Pages

Rabu, 28 Desember 2011

AJARAN HINDU DI BALI

BAB I
PENDAHULUAN

Agama Hindu timbul dari dua arus utama yang membentuknya, yaitu agama bangsa Dravida dan agama bangsa Arya, sehingga untuk memahami agama Hindu sangatlah sulit sekali. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas R. Trautmann mendefisikan agama Hindu sangat sulit sekali.
Unsure penting yang ada dalam ajaran Hindu adalah teologi, filsafat dab etika atau moral. Agama Hindu mempercayai Realitas tertinggi hanya satu akan tetapi tidak membatasi yang satu sebagai realitas yang dimaksud adalah tuhan.
Agama Hindu seiring perjalanan dan perkembangnya yang sangat pesat hingga sampai ke Nusantara dan menjadi keyakina sebagian masyarakat Indonesia terutama di Bali.
Maka dari itu penulis di sini aka memaparkan bagaimana perkembangan dan ajaran Hindu hingga sampai ke Indonesia terutama di Bali., semoga bermanfaat amien….


BAB II
PEMBAHASAN


A. Sejarah perkembangan agama hindu di Indonesia sampai ke Bali
pengaruh yang paling besar dalam agama hindu adalah aliran Siwa dan Tantra yaitu pada abad 6. aliran tantra dan agama Budha di Indonesia menyatu, kemudian keduanya disebut dengan agama siwa budha, percampuran antara keduanya terlihat pada zaman singasari pada tahun 1222-1292.
Sebenarnya masuknya agama Hindu di Indonesia tidak diketahui secara pasti, penemuan-penemuan purbakalapun tidak memberikan informasi siapa yang membawa agama Hindu ke Indonesia. Akan tetapi ada bukti yang mencerminkan pengaruh agama Hindu di Indonesia yaitu bangunan-bangunan dan adat-adat keraton yang teradobsi oleh agama Hindu ini. System kasta juga tidak sama sekali memberi pengaruh agama Hindu terhadap masyarakat Indonesia kecuali kasta Brahmana, karena hanya kasta Brahmanalah yang mempunyai wewenang membaca klitab suci dan mengatur peribadatan agama Hindu.
Dengan demikian juga ada asumsi bahwa bukan orang-orang dari kasta Brahmana yang mempengaruhi rakyat Inonesia, akan tetapi orang-orang Indonesialah yang selalu mengadakan hubungan atau kerjasama dengan orang-orang dari kasta Brahmana dalam hal berdagang, sehingga hubungan orang dari kasta Brahmana dan masyarakat Indoinesia terjalin dengan baik dan rukun sehinga orang dari kasta Brahmana diberi kesempatan untuk menempati keraton karena dia telah menjalin hubungan dan kerjasama yang baik dengan masyarakat Indonesia, dan para raja keraton merasa senang kepadanya. Hal ini terbukti dengan penemuan prasasti bahwa ketika raja ingin bersedekah, raja memberikan beberapa ekor sapai kepada para Brahmana.
Dengan ini telah kita ketahui bahwasanya ajaran-ajaran agama Hindu berpusat di keratin karena mayoritas para brahmana berada di lingkungan keraton.
Dalam perkembangan selanjutnya, selain pusat-pusat keagamaan di keraton, juga terdapat pusat-pusat keagamaan Hindu yang disebut paguron atau mandala atau kasturi. Ditempat-tempat ini para pendeta memberikan pelajaran. Kitab-kitab yang ada pada waktu itu adalah kitab tantu pagelaran, juga juga kitab nawaruci yang juga disebut kitab tattwajnana, kitab terakhir ini penting karena mistik yang terdapat di dalamnya sampai sekarang masih berlaku di kalangan tertentu. Dasar fikiran mistik itu sendiri juga terdapat dalam kitab-kitab suluk yang sudah mendapat pengaruh dari Islam.
Kemudian ajaran-ajaran Hindu ini sampai ke Bali karena karena pengaruh Majapahit yang sangat kuat, ajaran Hindu Jawapun sudah berkembang di bali, lama kelamaan ajaran Hindu bercampur dengan agama asli Bali yang disebut agama Tirta dan kemudian disebut dengan Hindu Dharma.
Pada zaman itu perkembangan budaya yang berlandaskan Agama Hindu sangat pesat termasuk di Daerah Bali dan perkembangan terakhir menunjukkan bahwa para Arya dari Kerajaan Majapahit sebagian besar hijrah ke Bali dan di Daerah ini para Arya-Arya tersebut lebih memantapkan ajaran-ajaran Agama Hindu sampai sekarang.
Masyarakat Hindu di Bali dalam kehidupan sehari-harinya selalu berpedoman pada ajaran Agama Hindu warisan para lelulur Hindu di Bali terutama dalam pelaksanaan upacara ritual dalam hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam tetap berlandaskan pada ajaran-ajaran Agama Hindu dan dalam pelaksanaan Upacara Keagamaan.
Dalam perkembangan agama Hindu di Bali, ada enam tokoh yang sangat berpengaruh pada perkembangan agama Hindu di bali yaitu:

1. DARHYANG MARKANDEYA
Pada abad ke-8 beliau mendapat pencerahan di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah. Setelah menetap di Taro, Tegal lalang - Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (Banten), dan Pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali. Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali.
Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten. Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu : Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang. Beliau juga mendapat pencerahan ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll. Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah
.
2. MPU SANGKULPUTIH
Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak. Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual. Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan. Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.
Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll. Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.

3. MPU KUTURAN
Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali. Seperti disebutkan oleb R. Goris pada masa Bali Kuna berkembang suatu kehidupan keagamaan yang bersifat sektarian. Ada sembilan sekte yang pernah berkembang pada masa Bali Kuna antara lain sekte Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Diantara sekte-sekte tersebut Çiwa Sidhanta merupakan sekte yang sangat dominan (Ardhana 1989:56). Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewa tertentu sebagai istadewatanya atau sebagai Dewa Utamanya dengan Nyasa (simbol) tertentu serta berkeyakinan bahwa istadewatalah yang paling utama sedangkan yang lainnya dianggap lebih rendah.Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya yang menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa didalam tubuh masyarakat Bali Aga.
Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negative pada hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Akibat yang bersifat negative ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur yang oleh Gunaprya Dharmapatni sudah dikenal sejak dahulu semasih beliau ada di Jawa Timur. Oleh karena itu Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa bersekepatan untuk mendatangkan 4 orang Brahmana bersaudara yaitu:a. Mpu Semeru, dari sekte Ciwa tiba di Bali pada hari jumat Kliwon, wuku Pujut, bertepatan dengan hari Purnamaning Kawolu, candra sengkala jadma siratmaya muka yaitu tahun caka 921 (999M) lalu berparhyangan di Besakih.b. Mpu Ghana, penganut aliran Gnanapatya tiba di Bali pada hari Senin Kliwon, wuku Kuningan tanggal 7 tahun caka 922 (1000M), lalu berparhyangan di Gelgelc.
Mpu Kuturan, pemeluk agama Budha dari aliran Mahayana tiba di Bali pada hari Rabu Kliwon wuku pahang, maduraksa (tanggal ping 6), candra sengkala agni suku babahan atau tahun caka 923 (1001M), selanjutnya berparhyangan di Cilayukti (Padang)d. Mpu Gnijaya, pemeluk Brahmaisme tiba di Bali pada hari Kamis Umanis, wuku Dungulan, bertepatan sasih kadasa, prati padha cukla (tanggal 1), candra sengkala mukaa dikwitangcu (tahun caka 928 atau 1006M) lalu berparhyangan di bukit Bisbis (Lempuyang)Sebenarnya keempat orang Brahmana ini di Jawa Timur bersaudara 5 orang yaitu adiknya yang bungsu bernama Mpu Bharadah ditinggalkan di Jawa Timur dengan berparhyangan di Lemahtulis, Pajarakan. Kelima orang Brahmana ini lazim disebut Panca Pandita atau “Panca Tirtha” karena beliau telah melaksanakan upacara “wijati” yaitu menjalankan dharma “Kabrahmanan”. Dalan suatu rapat majelis yang diadakan di Bata Anyar yang dihadiri oleh unsur tiga kekuatan pada saat itu, yaitu :o Dari pihak Budha Mahayana diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua sidango Dari pihak Ciwa diwakili oleh Mpu Semeruo Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali AgaDalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali, yg terdiri dari berbagai aliran.
Tatkala itu semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti (Brahma,Wisnu,Ciwa) untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan yang layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa.Konsesus yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, dimana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut “Ciwa Budha” sebagai persenyawaan Ciwa dan Budha.Semenjak itu penganut Ciwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yang masing-masing bernama:ØPura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Brahma sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan)ØPura Puseh untuk memuja kemulian Wisnu sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa ØPura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatari Durga yaitu caktinya Bhatara Ciwa sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi WasaKetiga pura tersebut disebut Pura “Kahyangan Tiga” yang menjadi lambang persatuan umat Ciwa Budha di Bali. Dalam Samuan Tiga juga dilahirkan suatu organisasi “Desa Pakraman” yang lebih dikenal sebagai “Desa Adat”.
Dan sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam bidang politik, social, dan spiritual. Jika sebelum keempat Brahmana tersebut semua prasasti ditulis dengan menggunakan huruf Bali Kuna, maka sesudah itu mulai ditulis dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi).
Akhirnya di bekas tempat rapat itu dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Samuan Tiga.Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih. Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider).

4. MPU MANIK ANGKERAN
Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra. Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.

5. MPU JIWAYA
Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9). Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.
6. DANGHYANG DWIJENDRA

Datang di Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Atas wahyu Hyang Widhi di Purancak, Jembrana, Beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana. Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal. Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.
Karya sastra beliau yang terkenal antara lain : Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll. Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.

B. Ajaran-Ajaran Hindu Di Bali
• Segala upaca dan gerak keagamaan Bali mengandung maksud berhubungan dengan dewa dan para lelmbut (makhluk halus).
• Sebelum berhubungan dengan para dewa, seseorang harus bersuci terlebih dahulu menggunakan tanah, api dan air, dimana masing-masing mempunyai peranan menghilangkan penyakit menular, membakar serta membersihkan.
Berhubungan dengan penggunaan air ini, maka agama Hindu Bali juga kadang disebut agam Tirta.
• Ada tiga macam keselamatan yang dapat menghubungkan dengan para dewa, serta dua macam pemujaan. Upacara keselamatan dengan sesajian dan pemujaan inilah yang merupakan identitas agama Hindu Bali. Upacara keselamatan dan pemujaan tersebut adalah sebagai berikut:
1) karyamanusa, yaitu upacara yang dilakukan untuk keselamtan hidup manusia sejak lahir hingga meninggal.
2) Pitrayatnya, yaitu selamatan ketika ada orang yang meninggal
3) Dewayatnya, yaitu selamatan yang dipersembahkankepada para dewa sehubungan dengan berdirinya sebuah pura.
4) Manusatya, yaitu selamatan memberi makanan dan pakaian serta harta benda dan lainnya kepada khalayak ramai (semacam sedekah sosial) dengan upacara.
5) Bhutayatnya, seperti juga manusatnya, hanya ditambah sajian makanan kepada setan, buta kala, dan lain-lain.
• Pembakaran mayat bagi orang Hindu Bali dilakukan setelah jenazahnya dukubur atau disimpan beberapa hariuntuk menunggu hari baik. Biasanya, mayat pendeta dari golongan Brahmana tidak boleh dikubur, melainkan harus disegerakan pembakarannya. Upacara ini mengandung makna tersendiri, dimana seseorang yang meninggal terlebih dahuludisucikan dengan tanah (kuburan), kemudian diberi pertolongan dengan api (pembakaran), selanjutnya dihilangkan penyakit menular (melemparkan abunya ke laut).
• Upacara selamatan atau pemujaan dilakukan orang Hindu Bali di sebuah pura (sebagai lambing persatuan penunggal).
1). Pura sangah, pamaraja, kawitan, atau Hibu untuk persatuan sanak family dan saudara.
2). Balai Agung, puseh atau Dalem untuk persatuan penduduk atau desa.
3). Cubak, masketi atau Empalan, untuk persatuan penduduk sepengairan.
4). Sadahyangan, penataran atau Basakih untuk persatuan masyarakat satu praja (negeri).







DAFTAR PUSTAKA

• Ali, Mukti, agama-agama di dunia, Jogjakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988
• http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2010/01/enam-tokoh-suci-dalam-perkembangan.html
• Ali, Abdullah, agama dalam ilmu perbandingan, Bandung: Nuansa Auliya, 2007
• http://www.balisweethome.com/id/bali/keunikan/hinduism.htm

0 komentar:

Poskan Komentar