Jumat, 04 Mei 2012

DEMOKRATISASI KONSEP “REVOLUSI ISLAM” MENJADI “POST ISLAMISME” IRAN




Torehan tinta sejarah pada 11 Februari 1979 yang tak pernah terlupakan salah satunya adalah negara Iran, dengan revolusinya yang dikenal dengan “Revolusi Islam Iran”. Dalam revolusinya ada beberapa tokoh yang sangat berkontribusi dalam rekonstruksi republik Iran, sebut saja seperti Ayatullah Imam Khomaeni dan para dedengkotnya.

Akan tetapi tak salah bila orang mengatakan “ada suka ada juga duka”, begitu juga yang dialami Republik Iran, mereka suka dengan islamisasi Republiknya, akan tetapi setelah beberapa hari kemudian founding father dan sang revolusioner mereka harus berpisah dengan mereka pada tahun kurang lebih 1989 karena harus kembali ke rahmat-Nya. Kala itu langit membendung republik Iran, bercucuran air mata membahasahi bumi mereka.

Hari demi hari silih berganti, lahirlah actor-aktor dan cendekiawan baru Iran yang dengan optimisnya ingin merekonstruksi Republiknya, sebut saja antara lain seperti, Ali syari’ati, Ahmadi nejad, dan lain sebagainya

Dengan ini “pos islamisme” menjadi sebuah masa atas keputusasaan muslim Timur Tengah terhadap konsep “Revolusi Islam” yang searah dengan demokrasi.
Bersambung….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar