtihad Ulama` yang kredibelitas dalam berijtihadnya dipertanggung jawabkan.

Sedangkan empat Madzhab, Hanafiyah, Malikiyah, Syafi`iyah dan Hanabila berpendapat bahwa wajah wanita tidaklah aurat yang wajib ditutupi di depan laki-laki lain bila sekira tidak ditakutkan terjadi fitnah jinsiyah (godaan seksual), menggugah nafsu seks laki-laki yang melihat. Sedangkan Syafi`iyah juga ada yang berpendapat bahwa wajah dan telapak tangan wanita adalah aurat (bagian yang wajib ditutup) seperti yang ada dalam kitab Madzahibul Arba`ah, diperbolehkannya membuka telapak tangan dan wajah bagi wanita menurut mereka disebabkan wanita tidak bisa tidak tertuntut untuk berinteraksi dengan masyarak sekitarnya baik dengan jual beli, syahadah (persaksian sebuah kasus), berdakwah kepada masyarakatnya dan lain sebagainya, yang semuanya itu tidak akan sempurnah terlaksana apabila tidak terbuka dan kelihatan.

Ringkasnya, para ulama Islam salafy (klasik)sampai yang muashir (moderen)masih berselisih dalam hal tersebut di atas. Bagi muslimah boleh memilih pendapat yang menurut dia adalah yang paling benar dan autentik juga dengan mempertimbangkan hal lain yang lebih bermanfaat dan penting dibanding hanya menutup wajah yang hanya bertujuan menghindari fitnah jinsiyah yang masih belum bisa dipastikan bahwa hal itu memang disebabkan membuka wajah dan telapak tangan saja.

II. Imam Zamahsyari dalam Al Kasysyaf menyebutkan cara lain memakai jilbab menurut para ulama`yaitu dengan menutup bagian atas mulai dari alis mata dan memutarkan kain itu untuk menutup hidung, jadi yang kelihatan adalah kedua mata dan sekitarnya. Cara lain yaitu menutup salah satu mata dan kening dan menampakkan sebelah mata saja, cara ini lebih rapat dan lebihbisa menutupi dari pada cara yang tadi. Cara selanjutnya yang disebutkan oleh Imam Zamahsyari adalah dengan menutup wajah, dada dan memanjangkan kain jilbab itu ke bawah, dalam hal ini jilbab haruslah panjang dan tidak cukup kalau hanya menutup kepala dan leher saja tapi harus juga dada dan badan, Cara-cara di atas adalah pendapat Ulama` dalam menginterpretasikan ayat Al Qur an atau lebih tepatnya ketika menafsirkan kata idnaa`(melabuhkan jilbab atau melepasnya kebawah).

Nah,mungkin dari sinilah muncul pendapat bahwa berjilbab atau menutup kepala harus dengan kain yang panjang dan bisa menutup dada lengan dan badan selain ada baju yang sudah menutupinya, karena jilbab menurut Ibnu Abbas adalah kain panjang yang menutup semua badan, maka bila seorang wanita muslimah hanya memaki tutup kepala yang relatif kecil ukurannya yang hanya menutup kepala saja maka dia masih belum dikatakan berjilbab dan masih berdosa karena belum sempurnah dalam berjilbab seperti yang diperintahkan agama.

Namun sekali lagi menutup kepala seperti itu di atas adalah kesadaran tinggi dalam memenuhi seruan agama sebab banyak ulama` yang tidak mengharuskan cara yang demikian. Kita tidak diharuskan mengikuti pendapat salah satu Ulama` dan menyalahkan yang lain karena masalah ini adalah masalah ijtihadiyah (yang mungkin salah dan mungkin benar menurut Allah Swt) yang benar menurut Allah swt akan mendapat dua pahala, pahala ijtihad dan pahala kebenaran dalam ijtihad itu, dan bagi yang salah dalam berijtihad mendapat satu pahala yaitu pahala ijtihad itu saja, ini apabila yang berijtihad sudah memenuhi syarat-syaratnya. Adalah sebuah kesalah yaitu apabila kita memaksakan pendapat yang kita ikuti dan kita yakini benar kepada orang lain, apalagi sampai menyalahkan pendapat lain yang bertentangan tanpa tendensi pada argumen dalil yang kuat dalam Al Quran dan Hadist atau Ijma`.

Quarish shihab menyatakan dalam bukunya jilbab pakaian wanita muslimah bahwa tidak ada batasan tertentu dalam al-Qur’an tentang batasan aurat wanita sehingga banyak pendapat ulama yang berbeda akan hal ini. Seandainya ada ketentuan yang jelas tentang batasan aurat pada wanita, maka tidak ada perbedaan antara berbagai pendapat ulama.

Firman Allah ta’aala dalam surat Al-Ahzab ayat 59 :

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan berkata:
Allah Ta’ala menyuruh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam agar dia menyuruh wanita-wanita mukmin, istri-istri,dan anak-anak perempuan beliau agar mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka. Sebab cara berpakaian yang demikian membedakan mereka dari kaum wanita jahiliah dan budak-budak perempuan. Jilbab berarti selendang/kain panjang yang lebih besar dari pada kerudung.Demikian menurut Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, dan sebagainya.Kalau sekarang jilbab itu seperti kain panjang .Al-Jauhari berkata,”Jilbab ialah kain yang dapat dilipatkan”.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ummu Salamah dia berkata:”Setelah ayat diatas turun, maka kaum wanita Anshar keluar rumah dan seolah-olah dikepala mereka terdapat sarang burung gagak. Merekapun mengenakan baju hitam”
az-Zuhri ditanya tentang anak perempuan yang masih kecil. Beliau menjawab menjawab:”Anak yang demikian cukup mengenakan kerudung, bukan jilbab”
Dikeluarkan oleh Abu Dawud (II:182) dengan sanad Shahih. Disebutkan pula dalam kitab Ad-Duur (V:221) berdasarkan riwayat AbdurRazaq, Abdullah bin Humaid, Abu Dawud, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari hadits Ummu Salamah dengan lafal :”Tatkala ayat ini turun, maka wanita-wanita Ansharpun keluar rumah seakan diatas kepala-kepala mereka terdapat gagak lantaran pakaian (jilbab) yang mereka kenakan” Kata”Ghurban” adalah bentuk jamak dari “Ghurab” (gagak). Pakaian (jilbab) mereka diserupakan dengan burung gagak karena warnanya yang hitam.

Dari hadits diatas dapat difahami bahwa mengenakan jilbab dengan warna gelap merupakan sunnahnya wanita-wanita shahabiyah dan tentu saja istri-istri Nabi kita yang mulia. Dalil yang lain adalah Hadits Shahih Riwayat Bukhari yang dimasukkan oleh Imam Syaukhani dalam kitabul Libas dimana Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memakaikan pakaian warna hitam kepada Ummu Khalid lengkapnya adalah sebagai berikut :
“Dan dari Ummu Khalid, ia berkata: Beberapa pakaian dibawa kepada Nabi diantaranya terdapat pakaian berwarna hitam. Lalu Nabi bertanya: Bagaimana pandanganmu kepada siapa kuberikan pakaian hitam ini?Lalu terdiamlah kaum itu. Kemudian Nabi bersabda :Bawalah kemari Ummu Khalid, lalu aku dibawa kepada Nabi , kemudian ia memakaikan pakaian itu kepadaku dengan tangannya sendiri, dan bersabda:selamat memakai dan semoga cocok! Dua kali. Lalu Nabi melihat kepada keadaan pakaian itu dan mengisyaratkan tangannya kepadaku sambli berkata: Ya, Ummu Khalid, ini bagus, ini bagus (sanna dalam bahasa Habasyah artinya: bagus)”
(HR. Bukhari , Nailul Author, Imam Syaukhani,1/404-405)
Yang namanya jilbab adalah kain yang dikenakan oleh wanita untuk menyelimuti tubuhnya diatas pakaian (baju) yang ia kenakan. Ini adalah definisi pendapat yang paling shahih(yang paling benar).

Didalam menjelaskan definisi jilbab dikatakan terdapat 7 pendapat yang telah disebutkan oleh Al-Hafizh dalam kitab beliau “Fathul Bari” (I:336), dan ini adalah salah satunya. Pendapat ini juga diikuti oleh Imam Al-Baghawi dalam Tafsirnya (III:544) yang mengatakan:”Jilbab adalah pakaian yang dikenakan oleh wanita diatas pakaian biasa dan khimar(kerudung)”
Ibnu Hazm (III:217) mengatakan:”Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya”
Imam Al-Qurthubi menshahihkannya dalam kitab Tafsirnya.

“Umumnya jilbab ini dikenakan oleh kaum wanita manakala ia keluar rumah”. Ini seperti yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani (Bukhari & Muslim) dan juga oleh perawi lainnya dari Ummu ‘Athiyah radhiyallahu’anha bahwa ia berkata:
“Rasulullah shalallahu alaihi wasslam memerintahkan kami agar keluar pada hari Idul Fitri maupun Idul Adha , baik para gadis yang menginjak akil baligh, wanita-wanita yang sedang haidh maupun wanita-wanita pingitan. Wanita-wanita yang haidh tetap meninggalkan shalat namun mereka dapat menyaksikan kebaikan (mendengarkan nasehat) dan dakwah kaum muslimin. Aku bertanya: Ya, Rasulullah, salah seorang dari kami ada yang tidak memiliki jilbab? Beliau menjawab: Kalau begitu hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya.”
(Hadits Shahih mutafaq alaih)
Syaikh Anwar Al-Kasymiri dalam kitabnya”Faithul Bari” (I:388) berkaitan dengan hadits ini mengatakan:
“Dapatlah dimengerti dari hadits ini bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah dan ia tidak boleh keluar jika tidak mengenakan jilbab”
Diantara beberapa madzhab /pendapat yang mengatakan berkenaan dengan ayat tersebut diantaranya ada yang mengatakan bahwa pada dasarnya jilbab itu tidak diperintahkan manakala orang-orang fasik sedang tidak lagi mengganggu, atau tatkala sudah hilang illat(sebab/alasan). Jika sebab ini sudah hilang, maka hilanglah pula ma’lul (akibatnya)
Para Ulama` sepakat bahwa menutup aurat cukup dengan kain yang tidak transparan sehingga warna kulit tidak tampak dari luar dan juga tidak ketat yang membentuk lekuk tubuh, sebab pakaian yang ketat atau yang transparan demikian tidak bisa mencegah terjadinya fitnah jinsiyah (godaan seksual)bagi laki-laki yang memandang secara sengaja atau tidak sengaja bahkan justru sebaliknya lebih merangsang terjadinya hal tersebut, atas dasar itulah para ulama` sepakat berpendapat bahwa kain atau model pakaian yang demikian itu belum bisa digunakan menutup aurat, seperti yang dikehendaki Syariat dan Maqasidnya (tujuan penetapan suatu hukum agama) yaitu menghindari fitnah jinsiyah (godaan seksual) yang di sebabkan perempuan.
Selanjutnya kalau kita mengkaji sebab diturunkannya ayat di atas yaitu ketika orang-orang fasiq mengganggu wanita-wanita merdeka dengan berdalih tidak bisa membedakan wanita-wanita merdeka itu dari wanita-wanita budak (wanita yang bisa dimiliki dan diperjual belikan), maka kalau sebab yang demikian sudah tidak ada lagi pada masa sekarang, karena memang sedah tidak ada budak, maka itu berarti menutup dengan cara idnaa` melabuhkan ke dada dan sekitarnya agar supaya bisa dibedakan antara mereka juga sudah tidak diwajibkan lagi, adapun kalau di sana masih ada yang melakukan cara demikian dengan alasan untuk lebih berhati-hati dan berjaga-jaga dalam mencegah terjadinya fitnah jinsiyah (godaan seksual) maka adalah itu masuk dalam katagori sunnat dan tidak sampai kepada kewajiban yang harus dilaksanakan.
Namun bisa jadi ketika jilbab sudah memasyarakat sehingga banyak wanita berjilbab terlihat di mall, pasar, kantor, kampus dan lain sebagainya, namun cara mereka sudah tidak sesuai lagi dengan yang diajarkan agama, misalnya tidak sempurna bisa menutup rambut atau dengan membuka sebagian leher. Atau ada sebab lain, misalnya berjilbab hanya mengikuti trend atau untuk memikat laki-laki yang haram baginya atau disebabkan para muslimah yang berjilbab masih sering melanggar ajaran agama di tempat-tempat umum yang demikian itu bisa mengurangi dan bahkan menghancurkan wacana keluhuran dan kesucian Islam, sehingga dibutuhkan sudah saatnya dibutuhkan kelmbali adanya pilar pembeda antara yang berjilbab dengan rasa kesadaran penuh atas perintah Allah Swt dalam Al Quran dari para wanita muslimah yang hanya memakai jilbab karena hal-hal di atas tanpa memahami nilai berjilbab itu sendiri.

Mungkin di saat seperti itulah memakai jilbab dengan cara melabuhkan ke dada dan sekitarnya diwajibkan untuk mejadi pilar pembeda antara jilbab yang ngetrend dan tidak islami dari yang berjilbab yang islami dan ngetrend serta mengedepankan nilai jilbab dan tujuan disyariatkannya jilbab itu.


BAB III
DATA DAN SUBYEK PENELITIAN


A. Data
Data yang kami ambil dari berbagai tren atau model jilbab yang mereka pakai 5 orang 5 orang, jadi setiap model jilbab, penulis ambil 5 orang, sehingga validitas data akan lebih otentik dan lebih jelas dalam mengklasifikasikan model jilbab dalm konteks sekarang ini.

B. Subyek peneitian
Untuk subyek dari penelitian ini, penulis ambil dari beberapa mahasiswa dari berbagai fakultas yaitu, dari Fakultas Dakwah dan ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Ushuluddin yang tak bisa kami sebutkan nama-nama mereka semua, karena rahasia jawaban dari wawancara dan peranyaan dalam quisioner adalah amanah dan tanggung jawab kami, dan juga dari salah satu dari UKM (Unit kegiatan Mahasiswa) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu Lembaga Dakwah Kampus (LDK).
No Fakultas / Jurusan / UKM Alamat asal Latar belakang pendidikan Umur Model jilbab yang disukai Alasan

1 Psikologi, LDK Ciracas SMAN 21 tahun Jilbab panjang Karena di dalam al-Qur’an sudah jelas perintah untuk memamakai jilbab untuk menutupi semua aurat
2 Ushuluddin, Tafsir Hadits, LDK Serang Banten SMAN 21 tahun Jilbab panjang Dengan memakai jilbab panjang, lekuk tubuh seorang wanita tidak dapat kelihatan
3 Tarbiyah, PGMI Bekasi SMAN 20 tahun Jilbab panjang Memakai jilbab yang pajang, aurat seorang wanita akan tertutup lebih rapat
4 Dakwah dan Komunikasi, Bimbingan Penyuluhan Islam Pandeglang Banten Madrasah Aliyah 19 Tahun Jilbab panjang Melaksanakan perintah agama
5 Ushuluddin, Tafsir Hadits Jakarta Pondok pesantren 21 tahun Jilbab modis Mempercatik jilbab
6 Ushuluddin, Tafsir Hadits Solo Pondok pesantren 20 tahun Jilbab modis Agar tampil lebih cantik
7 Ushuluddin, Tafsir Hadits Sulawesi Selatan Madrasah Aliyah 20 tahun Jilbab modis Suka sama perhiasan
8 Ushuluddin, Tafsir Hadits Serang Madrasah Aliyah 20 tahun Jilbab sederhana atau biasa Suka dengan kesederhanaan
9 Ushuluddin, Tafsir Hadits Gresik, Jawa Timur Pondok pesantren 20 tahun Jilbab sederhana atau biasa Agar tidak memakan waktu lama pada saat ingin mamakainya
10 Dakwah dan ilmu Komunikasi, Bimbingan Penyuluhan Islam Jakarta Timur Madrasah Aliyah 19 tahun Jilbab sederhana Meskipun sederhana dan biasa yang penting menutup aurat
Jumlah 10 orang Dari berbagai fakultas dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)


BAB IV
JILBAB MENURUT PARA PENGGUNANYA

A. Alasan
Setelah kami melakukan wawancara dan menyebarkan angket kepada beberapa mahasiswa. Kami dapat menafsirkan atau menginterpretasikan bahwa:

• Wanita yang menggunakan jilbab panjang dan sebagian memakai cadar itu mayoritas adalah lulusan SMAN dan Mereka kurang memahami dan sebagian bahkan tidak tau tentang ayat atau dalil tentang perintah jilbab itu sendiri, sehingga interpretasi dan asumsi kami kepada mereka, memakai jilbab yang panjang hanya sekedar dorongan ideologi yang mereka geluti atau minimnya wawasan keagamaan mereka khususnya pengetahuan mengenai perintah jilbab sehingga ikut-ikutan saja dan mereka beralasan bahwa dengan memakai jilbab mereka merasa lebih terjaga auratnya dan lebih tertutup.

• Kemudian para wanita yang menggunakan jilbab modis. Setelah kami melakukan wawancara dan menyebarkan angket bahwa kaum perempuan yang senang mengenakan jilbab yang modis itu adalah lahir dari keinginnan dan kesenangan diri mereka sendiri, sehingga timbullah dalam diri mereka rasa percaya diri dengan jilbab yang mereka kenakan. Alasannya karena dengan hiasan yang mereka pakai pada jilbab mereka akan semakin mempercantik penampilannya.

• Dan bagi wanita menggunakan jilbab yang sederhana dan biasa-biasa saja, kebanyakan dari mereka mengatakan, lebih senang dengan kesederhanaan dan tidak muluk-muluk dalam mengenakan jilbab. Sehingga kami dapat menginterpretasikan bahwa mereka adalah orang-orang yang mencintai kesederhanaan dan bisa juga karena mereka tidak senang berlama-lama dalam memakain pakaian, karena dalam memakai jilbab yang modis maupun jilbab yang panjang, sangat membutuhkan waktu yang lumayan lama.

B. Pilihan model jilbab
Di dalam perintah pemakaian jilbab itu sendiri tidak menjelaskan dari mana dan sampai mana batas jilbab yang harus dikenakan oleh kaum wanita, maka dari itu setelah penulis melakukan wawancara dan menyebarkan angket kepada sebagian mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penulis dapat menganalisa bahwa ada bebrapa tren atau model jilbab yang sering dipakai oleh wanita, sehingga penulis klasifikasikan tren atau model jilbab yang sering wanita kenakan di zaman modern ini menjadi tiga model yaitu:

• Jilbab panjang adalah: jilbab yang digunakan seorang wanita untuk menutupi separuh tubuhnya, sehingga lekuk tubuh perempuan tidak kelihatan dan tidak transparan.
Berikut gambarnya:

• Jilbab biasa atau sederhana adalah: jilbab yang kebanyakan dipakai oleh perempuan saat ini yang hanya menutupi sekitar seperempat dari badannya.
Berikut gambarnya:

• Jilbab modis adalah: jilbab yang digunakan oleh seorang perempuan yang penuh dengan hiasan-hiasan (bros) untuk memperindah jilbab mereka
Berikut gambar di bawah ini:

C. Manfaat
Adapun manfaat dari jilbab panjang menurut mereka adalah dapat menjaga aurat mereka dengan benar-benar, sehingga aurat para pemakai jilbab panjang semakin tertutup dan dan sulit untuk dapat terlihat oleh para laki-laki.
Dan manfaat jilbab yang modis adalah menambah kecantikan jilbab yang mereka pakai, sehingga para pemakai jilbab modis akan lebih percaya diri saat mereka memakainya.
Kemudian manfaat dari jilbab yang sederhana adalah tidak menghabiskan waktu yang lama dalam memakainya dan mudah dalam bergerak saat memakainya.


BAB V
PENUTUP


A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasi penelitian kami tentang berbagain model dan tren jilbab pada zaman sekarang ini adalah sebagai berikut:

• Jilbab panjang adalah: jilbab yang digunakan seorang wanita untuk menutupi separuh tubuhnya, sehingga lekuk tubuh perempuan tidak kelihatan dan tidak transparan.

• Jilbab biasa atau sederhana adalah: jilbab yang kebanyakan dipakai oleh perempuan saat ini yang hanya menutupi sekitarseperempat dari badannya.

• Jilbab modis adalah: jilbab yang digunakan oleh seorang perempuan yang penuh dengan hiasan-hiasan (bros) untuk memperindah jilbab mereka
Kemudian berikut hasil interpretasi kami tentang apa maksud mereka dalam memakai model jilbab yang mereka kenakan berikut alasan mereka adalah sebagai berikut:

• Wanita yang menggunakan jilbab panjang dan sebagian memakai cadar itu mayoritas adalah lulusan SMAN dan Mereka kurang memahami dan sebagian bahkan tidak tau tentang ayat atau dalil tentang perintah jilbab itu sendiri, sehingga interpretasi dan asumsi kami kepada mereka, memakai jilbab yang panjang hanya sekedar dorongan ideologi yang mereka geluti atau minimnya wawasan keagamaan mereka khususnya pengetahuan mengenai perintah jilbab sehingga ikut-ikutan saja dan mereka beralasan bahwa dengan memakai jilbab mereka merasa lebih terjaga auratnya dan lebih tertutup.

• Kemudian para wanita yang menggunakan jilbab modis. Setelah kami melakukan wawancara dan menyebarkan angket bahwa kaum perempuan yang senang mengenakan jilbab yang modis itu adalah lahir dari keinginnan dan kesenangan diri mereka sendiri, sehingga timbullah dalam diri mereka rasa percaya diri dengan jilbab yang mereka kenakan. Alasannya karena dengan hiasan yang mereka pakai pada jilbab mereka akan semakin mempercantik penampilannya.

• Dan bagi wanita menggunakan jilbab yang sederhana dan biasa-biasa saja, kebanyakan dari mereka mengatakan, lebih senang dengan kesederhanaan dan tidak muluk-muluk dalam mengenakan jilbab. Sehingga kami dapat menginterpretasikan bahwa mereka adalah orang-orang yang mencintai kesederhanaan dan bisa juga karena mereka tidak senang berlama-lama dalam memakain pakaian, karena dalam memakai jilbab yang modis maupun jilbab yang panjang, sangat membutuhkan waktu yang lumayan lama.

B. Saran
Dari sekian banyak penelitian yang kami lakukan, mulai dari tinjauan pustaka maupun lapangan, maka hanya itulah yang bisa kami lakukan walau hanya sebatas interpretasi dan asumsi.

Maka dari itu kami mengharap kritik konstruktif bagi para pembaca yang budiman, sehingga kami dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam lagi dan lebih valid lagi.

Dan juga kepada seluruh produsen jilbab agar memproduksi jilbab yang benar-benar menutup aurat, sehingga para wanita yang menggunakan jilbab itu benar-benar menutup auratnya dan tidak kelihatan oleh kaum laki-laki.

Kemudian harapan kami kepada peniliti jilbab setelah kami agar lebih mengembangkan penilitiannya sehingga wawasan para pembaca lebih luas dan bertambah dan tidak hanya fokus kepada model dan tren jilbab yang berkembang pada saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Al-alusi, ruuhul ma’ani, maktabah misykaatul islamiyah
Basyir, Azhar Ahmad, Refleksi atas Persoalan Keimanan (Seputar Masalah Filsafat, Hukum, Politik dan Ekonomi), cet. ke- 4, (Bandung: Mizan, 1996)
Al-Albani,Jilbab Wanita Muslimah
Ibrahim bin Fatih bin Abd Al-Muqtadir, Wanita Muslimah vs Wanita Pesolek, cet. Ke-2, (Jakarta: AMZAH, 2008)
http://www.indojilbab.com/content/42-definisi-jilbab-dalam-al-quran-dan-jilbab-zaman-sekarang
Junaedi, jilbab dalam pandangan abu al-A’la al-Maududi dan Muhammad Sa’id al-‘Asymawi, skripsi Tahun 2004
Muthahari, Murtadha, Hijab: Gaya Hidup Wanita Islam, (Bandung:, Mizan, 1995)
Syihab, Quraish, jilbab pakaian wanita muslimah, cet. Ke-4, (Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2009)
Shahab, Husein, jilbab menurut al-Qur’an dan As-Sunnah, cet. Ke-9, (Bandung: Mizan, 1994)
Taimiyah, Ibnu, Jilbab dan Cadar Dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, cet. Ke-1, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya 1994)
Zahrah, Abu Muhammad, Usul al-Fiqh, (Kairo: Dar al-Fikr al- 'Arabi, 1958)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar