Sabtu, 05 Mei 2012 6 komentar

Pesan Ibumu Untu-Q


Assalamualaykum Warohmatulahi Wabarokatuh ….

“Wahai menantu-ku...

... Aku hanyalah seorang ibu yang berbicara atas nama diri-ku sendiri dengan melihat putri-ku sebagai istri-mu, dan engkau sebagai menantu-ku.
Bila engkau membaca pesan ini semoga engkau melihat pula bayang wajah ibu yang telah mengandung dan melahirkan-mu, berdiri bersama-ku tepat dihadapan-mu.

“Wahai menantu-ku...

Bukankah engkau sudah berjanji akan menjadi Imam dunia akherat untuk putri-ku.?
Bukankah engkau juga telah bersumpah untuk membawanya hingga ke baka dan memberinya satu tiket ke Syurga.?

“Wahai menantu-ku...

Bila ada kelemahan dari istri-mu dan seribu lagi keburukan yang dilakukannya akibat kelemahan dan juga karena kekurangan darinya,

Bukankah menjadi tugas-mu untuk mendidiknya sekarang.?
Begitu yang seharusnya.

“Wahai menantu-ku...
Diajarkan kepada-mu oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bahwa seorang suami tak boleh membiarkan mata istrinya basah walau hanya serupa tetesan embun dini hari.?
Bukankah engkau sebagai suaminya yang harus melindunginya dengan rasa tentram dan aman.?
Maka berikan-lah keteduhan bagi jiwanya,

“Wahai menantu-ku...

Engkau suami yang dipilih Allah Ta’ala untuk putri-ku,

Bersabar-lah terhadap istri-mu dan tetap-lah bersikap lemah lembut padanya.

Bukankah engkau menikahinya karena Allah Ta’ala.?
Maka sayangi dan pelihara-lah istri-mu dengan jalan yg di Ridhoi oleh Allah Ta’ala,

“Wahai menantu-ku...

Sebagian besar penghuni neraka adalah perempuan dan itu disebabkan mereka yang Durhaka terhadap suaminya.

Maka selamatkan-lah istri-mu dari dosa yang lebih besar.
Bukankah nanti-pun engkau akan ditanya tentang tanggung jawab bagaimana kau mengurus mereka dan menjaga jalan Syurga agar bisa dilalui oleh-mu dan istri-mu yang harus kau bawa serta pula.?

“Wahai menantu-ku...

Engkau di ijinkan menghukum istri-mu sewajarnya,
Namun jangan-lah mengenai wajahnya dan jangan pula menyentuh tubuhnya hingga meninggalkan jejak luka.

Jangan-lah menghardiknya dengan kata-kata kasar dan umpatan yang merendahkan seolah engkau turut menistakan diri-mu sendiri.

Sebab ia juga adalah pakaian-mu..!”

Wahai menantuku...

aku titipkan putriku padamu, buatlah dia tersenyum menuju surga atas tiket darimu…

“Wassalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh”

1 komentar

هب لنا من ازواجنا



bismillahirrahmanirrahim....
19 April 2012 saat matahari udzur, seakan menjadi malam yang penuh dengan anugerah Allah bagiku,
yah... itulah awal rekonstruksiku setelah tumbang. Dengan wanita yang baik hati nan sholehah itu yang tak pernah lelah mengarungi kehidupan ini untuk menjaga komitmen kita berdua

memang ini adalah sesuatu yang tak pernah terdetik sedikitpun dalam benakku, akan tetapi semoga ini adalah jalan yang terbaik yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadaku dan kepadanya. aku merasa bak berjalan di atas skenario yang dituntun langsung oleh Tuhan, diarahkan langsung oleh-Nya

memang kata orang banyak mengatakan, dalam menjalani hubungan "biasa-biasa saja". tapi ternyata tidak bagiku, karena dalam proses yang biasa-biasa saja, maka hasilnya juga akan biasa-biasa saja itu saja jawaban sederhanaku (faman ya'mal mitsqola dzarrotin khiron yarohu, wa man ya'mal mitsqola dzarrotin syarron yarohu)

ku termenung, ku berharap semoga ini adalah jalan terakhir bagiku dan tempat selamanya bagiku. kata ROBOH, TUMBANG, dan GUGUR dalam hal ini ku tak ingin memnjumpai lagi, Cukuplah di Sini dan cukuplah ini.


05, Mei, 2012
Jumat, 04 Mei 2012 0 komentar

DEMOKRATISASI KONSEP “REVOLUSI ISLAM” MENJADI “POST ISLAMISME” IRAN




Torehan tinta sejarah pada 11 Februari 1979 yang tak pernah terlupakan salah satunya adalah negara Iran, dengan revolusinya yang dikenal dengan “Revolusi Islam Iran”. Dalam revolusinya ada beberapa tokoh yang sangat berkontribusi dalam rekonstruksi republik Iran, sebut saja seperti Ayatullah Imam Khomaeni dan para dedengkotnya.

Akan tetapi tak salah bila orang mengatakan “ada suka ada juga duka”, begitu juga yang dialami Republik Iran, mereka suka dengan islamisasi Republiknya, akan tetapi setelah beberapa hari kemudian founding father dan sang revolusioner mereka harus berpisah dengan mereka pada tahun kurang lebih 1989 karena harus kembali ke rahmat-Nya. Kala itu langit membendung republik Iran, bercucuran air mata membahasahi bumi mereka.

Hari demi hari silih berganti, lahirlah actor-aktor dan cendekiawan baru Iran yang dengan optimisnya ingin merekonstruksi Republiknya, sebut saja antara lain seperti, Ali syari’ati, Ahmadi nejad, dan lain sebagainya

Dengan ini “pos islamisme” menjadi sebuah masa atas keputusasaan muslim Timur Tengah terhadap konsep “Revolusi Islam” yang searah dengan demokrasi.
Bersambung….
0 komentar

Polemik plagiarisme al qu'an terhadap al kitab


Sebagai sebuah teks, Alquran dapat dipahami dari sejarah bermulanya teks itu dibentuk dan difungsikan. Salah satu kajian yang mendalami konsep tersebut adalah kritis historister. Dari kajian itu, serta dengan dorongan pengetahuan rasional, dapat ditelusuri teks Alquran dan sejarahnya.

Konsep seperti itulah yang mendominasi model penelitian para sarjana Barat sejak abad ke-19. Abraham Geiger (1810-1874), misalnya dianggap sebagai sarjana pertama yang menerapkan pendekatan kritik-historis terhadap Alquran. Bahkan, pada 1883, ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul 'Was hat Mohammed aus dem Judentum aufgenommen?' (Dirk Hatwig 2009:241).

Dalam bukunya itu, ia memaparkan bahwa Nabi Muhammad, dalam memproduksi Alquran, banyak menyisipkan tradisi-tradisi Yahudi. Sontak, pemikiran ini pun beranak pinak seperti yang dikembangkan Günther Luling dan Christoph Luxemberg. Buku 'Der Koran und sein religiöses und kulturelles Umfeld' (2010) editan Tilman Nagel, dianggap sebagai karya terbaru yang menghimpun beberapa hasil kajian historiskritis ala Geiger.

Alquran, dipahami mereka, sebagai sebuah teks `epigonik'. Dalam pengertian bahwa Alquran merupakan imitasi dari teks-teks pra-Islam. Pandangan itu pun melahirkan kontroversial di kalangan sarjana Muslim. Namun, tidak semua sarjana Barat yang berada dalam 'gerbong' pemikiran tersebut.

Sebut saja, Anglika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig. Umumnya mereka memberikan perlawanan atas pemikiran tersebut, yang menolak bahwa Alquran hanyalah copy-paste atas `teks-teks praIslam'. Hal itu terlihat dari wawancara pada 2 Juli 2010 dan penelusuran beberapa artikel mereka. Salah satunya adalah proyek yang dikenal dengan Corpus Coranicum, yang sedang dilakukan di Berlin-Brandenburgische Akademie der Wissenschaften di Jerman.

Konsep Ala Geiger dengan para 'penentang' ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Paradigma lah yang membedakan kedua pemikiran tersebut. Dalam konsep 'para penentang', Alquran diposisikan sebagai `teks polifonik' dan bukan mimesis (tiruan) dari teks-teks sebelumnya, seperti yang didengungkan Geiger. (Bersambung)
 
;