Selasa, 10 Januari 2012 0 komentar

TAKHRIJ HADITS

أبواب المناقب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم
باب مناقب على بن ابى طا لب


حدثنا إسماعيل بن موسى أخبرنا شريكٌ عن أبي إسحاق عن حبشي بن جنادة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
"علي مني وأنا من علي ولا يؤدي عني إلا أنا أو علي". هذا حديثٌ حسنٌ غريبٌ صحيحٌ.

Bab sifat-sifat utama Ali bin Abi Thalib
Artinya:
Isma’il bin Musa menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hubsyi bin Junadah, Ia berkata: Rasulullah saw bersabda “Ali adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari Ali, dan tidak ada yang melaksanakan tugas dariku kecuali aku atau Ali” hadits hasan gharib shahih

 إسماعيل بن موسى الفزاري أبو محمد ويقال أبو إسحاق الكوفي نسيب السدي
• روى عن مالك وإبراهيم بن سعد وابن أبي الزناد وأبي معمر سعيد بن خشيم وابن عيينة وعمر بن شاكر البصري الراوي عن أنس وغيرهم
• وقال بن عدي وصل عن مالك حديثين وتفرد عن شريك
• وعنه البخاري في كتاب خلق افعال العباد وأبو داود والترمذي وابن ماجة وابن خزيمة والساجي وأبو يعلى وأبو عروبة ومطين وبقي بن مخلد وطائفة
• قال مطين كان صدوقا
• وقال النسائي ليس به بأس
Ismail bin Musa dalam periwayatan hadits ini tafarrud (seorang diri) dalam menerima hadits ini dari syarik, dan dia juga mempunya I murid Tirmidzi atau Tirmidzi menerima hadits dari Ismau’il.
Dalam penilaiannya Nasa’i berkata dia adalah orang yang tidak cacat. Matin juga berpendapat bahwa Isma’il adalah orang yang sangat jujur

 شريك بن عبد الله بن أبي شريك النخعي أبو عبد الله الكوفي القاضي
• روى عن زياد بن علاقة وأبي إسحاق السبيعي وعبد الملك بن عمير والعباس بن ذريح وإبراهيم بن جرير العجلي وإسماعيل بن أبي خالد والركين بن الربيع وأبي فزارة راشد بن كيسان وخصيفة وعاصم بن سليمان الأحول وسماك بن حرب والأعمش ومنصور وزبيد اليامي وعاصم بن بهدلة وعاصم بن كليب وعبد العزيز بن رفيع والمقدام بن شريح وهشام بن عروة وعبيد الله بن عمر وعمارة بن القعقاع وعمار الدهني وعطاء بن السائب وخلق وعنه بن مهدي ووكيع ويحيى بن آدم ويونس بن محمد المؤدب والفضل بن موسى السيناني وعبد السلام بن حرب وهشيم وأبو النضر هاشم بن القاسم وأبو أحمد الزبيري
• وعنه بن مهدي ووكيع ويحيى بن آدم ويونس بن محمد المؤدب والفضل بن موسى السيناني وعبد السلام بن
حرب وهشيم وأبو النضر هاشم بن القاسم وأبو أحمد الزبيري وإسحاق الأزرق والأسود بن عامر شاذان وأبو أسامة وحسين بن محمد المروذي وحجاج بن محمد وإسحاق بن عيسى بن الطباع وحاتم و إسماعيل
• وقال يزيد بن الهيثم عن بن معين شريك ثقة
Syarik bin Abdullah bin Abi Syarik An-Nakh’I adalah murid dari Ishaq as Sabi’i, dia menerima hadits ini dari ishaq. Dan Syarik juga mempuyai murid yaitu Isma’il (perawi hadits setelah Ishaq tadi).
Dalam kualitas dalam periwayatan hadits ternyata Ishaq adalah tsiqah (adil dan kuat hafalannya) sebagaimana yang dikatakan yazid bin haitam bahwa Ishaq adalah orang yang tsiqah.

 أبو إسحاق السبيعي هو عمرو بن عبد الله تقدم عمرو بن عبد الله بن عبيد ويقال علي ويقال بن أبي شعيرة أبو إسحاق السبيعي الكوفي والسبيع من همدان ولد لسنتين من خلافة عثمان
• روى عن علي بن أبي طالب والمغيرة بن شعبة وقد رآهما وقيل لم يسمع منهما وعن سليمان بن صرد وزيد بن أرقم والبراء بن عازب وجابر بن سمرة وحارثة بن وهب الخزاعي وحبيشى بن جنادة وذي الجوشن وعبد الله بن يزيد الخطمي وعدي بن حاتم وعمرو بن الحارث بن أبي ضرار والنعمان بن بشير وأبي جحيفة السوائي والأسود بن يزيد النخعي وأخيه عبد الرحمن بن يزيد وابنه عبد الرحمن بن الأسود
• وعنه ابنه يونس وابن ابنه إسرائيل بن يونس وابن ابنه الآخر يوسف بن إسحاق وقتادة وسليمان التيمي وإسماعيل بن أبي خالد والأعمش وفطر بن خليفه وجرير بن حازم ومحمد بن عجلان وعبد الوهاب بن بخت وحبيب بن الشهيد ويزيد بن عبد الله بن الهاد وشعبة ومسعر والثوري وهو أثبت الناس فيه وزهير بن معاوية وزائدة بن قدامة وزكرياء بن أبي زائدة والحسن بن حمزة وحمزة الزيات ورقبة بن مصقلة وأبو حمزة السكري وأبو الأحوص وشريك وعمر بن أبي زائدة وعمرو بن قيس الملائي ومطرف بن طريف ومالك بن مغول والأجلح بن عبد الله الكندي
• قال عبد الله بن أحمد قلت لأبي أيما أحب إليك أبو إسحاق أو السدي فقال أبو إسحاق ثقة
• وقال بن معين والنسائي ثقة
Selanjutnya adalah abu Ishaq as-sabi’i. Abu Ishaq as-sabi’i nama aslinya adalah Umar bin Abdullah. Dia dilahirkan dua tahun masa khilafah Utsman. Dalam periwayatan hadits ini dia menerima hadits ini dari seorang sahabat yang bernama Habsyi bin Junadah, kemudian dia sampaikan kepada Syarik bin Abdullah.
Dalam segi kualitas periwayatan hadits Nasa’i berkata bahwa Abu Ishaq as-siba’I adalah orang yang tsiqah (adil dan kuat hafalannya)

 حبشى بن جنادة بن نصر السلو سى صحابى يعد فى الكوفين
• روى عن النبى صلى الله عليه وسلم وشهد فى حجة الوداع
• وعنه أبو إسحاق والشعبي
• قال البخاري إسناده فيه نظر
Habsyi bin Junadah bin nashr as-salusi adalah seorang sahabat yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw, dimana dia pernah bertemu dengan Rasulullah pada saat haji wada’, dia juga pernah meriwayatkan hadits dari Rasulullah, dan dia mempunyai murid Abu Ishaq (perawi setelah Habsyi tadi).
Akan tetapi dalam segi kualitas Bukhari berpendapat bahwa dia termasuk orang perlu diteliti kepribadiannya karena ditakutkan ada kebohongan dan dusta dalam periwayatan hadits ini meskipun dia seorang sahabat dan pernah bertemu dengan Rasul.
Hadits ini dikatakan hasan shahih gharib oleh tirmidzi dikarenakan:
• hasan: karena bagus secara sanad
• shahih: karena marfu’ kepada Rasulullah, dan kebanyakan perawinya adalah tsiqah
• gharib: karena dalam periwayatannya ada salah seorang perawi yang meriwayatkan hadits ini seorang diri (tafarrud)






DAFTAR PUSTAKA

 Ibnu hajar Al-As qolani, Tahdzib al-tahdzib, Daar El-Fikr, Bairut: 1984
 http://konsultasisyariah.com/hadits-hasan-shahih-hasan-gharib-dan-hadits-gharib-menurut-tirmidzi
 Al-imam al-hafidz abi al-allamah Muhammad Abdur rahman ibn Abdir rahman, tuhfatul ahwadzi bisyarhi jami’u at-timidzi Hadits, Daar Al-Hadits, Kairo: 2001
Senin, 09 Januari 2012 0 komentar

ENAM PESAN DARI HUJJATUL ISLAM

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله ربالعالمين الصلاة والسلام على اشرف الانبياء والمرسلين وعلى اله وصحبه اجمعين اما بعد

Segala rahmat yang kita nikmati
Hanya dari Allah rabbul izzati
Kepadanyalah kita bernbakti
Karena dialah Tuhan yang maha suci

Solawat serta salam kita haturkan kepada Nabi sejati
Pembawa risalah yang penuh bukti
Pengikis kehidupan yang tak pasti
Dari lahirnya hingga beliau mati

Saudara-saudari sekalian yang saya nasehati
Tuk tanamkan iman di hati
Perintah Allah kita ta’ati
Demi kehidupan di hari nanti

Saudara-saudari beridirnya saya di sini akan menyampaikan enam wasiat atau pesan dari seorang ulama yang tak asing lagi di mata kita yaitu Imam Al-Ghaazali sebagai renungan bagi kita dalam menjalani aktifitas kita sehari yaitu:
1. Yang paling dekat dalam kehidupan kita adalah kematian
2. Yang paling jauh dalam kehidupan kita adalah waktu
3. Yang paling berat dalam kehidupan kita adalah amanah
4. Yang paling ringan dalam kehidupan kita adalah meninggalkan shalat
5. Yang paling tajam dalam kehidupan kita adalah mulut
6. Yang paling besar dalam kehidupan kita adalah hawa nafsu
Baiklah saudara-saudari kaum muslim dan muslimat yang dirahmati oleh Allah…
Saya akan menjelaskan enam pesan dari Imam Al-Ghazali
Yang pertama adalah yang paling dekat adalah kematian, dalam kehidupan kita dalam menjalani segala aktifitas yang kita jalani kita tidak tau kapan kita akan mati, kapan umur kita akan berkahir dan kapan kita akan berpisah dari oranhg-orang yang kita cintai dan kita sayangi dan berpisah dengan dunia, oleh karena itu jangan sekalai-kali saudara mengatakan bahwa umur kita masih panjang karena kita tidak tau skenario Tuhan untuk kita. Yang perlu saudara ingat adalah bahwa SEMUA MANUSIA AKAN MATI……!!!, sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Imron yaitu:
كل نفس ذا ئقة الموت

Maka dari itu saudara-saudara yang dicintai oleh Allah, untuk mempersiapkan dan mempertanggung jawabkan amal kita di hadapan Allah kelak nanti, mari kita bersama-sama memperbanyuak amal ibadah kita agar kita bisa khusnul khatimah di hadapan Allah dan masuk ke tempat yang telah idjanjikan oleh-Nya yaitu surga
Amien…amien ya rabbal alamien…..
Yang kedua yang paling jauh dalam kehidupan kita adalah waktu, berbicara masalah waktu, waktu sangatlah berharga bagi kita, maka dari itu janganlah kita sia-siakan waktu itu dan perbanyaklah amal-amal yang positif dalam kehidupan kita, dari saking berharganya waktu sampai-sampai ada pepatah inggris mengatakan “the time is money” yang artinya “waktu adalah uang”, waktu sangat berharga bagi kita sebagaiman berharganya uang bagi kita.
Pepatah arab juga mengatakan:
الوقة كالشيف ان لم تقطع قطعك
Yang Artinya: “waktu itu bagaikan pedang, apabila kamu tidak memotongnya, maka dia akan memotong kamu”
Jadi, kalau kita tidak menggunakan waktu itu dengan sebaik mungkin, maka waktu itu akan memotong kita, waktu itu akan hilang begitu saja sia-sia dan tidak akan pernah kembali lagi.
Yang ketiga yang paling berat adala amanah. Amanah memang sangatlah berat sekali, karena itu adalah titipan yang harus kita jaga dan penuhi. Apabila kita diberi amanah oleh seseorang maka kita harus menjaganya dengan baik.
Amanah adalah salah satu dari sifat Rasulullah saw, kita tau bahwa Rasulullah mempunyai emapt sifat yang sangat terpuji yaitu siddiq, amanah, fathonah, dan tabhligh, maka dari itu kita harus mencontoh beliau yang mana dia adalah sebagai suri tauladan kita yang selalu memberika uswah hasanah kepada kita, agar kita selalu berada dalam jalan yang benar dan diridhoi oleh Allah SWT.

Yang keempat yang paling ringan adalah meninggalkan sholat.
Na’udzubillah tsumma na’udzubillah saudara-saudara sekalian. Jangan samapai kita pernah melakukan perbuatan itu, karena shalat adalah tiang agama kita dan harus kita laksanakan lima kali dalam setiap harinya. Shalat adalah perintah Allah yang harus kita kerjakan.
Yang kelima yang paling tajam adala mulut atau lisan kita
Saudara-saudara sekalian yang dicintai oleh Allah SWT, mulut memanglah tak bertulang dan tak tajam seperti tulang belulang yang berada pada tubuh kita, akan tetapi ketajamannya bisa mengalahi pedang yang paling tajam sekalipun, maka dari itu Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk diam apabila kita tidak mengetahui apa yang akan kita bicarakan “khiorun min ijabatihi as sukuut”.
Yang keenam yang paling berat adalah hawa nafsu
Pepatah Arab mengatakan:
لنفس كالطفل ان تهمله شب على حب الرضاع وان تفتمه تنفتم
Apabila kita membiyarkan bayi terus menyusu, maka bayi itu tidak akan berhenti walaupun sampai dewasa, begitu juga dengan nafsu, apabila kita membiarkan nafsu begitu saja, maka nafsu akan terus menguasai diri kita
Maka tidak salah lagi apabila seseorang mengatakan bahwa perang yang paling berat atau mush yang paling berat adalah menghadapai hawa nafsu, apabila kita berhasil mengalahkan hawa nafsu kita, maka kita telah menang memerangi musuh kita yang paling berat dan paling membahayakan
Sauda-saudara kaum muslim dan muslimat yang dirahmati oleh Allah SWT…
Mungkin hanya itu yang dapat saya sampaikan kepada saudara-saudara sekalian, kurang dan lebihnya saya mohon maaf dengan sebesar-besarnya

والله الموافق الى اقوم الطريق
ثم السلام عليكم ورحمةالله وبركته
0 komentar

TAFSIR NABI, SAHABAT, DAN TABI'IN

1. Contoh ayat amm yang ditakhsis dengan hadits sebagai berikut:
• فاقرءوا ماتيسر منه

Artinya: "maka bacalah ayat al-qur'an yang termudah bagimu"

Ayat al-qur'an ini masih sangat umu, sehingga dalam sholat kita terserah membaca surat apa saja dan tiadak harus al-fatihah
Kemudian ayat di atas ditakhsish dengan hadits yaitu:

لاصلاة لمن لم يقرء بفاتحةالكتاب
Artinya: "tidak dikatan sholat bagi orang yang tidak membaca surat al-fatihah di dalam sholatnya"
Hadits di atas mentakhsish keumuman ayat al-qur'an, sehingga dalam sholat seorang harus membaca surat al-fatihah.


• واحل الله البيع

Artinya"Allah menghalalkan semua macam jual beli"
Ayat di atas sangat umu sekali, dimana Allah menghalalkan segala macam jual beli. Akan tetapi ayat di atas ditakhsish dengan hadits Rasulullah yaitu:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, "Rasulullah telah mencegah (kita) dari (melakukan) jual beli (dengan cara lemparan batu kecil) dan jual beli barang secara gharar."
•                               •                       •                       •     
"Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana".

Ayat di atas di takhsis dengan hadits. Dengan sabada Nabi yaitu:" Orang kafir tidak bisa mewarisi orang muslim dan orang muslim tidak bisa mewarisi orang kafir." (HR. Bukhari Muslim).

2. Contoh ayat yang mujmal dan dijelskan oleh Nabi (mubayyan):

• واتو الزكاة

Artinya: "dan tunaikanlah zakat"
Ayat ini bersifat mujmal, jika hanya fokus pada ayat ini dalam perintah menunaikan zakat, maka kita tidak akan tau apa yang kita zakati?, Dan seberapa?. Maka dari itu ayat ini ditafsirkan oleh nabi sebagai (mubayyan) yaitu:

فيما سقت السماء العشر

Artinya: "apa-apa (hasil pertanian) yang diairi denganb air hujan zakatnya adalah 1/10 (satu banding sepuluh)"

• واقيمو الصلاة
Artinya: "dan dirikanlah sholayt (QS: Al-baqoroh:43))"

Apabila kita hanya melihat ayat yang di atas, kita tidak akan tau bagaimana tata cara sholat itu dilakukan, maka dari itu di jelaskan/ditafsirkan oleh Rasulullah dengan hadits yang bersifat mubayyan yaitu:

اذا قمت الى الصلاة فاسبغ الوضوء فا ستقبل القبلة فكبر

Artinya: "jika engkau akan sholat maka sempurnakanlah wudhu', kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah"

• ولله على الناس حج البيت
Artinya: "mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah"
Kemudian ayat ini di jelaskan oleh Rasulullah tentang manasik.
Hadis riwayat Ibnu Umar ra yang artinya.:
"Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw. tentang pakaian yang boleh dikenakan oleh orang yang sedang berihram? Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian mengenakan baju, kain serban, celana, tutup kepala dan sarung kaki kulit, kecuali bagi orang yang memang tidak memiliki sandal, maka ia boleh memakai sarung kaki tersebut dengan syarat ia harus memotongnya sampai di bawah mata kaki. Juga jangan memakai pakaian apapun yang dicelup dengan minyak za`faran dan wares.

3. Contoh ayat muthlaq yang ditaqyid dengan hadits Rasulullah:

•              
Artinya: "laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS Al-Maidah:38)
Ayat ini tidak menjelaskan sampai dimanakah batas tangan yang akan dipotong, maka dari itu Rasulullah menjelaskan dan menafsirkan ayat ini bahwasanya potong tangan bagi orang yang mencuri dipotong tangan sampai pergelangan tangan

•                       •                       •    
Artinya: "orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."
Ayat ini mutlak menghalalkan jual beli, akan tetapi Rasulullah bersabda (mentaqyid) melarang salah satu macam jual beli yaitu mulasamah dan mulabadzah, sabda beliau yang artinya:
Hadits riwayat Abu Hurarairah r.a "bahwa Rasulullah saw melarang jual beli mulasamah (wajib membeli jika pembeli telah menyentuh barang dagangan) dan munabadzah (system barter antara dua orarng dengan melemparkan barang dagangan masing-masing tanpa memriksanya)"
Hadits di atas mentaqyid ayat al-qur,an yang mengahalalkan jual beli dengan melarang jual beli dengan system mulasamah dan munabadzah.
•      
Artinya: "diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi"
Ayat di atas di taqyid dibatasi oleh hadits Rasulullah yaitu:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلْ) رواه البخاري ومسلم
“Sesuatu yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah Subhanahu wa ta’ala atasnya (saat menyembelih) maka makanlah.” (HR. Bukhari Muslim)
Jadi darah yang awalnya haram dimakan sesuai dengan firman Allah ditaqyid dengan hadist rasulullah yang menghalalkan darang ikan.

4. Contoh nasikh mansukh
•         •        
Artinya: "diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa". (Al-Baqarah: 180)
Ayat ini dimansukh dengan hadits Rasulullah yaitu:
حدثنا عبد الوهاب بن نجدة، قال: ثنا ابن عياش، عن شرحبيل بن مسلم، سمعت أبا أمامة، قال:
سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: "إنَّ اللّه قد أعطى كلَّ ذي حقٍّ حقه، فلا وصية لوارثٍ".
Artinya: " Dari Abu Umamah, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya Allah s.w.t. telah menentukan kepada setiap orang yang mempunyaihak akan hak masing-masing. Dengan itu, maka, tidak ada wasiat untuk waris (orangyang berhak menerima pusaka) ".
Kemudian ada juga sunnah yang dimansukh dengan al-qur'an yaitu:
• ان رسول الله صلى الله علىه وسلم اول ما قدم المدينة نزل على اجداده من الانصار وانه صلى قبل بيت المفدس ستة عشرشهرا او سبعة عشر شهرا
Artinya: "Dari al-Barra’ bin `Azib bahawa perkara yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w.apabila sampai di Madinah ialah menemui datuk neneknya dari kalangan Ansar danbaginda bersembahyang mengadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulanatau tujuh belas bulan. "
Hadits ini dimansukh dengan ayat al-Qur'an yaitu:
       •                 •               
Artinya: "sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."

5. Contoh penafsiran terhadap ayat-ayat yang mubham
• الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون
“orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan dan mereka orang-orang yang mendapat petunjuk."
Kata “al-zulm” dalam ayat tersebut, dijelaskan oleh Rasul Allah saw dengan pengertian “al-syirk” (kemusyrikan).
• حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين
"Peliharalah segala shalat dan shalat wustha” (QS Al-Baqarah [2]:238). ”Shalat wustha” dijelaskan oleh Nabi dengan ”shalat Asar”.
• وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة ……
”dan siapkan untuk menghadapi mereka kekuatan-kekuatan apa saja yang kamu sanggupi". Kata ”Maastatha’tum” ditafsirkan oleh Nabi SAW dengan ”alramyu yaitu anak panah."

6. Contoh gharib dalam Al-Qur'an
Ada beberapa macam gharib dalam Al-Qur'an, yaitu:
1. Saktah
secara etimologi saktah berarti: tidak bergerak atau diam
Secara terminologi saktah adalah memutus kata sambil menahan nafas dengan niat meneruskan bacaan (Makky Nasr, 153).
Contoh: bacaan Imam Ashim riwayat Hafs; bacaan saktah hanya ada di empat tempat, yaitu:
1. Surat al-Kahfi ayat1: ولم يجعل له عوجا - قيما
2. Surat Yasin ayat 52: من مرقدنا - هذا ما وعدنا الرحمن
3. Surat al-Qiyamah 27: وقيل من - راق
4. Surat al-Muthaffifin 14: كلا بل - ران
Alasan saktah ini adalah untuk memberikan tanda pada qari’ bahwa waqaf pada عوجا termasuk waqaf tamm (sempurna), dan kata قيّما bukan sifat/naat dari عوجا, ia dinashabkan karena menyimpan fi’ilأنزل . Demikian juga halnya waqaf pada مرقدنا , kata هذا bukan sifat dari مرقد , melainkan mubtada’ dan kata هذا dan sesudahnya adalah perkataan malaikat bukan perkataan orang kafir. Sedangkan pada من pada من – راق dan بل pada بل ران yaitu sebagai kata tanya pada yang pertama dan sebagai kata penegas pada yang kedua, juga untuk memperjelas idharnya lam dan nun karena biasanya dua huruf tersebut bila bertemu ra’ diidghamkan sehingga bunyi keduanya hilang (al-Qaisy, 1987:II/55).
2. Imalah
secara etimologi imaklah berarti memiringkan atau membengkokkan secara terminology imalah adalah memiringkan fathah ke arah kasrah atau memiringkan alif ke arah ya’ (Abi Thahir, 311).
Bacaan ini banyak ditemui pada bacaan Imam Hamzah dan al-Kisa’i, di antaranya pada kata yang diakhiri alif layyinah, seperti الضحى، قلى، سجى، هدى. Khusus riwayat Imam Hafs hanya terdapat pada kata مجراها (QS.Hud:41).
3. Naql
Secara bahasa naql berasal dari kata نقل – ينقل – نقلا berarti memindah; menggeser. Adapun secara istilah naql berarti memindahkan harakat suatu huruf ke huruf sebelumnya, sebagaimana yang banyak ditemui pada riwayat Imam Hamzah dan Warsy, yakni setiap ada al ta’rif atau tanwin bertemu hamzah, contoh بالآخرة terbaca بلاخرة dan عذاب أليم terbaca عذابنليم .
Dalam riwayat Hafs bacaan naql hanya ada di satu tempat yaitu pada kata بئس الاسم (QS. al-Hujurat:11). Alasan bacaan naql pada kata الاسم yaitu terdapatnya dua hamzah washal (hamzah yang tidak terbaca di tengah kalimat), yakni hamzah pada al ta’rif dan ismu (salah satu dari sepuluh kata benda yang berhamzah washal), yang mengapit lam sehingga menjadi tidak terbaca di kala sambung dengan kata sebelumnya. Di antara manfaat bacaan naql ini adalah untuk memudahkan umat Islam membacanya.

7. Contoh sebab-sebab turunnya ayat (asbabun nuzul)

•                         • 
Artinya: "107. dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu[660]. mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (Surah At-Taubah, ayat 107).
Ada dikemukakan dalam suatu riwayat bahawa ketika Rasulullah saw sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Perang Tabuk, datanglah segolonganorang-orang yang membangunkan Masjid Dhirar. Mereka berkata, “Ya Rasulullah ! Kami telah membina sebuah masjid untuk orang sakit serta untuk menunaikan sembahyang malam pada musim sejuk dan musim hujan. Kami mengharapkan tuan untuk sembahyang dan mengimami kami.”Rasulullah SAW menjawab, “Aku sudah bersiap sedia untuk pergi dan jikakami pulang insya-Allah kami akan datang untuk mengimami kalian semua.”Ketika baginda pulang dari Tabuk, baginda berhenti sebentar di Zi Awan yaitu satu tempat jaraknya satu jam dari Madinah. Maka turunlah ayat berikut:
Ayat tersebut melarang Rasulullah SAW untuk bersembahyang di MasjidDhirar kerana masjid itu didirikan untuk memecahbelahkan umat. Lalu bagindamemanggil Malik bin ad-Dakhsyin dan Ma’nu bin Adi atau saudaranya Ashim bin Adidan bersabda: “Berangkatlah kalian semua ke masjid yang dihuni oleh orang-orang zalim dan hancurkan serta bakar masjid tersebut.” Lantas mereka berdua melaksanakan perintah Rasulullah saw. (Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih daripada Ibnu Ishaq daripada Ibnu Syihabaz-Zuhri daripada Ibnu Akimah al-Laitsi daripada Abi Rahmin al-Ghifari yangmendengar bahawa Abi Rahmin termasuk di antara para sahabat yang menyertaiBai’ah Ridwan)
Dalam riwayat lain pula ada dikemukakan bahawa setelah sekian lamaRasulullah mendirikan Masjid Quba, terdapat beberapa orang Kaum Ansar yangberdekatan dengan Masjid Quba di antara orang tersebut adalah Yakhdad mendirikan Masjid Nifaq. Bersabdalah Rasulullah SAW kepada Yakhdad: “Celaka engkau Yakhdad, engkau bermaksud melakukan sesuatu yang aku pun tahu maksudnya.” Yakhdadmenjawab, “Saya tidak bermaksud apa-apa kecuali mengharapkan kebaikan.”

Maka turunlah ayat 107, Surah At-Taubah sebagai penjelasan bahawaterdapat orang-orang yang mendirikan masjid dengan maksud untuk memecahbelahkan umat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih daripada al-Ufi daripada Ibnu Abbas).

•           •  
Artinya: "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)" (al-maidah: 55)
Dalam suatu riwayat ada dikemukakan bahawa seorang peminta sedekah telah datang kepada Ali bin Abi Talib ketika dia sedang bersembahyang sunat. Lalu dia meninggalkan cincinnya dan diserahkan kepada si peminta sedekah tersebut.Maka turunlah ayat di atas.

•                          •     
"mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri" (Al-baqarah:222)
Diriwayatkan oleh turmudzi dari Anas, beliau berkata:

كانت اليهود اذا حاضت امراْة منهم لم يؤاكلوها ولم يشاربوها ولم يجامعوها فى البيوت فسئل النبي صلى الله عليه وسلم عن ذالك فانزل الله تعالى (      ) فامرهم النبي صلىالل عليه وسلم ان ياكلوهن ويشاربوهن وانيكونوا معهن فى البيوت وان يفعلوا كل شئ ما خلا النكاح فقالت ليهود م يريد ان يدع شيءا من امرنا الا خالفنا فيه قال فجاء عباد بن بشر واسيد بن حضير الى رسول الله صلى الله ليه وسلم فاخبروه بذالك وقالا يا رسول الله افلا تنكحهن فى المحيض فتمعر وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى ظننا انه قد غضب عليهما فقاما فاستقبلتهما هدية من لبن فارسل رسول الله صلى الله عليه وسلم فى اثرهما فسقاهما فعلما انه لميغضب عليهما
Artinya: "kebiasaan orang-orang yahudi dulu jika ada salah seorang wanita dari mereka sedang menjalani masa haidh, maka mereka tidak akan memberikan makan dan minum. Mereka tidak mengumpuli di dalam rumah. Lantas hal tiu ditanyakan kepada Nabi. Akhirnya Allah menurunkan ayat "mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah, "haidh itu adalah kotoran". Lantas Nabi memintahkan mereka untuk memberi makan dan minum para wanita yang sedang haidh. (beliau juga memerintahkan agar) mereka tinggal bersama dengan wanita yang haidh (tersebut) di dalam rumah. Mereka bebas berbuat apa saja dengan wanita haidh kecuali berhubungan intim. Orang-orang Yahudi berkata, "apa sebenarnya yang dikehendaki Muhammaddengan meninggalkan aturan kita" maka Ubaid bin bisyr dan Usaid bin hudhair dating menjumpai Rasulullah dan memberitahukan hal tersebut seraya berkata, "wahai Rasulullah, bukankah kita juga boleh berhubungan intim dengan mereka ketika sedang haidh?" spontan roman Rasulullah berubah. Sehingga kami semua mengira bahwa beliau marah kepada kedua orang tersebut. Namun ternyata keduanya diberi hadiah berupa susu. Rasulullah mengirimkan susu kepada kedua sahabat tersebut. Dengan demikian dapat diketahui bahwa beliau tidak marah. "

8. Contoh ayat-ayat musykil
•    
Artinya: "yang menciptakan bumi dalam dua masa"(fushsilat:6)
Sesungguhnya bumi diciptakan sebelum langit, adapun langit itu terbuat dari asap, yang terdiri dari tujuh lapis bumi yang diciptakan dua hari setelah penciptaan bumi
•    
Artinya: "Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya".(An-nazi'aat: 30)
Diciptakan di dalamnya gungung, sungai, pepohonan, dan lautan
•           • 
Artinya: "kemudian Tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, Tuhan Kami, Tiadalah Kami mempersekutukan Allah".(Al-An'am: 23)
Ibnu Abbas berkata sesungguhnya sebelum mereka melihat hari kiamat Allah mengampuni dosa orang-orang Islam, dan tidak mengampuni dosa orang-orang yang syirik, pada saat itu orang musyrik memohon kepada Allah untuk diampuni dosanya seraya berkata "Demi Allah…wahai Tuhan kami, kami bukanlah orang yang musyrik", akan tetapi Allah menutup mulut-mulut mereka sehingga tangan-tangan dan kaki mereka berbicara.

9. Contoh penafsiran sahabat
• Adi ibn Hatim menafsirkan ayat حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود" " dengan mengatakan "benang putih dari benag merah". Akan tetapi penafsiran ibn Hatim ini salah dan kemudian diluruskan oleh Rasullah beliau mengatakan bahwa ayat tersebut adalah الليل وبياض النهار "hitamnya malam dan putihnya siang"
• Umar menafsirkan ayat " اليوم اكمات لكم دينكم واتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الا سلام دينا" dengan berkata " Aku tahu di mana dan di hari apa ayat itu diturunkan serta di mana Rasulullah berada ketika ayat itu diturunkan. Ayat tersebut diturunkan di Arafah saat Rasulullah sedang wukuf di Arafah"
Hadis riwayat Umar, ia berkata:
"Dari Thariq bin Syihab bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Umar: Sesungguhnya kamu sekalian membaca suatu ayat yang andaikata diturunkan kepada kami, niscaya hari itu kami jadikan hari raya. Umar berkata: Aku tahu di mana dan di hari apa ayat itu diturunkan serta di mana Rasulullah berada ketika ayat itu diturunkan. Ayat tersebut diturunkan di Arafah saat Rasulullah sedang wukuf di Arafah. Sufyan berkata: Aku ragu-ragu apakah hari itu Jumat atau bukan. Ayat tersebut adalah "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu"
• Ibnu abbas menafsirkan ayat al-qur'am al-qur'an pada saat pendudk kufah berselisih tentang ayat: "من قتل مؤمنا متعمدا فجزاءه جهنم". Dia berkata "Ayat tersebut termasuk ayat-ayat yang terakhir diturunkan dan tidak ada satu ayat pun yang menasakhnya (membatalkan hukumnya)."

10. Contoh penafsiran pada masa tabi'in
Sebagai bahan rujukan dalam dalam penulisan Alquran, penjelasan tabi’in tetap diperhitungkan untuk dapat menafsirkan Alquran. Sekalipun mereka bukan generasi sahabat yang langsung mendapat penafsiran dari Nabi, tetapi mereka memperoleh penjelasan dari para sahabat.
Contoh:
• Penafsiran Mujahid bin Jabbar tentang ayat: "المن والسلوى" yaitu "gumma dan burung"
وقوله تعالى: (وظللنا عليكم الغمام وأنزلنا عليكم المن والسلوى كلوا من طيبات ما رزقناكم وما ظلمونا ولكن كانوا انفسهم يظلمون)
"وقال مجاهد: المن صمغة، والسلوى الطير."
Mujahid dilahirkan pada tahun 21 Hijrah dan meninggal pada tahun 103 Hijrah. Nama lengkapnya Mujahid bin Jabar yang bergelar Abu Hajjaj Al-Makky. Ia seorang ulama yang terkenal dalam tafsir. Adz-Dzahaby mengatakan: "Ia adalah guru ahli baca Al-Qur'an dan ahli tafsir yang tidak diragukan. Ia mengambil tafsir qur'an dari Ibnu Abbas". Ia salah seorang murid Ibnu Abbas yang paling hebat dan yang paling dipercaya untuk meriwayatkan tafsir. Oleh karenanya, Imam Bukhari banyak berpegang pada tafsirnya, sebagaimana halnya ahli-ahli tafsir yang lain, mereka juga banyak berpegang atas riwayatnya. Ia sering mengadakan perjalanan kemudian menetap di Kufah. Bila ada hal yang mengagumkan dia, maka ia pergi dan menyelidikinya.

Mujahid belajar Tafsir Kitabullah Al-Qur'an dari gurunya, Ibnu Abbas dengan cara membacakannya pada Ibnu Abbas dengan penuh pemahaman, penghayatan dan penelitian pada setiap ayat Al-Qur'an, kemudian Mujahid menanyakan artinya dan penjelasan rahasia-rahasianya.
• Penafsiran ikrimah maula ibnu abbas tentang ayat"منكان عدوا لجبريل"
قال تعالى: من كان عدوا لجبريل
وقال عكرمة: جبر وميك وسراف: عبد، إيل: الله.
Ia lahir pada tahun 25 Hijrah dan wafat pada tahun 105 Hijrah. Imam Syafi'i pernah mengatakan tentang dia: "Tidak ada seorangpun yang lebih pintar perihal Kitabullah daripada Ikrimah", ia adalah maula (hamba) Ibnu Abbas r.a. ia menerima ilmunya langsung dari Ibnu Abbas, begitu juga Al-Qur'an dan Sunnah", ia mengatakan: "Aku telah menafsirkan isi lembaran-lembaran mushhaf dan segala sesuatu yang aku bicarakan tentang Al-Qur'an, semuanya dari Ibnu Abbas" dimana Ibnu Abbas sebagai gurunya..
Tentang otobiografinya dalam kitab Al-I'lam disebutkan sebagai berikut: "Ikrimah bin Abdullah Al-Barbary Al-Madany, Abu Abdillah seorang hamba Abdul1ah bin Abbas, adalah Tabi'in yang paling pandai tentang tafsir dan kisah-kisah peperangan, ia sering merantau ke negara-negara luar. Diantara tiga ratus orang yang meriwayatkan tafsir daripadanya tujuh puluh lebih adalah golongan tabi'in. Ia pernah juga ke Maghrib untuk mengambil ilmu dari penduduknya kemudian ia kembali ke Madinah Al-Munawwarah. Setelab ia kembali di Madinah ia dicari Amirnya, tetapi ia menghilang sampai mati Kewafatannya di kota Madinah bersamaan dengan kewafatan seorang penyair tenar Kutsayyir Azzah dalam hari yang sama, sehingga dikatakan orang: "Seorang ilmiawan dan seorang penyair meninggal dunia".
• Penafsiran atha' bin aby rabbah tentang ayat "أياما معدودات فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرا فهو خير له وان نصوموا خير لكم ان كنتم تعلمون"
قال تعالى: "أياما معدودات فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرا فهو خير له وان نصوموا خير لكم ان كنتم تعلمون"
وقال عطاء: يفطر من المرض كله كما قال الله تعالى:
وقال الحسن وإبراهيم في المرضع والحامل: إذا خافتا على أنفسهما أو ولدهما تفطران ثم تقضيان، وأما الشيخ الكبير إذا لم يطق الصيام، فقد أطعم أنس بعد ما كبر عاما أو عامين، كل يوم مسكينا، خبزا ولحما، وأفطر.
قراءة العامة {يطيقونه} وهو أكثر
Ia dilahirkan pada tahun 27 Hijrah dan wafat pada tahun 114 Hijrah. Ia hidup di Makkah sebagai ahli fatwa dan ahli hadits bagi penduduknya. Ia seorang Tabi'in yang tergolong tokoh-tokoh ahli fiqh. Ia sangat percaya dan mantap kepada riwayat Ibnu Abbas.
Imam besar Abu Hanifah An-Nu'man berkata: "Aku belum pernah berjumpa dengan seorang yang lebih utama daripada Imam 'Atha' bin Aby Rabbah". Qatadah mengatakan: "Tabi'in yang paling pandai itu ada empat, yaitu: 'Atha' bin Aby Rabbah seorang yang paling pandai tentang manasik, Sa'id bin Jubair orang yang paling pandai tentang tafsir dan seterusnya", Ia meninggal dunia di kota Makkah dalm usia 47 tahun.

11. Contoh qiro'at dalam al-qur'an
Nabi Muhammad saw pernah membaca surat Ar-rahman ayat 76 yang berbunyi:
•      
"mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah".
Lafadz ( رَفْرَفٍ ) juga pernah dibaca Nabi dengan lafadz ( رَفَارَفٍ ), demikian pula dengan lafadz ( عَبْقَرِيٍّ ) yang pernah dibaca dengan (عَبَاقَرِيٍّ), sehingga bacaan itu menjadi:
مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفَارَفٍ خُضْرٍ وَعَبَاقَرِيٍّ حِسَانٍ
Yang kedua, Perbedaan pada bentuk isim , antara mufrad, tasniah, jamak muzakkar atau mu’annath. Contoh :
•     
Artinya: "dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya." (Al-Mu'minu:8)
Yaitu لأمَانَاتِهِمْ dan dibaca mufrad dalam qiraat lain لأمَانتِهِمْ.

Yang ketiga, Perbedaan bentuk fi’il madhi , mudhari’ atau amar. Contoh:
•     
Artinya: "Maka mereka berkata: "Ya Tuhan Kami jauhkanlah jarak perjalanan kami"
Sebaagian qiraat membaca lafaz "rabbana" dengan "rabbuna", dan dalam kedudukan yang lain lafaz ‘ba’idu’ dengan ‘ba’ada’.

DAFTAR PUSTAKA
• Al Asqolani, Ibnu Hajar; penerjemah, Ghazirah Abdi Ummah, fathul baari syarah shaih bukhari, Jakarta: Pustaka Azzam, 2002
• http://kholilyanto86.blogspot.com/2011/02/tafsir-di-masa-tabiin.html
• Shahih Bukhari kitab at-tafsir
• Abu Dawud, kitab al-washoya bab ma ja'a fil wasiyyati lil waarits, no. 2870
• Shahih Muslim kitab at-tafsir
• http://www.surgamakalah.com/2011/11/material-makalah-kaidah-tafsir-nabi-saw.html
• Muhammad, Abdurrahman Muhammad, tafsir nabawi, Jakarta: Pustaka Azzam, 2003
• http://www.scribd.com/doc/21216882/Asbabun-Nuzul
• As-shon'ani, Muhammad bin ismail Al Amir, subulussalam syarah bulughul maram, Jakarta: Darus sunnah
• http://amaranpest.blogspot.com/2009/12/ayat-gharib-dalam-al-quran.html
• As-suyuthi, jalaluddin, Al-itqin fi ulum al-qur'an, Daar al-kutub al-ilmiyah, Libanon, 2010

 
;