Sabtu, 27 Oktober 2012 0 komentar

TREN JILBAB DALAM KONTEKS MODERNITAS



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Islam sebagai agama terakhir dan diwahyukan kepada Nabi yang terakhir pula, telah dijamin oleh Allah kesempurnaan ajarannya. Kesempurnaan di sini mengacu kepada aturan-aturan yang terkandung di dalamnya, yang telah mengatur kehidupan manusia dari seluruh aspeknya yang berpusat pada Tauhid mutlak. Tauhid adalah payung utama ajaran Islam, akidahnya mutlak bertumpu pada tauhid, yang juga merupakan ajaran agama Allah yang diwahyukan kepada para rasul sebelumnya.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah [5]: 3)

Ayat ini yang menjadikan yahudi iri dengan Islam karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan Islam. mereka berangan-angan seandainya ayat ini turun kepada mereka, niscaya akan mereka jadikan hari turun ayat tersebut sebagai hari perayaan bagi kaum yahudi.
Seorang ahli tafsir terkemuka –Ibnu Katsir rahimahullah- berkata tentang ayat ini, “Inilah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang tebesar bagi umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama ini, juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Maka perkara yang halal adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan dan perkara yang haram adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan.”

Telah kita ketahui bahwasanya ayat dia atas turun menjelaskan tentang kesempurnaan agama Allah yaitu agama yang paling sempurna dan agama yang paling mulia.
Kendatipun demikian, ayat ini juga dipertegas dengan sabda Rasulullah SAW, beliau bersabda:
Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian”
Ajaran ibadah juga bertumpu pada tauhid Uluhiyyah yang mengajarkan bahwa hanya Allah-lah Tuhan yang wajib dan berhak disembah. Bidang ahklak diajarkan secara pasti, atas dasar-dasar dan nilai Ilahi, tidak berdasarkan atas nilai-nilai manusiawi yang relatif, situasional dan kondisional. Bidang mu’amalat diajarkan dalam bentuk global yang penerapannya diperlukan pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan kehidupan masyarakat yang tentu tetap berpegang pada nilai-nilai transendental.
Ajaran Islam yang mengatur tata cara hidup disebut hukum. Dalam Ushul fiqh, hukum didefinisikan sebagai titah Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, yang berupa tuntutan untuk melakukan sesuatu, yang berarti perintah yang wajib dikerjakan, atau tuntutan untuk meninggalkan sesuatu, yang berarti larangan dan haram dikerjakan, atau berupa ketetapan hukum itu berupa hal yang mubah (fakultatif) yang berarti boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan, maupun ketetapan hukum yang menjadikan dua hal berkaitan dan salah satu menjadi sebab atau syarat atau menjadi penghalang bagiyang lain.
Salah satu ajaran Islam, yang banyak diklaim sebagai bagian dari budaya Islam adalah jilbab.Ayat-ayat yang berbicara mengenai jilbab ini turun untuk merespon kondisi dan konteks budaya masyarakat, yang penekanannya kepada persoalan etika, hukum dan keamanan masyarakat dimana ayat itu diturunkan.Dalam Islam wanita harus menutup tubuhnya dalam pergaulan dengan laki-laki yang secara hukum tidak termasuk muhrimnya dan tidak boleh memamerkan dirinya.
Dalam Islam, penekanan fungsi jilbab adalah untuk menutup aurat, yaitu menutup anggota tubuh tertentu yang dianggap rawan dan dapat menimbulkan fitnah. Selain itu sebagai wujud nyata bentuk penghormatan terhadap wanita.
Muhammad Sa’id al-‘Asymawi yang berpendapat bahwa hijab dalam pengertian penutup kepala atau di Indoneia dikenal dengan jilbab, bukanlah kewajiban agama. Itu merupakan tradisi masyarakat yang bisa diikuti ataupun ditentang.Karena itu, masalahhijab ini tidak memiliki konsekuensi iman-kafir, selama dasarnya tetap kesopanan dan kehormatan.
Demikian juga menegenai jilbab tren masa kini yang penulis ingin rumuskan dalam penelitian ini dan sering kita jumpai, ada tiga model jilbab yang marak pada zaman sekarang ini, antara lain sebagai berikut:

1. Jilbab panjang (jilbab yang hampir menutupi stengah badan seorang perempuan yang berukuran lumayan besar)
2. Jilbab biasa (jilbab yang kebanyakan orang indonesia pakai yang berukuran tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil)
3. Jilbab modis (jilbab yang biasa dipakai kaum perempuan dengan berbagai perhiasan di jilbabnya untuk memperindah jilbabnya dalam mekainya, sehingga terlihat mempesona dan menarik).
Oleh karena itu sangat menarik sekali apabila kita kaji secara mendalam berbagai model jilbab yang sering dipakai oleh kaum perempuan khususnya di indonesia, dan juga tujuan-tujuan dan maksud kaum perempuan mengenai jilbab seperti yang penulis sebutkan di atas.

B. Permasalahan
1. Identifikasi masalah
Adapaun masalah yang kebanyakan timbul dalam pembahasan tentang jilbab maupun tentang tren dan model jilba atau tentang batas-batas penggunaan jilbab pada wanita antara lain sebagai berikut:

1) Adanya ketidak jelasan dan ketidak pastian dalil batas pemakaian jilbab pada wanita sehingga para ulama berbeda pendapat
2) Kebanyakan dari kaum perempuan kurang memahami dalil tentang jilbab baik dalam al-Qur’an maupun hadits, sehingga sebagian kaum perempuan memakai jilbab hanya ikut-ikutan saja
3) Tidak ada kriteria khusus bagaimana jilbab yang baik dan bagus
4) Model jilbab masa kini banyak yang transparan, sehingga lekuk tubuh seorang
wanita dapat kelihatan oleh kaum laki-laki

2. Batasan masalah

Untuk menghindari pembahasan masalah yang terlalu luas dalam penelitian, maka penulis membatasi masalah dengan ruang lingkup yang lebih sempit. Pembahasan dibatasi pada masalah model jilbab saja yaitu:
Apa sajakah model atau tren jilbab yang sering digunakan oleh kaum perempuan dan apa maksud mereka menggunakan jilbab yang seperti itu?

C. Tujuan dan manfaat

Adapun tujuan dari permasalahan yang kami sajikan dalam penelitian ini yaitu
• Untuk mengetahui apa maksud para kaum perempuan mengenai jilbab yang mereka kenakan dan dari mana keinginannya
• Untuk mengetahui apa saja tren dan model jilbab pada saat sekarang ini
Adapula manfaat yang yang insya Allah akan kami dapatkan setelah kami melakukan penetian ini, yaitu:
• Mengetahui maksud dari jilbab yang oleh kaum perempuan pakai
• Mengetahui model jilbab yang saat ini sering dipakai oleh kaum wanita
• Mengetahui dari mana datangnya keinginan untuk memakai jilbab yang mereka kenakan. Dari diri mereka endiri atau dari ideologi mereka atau dari yang lain-lain.

D. Kajian terdahulu
Penelitian yang kami lakukan ini ebenarnya sudah ada yang meneliti tentang hal jilbab ini, akan tetapi bukan dalam konteks modernitas seperti yang kami lakukan. Informasi yang kami dapatkan mengenai kajian terdahulu yang oernah mengusung penelitian tentang jilbab yaitu mahasiswa Perbandingan madzhab hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogjakarta yang bernama Suardi, dengan judul skripsinya “JILBAB DALAM PANDANGAN ABU AL-A’LA AL-MAUDUDI DAN MUHAMMAD SA’ID AL-‘ASYMAWI”.
Dalam skripsinya, dia mengemukakan kontroversial mengenai jilbab dalam perspektif dua tokoh tersebut yaitu, Abu al-A’la al-Maududi dan Muhammad Sa’id al-Asymawi.
Abu al-a’la al Maududi menganalisis jilbab dengan pendekatan bahasa, dimana menggunakan bahasa hijab domestik dan hijab non domestik. Dalam pendapatnya dia mengatakan domestik adalah bahwa wanita muslimah dianjurkan tinggal di dalam rumahnya dan menjaga dirinya untuk tidak meninggalkan rumah bahkan untuk melaksanakan shalat di masjid berjama’ah. Sedangkanhijab non domestik (publik) adalah dengan memakai pakaian yang tertutup rapat, kecuali apa yang biasa terlihat seperti wajah dan kedua telapak tangan

Berbeda dengan tokoh yang satu ini yaitu Muhammad Sa’id al-Asymawi, beliau berpendapat bahwa hijab dalam pengertian penutup kepala atau di Indoneia dikenal dengan jilbab, bukanlah kewajiban agama. Itu merupakan tradisi masyarakat yang bisa diikuti ataupun ditentang.Karena itu, masalahhijab ini tidak memiliki konsekuensi iman-kafir, selama dasarnya tetap kesopanan dan kehormatan.
Karena banyak juga tokoh yang mengatakan bahwa jilbab bukanlah suatu hal yang wajib dengan berdasarkan argumen bahwa konteks turunnya ayat tentang jilbab tersebut dilatarbelakangi oleh situasi kota Madinah yang kala itu belum mempunyai tempat buang hajat di dalam rumah, sehingga ketika hendak buang hajat, mereka harus ketempat sepi di tengah padang pasir. Kesulitan tentu dihadapi oleh wanita muslimah yang ketika akan buang hajat sering diikuti oleh laki-laki iseng yang menyangka bahwa mereka adalah budak. Untuk membedakan antara wanita muslimah dengan budak tersebut, maka turunlah ayat tersebut.Sehinga dengan memakai jilbab, wanita muslimah dikenali dari pakaian mereka, sehingga mereka terhindar dari gangguan laki-laki iseng.
Mungkin hanya itu yang kami dapat dari kajian terdahulu mengenai analisis jilbab semoga menjadi tambahan wawasan bagi pembaca yang budiman, amin.

E. Metode penelitian

1. Jenis Penelitian
• Data meliputi:
- Data dari buku-buku tentang masalah jilbab (studi pustaka)
- Hasil wawancara
- Observasi
• Tekhnik pengumpulan data meliputi:
- Studi pustaka
- Wawancara
- Observasi
• Kemudian dilanjutkan dengan analisis data

F. Sistematika penulisan
Sistematika yang dipakai dalam penulisan skripsi ini terbagi menjadi beberapa bab dengan penyusunan sebagai berikut:
Bab pertama merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari sub-sub bab, yaitu latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat dan tujuan penelitian, kajian terdahulu, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab dua adalah kerangka teori, menjelaskan tentang sekilas tentang pengertian jilbab dan pemakaian jilbab menurut sebagian ulama.

Kemudian bab tiga terdiri dari data penelitian dan subyek dari penelitian yang kami lakukan.

Dilanjutkan dengan bab empat yang terdiri dari berbagai sub-sub yaitu, analisis data hasil wawancara, data yang telah kami ambil dan hasil observasi dari subyek penelitian kami.
Bab lima merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan dari rumusan masalah yang sudah kami rumuskan di atas dan saran agar penelitian kami ini berguna dan bisa dipergunakan dengan baik di masa yang akan datang dan harapan kritik konstruktif dari pembaca.


BAB II
KERANGKA TEORI
KAJIAN TENTANG JILBAB DAN PEMAKAIANNYA MENURUT SEBAGIAN ULAMA


A. Pengertian jilbab
Dalam kamus bahasa Arab Munjid arti kata jilbab adalah: “al qomiisu awissaubul waasi’” yang artinya pakaian yang lebar atau luas (Mansur M. H., 2003: 1)
Arti kata jilbab ketika Al Quran diturunkan adalah kain yang menutup dari atas sampai bawah, tutup kepala, selimut, kain yang di pakai lapisan yang kedua oleh wanita dan semua pakaian wanita, ini adalah beberapa arti jilbab seperti yang dikatakan Imam Alusiy dalam tafsirnya “Ruuhul Ma`ani”.
Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan; Jilbab berarti kain yang lebih besar ukurannya dari khimar (kerudung), sedang yang benar menurutnya jilbab adalah kain yang menutup semua badan.

Dari atas tampaklah jelas kalau jilbab yang dikenal oleh masyarakat indonesia dengan arti atau bentuk yang sudah berubah dari arti asli jilbab itu sendiri, dan perubahan yang demikian ini adalah bisa dipengaruhi oleh berbagai factor, salah satunya adalah sebab perjalanan waktu dari masa Nabi Muhammad Saw sampai sekarang atau disebabkan jarak antar tempat dan komunitas masyarakat yang berbeda yang tentu mempunyai peradaban atau kebudayaan berpakaian yangberbeda.

Namun yang lebih penting ketika kita ingin memahami hukum memakai jilbab adalah kita harus memahami kata jilbab yang di maksudkan syara`(agama), Shalat lima kali bisa dikatakan wajib hukumnya kalau diartikan shalat menurut istilah syara`, lain halnya bila shalat diartikan atau dimaksudkan dengan berdoa atau mengayunkan badan seperti arti shalat dari sisi etemologinya.

Allah Swt dalam Al Quran berfirman:

 •                      

Artinya:Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang.
(Al Ahzab.59).

Ayat di atas turun ketika wanita merdeka (seperti wanita-wanita sekarang) dan para budak wanita (wanita yang boleh dimiliki dan diperjual belikan) keluar bersama-sama tanpa ada suatu yang membedakan antara keduanya, sementara madinah pada masa itu masih banyak orang-orang fasiq (suka berbuat dosa) yang suka mengganggu wanita-wanita dan ketika diperingatkan mereka (orang fasiq) itu menjawab kami mengira mereka (wanita-wanita yang keluar) adalah para budak wanita sehingga turunlah ayat di atas bertujuan memberi identitas yang lebih kepada wanita-wanita merdeka itu melalui pakaian jilbab.

Hal ini bukan berarti Islam membolehkan untuk mengganggu budak pada masa itu, Islam memandang wanita merdeka lebih berhak untuk diberi penghormatan yang lebih dari para budak dan sekaligus memerintahkan untuk lebih menutup badan dari penglihatan dan gangguan orang-orang fasiq sementara budak yang masih sering disibukkan dengan kerja dan membantu majikannya lebih diberi kebebasan dalam berpakaian.
Ketika wanita anshar (wanita muslimah asli Makkah yang berhijrah ke Madinah) mendengar ayat ini turun maka dengan cepat dan serempak mereka kelihatan berjalan tenang seakan burung gagak yang hitam sedang di atas kepala mereka, yakni tenang -tidak melenggang- dan dari atas kelihatan hitam dengan jilbab hitam yang dipakainya di atas kepala mereka.

Ayat ini terletak dalam Al Quran setelah larangan menyakiti orang-orang mukmin yang berarti sangat selaras dengan ayat sesudahnya (ayat jilbab), sebab berjilbab paling tidak, bisa meminimalisir pandangan laki-laki kepada wanita yang diharamkan oleh agama, dan sudah menjadi fitrah manusia, dipandang dengan baik oleh orang lain adalah lebih menyenangkan hati dan tidak berorentasi pada keburukan, lain halnya apabila pandangan itu tidak baik maka tentu akan berdampak tidak baik pula bagi yang dipandang juga yang melihat, nah, kalau sekarang kita melihat kesebalikannya yaitu ketika para wanita lebih senang untuk dipandang orang lain ketimbang suaminya sendiri maka itu adalah kesalahan pada jiwa wanita yang perlu dibenarkan sedini mungkin dan dibuang jauh jauh terlebih dahulu sebelum seorang wanita berbicara kewajiban berjilbab.

B. Pememakaian jilbab menurut sebagian ulama


I. memakai jilbab dengan arti aslinya yaitu sebelum diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi bahasa yang baku, adalah aturan yang mana para shahabat dan ulama` berbeda pendapat ketika menafsirkan ayat Al Quran di atas. Perbedaan cara memakai jilbab antara shahabat dan juga antara ulama itu disebab bagaimana idnaa`ul jilbab (melabuhkan jilbab atau melepasnya) yang ada dalam ayat itu. Ibnu Mas`ud dalam salah satu riwayat dari Ibnu Abbas menjelaskan cara yang diterangkan Al Quran dengan kata idnaa` yaitu dengan menutup semua wajah kecuali satu mata untuk melihat, sedangkan shahabat Qotadah dan riwayat Ibnu Abbas yang lain mengatakan bahwa cara memakainya yaitu dengan menutup dahi atau kening, hidung, dengan kedua mata tetap terbuka.

Adapun Al Hasan berpendapat bahwa memaki jilbab yang disebut dalam Al Quran adalah dengan menutup separuh muka, beliau tidak menjelaskan bagian separuh yang mana yang ditutup dan yang dibuka ataukah tidak menutup muka sama sekali.Dari perbedaan pemahaman shahabat seputar ayat di atas itu muncul pendapat ulama yang mewajibkan memaki niqob atau burqo` (cadar) karena semua badan wanita adalah aurat (bagian badan yang wajib ditutup) seperti Abdul Aziz bin Baz Mufti Arab Saudi, Abu Al a`la Al maududi di Pakistan dan tidak sedikit Ulama`-ulama` Turky, India dan Mesir yang mewajibkan bagi wanita muslimah untuk memakai cadar yang menutup muka, Hal di atas sebagaimana yang ditulis oleh Dr.Yusuf Qardlawi dalam Fatawa Muashirah, namun beliau sendiri juga mempunyai pendapat bahwa wajah dan telapak tangan wanita adalah tidak aurat yang harus ditutup di depan laki-laki lain yang bukan mahram (laki-laki yang boleh menikahinya), beliau juga menegaskan bahwa pendapat itu bukan pendapatnya sendiri melainkan ada beberapa Ulama` yang berpendapat sama, seperti Nashiruddin Al Albani dan mayoritas Ulama`-ulama` Al Azhar, Qardlawi juga berpendapat memakai niqob atau burqo`(cadar) adalah kesadaran beragama yang tinggi yang man bila dipaksakan kepada orang lain, maka pemaksaan itu dinilainya kurang baik, sebab wanita yang tidak menutup wajahnya dengan cadar juga mengikuti ijtihad Ulama` yang kredibelitas dalam berijtihadnya dipertanggung jawabkan.

Sedangkan empat Madzhab, Hanafiyah, Malikiyah, Syafi`iyah dan Hanabila berpendapat bahwa wajah wanita tidaklah aurat yang wajib ditutupi di depan laki-laki lain bila sekira tidak ditakutkan terjadi fitnah jinsiyah (godaan seksual), menggugah nafsu seks laki-laki yang melihat. Sedangkan Syafi`iyah juga ada yang berpendapat bahwa wajah dan telapak tangan wanita adalah aurat (bagian yang wajib ditutup) seperti yang ada dalam kitab Madzahibul Arba`ah, diperbolehkannya membuka telapak tangan dan wajah bagi wanita menurut mereka disebabkan wanita tidak bisa tidak tertuntut untuk berinteraksi dengan masyarak sekitarnya baik dengan jual beli, syahadah (persaksian sebuah kasus), berdakwah kepada masyarakatnya dan lain sebagainya, yang semuanya itu tidak akan sempurnah terlaksana apabila tidak terbuka dan kelihatan.

Ringkasnya, para ulama Islam salafy (klasik)sampai yang muashir (moderen)masih berselisih dalam hal tersebut di atas. Bagi muslimah boleh memilih pendapat yang menurut dia adalah yang paling benar dan autentik juga dengan mempertimbangkan hal lain yang lebih bermanfaat dan penting dibanding hanya menutup wajah yang hanya bertujuan menghindari fitnah jinsiyah yang masih belum bisa dipastikan bahwa hal itu memang disebabkan membuka wajah dan telapak tangan saja.

II. Imam Zamahsyari dalam Al Kasysyaf menyebutkan cara lain memakai jilbab menurut para ulama`yaitu dengan menutup bagian atas mulai dari alis mata dan memutarkan kain itu untuk menutup hidung, jadi yang kelihatan adalah kedua mata dan sekitarnya. Cara lain yaitu menutup salah satu mata dan kening dan menampakkan sebelah mata saja, cara ini lebih rapat dan lebihbisa menutupi dari pada cara yang tadi. Cara selanjutnya yang disebutkan oleh Imam Zamahsyari adalah dengan menutup wajah, dada dan memanjangkan kain jilbab itu ke bawah, dalam hal ini jilbab haruslah panjang dan tidak cukup kalau hanya menutup kepala dan leher saja tapi harus juga dada dan badan, Cara-cara di atas adalah pendapat Ulama` dalam menginterpretasikan ayat Al Qur an atau lebih tepatnya ketika menafsirkan kata idnaa`(melabuhkan jilbab atau melepasnya kebawah).

Nah,mungkin dari sinilah muncul pendapat bahwa berjilbab atau menutup kepala harus dengan kain yang panjang dan bisa menutup dada lengan dan badan selain ada baju yang sudah menutupinya, karena jilbab menurut Ibnu Abbas adalah kain panjang yang menutup semua badan, maka bila seorang wanita muslimah hanya memaki tutup kepala yang relatif kecil ukurannya yang hanya menutup kepala saja maka dia masih belum dikatakan berjilbab dan masih berdosa karena belum sempurnah dalam berjilbab seperti yang diperintahkan agama.

Namun sekali lagi menutup kepala seperti itu di atas adalah kesadaran tinggi dalam memenuhi seruan agama sebab banyak ulama` yang tidak mengharuskan cara yang demikian. Kita tidak diharuskan mengikuti pendapat salah satu Ulama` dan menyalahkan yang lain karena masalah ini adalah masalah ijtihadiyah (yang mungkin salah dan mungkin benar menurut Allah Swt) yang benar menurut Allah swt akan mendapat dua pahala, pahala ijtihad dan pahala kebenaran dalam ijtihad itu, dan bagi yang salah dalam berijtihad mendapat satu pahala yaitu pahala ijtihad itu saja, ini apabila yang berijtihad sudah memenuhi syarat-syaratnya. Adalah sebuah kesalah yaitu apabila kita memaksakan pendapat yang kita ikuti dan kita yakini benar kepada orang lain, apalagi sampai menyalahkan pendapat lain yang bertentangan tanpa tendensi pada argumen dalil yang kuat dalam Al Quran dan Hadist atau Ijma`.

Quarish shihab menyatakan dalam bukunya jilbab pakaian wanita muslimah bahwa tidak ada batasan tertentu dalam al-Qur’an tentang batasan aurat wanita sehingga banyak pendapat ulama yang berbeda akan hal ini. Seandainya ada ketentuan yang jelas tentang batasan aurat pada wanita, maka tidak ada perbedaan antara berbagai pendapat ulama.

Firman Allah ta’aala dalam surat Al-Ahzab ayat 59 :

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan berkata:
Allah Ta’ala menyuruh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam agar dia menyuruh wanita-wanita mukmin, istri-istri,dan anak-anak perempuan beliau agar mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka. Sebab cara berpakaian yang demikian membedakan mereka dari kaum wanita jahiliah dan budak-budak perempuan. Jilbab berarti selendang/kain panjang yang lebih besar dari pada kerudung.Demikian menurut Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, dan sebagainya.Kalau sekarang jilbab itu seperti kain panjang .Al-Jauhari berkata,”Jilbab ialah kain yang dapat dilipatkan”.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ummu Salamah dia berkata:”Setelah ayat diatas turun, maka kaum wanita Anshar keluar rumah dan seolah-olah dikepala mereka terdapat sarang burung gagak. Merekapun mengenakan baju hitam”
az-Zuhri ditanya tentang anak perempuan yang masih kecil. Beliau menjawab menjawab:”Anak yang demikian cukup mengenakan kerudung, bukan jilbab”
Dikeluarkan oleh Abu Dawud (II:182) dengan sanad Shahih. Disebutkan pula dalam kitab Ad-Duur (V:221) berdasarkan riwayat AbdurRazaq, Abdullah bin Humaid, Abu Dawud, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari hadits Ummu Salamah dengan lafal :”Tatkala ayat ini turun, maka wanita-wanita Ansharpun keluar rumah seakan diatas kepala-kepala mereka terdapat gagak lantaran pakaian (jilbab) yang mereka kenakan” Kata”Ghurban” adalah bentuk jamak dari “Ghurab” (gagak). Pakaian (jilbab) mereka diserupakan dengan burung gagak karena warnanya yang hitam.

Dari hadits diatas dapat difahami bahwa mengenakan jilbab dengan warna gelap merupakan sunnahnya wanita-wanita shahabiyah dan tentu saja istri-istri Nabi kita yang mulia. Dalil yang lain adalah Hadits Shahih Riwayat Bukhari yang dimasukkan oleh Imam Syaukhani dalam kitabul Libas dimana Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memakaikan pakaian warna hitam kepada Ummu Khalid lengkapnya adalah sebagai berikut :
“Dan dari Ummu Khalid, ia berkata: Beberapa pakaian dibawa kepada Nabi diantaranya terdapat pakaian berwarna hitam. Lalu Nabi bertanya: Bagaimana pandanganmu kepada siapa kuberikan pakaian hitam ini?Lalu terdiamlah kaum itu. Kemudian Nabi bersabda :Bawalah kemari Ummu Khalid, lalu aku dibawa kepada Nabi , kemudian ia memakaikan pakaian itu kepadaku dengan tangannya sendiri, dan bersabda:selamat memakai dan semoga cocok! Dua kali. Lalu Nabi melihat kepada keadaan pakaian itu dan mengisyaratkan tangannya kepadaku sambli berkata: Ya, Ummu Khalid, ini bagus, ini bagus (sanna dalam bahasa Habasyah artinya: bagus)”
(HR. Bukhari , Nailul Author, Imam Syaukhani,1/404-405)
Yang namanya jilbab adalah kain yang dikenakan oleh wanita untuk menyelimuti tubuhnya diatas pakaian (baju) yang ia kenakan. Ini adalah definisi pendapat yang paling shahih(yang paling benar).

Didalam menjelaskan definisi jilbab dikatakan terdapat 7 pendapat yang telah disebutkan oleh Al-Hafizh dalam kitab beliau “Fathul Bari” (I:336), dan ini adalah salah satunya. Pendapat ini juga diikuti oleh Imam Al-Baghawi dalam Tafsirnya (III:544) yang mengatakan:”Jilbab adalah pakaian yang dikenakan oleh wanita diatas pakaian biasa dan khimar(kerudung)”
Ibnu Hazm (III:217) mengatakan:”Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya”
Imam Al-Qurthubi menshahihkannya dalam kitab Tafsirnya.

“Umumnya jilbab ini dikenakan oleh kaum wanita manakala ia keluar rumah”. Ini seperti yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani (Bukhari & Muslim) dan juga oleh perawi lainnya dari Ummu ‘Athiyah radhiyallahu’anha bahwa ia berkata:
“Rasulullah shalallahu alaihi wasslam memerintahkan kami agar keluar pada hari Idul Fitri maupun Idul Adha , baik para gadis yang menginjak akil baligh, wanita-wanita yang sedang haidh maupun wanita-wanita pingitan. Wanita-wanita yang haidh tetap meninggalkan shalat namun mereka dapat menyaksikan kebaikan (mendengarkan nasehat) dan dakwah kaum muslimin. Aku bertanya: Ya, Rasulullah, salah seorang dari kami ada yang tidak memiliki jilbab? Beliau menjawab: Kalau begitu hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya.”
(Hadits Shahih mutafaq alaih)
Syaikh Anwar Al-Kasymiri dalam kitabnya”Faithul Bari” (I:388) berkaitan dengan hadits ini mengatakan:
“Dapatlah dimengerti dari hadits ini bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah dan ia tidak boleh keluar jika tidak mengenakan jilbab”
Diantara beberapa madzhab /pendapat yang mengatakan berkenaan dengan ayat tersebut diantaranya ada yang mengatakan bahwa pada dasarnya jilbab itu tidak diperintahkan manakala orang-orang fasik sedang tidak lagi mengganggu, atau tatkala sudah hilang illat(sebab/alasan). Jika sebab ini sudah hilang, maka hilanglah pula ma’lul (akibatnya)
Para Ulama` sepakat bahwa menutup aurat cukup dengan kain yang tidak transparan sehingga warna kulit tidak tampak dari luar dan juga tidak ketat yang membentuk lekuk tubuh, sebab pakaian yang ketat atau yang transparan demikian tidak bisa mencegah terjadinya fitnah jinsiyah (godaan seksual)bagi laki-laki yang memandang secara sengaja atau tidak sengaja bahkan justru sebaliknya lebih merangsang terjadinya hal tersebut, atas dasar itulah para ulama` sepakat berpendapat bahwa kain atau model pakaian yang demikian itu belum bisa digunakan menutup aurat, seperti yang dikehendaki Syariat dan Maqasidnya (tujuan penetapan suatu hukum agama) yaitu menghindari fitnah jinsiyah (godaan seksual) yang di sebabkan perempuan.
Selanjutnya kalau kita mengkaji sebab diturunkannya ayat di atas yaitu ketika orang-orang fasiq mengganggu wanita-wanita merdeka dengan berdalih tidak bisa membedakan wanita-wanita merdeka itu dari wanita-wanita budak (wanita yang bisa dimiliki dan diperjual belikan), maka kalau sebab yang demikian sudah tidak ada lagi pada masa sekarang, karena memang sedah tidak ada budak, maka itu berarti menutup dengan cara idnaa` melabuhkan ke dada dan sekitarnya agar supaya bisa dibedakan antara mereka juga sudah tidak diwajibkan lagi, adapun kalau di sana masih ada yang melakukan cara demikian dengan alasan untuk lebih berhati-hati dan berjaga-jaga dalam mencegah terjadinya fitnah jinsiyah (godaan seksual) maka adalah itu masuk dalam katagori sunnat dan tidak sampai kepada kewajiban yang harus dilaksanakan.
Namun bisa jadi ketika jilbab sudah memasyarakat sehingga banyak wanita berjilbab terlihat di mall, pasar, kantor, kampus dan lain sebagainya, namun cara mereka sudah tidak sesuai lagi dengan yang diajarkan agama, misalnya tidak sempurna bisa menutup rambut atau dengan membuka sebagian leher. Atau ada sebab lain, misalnya berjilbab hanya mengikuti trend atau untuk memikat laki-laki yang haram baginya atau disebabkan para muslimah yang berjilbab masih sering melanggar ajaran agama di tempat-tempat umum yang demikian itu bisa mengurangi dan bahkan menghancurkan wacana keluhuran dan kesucian Islam, sehingga dibutuhkan sudah saatnya dibutuhkan kelmbali adanya pilar pembeda antara yang berjilbab dengan rasa kesadaran penuh atas perintah Allah Swt dalam Al Quran dari para wanita muslimah yang hanya memakai jilbab karena hal-hal di atas tanpa memahami nilai berjilbab itu sendiri.

Mungkin di saat seperti itulah memakai jilbab dengan cara melabuhkan ke dada dan sekitarnya diwajibkan untuk mejadi pilar pembeda antara jilbab yang ngetrend dan tidak islami dari yang berjilbab yang islami dan ngetrend serta mengedepankan nilai jilbab dan tujuan disyariatkannya jilbab itu.


BAB III
DATA DAN SUBYEK PENELITIAN


A. Data
Data yang kami ambil dari berbagai tren atau model jilbab yang mereka pakai 5 orang 5 orang, jadi setiap model jilbab, penulis ambil 5 orang, sehingga validitas data akan lebih otentik dan lebih jelas dalam mengklasifikasikan model jilbab dalm konteks sekarang ini.

B. Subyek peneitian
Untuk subyek dari penelitian ini, penulis ambil dari beberapa mahasiswa dari berbagai fakultas yaitu, dari Fakultas Dakwah dan ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Ushuluddin yang tak bisa kami sebutkan nama-nama mereka semua, karena rahasia jawaban dari wawancara dan peranyaan dalam quisioner adalah amanah dan tanggung jawab kami, dan juga dari salah satu dari UKM (Unit kegiatan Mahasiswa) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu Lembaga Dakwah Kampus (LDK).
No Fakultas / Jurusan / UKM Alamat asal Latar belakang pendidikan Umur Model jilbab yang disukai Alasan

1 Psikologi, LDK Ciracas SMAN 21 tahun Jilbab panjang Karena di dalam al-Qur’an sudah jelas perintah untuk memamakai jilbab untuk menutupi semua aurat
2 Ushuluddin, Tafsir Hadits, LDK Serang Banten SMAN 21 tahun Jilbab panjang Dengan memakai jilbab panjang, lekuk tubuh seorang wanita tidak dapat kelihatan
3 Tarbiyah, PGMI Bekasi SMAN 20 tahun Jilbab panjang Memakai jilbab yang pajang, aurat seorang wanita akan tertutup lebih rapat
4 Dakwah dan Komunikasi, Bimbingan Penyuluhan Islam Pandeglang Banten Madrasah Aliyah 19 Tahun Jilbab panjang Melaksanakan perintah agama
5 Ushuluddin, Tafsir Hadits Jakarta Pondok pesantren 21 tahun Jilbab modis Mempercatik jilbab
6 Ushuluddin, Tafsir Hadits Solo Pondok pesantren 20 tahun Jilbab modis Agar tampil lebih cantik
7 Ushuluddin, Tafsir Hadits Sulawesi Selatan Madrasah Aliyah 20 tahun Jilbab modis Suka sama perhiasan
8 Ushuluddin, Tafsir Hadits Serang Madrasah Aliyah 20 tahun Jilbab sederhana atau biasa Suka dengan kesederhanaan
9 Ushuluddin, Tafsir Hadits Gresik, Jawa Timur Pondok pesantren 20 tahun Jilbab sederhana atau biasa Agar tidak memakan waktu lama pada saat ingin mamakainya
10 Dakwah dan ilmu Komunikasi, Bimbingan Penyuluhan Islam Jakarta Timur Madrasah Aliyah 19 tahun Jilbab sederhana Meskipun sederhana dan biasa yang penting menutup aurat
Jumlah 10 orang Dari berbagai fakultas dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)


BAB IV
JILBAB MENURUT PARA PENGGUNANYA

A. Alasan
Setelah kami melakukan wawancara dan menyebarkan angket kepada beberapa mahasiswa. Kami dapat menafsirkan atau menginterpretasikan bahwa:

• Wanita yang menggunakan jilbab panjang dan sebagian memakai cadar itu mayoritas adalah lulusan SMAN dan Mereka kurang memahami dan sebagian bahkan tidak tau tentang ayat atau dalil tentang perintah jilbab itu sendiri, sehingga interpretasi dan asumsi kami kepada mereka, memakai jilbab yang panjang hanya sekedar dorongan ideologi yang mereka geluti atau minimnya wawasan keagamaan mereka khususnya pengetahuan mengenai perintah jilbab sehingga ikut-ikutan saja dan mereka beralasan bahwa dengan memakai jilbab mereka merasa lebih terjaga auratnya dan lebih tertutup.

• Kemudian para wanita yang menggunakan jilbab modis. Setelah kami melakukan wawancara dan menyebarkan angket bahwa kaum perempuan yang senang mengenakan jilbab yang modis itu adalah lahir dari keinginnan dan kesenangan diri mereka sendiri, sehingga timbullah dalam diri mereka rasa percaya diri dengan jilbab yang mereka kenakan. Alasannya karena dengan hiasan yang mereka pakai pada jilbab mereka akan semakin mempercantik penampilannya.

• Dan bagi wanita menggunakan jilbab yang sederhana dan biasa-biasa saja, kebanyakan dari mereka mengatakan, lebih senang dengan kesederhanaan dan tidak muluk-muluk dalam mengenakan jilbab. Sehingga kami dapat menginterpretasikan bahwa mereka adalah orang-orang yang mencintai kesederhanaan dan bisa juga karena mereka tidak senang berlama-lama dalam memakain pakaian, karena dalam memakai jilbab yang modis maupun jilbab yang panjang, sangat membutuhkan waktu yang lumayan lama.

B. Pilihan model jilbab
Di dalam perintah pemakaian jilbab itu sendiri tidak menjelaskan dari mana dan sampai mana batas jilbab yang harus dikenakan oleh kaum wanita, maka dari itu setelah penulis melakukan wawancara dan menyebarkan angket kepada sebagian mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penulis dapat menganalisa bahwa ada bebrapa tren atau model jilbab yang sering dipakai oleh wanita, sehingga penulis klasifikasikan tren atau model jilbab yang sering wanita kenakan di zaman modern ini menjadi tiga model yaitu:

• Jilbab panjang adalah: jilbab yang digunakan seorang wanita untuk menutupi separuh tubuhnya, sehingga lekuk tubuh perempuan tidak kelihatan dan tidak transparan.
Berikut gambarnya:

• Jilbab biasa atau sederhana adalah: jilbab yang kebanyakan dipakai oleh perempuan saat ini yang hanya menutupi sekitar seperempat dari badannya.
Berikut gambarnya:

• Jilbab modis adalah: jilbab yang digunakan oleh seorang perempuan yang penuh dengan hiasan-hiasan (bros) untuk memperindah jilbab mereka
Berikut gambar di bawah ini:

C. Manfaat
Adapun manfaat dari jilbab panjang menurut mereka adalah dapat menjaga aurat mereka dengan benar-benar, sehingga aurat para pemakai jilbab panjang semakin tertutup dan dan sulit untuk dapat terlihat oleh para laki-laki.
Dan manfaat jilbab yang modis adalah menambah kecantikan jilbab yang mereka pakai, sehingga para pemakai jilbab modis akan lebih percaya diri saat mereka memakainya.
Kemudian manfaat dari jilbab yang sederhana adalah tidak menghabiskan waktu yang lama dalam memakainya dan mudah dalam bergerak saat memakainya.


BAB V
PENUTUP


A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasi penelitian kami tentang berbagain model dan tren jilbab pada zaman sekarang ini adalah sebagai berikut:

• Jilbab panjang adalah: jilbab yang digunakan seorang wanita untuk menutupi separuh tubuhnya, sehingga lekuk tubuh perempuan tidak kelihatan dan tidak transparan.

• Jilbab biasa atau sederhana adalah: jilbab yang kebanyakan dipakai oleh perempuan saat ini yang hanya menutupi sekitarseperempat dari badannya.

• Jilbab modis adalah: jilbab yang digunakan oleh seorang perempuan yang penuh dengan hiasan-hiasan (bros) untuk memperindah jilbab mereka
Kemudian berikut hasil interpretasi kami tentang apa maksud mereka dalam memakai model jilbab yang mereka kenakan berikut alasan mereka adalah sebagai berikut:

• Wanita yang menggunakan jilbab panjang dan sebagian memakai cadar itu mayoritas adalah lulusan SMAN dan Mereka kurang memahami dan sebagian bahkan tidak tau tentang ayat atau dalil tentang perintah jilbab itu sendiri, sehingga interpretasi dan asumsi kami kepada mereka, memakai jilbab yang panjang hanya sekedar dorongan ideologi yang mereka geluti atau minimnya wawasan keagamaan mereka khususnya pengetahuan mengenai perintah jilbab sehingga ikut-ikutan saja dan mereka beralasan bahwa dengan memakai jilbab mereka merasa lebih terjaga auratnya dan lebih tertutup.

• Kemudian para wanita yang menggunakan jilbab modis. Setelah kami melakukan wawancara dan menyebarkan angket bahwa kaum perempuan yang senang mengenakan jilbab yang modis itu adalah lahir dari keinginnan dan kesenangan diri mereka sendiri, sehingga timbullah dalam diri mereka rasa percaya diri dengan jilbab yang mereka kenakan. Alasannya karena dengan hiasan yang mereka pakai pada jilbab mereka akan semakin mempercantik penampilannya.

• Dan bagi wanita menggunakan jilbab yang sederhana dan biasa-biasa saja, kebanyakan dari mereka mengatakan, lebih senang dengan kesederhanaan dan tidak muluk-muluk dalam mengenakan jilbab. Sehingga kami dapat menginterpretasikan bahwa mereka adalah orang-orang yang mencintai kesederhanaan dan bisa juga karena mereka tidak senang berlama-lama dalam memakain pakaian, karena dalam memakai jilbab yang modis maupun jilbab yang panjang, sangat membutuhkan waktu yang lumayan lama.

B. Saran
Dari sekian banyak penelitian yang kami lakukan, mulai dari tinjauan pustaka maupun lapangan, maka hanya itulah yang bisa kami lakukan walau hanya sebatas interpretasi dan asumsi.

Maka dari itu kami mengharap kritik konstruktif bagi para pembaca yang budiman, sehingga kami dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam lagi dan lebih valid lagi.

Dan juga kepada seluruh produsen jilbab agar memproduksi jilbab yang benar-benar menutup aurat, sehingga para wanita yang menggunakan jilbab itu benar-benar menutup auratnya dan tidak kelihatan oleh kaum laki-laki.

Kemudian harapan kami kepada peniliti jilbab setelah kami agar lebih mengembangkan penilitiannya sehingga wawasan para pembaca lebih luas dan bertambah dan tidak hanya fokus kepada model dan tren jilbab yang berkembang pada saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Al-alusi, ruuhul ma’ani, maktabah misykaatul islamiyah
Basyir, Azhar Ahmad, Refleksi atas Persoalan Keimanan (Seputar Masalah Filsafat, Hukum, Politik dan Ekonomi), cet. ke- 4, (Bandung: Mizan, 1996)
Al-Albani,Jilbab Wanita Muslimah
Ibrahim bin Fatih bin Abd Al-Muqtadir, Wanita Muslimah vs Wanita Pesolek, cet. Ke-2, (Jakarta: AMZAH, 2008)
http://www.indojilbab.com/content/42-definisi-jilbab-dalam-al-quran-dan-jilbab-zaman-sekarang
Junaedi, jilbab dalam pandangan abu al-A’la al-Maududi dan Muhammad Sa’id al-‘Asymawi, skripsi Tahun 2004
Muthahari, Murtadha, Hijab: Gaya Hidup Wanita Islam, (Bandung:, Mizan, 1995)
Syihab, Quraish, jilbab pakaian wanita muslimah, cet. Ke-4, (Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2009)
Shahab, Husein, jilbab menurut al-Qur’an dan As-Sunnah, cet. Ke-9, (Bandung: Mizan, 1994)
Taimiyah, Ibnu, Jilbab dan Cadar Dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, cet. Ke-1, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya 1994)
Zahrah, Abu Muhammad, Usul al-Fiqh, (Kairo: Dar al-Fikr al- 'Arabi, 1958)


Minggu, 03 Juni 2012 0 komentar

عليها الصحة والسلامة والشكر كذالك



Perihal: Kejujuran dan permohonan maaf

Bismillah...........
Kpd Yth. Sdr Rasyidi/ Nina
Di Tempat

Dengan ini, saya sampaikan ucapan maaf saya, tingkah laku, dan semua ke abnormalan saya di mata kk atau nina.
Maaf atas keterlambatan saya dlm merespon ini semua, tapi sperti kata pepatah " lebih baik terlambat dr pada tidak sama sekali"
Jujur saya merasa terusik dengan isu yang beredar, yang selalu saya dengar dari orang lain. Dan menyudutkan saya:)
Jangan dulu kita bahas masa lalu, wktu anda bersama saya
Syukuri, klw kk udh menemukan yg lebih baik

Mfn temen2 aku yg menilai kk negatif
termasuk aku juga. Mereka cm ga nyangka, secepat itu seorg kk menumpahkan semuanya. Toh namanya persepsi
Dalam hitungan hari, langsung berpaling. (Namanya jodoh sii)

Knp kk sllu bilang aku gengsi? kk mau aku jujur? kalau aku cemburu dan kecewa sm kk? atau harus bilang aku masih syg sm kakak?
Kak DEMI ALLAH, aku ga PERNAH So Santai atau Munafik di depan ngmg apa d belakang beda lg. Kata2 ini yang bikin aku ga tenang, dan emosi. Yang pasti sejak liat d FB ttg aktftas km yg baru, dari situ aku udh ikhlasin hati buat kalian. Jujur dari sini, ngerasa bertanya2 kok bisa secepat itu? Berarti slama ini kk udh pny hubungan dong? Begitu kurang lebihnya pola pikir saya. Yang membuat saya dengan santainya berjalan tanpa dosa. Karena Kecewa, dan anggap kamu....yaaa ternyata memperlakukan semuanya perempuan sama (Ini kejujuran yang kamu mau??). Maaf klw menyakitkan

Nahhh sampai akhirnya, aku terusik sama isu2 yang beredar akhir-akhir ini, tercengang sm komen2 kamu, terhentak sm statment km. Parah....parah......dan bodohnya saya ikut masuk di dalamnya. Ikut Emosi (karena ga terima), hehe...saya coba telpon kamu, bukan maksud apa2....dan sekali lagi mf terlambat...
Ehh tapi sikap km ky gitu, jd agak tinggi ht dan terkesan bales dendam.............aku tau kamu sekarang udh punya tameng, punya tempat bersandar, dan aku negrti. Tanpa harus km bilang "Umy d depan aku".

Kejujuran selanjutnya, hemm mf sebelumnya aku pengen bgt ketemu kalian berdua..boleh ga?? Besok jm 9 Aku tunggu d PU. Cuma mau minta maaf, dan ngeyakinin kalian. Kalau aku beneran ga punya sikap cuek, atau gimana d blakang kalian.
Kak Rasyidi dn Teteh Nina kita kan kenal baik, Aku ga siap kehilangan dan putus silahturahim sm kalian.
Aduuhhh aku g mau pny musuh
Aku gbsa.....!!
Aku berharap kalian g jadiin aku bahan d hubungan kalian.
Aku Bahagia Liat kalian berdua, kalian saling dukung, saling jaga komunikasi. Smg Sampai akhir hayat nanti..
kak Rasyidi sm NIna hrs Percaya ya??
Aku sayang kalian, biarlah yang lalu jadi pelajaran buat hubungan kalian. KALIAN HARUS BERTAHAN

Aku ga berantem2 lagi dh sm kak rasyidi, dn aku berusaha g keliatan cuek d depan kalian. Aku tetep jaga komunikasi sm kalian.
Sekian, kejujuran, support, dan permohonan maaf saya. Smg, dapat d jadikan acuan untuk memperkuat hubungan kalian. Aamiin

Haula Sofiana (BPI IV)

Nb: Buat bukti Otentik, d print jg Gpp dehh:)
Salam bidik misi buat nina
Salam smgt bwt Rasyid
0 komentar

MAHMUD SYALTUT


A. Pendauluan
Allah menurunkan kitab-Nya Al-Qur'an untuk pedoman dan undang-undang bagi kaum muslimin dalam mengarungi liku-liku hidupnya. Dengan pantulan sinarnya, hati mereka akan menjadi terang dan petunjuknya mereka akan mendapatkan jalan yang lapang. Dari ajaran-ajarannya yang lurus serta undang-undangnya yang bijaksana mereka dapat memetik suatu hal yang membuat mereka dalam puncak kebahagiaan dan keluhuran.
Tafsir sahabat adalah tafsir yang memiliki kedudukan sebagaimana hadis Nabi Muhammad saw. Tafsir sahabat termasuk tafsir mu'tamad (dapat dijadikan pegangan) dan dapat diterima, karena sahabat pernah berkumpul dan bertemu Nabi saw. yang tentunya mereka dapat mengambil dari sumbernya yang asli, mereka menyaksikan turunnya wahyu dan Al Qur’an. Mereka mengetahui asbabunnuzul (sebab sebab turunnya wahyu). Dan yang lebih penting lagi, mereka mempunyai jiwa yang murni, fitrah

yang lurus dan kedudukan yang tinggi dalam hal kefasihan dan kejelasan berkalam.
Tafsir Al-Qur’an Al-karim karya Al Imam Mahmud Syaltut adalah tafsir yang mengagas pertama dengan metode tematis antar surah (maudhu’i), dimana di dalamnya banyak menjelaskan inti dari setiap surat
.Dalam penjelasan kali ini kami membahas tentang kaidah tafsir kontemporer yaitu tafsir Al-Qur’an Al-karim karya Al Imam Mahmud Syaltut Semoga makalah ini dapat menambah khazanah keilmuan dan bermanfaat bagi pribadi penulis dan pembaca yang budiman, amin.

B. Profil dan biografi syekh Mahmud Syaltut
Syekh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam, Dialog Sunni Syiah mulai dari analisa al-quran, Analisa Hadis, dan lain2.
Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju. Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti Al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syiah.
Syekh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H. di Desa Manahiyah, Bani Mansyur Bukhairah, Mesir, pada tahun 1893 M..
Pendidikan beliau dimulai sejak dari keluarnya yang berpendidikan, beliau dididik oleh orang tuanya semenjak kecil oleh keluarganya dan oleh ulama di desanya. Sehingga beliau sudah hafal al-Qur’an semenjak beliau masih berusia dini.
Tahun 1906 M, saat usia Mahmud syaltut erusia 13 Tahun, beliau mengawali pendidikan formalnyanya di Ma’had Al-Iskandariyah. Di Ma’had ini beliau mengahabiskan waktunya dalam menuntut ilmu selama 12 Tahun yaitu pada Tahun 1918 beliau telah merampungkan pendidikan formalnya dan mendapat syahadah alamiyah an-nazamiyah, yaitu ijazah yang setara dengan S-1. Setahun kemudian beliau mengajar dan mengabdi di almamaternya.
Kemudian Syekh Mahmud Syaltut pindah ke Universitas al-Azhar. Di samping beliau mengajar di Universitas tertua di dunia itu ia juga memegang beberapa jabatan penting. Misalnya, penilik pada sekolah-sekolah agama, wakil dekan Fakultas syari’ah Universitas al-Azhar, dan wakil syekh al-Azhar.
Jabatan sebagai wakil Syekh al-Azhar dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh beliau . ia segera mengemukakan gagasan pembaharuan terhadap Universitas al-Azhar dalam bidang kebahasaan. Sehingga gagasan pembaharuannyapun diterima semua pihak. Proyek tersebut berjalan lanjar pada Tahun 1946 M dengan pembentukan lembaga bahasa. Ia sendiri termasuk salah satu anggotanya.
Pada tahun 1950 M, Syaltut diangkat sebagai pengawas umum pada bagian penelitian dan kebudayaan Islam di Universitas al-Azhar. Kesempatan ini dignakannya untuk menggalang hubungan kebudayaan Mesir dengan kebudayaan Arab di dunia Islam. Dalam kaitan ini, ia pernah menjadi penasihat Muktamar Islam di bawah pemerintahan Republik persatuan Arab (Federasi Suriah dan Mesir antara tahun 1958-1961).
Dengan kerja kerasnya yang ia jalani dengan sabar dan tabah akhirnya pada tahun 1958 M syekh Mahmud Syaltut terpilih menjadi Rektor al-Azhar ke-41. Semasa menjadi Rektor beliau mengagendakan beberapa reformasi di Universitas al-Azhar. Salah satunya, memindahkan Institut Pembacaan al-Qur’an ke dalam masjid al-Azhar dengan susunan rencana pelajaran tetentu. Kebijakan ini sekaligus bertujuan mengemalikan fungsi al-Azhar sebagai Pusat kajian al-Qur’an bagi seluruh umat secara bebas tanpa terikat jam pelajaran dan ujian.
Selain diangkat sebagai Rektor Universitas al-Azhar, bilau juga dipercya memegang jabatan penting di sejumlah departemen Pemerintah mesir. Seperti:
 Anggota Badan tertinggi untuk Hubungan-hubungan kebudayaan dengan Luar Negeri pada kementrian pendidikan dan pengajaran Mesir,
 Anggota Dewan Tertinggi untuk Penyiaran Radio Mesir,
 Anggota Badan Tertinggi untuk bantuan Musim Dingin serta ketua Badan Penyelidikan Adat dan Tradisi pada Kementrian Sosial Mesir.
Syekh Mahmud Syaltut telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju. Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syiah sudah sepantasnya umat Islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih.
Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri "Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah" Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syiah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya "Majma-e Jahani-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami" (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.
Salah satu fatwanya yang sangat monumental dan berkesan sekali yaitu, beliau menghalakan umat muslim untuk mengikuti madzhab syi’ah
Berikut ini adalah lampiran fatwanya:
Ulama kharismatik ini meninggal pada tanggal 19 Desember 1963 M. pengabdiannya dalam memajukan Universitas al-Azhar maupun dalam pemikiran keislaman akan selalu dikenang. Petunjuk-petunjuknya akan selalu dipedomani guna meningkatkan kualitas sumber daya umat Islam pada masa kini dan mendatang.

C. Karya-karya Mahmud Syaltut
Syekh Mahmud Syaltut meskipun beliau sangat sibuk dengan kegiatan dan aktifitasnya dalam menghilangkan fanatisme dalam madzhab, akan tetapi beliau tidak lupa untuk menyalurkan ilmunya lewat tulisan.
Adapun karya-karya beliau yang telah dipublikasikan antara lain sebagai berikut:
• Tafsir al-Quran Al-Karim
• Al-Islam Al-Aqidah wa Al-Syariah () Islam sebagai aqidah dan syari’ah
• Al-Fatawa (fatwa-fatwa)
• Al-Qur’an wa Al-Qital fi (Qur;an dan peperangan)
• Min Tawjihat Al-Islam (bimbingan Islam)
• Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh (perbandingan madzhab dalam fiqih)
• Fiqh Al-Quran wa assunnah (fikih al-Qur’andan sunnah)
• al-Qur’an wal mar’ah (wanita dalam al-Qur’an)
• Manhajul Qur’an fi bina-il mujtama’ (sistem Qur’an dala membangun masyarakat)
• Al-mas’uliyyah Al-madaniyyah wal-jina’iyyah fi al-syari’ah al-islamiyah (pertanggung jawaban sipil dan pidana dalam syari’ah Islam)
• Tandzimu an-nasl (Mengatur kelahiran)
• Tandzimu alaqotid Dauliyyah fil Islam (mengatur hubungan-hubungan Internasional dalam Islam)
• Al-Islam wa wujudud Dauliy lil muslimin (Islam dan perwujudak Internasional)

D. Motivasi Mahmud Syaltut dalam menafsirkasn al-Qur’an
Syekh Mahmud Syaltut menulis dalam muqoddimah tafsirnya bahwa ia bukanlah lebih pintar dan lebih faham tentang uslub yang ada dalam al-Qur’an begitu juga dalam mengeluarkan hukum, sehingga dalam penulisan tafsir beliau melihat realitas kaum muslimin pada saat itu kurang banyaknya orang mengetahui uslub dalam al-Qur’an atau esensi dari al-Qur’an itu sendiri.
Dan beliau juga tidak menginginkan adanya fanatisme dalam madzhab ketika seorang mufassir menafsirkan al-Qur’an

E. Corak tafsir Mahmud syaltut dan metode penulisannya
Disebutkan di dalam kitab “ittijahatut tafsirfil ashril hadits” bahwa syekh Mahmud Syaltut menolak penafsiran dengan corak tafsir ilmy , sebagaimana disebutkan juga dalam muqoddimah tafsirnya bahwa adanya kelemahan dalam menafsirkan al-Qur’an, yaitu, adanya fanatisme dalam madzhab dan mengaitkan ayat-ayat kauniyah dengan ilmu-ilmu (sience) yangs sekarang.
Karena syekh Mahmud Syaltut adalah seorang faqih, dan karya-karyanya juga banyak tengang fiqh,maka corak tafsir al-Qur’an al-Karim karya beliau adalah bercorak fiqih.
Dalam penulisan tafsirnya, beliau melakukan pembaharuan dalam metode penulisan tafsir. Yaitu dengan metode tematik (maudhu’i). tafsir maudhu’I ada dua, yaitu, tafsir tenatik berdasarkan surat dan tafsir tematik berdasarkan subyek
Menurut catatan Quraish, tafsir tematik berdasarkan surah digagas pertama kali oleh seorang guru besar jurusan Tafsir, fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Syaikh Mahmud Syaltut, pada Januari 1960. Karya ini termuat dalam kitabnya, Tafsir al-Qur’an al-Karim. Sedangkan tafsir maudu‘i berdasarkan subjek digagas pertama kali oleh Prof. Dr. Ahmad Sayyid al-Kumiy, seorang guru besar di institusi yang sama dengan Syaikh Mahmud Syaltut,jurusan Tafsir, fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, dan menjadi ketua jurusan Tafsir sampai tahun 1981.

DAFTAR PUTAKA
 Syaltut, mahmud, tafsir al-Qur’an al-Karim 10 pertama, daarus syuruq, Kairo: 2004
 Majid, abdul, abdussalam al muhtasib, ittijahatut tafsirfil ashril hadits (tren tafsir kontemporer), daar el-fikr, Baerut: 1973
 http://indonesian.irib.ir/tokoh/-/asset_publisher/tCI5/content/syeikh-mahmud-syaltut-penggagas-ide-pendekatan-antar-mazhab
 Syamruddin Nst, Sejarah Perkembangan Tafsir Tematik
 Syaltut, Mahmud, fatwa-fatwa, Bulan Bintang, Jakarta: 1972
 Saiful Amin Ghafur, profil para mufassir Al-Qur’an, Pustaka Insani Madani, Yogyakarta: 2008.
Sabtu, 05 Mei 2012 6 komentar

Pesan Ibumu Untu-Q


Assalamualaykum Warohmatulahi Wabarokatuh ….

“Wahai menantu-ku...

... Aku hanyalah seorang ibu yang berbicara atas nama diri-ku sendiri dengan melihat putri-ku sebagai istri-mu, dan engkau sebagai menantu-ku.
Bila engkau membaca pesan ini semoga engkau melihat pula bayang wajah ibu yang telah mengandung dan melahirkan-mu, berdiri bersama-ku tepat dihadapan-mu.

“Wahai menantu-ku...

Bukankah engkau sudah berjanji akan menjadi Imam dunia akherat untuk putri-ku.?
Bukankah engkau juga telah bersumpah untuk membawanya hingga ke baka dan memberinya satu tiket ke Syurga.?

“Wahai menantu-ku...

Bila ada kelemahan dari istri-mu dan seribu lagi keburukan yang dilakukannya akibat kelemahan dan juga karena kekurangan darinya,

Bukankah menjadi tugas-mu untuk mendidiknya sekarang.?
Begitu yang seharusnya.

“Wahai menantu-ku...
Diajarkan kepada-mu oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bahwa seorang suami tak boleh membiarkan mata istrinya basah walau hanya serupa tetesan embun dini hari.?
Bukankah engkau sebagai suaminya yang harus melindunginya dengan rasa tentram dan aman.?
Maka berikan-lah keteduhan bagi jiwanya,

“Wahai menantu-ku...

Engkau suami yang dipilih Allah Ta’ala untuk putri-ku,

Bersabar-lah terhadap istri-mu dan tetap-lah bersikap lemah lembut padanya.

Bukankah engkau menikahinya karena Allah Ta’ala.?
Maka sayangi dan pelihara-lah istri-mu dengan jalan yg di Ridhoi oleh Allah Ta’ala,

“Wahai menantu-ku...

Sebagian besar penghuni neraka adalah perempuan dan itu disebabkan mereka yang Durhaka terhadap suaminya.

Maka selamatkan-lah istri-mu dari dosa yang lebih besar.
Bukankah nanti-pun engkau akan ditanya tentang tanggung jawab bagaimana kau mengurus mereka dan menjaga jalan Syurga agar bisa dilalui oleh-mu dan istri-mu yang harus kau bawa serta pula.?

“Wahai menantu-ku...

Engkau di ijinkan menghukum istri-mu sewajarnya,
Namun jangan-lah mengenai wajahnya dan jangan pula menyentuh tubuhnya hingga meninggalkan jejak luka.

Jangan-lah menghardiknya dengan kata-kata kasar dan umpatan yang merendahkan seolah engkau turut menistakan diri-mu sendiri.

Sebab ia juga adalah pakaian-mu..!”

Wahai menantuku...

aku titipkan putriku padamu, buatlah dia tersenyum menuju surga atas tiket darimu…

“Wassalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh”

1 komentar

هب لنا من ازواجنا



bismillahirrahmanirrahim....
19 April 2012 saat matahari udzur, seakan menjadi malam yang penuh dengan anugerah Allah bagiku,
yah... itulah awal rekonstruksiku setelah tumbang. Dengan wanita yang baik hati nan sholehah itu yang tak pernah lelah mengarungi kehidupan ini untuk menjaga komitmen kita berdua

memang ini adalah sesuatu yang tak pernah terdetik sedikitpun dalam benakku, akan tetapi semoga ini adalah jalan yang terbaik yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadaku dan kepadanya. aku merasa bak berjalan di atas skenario yang dituntun langsung oleh Tuhan, diarahkan langsung oleh-Nya

memang kata orang banyak mengatakan, dalam menjalani hubungan "biasa-biasa saja". tapi ternyata tidak bagiku, karena dalam proses yang biasa-biasa saja, maka hasilnya juga akan biasa-biasa saja itu saja jawaban sederhanaku (faman ya'mal mitsqola dzarrotin khiron yarohu, wa man ya'mal mitsqola dzarrotin syarron yarohu)

ku termenung, ku berharap semoga ini adalah jalan terakhir bagiku dan tempat selamanya bagiku. kata ROBOH, TUMBANG, dan GUGUR dalam hal ini ku tak ingin memnjumpai lagi, Cukuplah di Sini dan cukuplah ini.


05, Mei, 2012
Jumat, 04 Mei 2012 0 komentar

DEMOKRATISASI KONSEP “REVOLUSI ISLAM” MENJADI “POST ISLAMISME” IRAN




Torehan tinta sejarah pada 11 Februari 1979 yang tak pernah terlupakan salah satunya adalah negara Iran, dengan revolusinya yang dikenal dengan “Revolusi Islam Iran”. Dalam revolusinya ada beberapa tokoh yang sangat berkontribusi dalam rekonstruksi republik Iran, sebut saja seperti Ayatullah Imam Khomaeni dan para dedengkotnya.

Akan tetapi tak salah bila orang mengatakan “ada suka ada juga duka”, begitu juga yang dialami Republik Iran, mereka suka dengan islamisasi Republiknya, akan tetapi setelah beberapa hari kemudian founding father dan sang revolusioner mereka harus berpisah dengan mereka pada tahun kurang lebih 1989 karena harus kembali ke rahmat-Nya. Kala itu langit membendung republik Iran, bercucuran air mata membahasahi bumi mereka.

Hari demi hari silih berganti, lahirlah actor-aktor dan cendekiawan baru Iran yang dengan optimisnya ingin merekonstruksi Republiknya, sebut saja antara lain seperti, Ali syari’ati, Ahmadi nejad, dan lain sebagainya

Dengan ini “pos islamisme” menjadi sebuah masa atas keputusasaan muslim Timur Tengah terhadap konsep “Revolusi Islam” yang searah dengan demokrasi.
Bersambung….
0 komentar

Polemik plagiarisme al qu'an terhadap al kitab


Sebagai sebuah teks, Alquran dapat dipahami dari sejarah bermulanya teks itu dibentuk dan difungsikan. Salah satu kajian yang mendalami konsep tersebut adalah kritis historister. Dari kajian itu, serta dengan dorongan pengetahuan rasional, dapat ditelusuri teks Alquran dan sejarahnya.

Konsep seperti itulah yang mendominasi model penelitian para sarjana Barat sejak abad ke-19. Abraham Geiger (1810-1874), misalnya dianggap sebagai sarjana pertama yang menerapkan pendekatan kritik-historis terhadap Alquran. Bahkan, pada 1883, ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul 'Was hat Mohammed aus dem Judentum aufgenommen?' (Dirk Hatwig 2009:241).

Dalam bukunya itu, ia memaparkan bahwa Nabi Muhammad, dalam memproduksi Alquran, banyak menyisipkan tradisi-tradisi Yahudi. Sontak, pemikiran ini pun beranak pinak seperti yang dikembangkan Günther Luling dan Christoph Luxemberg. Buku 'Der Koran und sein religiöses und kulturelles Umfeld' (2010) editan Tilman Nagel, dianggap sebagai karya terbaru yang menghimpun beberapa hasil kajian historiskritis ala Geiger.

Alquran, dipahami mereka, sebagai sebuah teks `epigonik'. Dalam pengertian bahwa Alquran merupakan imitasi dari teks-teks pra-Islam. Pandangan itu pun melahirkan kontroversial di kalangan sarjana Muslim. Namun, tidak semua sarjana Barat yang berada dalam 'gerbong' pemikiran tersebut.

Sebut saja, Anglika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig. Umumnya mereka memberikan perlawanan atas pemikiran tersebut, yang menolak bahwa Alquran hanyalah copy-paste atas `teks-teks praIslam'. Hal itu terlihat dari wawancara pada 2 Juli 2010 dan penelusuran beberapa artikel mereka. Salah satunya adalah proyek yang dikenal dengan Corpus Coranicum, yang sedang dilakukan di Berlin-Brandenburgische Akademie der Wissenschaften di Jerman.

Konsep Ala Geiger dengan para 'penentang' ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Paradigma lah yang membedakan kedua pemikiran tersebut. Dalam konsep 'para penentang', Alquran diposisikan sebagai `teks polifonik' dan bukan mimesis (tiruan) dari teks-teks sebelumnya, seperti yang didengungkan Geiger. (Bersambung)
Kamis, 23 Februari 2012 1 komentar

QUO VADIS PERGERAKAN (movement) antara nepotisme atau tidak



berawal dari kegelisahanku saat aku duduk di bangku kuliah. berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun aku diterpa kegelisahan dan dilema kegiatan kemahasiswaan yaitu antara menjadi aktifis dan akademisi. ada yang bilang mahasiswa tanpa pergerakan bagaikan orang yang berjalan dalam kegelapan karena dia buta pengalaman (the experience is the best teacher). ada yang bilang juga orang aktifis mayoritas kuliahnya keteteran alias menjadi "mahasiswa injury time". dari situlah aku menjadi bingung dan selalu terkurung dalam kegelisahan dan dilema, aku bertanya kepada senior-senior tentang pergerakan itu bagaimana dan seperti apa.
tanpa kusadari aku mulai mencoba masuk dalam dunia pergerakan, sedikit demi sedikit aku mulai tau menau bagaimana aktifitas para mahasiswa di dunia pergerakan, mulai dari belajar organisasi, mengadakan acara-acara seminar dan lain sebagainya. akupun juga ikut aksi demonstrasi turun ke jalan menentang dan memberontak pemerintah yang menurutku memarjinalkan kaum minoritas bahkan merampas hak-hak mereka, aku memang terharu karena mayoritas penduduk kampungku adalah petani yang tak pernah letih membiyai anak-anaknya dari hasil tanamannya. aku turun ke jalan di bawah terik matahari dan melawan para polisi yang ditugaskan untuk mengawas agar para demonstran tidak melakukan tindak anarkis dalam demonstrasinya, saling dorong dengan mereka, bahkan tanpa kusadari kadang ada sepatu dan batu terbang di mana-mana. setelah selesai aksi para koordinator lapanganpun berkumpul (KORLAP), lalu aku disuguhi lembar yang tak berideologi itu dan akupun menerima dengan bertanya-tanya pada diriku sendiri, ada apa ini?, apa maksud dari semua ini? (keluh hatiku)
tapi aku belum tau apa di balik aksi itu, apa misi di balik aksi itu..?, aku selalu bertanya pada diriku, apa di balik semua itu?. dan akhirnya akupun mengetahuinya, bahwa mayoritas tindak aksi demonstrasi yang selalu aku geluti di balik semu itu adalah kepentingan politik belaka, mereka tidak benar-benar pro rakyat. tanpa kusadari idealismeku kujual sia-sia kepada mereka yang mempunyai kepentingan.
aku mulai gelisah menggeluti dunia pergerakan, aku selalu bertanya. dimana CHE GUEVARA indonesia??, dimana IWAN FALS muda??, dimana BUNG KARNO dan BUNG TOMO muda??. patriotisme, nasionalisme, idealisme telah ku tukar dengan lembar yang tak berideologi itu.
akupun jarang mengikuti aksi lagi, ku ingin mencari pengalaman lain di dunia pergerakan, sedikit demi sedikit, aku mulai kenal dengan senior di organisasiku, kadang aku silaturrahmi ke tempat mereka tinggal, hingga aku dekat dengan mereka dan mulai dipercaya.
dengan bermodalkan kepercayaan dari para seniorku, aku sangat mudah mendapatkan uang, sedikit-sedikit uang, hahahaha aku tertawa karena uang. banyak juga dari teman-temanku yang mudah sekali mendapatkan akses ke mana-mana karena mereka kenal dengan para senior mereka, ada yang kerja di salah satu perusahaan langsung diterima, ada yang jadi dosen langsung diterima, adapula yang lanjut study di luar maupun dalam negeri dengan mudah mendapatkan beasiswa, sungguh indah sekali bila dipandang sebelah mata. tapi ada kata-kata yang selalu mengiang dalam benakku yaitu (ujung-ujungnya nepotisme) "UUT". dan pertanyaan yang selalu hadir dalam benakku, apa itu semua bukan nepotisme??
Selasa, 10 Januari 2012 0 komentar

TAKHRIJ HADITS

أبواب المناقب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم
باب مناقب على بن ابى طا لب


حدثنا إسماعيل بن موسى أخبرنا شريكٌ عن أبي إسحاق عن حبشي بن جنادة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
"علي مني وأنا من علي ولا يؤدي عني إلا أنا أو علي". هذا حديثٌ حسنٌ غريبٌ صحيحٌ.

Bab sifat-sifat utama Ali bin Abi Thalib
Artinya:
Isma’il bin Musa menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hubsyi bin Junadah, Ia berkata: Rasulullah saw bersabda “Ali adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari Ali, dan tidak ada yang melaksanakan tugas dariku kecuali aku atau Ali” hadits hasan gharib shahih

 إسماعيل بن موسى الفزاري أبو محمد ويقال أبو إسحاق الكوفي نسيب السدي
• روى عن مالك وإبراهيم بن سعد وابن أبي الزناد وأبي معمر سعيد بن خشيم وابن عيينة وعمر بن شاكر البصري الراوي عن أنس وغيرهم
• وقال بن عدي وصل عن مالك حديثين وتفرد عن شريك
• وعنه البخاري في كتاب خلق افعال العباد وأبو داود والترمذي وابن ماجة وابن خزيمة والساجي وأبو يعلى وأبو عروبة ومطين وبقي بن مخلد وطائفة
• قال مطين كان صدوقا
• وقال النسائي ليس به بأس
Ismail bin Musa dalam periwayatan hadits ini tafarrud (seorang diri) dalam menerima hadits ini dari syarik, dan dia juga mempunya I murid Tirmidzi atau Tirmidzi menerima hadits dari Ismau’il.
Dalam penilaiannya Nasa’i berkata dia adalah orang yang tidak cacat. Matin juga berpendapat bahwa Isma’il adalah orang yang sangat jujur

 شريك بن عبد الله بن أبي شريك النخعي أبو عبد الله الكوفي القاضي
• روى عن زياد بن علاقة وأبي إسحاق السبيعي وعبد الملك بن عمير والعباس بن ذريح وإبراهيم بن جرير العجلي وإسماعيل بن أبي خالد والركين بن الربيع وأبي فزارة راشد بن كيسان وخصيفة وعاصم بن سليمان الأحول وسماك بن حرب والأعمش ومنصور وزبيد اليامي وعاصم بن بهدلة وعاصم بن كليب وعبد العزيز بن رفيع والمقدام بن شريح وهشام بن عروة وعبيد الله بن عمر وعمارة بن القعقاع وعمار الدهني وعطاء بن السائب وخلق وعنه بن مهدي ووكيع ويحيى بن آدم ويونس بن محمد المؤدب والفضل بن موسى السيناني وعبد السلام بن حرب وهشيم وأبو النضر هاشم بن القاسم وأبو أحمد الزبيري
• وعنه بن مهدي ووكيع ويحيى بن آدم ويونس بن محمد المؤدب والفضل بن موسى السيناني وعبد السلام بن
حرب وهشيم وأبو النضر هاشم بن القاسم وأبو أحمد الزبيري وإسحاق الأزرق والأسود بن عامر شاذان وأبو أسامة وحسين بن محمد المروذي وحجاج بن محمد وإسحاق بن عيسى بن الطباع وحاتم و إسماعيل
• وقال يزيد بن الهيثم عن بن معين شريك ثقة
Syarik bin Abdullah bin Abi Syarik An-Nakh’I adalah murid dari Ishaq as Sabi’i, dia menerima hadits ini dari ishaq. Dan Syarik juga mempuyai murid yaitu Isma’il (perawi hadits setelah Ishaq tadi).
Dalam kualitas dalam periwayatan hadits ternyata Ishaq adalah tsiqah (adil dan kuat hafalannya) sebagaimana yang dikatakan yazid bin haitam bahwa Ishaq adalah orang yang tsiqah.

 أبو إسحاق السبيعي هو عمرو بن عبد الله تقدم عمرو بن عبد الله بن عبيد ويقال علي ويقال بن أبي شعيرة أبو إسحاق السبيعي الكوفي والسبيع من همدان ولد لسنتين من خلافة عثمان
• روى عن علي بن أبي طالب والمغيرة بن شعبة وقد رآهما وقيل لم يسمع منهما وعن سليمان بن صرد وزيد بن أرقم والبراء بن عازب وجابر بن سمرة وحارثة بن وهب الخزاعي وحبيشى بن جنادة وذي الجوشن وعبد الله بن يزيد الخطمي وعدي بن حاتم وعمرو بن الحارث بن أبي ضرار والنعمان بن بشير وأبي جحيفة السوائي والأسود بن يزيد النخعي وأخيه عبد الرحمن بن يزيد وابنه عبد الرحمن بن الأسود
• وعنه ابنه يونس وابن ابنه إسرائيل بن يونس وابن ابنه الآخر يوسف بن إسحاق وقتادة وسليمان التيمي وإسماعيل بن أبي خالد والأعمش وفطر بن خليفه وجرير بن حازم ومحمد بن عجلان وعبد الوهاب بن بخت وحبيب بن الشهيد ويزيد بن عبد الله بن الهاد وشعبة ومسعر والثوري وهو أثبت الناس فيه وزهير بن معاوية وزائدة بن قدامة وزكرياء بن أبي زائدة والحسن بن حمزة وحمزة الزيات ورقبة بن مصقلة وأبو حمزة السكري وأبو الأحوص وشريك وعمر بن أبي زائدة وعمرو بن قيس الملائي ومطرف بن طريف ومالك بن مغول والأجلح بن عبد الله الكندي
• قال عبد الله بن أحمد قلت لأبي أيما أحب إليك أبو إسحاق أو السدي فقال أبو إسحاق ثقة
• وقال بن معين والنسائي ثقة
Selanjutnya adalah abu Ishaq as-sabi’i. Abu Ishaq as-sabi’i nama aslinya adalah Umar bin Abdullah. Dia dilahirkan dua tahun masa khilafah Utsman. Dalam periwayatan hadits ini dia menerima hadits ini dari seorang sahabat yang bernama Habsyi bin Junadah, kemudian dia sampaikan kepada Syarik bin Abdullah.
Dalam segi kualitas periwayatan hadits Nasa’i berkata bahwa Abu Ishaq as-siba’I adalah orang yang tsiqah (adil dan kuat hafalannya)

 حبشى بن جنادة بن نصر السلو سى صحابى يعد فى الكوفين
• روى عن النبى صلى الله عليه وسلم وشهد فى حجة الوداع
• وعنه أبو إسحاق والشعبي
• قال البخاري إسناده فيه نظر
Habsyi bin Junadah bin nashr as-salusi adalah seorang sahabat yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw, dimana dia pernah bertemu dengan Rasulullah pada saat haji wada’, dia juga pernah meriwayatkan hadits dari Rasulullah, dan dia mempunyai murid Abu Ishaq (perawi setelah Habsyi tadi).
Akan tetapi dalam segi kualitas Bukhari berpendapat bahwa dia termasuk orang perlu diteliti kepribadiannya karena ditakutkan ada kebohongan dan dusta dalam periwayatan hadits ini meskipun dia seorang sahabat dan pernah bertemu dengan Rasul.
Hadits ini dikatakan hasan shahih gharib oleh tirmidzi dikarenakan:
• hasan: karena bagus secara sanad
• shahih: karena marfu’ kepada Rasulullah, dan kebanyakan perawinya adalah tsiqah
• gharib: karena dalam periwayatannya ada salah seorang perawi yang meriwayatkan hadits ini seorang diri (tafarrud)






DAFTAR PUSTAKA

 Ibnu hajar Al-As qolani, Tahdzib al-tahdzib, Daar El-Fikr, Bairut: 1984
 http://konsultasisyariah.com/hadits-hasan-shahih-hasan-gharib-dan-hadits-gharib-menurut-tirmidzi
 Al-imam al-hafidz abi al-allamah Muhammad Abdur rahman ibn Abdir rahman, tuhfatul ahwadzi bisyarhi jami’u at-timidzi Hadits, Daar Al-Hadits, Kairo: 2001
Senin, 09 Januari 2012 0 komentar

ENAM PESAN DARI HUJJATUL ISLAM

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله ربالعالمين الصلاة والسلام على اشرف الانبياء والمرسلين وعلى اله وصحبه اجمعين اما بعد

Segala rahmat yang kita nikmati
Hanya dari Allah rabbul izzati
Kepadanyalah kita bernbakti
Karena dialah Tuhan yang maha suci

Solawat serta salam kita haturkan kepada Nabi sejati
Pembawa risalah yang penuh bukti
Pengikis kehidupan yang tak pasti
Dari lahirnya hingga beliau mati

Saudara-saudari sekalian yang saya nasehati
Tuk tanamkan iman di hati
Perintah Allah kita ta’ati
Demi kehidupan di hari nanti

Saudara-saudari beridirnya saya di sini akan menyampaikan enam wasiat atau pesan dari seorang ulama yang tak asing lagi di mata kita yaitu Imam Al-Ghaazali sebagai renungan bagi kita dalam menjalani aktifitas kita sehari yaitu:
1. Yang paling dekat dalam kehidupan kita adalah kematian
2. Yang paling jauh dalam kehidupan kita adalah waktu
3. Yang paling berat dalam kehidupan kita adalah amanah
4. Yang paling ringan dalam kehidupan kita adalah meninggalkan shalat
5. Yang paling tajam dalam kehidupan kita adalah mulut
6. Yang paling besar dalam kehidupan kita adalah hawa nafsu
Baiklah saudara-saudari kaum muslim dan muslimat yang dirahmati oleh Allah…
Saya akan menjelaskan enam pesan dari Imam Al-Ghazali
Yang pertama adalah yang paling dekat adalah kematian, dalam kehidupan kita dalam menjalani segala aktifitas yang kita jalani kita tidak tau kapan kita akan mati, kapan umur kita akan berkahir dan kapan kita akan berpisah dari oranhg-orang yang kita cintai dan kita sayangi dan berpisah dengan dunia, oleh karena itu jangan sekalai-kali saudara mengatakan bahwa umur kita masih panjang karena kita tidak tau skenario Tuhan untuk kita. Yang perlu saudara ingat adalah bahwa SEMUA MANUSIA AKAN MATI……!!!, sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Imron yaitu:
كل نفس ذا ئقة الموت

Maka dari itu saudara-saudara yang dicintai oleh Allah, untuk mempersiapkan dan mempertanggung jawabkan amal kita di hadapan Allah kelak nanti, mari kita bersama-sama memperbanyuak amal ibadah kita agar kita bisa khusnul khatimah di hadapan Allah dan masuk ke tempat yang telah idjanjikan oleh-Nya yaitu surga
Amien…amien ya rabbal alamien…..
Yang kedua yang paling jauh dalam kehidupan kita adalah waktu, berbicara masalah waktu, waktu sangatlah berharga bagi kita, maka dari itu janganlah kita sia-siakan waktu itu dan perbanyaklah amal-amal yang positif dalam kehidupan kita, dari saking berharganya waktu sampai-sampai ada pepatah inggris mengatakan “the time is money” yang artinya “waktu adalah uang”, waktu sangat berharga bagi kita sebagaiman berharganya uang bagi kita.
Pepatah arab juga mengatakan:
الوقة كالشيف ان لم تقطع قطعك
Yang Artinya: “waktu itu bagaikan pedang, apabila kamu tidak memotongnya, maka dia akan memotong kamu”
Jadi, kalau kita tidak menggunakan waktu itu dengan sebaik mungkin, maka waktu itu akan memotong kita, waktu itu akan hilang begitu saja sia-sia dan tidak akan pernah kembali lagi.
Yang ketiga yang paling berat adala amanah. Amanah memang sangatlah berat sekali, karena itu adalah titipan yang harus kita jaga dan penuhi. Apabila kita diberi amanah oleh seseorang maka kita harus menjaganya dengan baik.
Amanah adalah salah satu dari sifat Rasulullah saw, kita tau bahwa Rasulullah mempunyai emapt sifat yang sangat terpuji yaitu siddiq, amanah, fathonah, dan tabhligh, maka dari itu kita harus mencontoh beliau yang mana dia adalah sebagai suri tauladan kita yang selalu memberika uswah hasanah kepada kita, agar kita selalu berada dalam jalan yang benar dan diridhoi oleh Allah SWT.

Yang keempat yang paling ringan adalah meninggalkan sholat.
Na’udzubillah tsumma na’udzubillah saudara-saudara sekalian. Jangan samapai kita pernah melakukan perbuatan itu, karena shalat adalah tiang agama kita dan harus kita laksanakan lima kali dalam setiap harinya. Shalat adalah perintah Allah yang harus kita kerjakan.
Yang kelima yang paling tajam adala mulut atau lisan kita
Saudara-saudara sekalian yang dicintai oleh Allah SWT, mulut memanglah tak bertulang dan tak tajam seperti tulang belulang yang berada pada tubuh kita, akan tetapi ketajamannya bisa mengalahi pedang yang paling tajam sekalipun, maka dari itu Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk diam apabila kita tidak mengetahui apa yang akan kita bicarakan “khiorun min ijabatihi as sukuut”.
Yang keenam yang paling berat adalah hawa nafsu
Pepatah Arab mengatakan:
لنفس كالطفل ان تهمله شب على حب الرضاع وان تفتمه تنفتم
Apabila kita membiyarkan bayi terus menyusu, maka bayi itu tidak akan berhenti walaupun sampai dewasa, begitu juga dengan nafsu, apabila kita membiarkan nafsu begitu saja, maka nafsu akan terus menguasai diri kita
Maka tidak salah lagi apabila seseorang mengatakan bahwa perang yang paling berat atau mush yang paling berat adalah menghadapai hawa nafsu, apabila kita berhasil mengalahkan hawa nafsu kita, maka kita telah menang memerangi musuh kita yang paling berat dan paling membahayakan
Sauda-saudara kaum muslim dan muslimat yang dirahmati oleh Allah SWT…
Mungkin hanya itu yang dapat saya sampaikan kepada saudara-saudara sekalian, kurang dan lebihnya saya mohon maaf dengan sebesar-besarnya

والله الموافق الى اقوم الطريق
ثم السلام عليكم ورحمةالله وبركته
0 komentar

TAFSIR NABI, SAHABAT, DAN TABI'IN

1. Contoh ayat amm yang ditakhsis dengan hadits sebagai berikut:
• فاقرءوا ماتيسر منه

Artinya: "maka bacalah ayat al-qur'an yang termudah bagimu"

Ayat al-qur'an ini masih sangat umu, sehingga dalam sholat kita terserah membaca surat apa saja dan tiadak harus al-fatihah
Kemudian ayat di atas ditakhsish dengan hadits yaitu:

لاصلاة لمن لم يقرء بفاتحةالكتاب
Artinya: "tidak dikatan sholat bagi orang yang tidak membaca surat al-fatihah di dalam sholatnya"
Hadits di atas mentakhsish keumuman ayat al-qur'an, sehingga dalam sholat seorang harus membaca surat al-fatihah.


• واحل الله البيع

Artinya"Allah menghalalkan semua macam jual beli"
Ayat di atas sangat umu sekali, dimana Allah menghalalkan segala macam jual beli. Akan tetapi ayat di atas ditakhsish dengan hadits Rasulullah yaitu:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, "Rasulullah telah mencegah (kita) dari (melakukan) jual beli (dengan cara lemparan batu kecil) dan jual beli barang secara gharar."
•                               •                       •                       •     
"Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana".

Ayat di atas di takhsis dengan hadits. Dengan sabada Nabi yaitu:" Orang kafir tidak bisa mewarisi orang muslim dan orang muslim tidak bisa mewarisi orang kafir." (HR. Bukhari Muslim).

2. Contoh ayat yang mujmal dan dijelskan oleh Nabi (mubayyan):

• واتو الزكاة

Artinya: "dan tunaikanlah zakat"
Ayat ini bersifat mujmal, jika hanya fokus pada ayat ini dalam perintah menunaikan zakat, maka kita tidak akan tau apa yang kita zakati?, Dan seberapa?. Maka dari itu ayat ini ditafsirkan oleh nabi sebagai (mubayyan) yaitu:

فيما سقت السماء العشر

Artinya: "apa-apa (hasil pertanian) yang diairi denganb air hujan zakatnya adalah 1/10 (satu banding sepuluh)"

• واقيمو الصلاة
Artinya: "dan dirikanlah sholayt (QS: Al-baqoroh:43))"

Apabila kita hanya melihat ayat yang di atas, kita tidak akan tau bagaimana tata cara sholat itu dilakukan, maka dari itu di jelaskan/ditafsirkan oleh Rasulullah dengan hadits yang bersifat mubayyan yaitu:

اذا قمت الى الصلاة فاسبغ الوضوء فا ستقبل القبلة فكبر

Artinya: "jika engkau akan sholat maka sempurnakanlah wudhu', kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah"

• ولله على الناس حج البيت
Artinya: "mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah"
Kemudian ayat ini di jelaskan oleh Rasulullah tentang manasik.
Hadis riwayat Ibnu Umar ra yang artinya.:
"Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw. tentang pakaian yang boleh dikenakan oleh orang yang sedang berihram? Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian mengenakan baju, kain serban, celana, tutup kepala dan sarung kaki kulit, kecuali bagi orang yang memang tidak memiliki sandal, maka ia boleh memakai sarung kaki tersebut dengan syarat ia harus memotongnya sampai di bawah mata kaki. Juga jangan memakai pakaian apapun yang dicelup dengan minyak za`faran dan wares.

3. Contoh ayat muthlaq yang ditaqyid dengan hadits Rasulullah:

•              
Artinya: "laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS Al-Maidah:38)
Ayat ini tidak menjelaskan sampai dimanakah batas tangan yang akan dipotong, maka dari itu Rasulullah menjelaskan dan menafsirkan ayat ini bahwasanya potong tangan bagi orang yang mencuri dipotong tangan sampai pergelangan tangan

•                       •                       •    
Artinya: "orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."
Ayat ini mutlak menghalalkan jual beli, akan tetapi Rasulullah bersabda (mentaqyid) melarang salah satu macam jual beli yaitu mulasamah dan mulabadzah, sabda beliau yang artinya:
Hadits riwayat Abu Hurarairah r.a "bahwa Rasulullah saw melarang jual beli mulasamah (wajib membeli jika pembeli telah menyentuh barang dagangan) dan munabadzah (system barter antara dua orarng dengan melemparkan barang dagangan masing-masing tanpa memriksanya)"
Hadits di atas mentaqyid ayat al-qur,an yang mengahalalkan jual beli dengan melarang jual beli dengan system mulasamah dan munabadzah.
•      
Artinya: "diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi"
Ayat di atas di taqyid dibatasi oleh hadits Rasulullah yaitu:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلْ) رواه البخاري ومسلم
“Sesuatu yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah Subhanahu wa ta’ala atasnya (saat menyembelih) maka makanlah.” (HR. Bukhari Muslim)
Jadi darah yang awalnya haram dimakan sesuai dengan firman Allah ditaqyid dengan hadist rasulullah yang menghalalkan darang ikan.

4. Contoh nasikh mansukh
•         •        
Artinya: "diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa". (Al-Baqarah: 180)
Ayat ini dimansukh dengan hadits Rasulullah yaitu:
حدثنا عبد الوهاب بن نجدة، قال: ثنا ابن عياش، عن شرحبيل بن مسلم، سمعت أبا أمامة، قال:
سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: "إنَّ اللّه قد أعطى كلَّ ذي حقٍّ حقه، فلا وصية لوارثٍ".
Artinya: " Dari Abu Umamah, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya Allah s.w.t. telah menentukan kepada setiap orang yang mempunyaihak akan hak masing-masing. Dengan itu, maka, tidak ada wasiat untuk waris (orangyang berhak menerima pusaka) ".
Kemudian ada juga sunnah yang dimansukh dengan al-qur'an yaitu:
• ان رسول الله صلى الله علىه وسلم اول ما قدم المدينة نزل على اجداده من الانصار وانه صلى قبل بيت المفدس ستة عشرشهرا او سبعة عشر شهرا
Artinya: "Dari al-Barra’ bin `Azib bahawa perkara yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w.apabila sampai di Madinah ialah menemui datuk neneknya dari kalangan Ansar danbaginda bersembahyang mengadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulanatau tujuh belas bulan. "
Hadits ini dimansukh dengan ayat al-Qur'an yaitu:
       •                 •               
Artinya: "sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."

5. Contoh penafsiran terhadap ayat-ayat yang mubham
• الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون
“orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan dan mereka orang-orang yang mendapat petunjuk."
Kata “al-zulm” dalam ayat tersebut, dijelaskan oleh Rasul Allah saw dengan pengertian “al-syirk” (kemusyrikan).
• حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين
"Peliharalah segala shalat dan shalat wustha” (QS Al-Baqarah [2]:238). ”Shalat wustha” dijelaskan oleh Nabi dengan ”shalat Asar”.
• وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة ……
”dan siapkan untuk menghadapi mereka kekuatan-kekuatan apa saja yang kamu sanggupi". Kata ”Maastatha’tum” ditafsirkan oleh Nabi SAW dengan ”alramyu yaitu anak panah."

6. Contoh gharib dalam Al-Qur'an
Ada beberapa macam gharib dalam Al-Qur'an, yaitu:
1. Saktah
secara etimologi saktah berarti: tidak bergerak atau diam
Secara terminologi saktah adalah memutus kata sambil menahan nafas dengan niat meneruskan bacaan (Makky Nasr, 153).
Contoh: bacaan Imam Ashim riwayat Hafs; bacaan saktah hanya ada di empat tempat, yaitu:
1. Surat al-Kahfi ayat1: ولم يجعل له عوجا - قيما
2. Surat Yasin ayat 52: من مرقدنا - هذا ما وعدنا الرحمن
3. Surat al-Qiyamah 27: وقيل من - راق
4. Surat al-Muthaffifin 14: كلا بل - ران
Alasan saktah ini adalah untuk memberikan tanda pada qari’ bahwa waqaf pada عوجا termasuk waqaf tamm (sempurna), dan kata قيّما bukan sifat/naat dari عوجا, ia dinashabkan karena menyimpan fi’ilأنزل . Demikian juga halnya waqaf pada مرقدنا , kata هذا bukan sifat dari مرقد , melainkan mubtada’ dan kata هذا dan sesudahnya adalah perkataan malaikat bukan perkataan orang kafir. Sedangkan pada من pada من – راق dan بل pada بل ران yaitu sebagai kata tanya pada yang pertama dan sebagai kata penegas pada yang kedua, juga untuk memperjelas idharnya lam dan nun karena biasanya dua huruf tersebut bila bertemu ra’ diidghamkan sehingga bunyi keduanya hilang (al-Qaisy, 1987:II/55).
2. Imalah
secara etimologi imaklah berarti memiringkan atau membengkokkan secara terminology imalah adalah memiringkan fathah ke arah kasrah atau memiringkan alif ke arah ya’ (Abi Thahir, 311).
Bacaan ini banyak ditemui pada bacaan Imam Hamzah dan al-Kisa’i, di antaranya pada kata yang diakhiri alif layyinah, seperti الضحى، قلى، سجى، هدى. Khusus riwayat Imam Hafs hanya terdapat pada kata مجراها (QS.Hud:41).
3. Naql
Secara bahasa naql berasal dari kata نقل – ينقل – نقلا berarti memindah; menggeser. Adapun secara istilah naql berarti memindahkan harakat suatu huruf ke huruf sebelumnya, sebagaimana yang banyak ditemui pada riwayat Imam Hamzah dan Warsy, yakni setiap ada al ta’rif atau tanwin bertemu hamzah, contoh بالآخرة terbaca بلاخرة dan عذاب أليم terbaca عذابنليم .
Dalam riwayat Hafs bacaan naql hanya ada di satu tempat yaitu pada kata بئس الاسم (QS. al-Hujurat:11). Alasan bacaan naql pada kata الاسم yaitu terdapatnya dua hamzah washal (hamzah yang tidak terbaca di tengah kalimat), yakni hamzah pada al ta’rif dan ismu (salah satu dari sepuluh kata benda yang berhamzah washal), yang mengapit lam sehingga menjadi tidak terbaca di kala sambung dengan kata sebelumnya. Di antara manfaat bacaan naql ini adalah untuk memudahkan umat Islam membacanya.

7. Contoh sebab-sebab turunnya ayat (asbabun nuzul)

•                         • 
Artinya: "107. dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu[660]. mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (Surah At-Taubah, ayat 107).
Ada dikemukakan dalam suatu riwayat bahawa ketika Rasulullah saw sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Perang Tabuk, datanglah segolonganorang-orang yang membangunkan Masjid Dhirar. Mereka berkata, “Ya Rasulullah ! Kami telah membina sebuah masjid untuk orang sakit serta untuk menunaikan sembahyang malam pada musim sejuk dan musim hujan. Kami mengharapkan tuan untuk sembahyang dan mengimami kami.”Rasulullah SAW menjawab, “Aku sudah bersiap sedia untuk pergi dan jikakami pulang insya-Allah kami akan datang untuk mengimami kalian semua.”Ketika baginda pulang dari Tabuk, baginda berhenti sebentar di Zi Awan yaitu satu tempat jaraknya satu jam dari Madinah. Maka turunlah ayat berikut:
Ayat tersebut melarang Rasulullah SAW untuk bersembahyang di MasjidDhirar kerana masjid itu didirikan untuk memecahbelahkan umat. Lalu bagindamemanggil Malik bin ad-Dakhsyin dan Ma’nu bin Adi atau saudaranya Ashim bin Adidan bersabda: “Berangkatlah kalian semua ke masjid yang dihuni oleh orang-orang zalim dan hancurkan serta bakar masjid tersebut.” Lantas mereka berdua melaksanakan perintah Rasulullah saw. (Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih daripada Ibnu Ishaq daripada Ibnu Syihabaz-Zuhri daripada Ibnu Akimah al-Laitsi daripada Abi Rahmin al-Ghifari yangmendengar bahawa Abi Rahmin termasuk di antara para sahabat yang menyertaiBai’ah Ridwan)
Dalam riwayat lain pula ada dikemukakan bahawa setelah sekian lamaRasulullah mendirikan Masjid Quba, terdapat beberapa orang Kaum Ansar yangberdekatan dengan Masjid Quba di antara orang tersebut adalah Yakhdad mendirikan Masjid Nifaq. Bersabdalah Rasulullah SAW kepada Yakhdad: “Celaka engkau Yakhdad, engkau bermaksud melakukan sesuatu yang aku pun tahu maksudnya.” Yakhdadmenjawab, “Saya tidak bermaksud apa-apa kecuali mengharapkan kebaikan.”

Maka turunlah ayat 107, Surah At-Taubah sebagai penjelasan bahawaterdapat orang-orang yang mendirikan masjid dengan maksud untuk memecahbelahkan umat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih daripada al-Ufi daripada Ibnu Abbas).

•           •  
Artinya: "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)" (al-maidah: 55)
Dalam suatu riwayat ada dikemukakan bahawa seorang peminta sedekah telah datang kepada Ali bin Abi Talib ketika dia sedang bersembahyang sunat. Lalu dia meninggalkan cincinnya dan diserahkan kepada si peminta sedekah tersebut.Maka turunlah ayat di atas.

•                          •     
"mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri" (Al-baqarah:222)
Diriwayatkan oleh turmudzi dari Anas, beliau berkata:

كانت اليهود اذا حاضت امراْة منهم لم يؤاكلوها ولم يشاربوها ولم يجامعوها فى البيوت فسئل النبي صلى الله عليه وسلم عن ذالك فانزل الله تعالى (      ) فامرهم النبي صلىالل عليه وسلم ان ياكلوهن ويشاربوهن وانيكونوا معهن فى البيوت وان يفعلوا كل شئ ما خلا النكاح فقالت ليهود م يريد ان يدع شيءا من امرنا الا خالفنا فيه قال فجاء عباد بن بشر واسيد بن حضير الى رسول الله صلى الله ليه وسلم فاخبروه بذالك وقالا يا رسول الله افلا تنكحهن فى المحيض فتمعر وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى ظننا انه قد غضب عليهما فقاما فاستقبلتهما هدية من لبن فارسل رسول الله صلى الله عليه وسلم فى اثرهما فسقاهما فعلما انه لميغضب عليهما
Artinya: "kebiasaan orang-orang yahudi dulu jika ada salah seorang wanita dari mereka sedang menjalani masa haidh, maka mereka tidak akan memberikan makan dan minum. Mereka tidak mengumpuli di dalam rumah. Lantas hal tiu ditanyakan kepada Nabi. Akhirnya Allah menurunkan ayat "mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah, "haidh itu adalah kotoran". Lantas Nabi memintahkan mereka untuk memberi makan dan minum para wanita yang sedang haidh. (beliau juga memerintahkan agar) mereka tinggal bersama dengan wanita yang haidh (tersebut) di dalam rumah. Mereka bebas berbuat apa saja dengan wanita haidh kecuali berhubungan intim. Orang-orang Yahudi berkata, "apa sebenarnya yang dikehendaki Muhammaddengan meninggalkan aturan kita" maka Ubaid bin bisyr dan Usaid bin hudhair dating menjumpai Rasulullah dan memberitahukan hal tersebut seraya berkata, "wahai Rasulullah, bukankah kita juga boleh berhubungan intim dengan mereka ketika sedang haidh?" spontan roman Rasulullah berubah. Sehingga kami semua mengira bahwa beliau marah kepada kedua orang tersebut. Namun ternyata keduanya diberi hadiah berupa susu. Rasulullah mengirimkan susu kepada kedua sahabat tersebut. Dengan demikian dapat diketahui bahwa beliau tidak marah. "

8. Contoh ayat-ayat musykil
•    
Artinya: "yang menciptakan bumi dalam dua masa"(fushsilat:6)
Sesungguhnya bumi diciptakan sebelum langit, adapun langit itu terbuat dari asap, yang terdiri dari tujuh lapis bumi yang diciptakan dua hari setelah penciptaan bumi
•    
Artinya: "Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya".(An-nazi'aat: 30)
Diciptakan di dalamnya gungung, sungai, pepohonan, dan lautan
•           • 
Artinya: "kemudian Tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, Tuhan Kami, Tiadalah Kami mempersekutukan Allah".(Al-An'am: 23)
Ibnu Abbas berkata sesungguhnya sebelum mereka melihat hari kiamat Allah mengampuni dosa orang-orang Islam, dan tidak mengampuni dosa orang-orang yang syirik, pada saat itu orang musyrik memohon kepada Allah untuk diampuni dosanya seraya berkata "Demi Allah…wahai Tuhan kami, kami bukanlah orang yang musyrik", akan tetapi Allah menutup mulut-mulut mereka sehingga tangan-tangan dan kaki mereka berbicara.

9. Contoh penafsiran sahabat
• Adi ibn Hatim menafsirkan ayat حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود" " dengan mengatakan "benang putih dari benag merah". Akan tetapi penafsiran ibn Hatim ini salah dan kemudian diluruskan oleh Rasullah beliau mengatakan bahwa ayat tersebut adalah الليل وبياض النهار "hitamnya malam dan putihnya siang"
• Umar menafsirkan ayat " اليوم اكمات لكم دينكم واتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الا سلام دينا" dengan berkata " Aku tahu di mana dan di hari apa ayat itu diturunkan serta di mana Rasulullah berada ketika ayat itu diturunkan. Ayat tersebut diturunkan di Arafah saat Rasulullah sedang wukuf di Arafah"
Hadis riwayat Umar, ia berkata:
"Dari Thariq bin Syihab bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Umar: Sesungguhnya kamu sekalian membaca suatu ayat yang andaikata diturunkan kepada kami, niscaya hari itu kami jadikan hari raya. Umar berkata: Aku tahu di mana dan di hari apa ayat itu diturunkan serta di mana Rasulullah berada ketika ayat itu diturunkan. Ayat tersebut diturunkan di Arafah saat Rasulullah sedang wukuf di Arafah. Sufyan berkata: Aku ragu-ragu apakah hari itu Jumat atau bukan. Ayat tersebut adalah "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu"
• Ibnu abbas menafsirkan ayat al-qur'am al-qur'an pada saat pendudk kufah berselisih tentang ayat: "من قتل مؤمنا متعمدا فجزاءه جهنم". Dia berkata "Ayat tersebut termasuk ayat-ayat yang terakhir diturunkan dan tidak ada satu ayat pun yang menasakhnya (membatalkan hukumnya)."

10. Contoh penafsiran pada masa tabi'in
Sebagai bahan rujukan dalam dalam penulisan Alquran, penjelasan tabi’in tetap diperhitungkan untuk dapat menafsirkan Alquran. Sekalipun mereka bukan generasi sahabat yang langsung mendapat penafsiran dari Nabi, tetapi mereka memperoleh penjelasan dari para sahabat.
Contoh:
• Penafsiran Mujahid bin Jabbar tentang ayat: "المن والسلوى" yaitu "gumma dan burung"
وقوله تعالى: (وظللنا عليكم الغمام وأنزلنا عليكم المن والسلوى كلوا من طيبات ما رزقناكم وما ظلمونا ولكن كانوا انفسهم يظلمون)
"وقال مجاهد: المن صمغة، والسلوى الطير."
Mujahid dilahirkan pada tahun 21 Hijrah dan meninggal pada tahun 103 Hijrah. Nama lengkapnya Mujahid bin Jabar yang bergelar Abu Hajjaj Al-Makky. Ia seorang ulama yang terkenal dalam tafsir. Adz-Dzahaby mengatakan: "Ia adalah guru ahli baca Al-Qur'an dan ahli tafsir yang tidak diragukan. Ia mengambil tafsir qur'an dari Ibnu Abbas". Ia salah seorang murid Ibnu Abbas yang paling hebat dan yang paling dipercaya untuk meriwayatkan tafsir. Oleh karenanya, Imam Bukhari banyak berpegang pada tafsirnya, sebagaimana halnya ahli-ahli tafsir yang lain, mereka juga banyak berpegang atas riwayatnya. Ia sering mengadakan perjalanan kemudian menetap di Kufah. Bila ada hal yang mengagumkan dia, maka ia pergi dan menyelidikinya.

Mujahid belajar Tafsir Kitabullah Al-Qur'an dari gurunya, Ibnu Abbas dengan cara membacakannya pada Ibnu Abbas dengan penuh pemahaman, penghayatan dan penelitian pada setiap ayat Al-Qur'an, kemudian Mujahid menanyakan artinya dan penjelasan rahasia-rahasianya.
• Penafsiran ikrimah maula ibnu abbas tentang ayat"منكان عدوا لجبريل"
قال تعالى: من كان عدوا لجبريل
وقال عكرمة: جبر وميك وسراف: عبد، إيل: الله.
Ia lahir pada tahun 25 Hijrah dan wafat pada tahun 105 Hijrah. Imam Syafi'i pernah mengatakan tentang dia: "Tidak ada seorangpun yang lebih pintar perihal Kitabullah daripada Ikrimah", ia adalah maula (hamba) Ibnu Abbas r.a. ia menerima ilmunya langsung dari Ibnu Abbas, begitu juga Al-Qur'an dan Sunnah", ia mengatakan: "Aku telah menafsirkan isi lembaran-lembaran mushhaf dan segala sesuatu yang aku bicarakan tentang Al-Qur'an, semuanya dari Ibnu Abbas" dimana Ibnu Abbas sebagai gurunya..
Tentang otobiografinya dalam kitab Al-I'lam disebutkan sebagai berikut: "Ikrimah bin Abdullah Al-Barbary Al-Madany, Abu Abdillah seorang hamba Abdul1ah bin Abbas, adalah Tabi'in yang paling pandai tentang tafsir dan kisah-kisah peperangan, ia sering merantau ke negara-negara luar. Diantara tiga ratus orang yang meriwayatkan tafsir daripadanya tujuh puluh lebih adalah golongan tabi'in. Ia pernah juga ke Maghrib untuk mengambil ilmu dari penduduknya kemudian ia kembali ke Madinah Al-Munawwarah. Setelab ia kembali di Madinah ia dicari Amirnya, tetapi ia menghilang sampai mati Kewafatannya di kota Madinah bersamaan dengan kewafatan seorang penyair tenar Kutsayyir Azzah dalam hari yang sama, sehingga dikatakan orang: "Seorang ilmiawan dan seorang penyair meninggal dunia".
• Penafsiran atha' bin aby rabbah tentang ayat "أياما معدودات فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرا فهو خير له وان نصوموا خير لكم ان كنتم تعلمون"
قال تعالى: "أياما معدودات فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرا فهو خير له وان نصوموا خير لكم ان كنتم تعلمون"
وقال عطاء: يفطر من المرض كله كما قال الله تعالى:
وقال الحسن وإبراهيم في المرضع والحامل: إذا خافتا على أنفسهما أو ولدهما تفطران ثم تقضيان، وأما الشيخ الكبير إذا لم يطق الصيام، فقد أطعم أنس بعد ما كبر عاما أو عامين، كل يوم مسكينا، خبزا ولحما، وأفطر.
قراءة العامة {يطيقونه} وهو أكثر
Ia dilahirkan pada tahun 27 Hijrah dan wafat pada tahun 114 Hijrah. Ia hidup di Makkah sebagai ahli fatwa dan ahli hadits bagi penduduknya. Ia seorang Tabi'in yang tergolong tokoh-tokoh ahli fiqh. Ia sangat percaya dan mantap kepada riwayat Ibnu Abbas.
Imam besar Abu Hanifah An-Nu'man berkata: "Aku belum pernah berjumpa dengan seorang yang lebih utama daripada Imam 'Atha' bin Aby Rabbah". Qatadah mengatakan: "Tabi'in yang paling pandai itu ada empat, yaitu: 'Atha' bin Aby Rabbah seorang yang paling pandai tentang manasik, Sa'id bin Jubair orang yang paling pandai tentang tafsir dan seterusnya", Ia meninggal dunia di kota Makkah dalm usia 47 tahun.

11. Contoh qiro'at dalam al-qur'an
Nabi Muhammad saw pernah membaca surat Ar-rahman ayat 76 yang berbunyi:
•      
"mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah".
Lafadz ( رَفْرَفٍ ) juga pernah dibaca Nabi dengan lafadz ( رَفَارَفٍ ), demikian pula dengan lafadz ( عَبْقَرِيٍّ ) yang pernah dibaca dengan (عَبَاقَرِيٍّ), sehingga bacaan itu menjadi:
مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفَارَفٍ خُضْرٍ وَعَبَاقَرِيٍّ حِسَانٍ
Yang kedua, Perbedaan pada bentuk isim , antara mufrad, tasniah, jamak muzakkar atau mu’annath. Contoh :
•     
Artinya: "dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya." (Al-Mu'minu:8)
Yaitu لأمَانَاتِهِمْ dan dibaca mufrad dalam qiraat lain لأمَانتِهِمْ.

Yang ketiga, Perbedaan bentuk fi’il madhi , mudhari’ atau amar. Contoh:
•     
Artinya: "Maka mereka berkata: "Ya Tuhan Kami jauhkanlah jarak perjalanan kami"
Sebaagian qiraat membaca lafaz "rabbana" dengan "rabbuna", dan dalam kedudukan yang lain lafaz ‘ba’idu’ dengan ‘ba’ada’.

DAFTAR PUSTAKA
• Al Asqolani, Ibnu Hajar; penerjemah, Ghazirah Abdi Ummah, fathul baari syarah shaih bukhari, Jakarta: Pustaka Azzam, 2002
• http://kholilyanto86.blogspot.com/2011/02/tafsir-di-masa-tabiin.html
• Shahih Bukhari kitab at-tafsir
• Abu Dawud, kitab al-washoya bab ma ja'a fil wasiyyati lil waarits, no. 2870
• Shahih Muslim kitab at-tafsir
• http://www.surgamakalah.com/2011/11/material-makalah-kaidah-tafsir-nabi-saw.html
• Muhammad, Abdurrahman Muhammad, tafsir nabawi, Jakarta: Pustaka Azzam, 2003
• http://www.scribd.com/doc/21216882/Asbabun-Nuzul
• As-shon'ani, Muhammad bin ismail Al Amir, subulussalam syarah bulughul maram, Jakarta: Darus sunnah
• http://amaranpest.blogspot.com/2009/12/ayat-gharib-dalam-al-quran.html
• As-suyuthi, jalaluddin, Al-itqin fi ulum al-qur'an, Daar al-kutub al-ilmiyah, Libanon, 2010

 
;