Selasa, 20 Desember 2011

ASAL-USUL AGAMA DAN KONSEP AGAMA

A. Asal-usul agama

Menurut sejarahnya, agama tumbuh bersamaan dengan berkembangnya kebutuhan manusia. Salah satu dari kebuthan itu adalah kepentingan manusia dalam memenuhi hajat rohani yang bersifat spiritual, yakni sesuatu yang dianggap mampu memberikan motivasi semangat dan dorongan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, unsur rohani yang dapat memberikan spirit dicari dan dikejar sampai akhirnya mereka menemukan suatu zat yang dianggap suci, memiliki kekuatan, maha tinggi dan maha kuasa. Sesuai dengan taraf perkembangan cara berfikir mereka, manusia mulai menemukan apa yang dianggap sebagaimana tuhan. dapatlah dimengerti bahwa hakekat agama merupakan fitrah naluriyah manusia yang tumbuh dan berkembang dari dalam dirinya dan pada akhirnya mendapat pemupukan dari lingkungan alam sekitarnya pada awalnya, perkembangan dan pertumbuhan agama pada diri seseorang itu dilatar belakangi antara lain oleh beberapa sebab berikut.
1. agama adalah produk dari rasa takut
rasa takut manusia pada alam, dari suara guruh yang menggetarkan dari luasnya lautan dan ombaknya yang menggulung serta gejala-gejala alamiyah lainnya. sebagai akibat rasa takut ini, terlintaslah agama dalam benak mansuia. Lucretius, seorang filsuf Yunani menyebutkan bahwa nenek moyang pertama para dewa ialah dewa ketakutan.
2. agama adalah produk dari kebodohan
sebagian orang percaya bahwa faktor yang mewujudkan agama adalah kebodohan manusia, sebab manusia, sesuai dengan wataknya, selalu cenderung untuk mengetahui sebab-sebab dan hukum-hukum yang berlaku atas alam ini serta yang yterjadi di dalamnya. mungkin karena tidak berhasil mengenalnya ia menisbahkan hal itu kepada sesuatu yang bersifat metafisis.
3. pendambaan akan keadilan dan keteraturan
sebagian orang memperkirakan bahwa motivasi keterikatan manusia pada agama ialah pendambaannya akan keadilan dan keteraturan. keadilan dalam masyarakat dan alam, karena itu ia menciptakan agama dan berpegang erat kepadanya demi meredakan penderitaan kejiwaannya. (Murtadha muthahari).
persepsi manusia bahwa ada sesuatu kekuatan yang berada di luar dirinya telah mendorong seseorang yang merasa takut untuk mencari perlindungan, dei keselamatan dan kebahagiaan hidupnya. ketika manusia merasa akibat adanya bencana alam, gempa bumi dan tsunami misalnya, mereka bersama-sama atau secara individu melakukan persembahan terhadap dewa laut dewa alam dewa bumi dan sebagainya. ketika masyarakat merasa takut terhadap angin taufan yang melanda perkampungannya, takut kepada api yang membakar seluruh hutan dan sawah ladangnya mereka melakukan pemujaan terhadap dewa angin, dewa api, dan dewa lain-lainnya. jadi, sangat memungkinkan bahwa rasa takut manusia adalah menumbuhkan keyakinan kepada "zat yang dianggap sakral". keyakinan terhadap zat yang dianggap Tuhan itu, melahirkan konsekuensi peribadatan berbentuk ritual yang berdasarkan pada aturan-aturan yang ditentukan secara normatif. oleh karena itu, Karl Jung dalam Joesof Sou'yb (1983:17) mengartikan agama sebagai penjelmaan tata cara hidup manusia yang dikembangkan oleh manusia untuk mengatur kehidupannya, disebabkan ketakutan dan kekcewaan yang telah tertanam di alam bawah sadar manusia.
dengan demikian, dapat dijelaskan beberapa aspek pokok yang terkandung dalam suatu agama, antara lain seperti berikut.
pertama, agama adalah sistem credo (tata cara keimanan dan keyakinan) karena adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia.
kedua, di samping itu, agama adalah juga suatu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu.
ketiga, disamping merupakan suatu sistem credo dan sistem ritus, maka agama juga adalah satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termaksud di atas.
suatu sistem pada dasarnya merupaka sejumlah satuan yang saling terkait satu sama lain, terdiri dari unit-unit tertentu yang mempunyai struktur dan proses secara fungsional. sebagai suatu sistem, agama merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari keyakinan, peribadatan dan norma, yang satu sama lain saling berhubungan sesuai dengan fungsinya. keyakinan atau kepercayaan terhadap zat yang dianggap tuhan diperoleh masyarakat melalui proses kejiwaan. manifestasi dari keyakinan seorang atau masyarakat dibuktikan dalam bentuk peribadatan, persembahan atau pemujaan secara ritual, sesuai norma atau aturan-aturan yang berlaku bagi masing-masing agama. dengan kata lain, kikatakan bahwa agama sebagai suatu sistem yang tidak bisa terlepas dari komponen-komponen lain yang saling terkait. secara internal, agama terkait dengan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, seperti kepercayaan, peribadatan, norma dan nilai-nilai sosial; secara eksternal ia juga terkait dengan lingkungan masyarakat manusia yang mempercayainya, karena bagaimanapun "secara historis agama berumur setua dengan sejarah manusia, yang tidak bisa hidup tanpa bentuk suatu agama. seluruh agama merupakan perpaduan kepercayaan sejumlah upacara.
B. konsep-konsep ketuhanan

kepercayaan pada adanya tuhan adalah dasar yang utama sekali dalam paham keagaman. tiap-tiap agama kecuali budhisme yang asli dan beberapa agama lain berdasar atas kepercayaan pada sesuatu kekuatan ghaib; dan cara hidup tiap-tiap manusia yang percaya pada agama di dunia ini amat rapat hubungannya dengan kepercayaan tersebut. kekuatan ghaib itu, kecuali dalam agamga-agama primitif, disebut tuhan. konsep tentang Tuhan berbagai rupa. umpamanya orang percaya pada deisme, tetapi tidak pada teisme atau pada panteisme tetapi tidak pada politeisme. atau pula orang percaya pada monoteisme tetapi monoteisme manakah yang dianutnya itu.
leh sebab itu filsafat agama merasa penting untuk mempelajari perkembangan paham-paham yang berbeda-beda itu. studi ini dimulai oleh falsafat agama dengan mempelajari paham kekuatan ghaib yang ada dalam agamga-agama primitif.
agama-agama primitif belum memberi nama tuhan kepada kekuatan ghaib itu. dengan kata lain kekuatan ghaib itu beumlah berasal dari luar alam ini, tetapi masih berpangkal dalam alam. kekuatan ghaib itu belum mempunyai arti teisme atau deisme, tetapi dinamisme dan animisme.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar