Minggu, 03 Juni 2012

MAHMUD SYALTUT


A. Pendauluan
Allah menurunkan kitab-Nya Al-Qur'an untuk pedoman dan undang-undang bagi kaum muslimin dalam mengarungi liku-liku hidupnya. Dengan pantulan sinarnya, hati mereka akan menjadi terang dan petunjuknya mereka akan mendapatkan jalan yang lapang. Dari ajaran-ajarannya yang lurus serta undang-undangnya yang bijaksana mereka dapat memetik suatu hal yang membuat mereka dalam puncak kebahagiaan dan keluhuran.
Tafsir sahabat adalah tafsir yang memiliki kedudukan sebagaimana hadis Nabi Muhammad saw. Tafsir sahabat termasuk tafsir mu'tamad (dapat dijadikan pegangan) dan dapat diterima, karena sahabat pernah berkumpul dan bertemu Nabi saw. yang tentunya mereka dapat mengambil dari sumbernya yang asli, mereka menyaksikan turunnya wahyu dan Al Qur’an. Mereka mengetahui asbabunnuzul (sebab sebab turunnya wahyu). Dan yang lebih penting lagi, mereka mempunyai jiwa yang murni, fitrah

yang lurus dan kedudukan yang tinggi dalam hal kefasihan dan kejelasan berkalam.
Tafsir Al-Qur’an Al-karim karya Al Imam Mahmud Syaltut adalah tafsir yang mengagas pertama dengan metode tematis antar surah (maudhu’i), dimana di dalamnya banyak menjelaskan inti dari setiap surat
.Dalam penjelasan kali ini kami membahas tentang kaidah tafsir kontemporer yaitu tafsir Al-Qur’an Al-karim karya Al Imam Mahmud Syaltut Semoga makalah ini dapat menambah khazanah keilmuan dan bermanfaat bagi pribadi penulis dan pembaca yang budiman, amin.

B. Profil dan biografi syekh Mahmud Syaltut
Syekh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam, Dialog Sunni Syiah mulai dari analisa al-quran, Analisa Hadis, dan lain2.
Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju. Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti Al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syiah.
Syekh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H. di Desa Manahiyah, Bani Mansyur Bukhairah, Mesir, pada tahun 1893 M..
Pendidikan beliau dimulai sejak dari keluarnya yang berpendidikan, beliau dididik oleh orang tuanya semenjak kecil oleh keluarganya dan oleh ulama di desanya. Sehingga beliau sudah hafal al-Qur’an semenjak beliau masih berusia dini.
Tahun 1906 M, saat usia Mahmud syaltut erusia 13 Tahun, beliau mengawali pendidikan formalnyanya di Ma’had Al-Iskandariyah. Di Ma’had ini beliau mengahabiskan waktunya dalam menuntut ilmu selama 12 Tahun yaitu pada Tahun 1918 beliau telah merampungkan pendidikan formalnya dan mendapat syahadah alamiyah an-nazamiyah, yaitu ijazah yang setara dengan S-1. Setahun kemudian beliau mengajar dan mengabdi di almamaternya.
Kemudian Syekh Mahmud Syaltut pindah ke Universitas al-Azhar. Di samping beliau mengajar di Universitas tertua di dunia itu ia juga memegang beberapa jabatan penting. Misalnya, penilik pada sekolah-sekolah agama, wakil dekan Fakultas syari’ah Universitas al-Azhar, dan wakil syekh al-Azhar.
Jabatan sebagai wakil Syekh al-Azhar dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh beliau . ia segera mengemukakan gagasan pembaharuan terhadap Universitas al-Azhar dalam bidang kebahasaan. Sehingga gagasan pembaharuannyapun diterima semua pihak. Proyek tersebut berjalan lanjar pada Tahun 1946 M dengan pembentukan lembaga bahasa. Ia sendiri termasuk salah satu anggotanya.
Pada tahun 1950 M, Syaltut diangkat sebagai pengawas umum pada bagian penelitian dan kebudayaan Islam di Universitas al-Azhar. Kesempatan ini dignakannya untuk menggalang hubungan kebudayaan Mesir dengan kebudayaan Arab di dunia Islam. Dalam kaitan ini, ia pernah menjadi penasihat Muktamar Islam di bawah pemerintahan Republik persatuan Arab (Federasi Suriah dan Mesir antara tahun 1958-1961).
Dengan kerja kerasnya yang ia jalani dengan sabar dan tabah akhirnya pada tahun 1958 M syekh Mahmud Syaltut terpilih menjadi Rektor al-Azhar ke-41. Semasa menjadi Rektor beliau mengagendakan beberapa reformasi di Universitas al-Azhar. Salah satunya, memindahkan Institut Pembacaan al-Qur’an ke dalam masjid al-Azhar dengan susunan rencana pelajaran tetentu. Kebijakan ini sekaligus bertujuan mengemalikan fungsi al-Azhar sebagai Pusat kajian al-Qur’an bagi seluruh umat secara bebas tanpa terikat jam pelajaran dan ujian.
Selain diangkat sebagai Rektor Universitas al-Azhar, bilau juga dipercya memegang jabatan penting di sejumlah departemen Pemerintah mesir. Seperti:
 Anggota Badan tertinggi untuk Hubungan-hubungan kebudayaan dengan Luar Negeri pada kementrian pendidikan dan pengajaran Mesir,
 Anggota Dewan Tertinggi untuk Penyiaran Radio Mesir,
 Anggota Badan Tertinggi untuk bantuan Musim Dingin serta ketua Badan Penyelidikan Adat dan Tradisi pada Kementrian Sosial Mesir.
Syekh Mahmud Syaltut telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju. Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syiah sudah sepantasnya umat Islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih.
Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri "Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah" Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syiah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya "Majma-e Jahani-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami" (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.
Salah satu fatwanya yang sangat monumental dan berkesan sekali yaitu, beliau menghalakan umat muslim untuk mengikuti madzhab syi’ah
Berikut ini adalah lampiran fatwanya:
Ulama kharismatik ini meninggal pada tanggal 19 Desember 1963 M. pengabdiannya dalam memajukan Universitas al-Azhar maupun dalam pemikiran keislaman akan selalu dikenang. Petunjuk-petunjuknya akan selalu dipedomani guna meningkatkan kualitas sumber daya umat Islam pada masa kini dan mendatang.

C. Karya-karya Mahmud Syaltut
Syekh Mahmud Syaltut meskipun beliau sangat sibuk dengan kegiatan dan aktifitasnya dalam menghilangkan fanatisme dalam madzhab, akan tetapi beliau tidak lupa untuk menyalurkan ilmunya lewat tulisan.
Adapun karya-karya beliau yang telah dipublikasikan antara lain sebagai berikut:
• Tafsir al-Quran Al-Karim
• Al-Islam Al-Aqidah wa Al-Syariah () Islam sebagai aqidah dan syari’ah
• Al-Fatawa (fatwa-fatwa)
• Al-Qur’an wa Al-Qital fi (Qur;an dan peperangan)
• Min Tawjihat Al-Islam (bimbingan Islam)
• Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh (perbandingan madzhab dalam fiqih)
• Fiqh Al-Quran wa assunnah (fikih al-Qur’andan sunnah)
• al-Qur’an wal mar’ah (wanita dalam al-Qur’an)
• Manhajul Qur’an fi bina-il mujtama’ (sistem Qur’an dala membangun masyarakat)
• Al-mas’uliyyah Al-madaniyyah wal-jina’iyyah fi al-syari’ah al-islamiyah (pertanggung jawaban sipil dan pidana dalam syari’ah Islam)
• Tandzimu an-nasl (Mengatur kelahiran)
• Tandzimu alaqotid Dauliyyah fil Islam (mengatur hubungan-hubungan Internasional dalam Islam)
• Al-Islam wa wujudud Dauliy lil muslimin (Islam dan perwujudak Internasional)

D. Motivasi Mahmud Syaltut dalam menafsirkasn al-Qur’an
Syekh Mahmud Syaltut menulis dalam muqoddimah tafsirnya bahwa ia bukanlah lebih pintar dan lebih faham tentang uslub yang ada dalam al-Qur’an begitu juga dalam mengeluarkan hukum, sehingga dalam penulisan tafsir beliau melihat realitas kaum muslimin pada saat itu kurang banyaknya orang mengetahui uslub dalam al-Qur’an atau esensi dari al-Qur’an itu sendiri.
Dan beliau juga tidak menginginkan adanya fanatisme dalam madzhab ketika seorang mufassir menafsirkan al-Qur’an

E. Corak tafsir Mahmud syaltut dan metode penulisannya
Disebutkan di dalam kitab “ittijahatut tafsirfil ashril hadits” bahwa syekh Mahmud Syaltut menolak penafsiran dengan corak tafsir ilmy , sebagaimana disebutkan juga dalam muqoddimah tafsirnya bahwa adanya kelemahan dalam menafsirkan al-Qur’an, yaitu, adanya fanatisme dalam madzhab dan mengaitkan ayat-ayat kauniyah dengan ilmu-ilmu (sience) yangs sekarang.
Karena syekh Mahmud Syaltut adalah seorang faqih, dan karya-karyanya juga banyak tengang fiqh,maka corak tafsir al-Qur’an al-Karim karya beliau adalah bercorak fiqih.
Dalam penulisan tafsirnya, beliau melakukan pembaharuan dalam metode penulisan tafsir. Yaitu dengan metode tematik (maudhu’i). tafsir maudhu’I ada dua, yaitu, tafsir tenatik berdasarkan surat dan tafsir tematik berdasarkan subyek
Menurut catatan Quraish, tafsir tematik berdasarkan surah digagas pertama kali oleh seorang guru besar jurusan Tafsir, fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Syaikh Mahmud Syaltut, pada Januari 1960. Karya ini termuat dalam kitabnya, Tafsir al-Qur’an al-Karim. Sedangkan tafsir maudu‘i berdasarkan subjek digagas pertama kali oleh Prof. Dr. Ahmad Sayyid al-Kumiy, seorang guru besar di institusi yang sama dengan Syaikh Mahmud Syaltut,jurusan Tafsir, fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, dan menjadi ketua jurusan Tafsir sampai tahun 1981.

DAFTAR PUTAKA
 Syaltut, mahmud, tafsir al-Qur’an al-Karim 10 pertama, daarus syuruq, Kairo: 2004
 Majid, abdul, abdussalam al muhtasib, ittijahatut tafsirfil ashril hadits (tren tafsir kontemporer), daar el-fikr, Baerut: 1973
 http://indonesian.irib.ir/tokoh/-/asset_publisher/tCI5/content/syeikh-mahmud-syaltut-penggagas-ide-pendekatan-antar-mazhab
 Syamruddin Nst, Sejarah Perkembangan Tafsir Tematik
 Syaltut, Mahmud, fatwa-fatwa, Bulan Bintang, Jakarta: 1972
 Saiful Amin Ghafur, profil para mufassir Al-Qur’an, Pustaka Insani Madani, Yogyakarta: 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar