Rabu, 28 Desember 2011 0 komentar

AJARAN HINDU DI BALI

BAB I
PENDAHULUAN

Agama Hindu timbul dari dua arus utama yang membentuknya, yaitu agama bangsa Dravida dan agama bangsa Arya, sehingga untuk memahami agama Hindu sangatlah sulit sekali. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas R. Trautmann mendefisikan agama Hindu sangat sulit sekali.
Unsure penting yang ada dalam ajaran Hindu adalah teologi, filsafat dab etika atau moral. Agama Hindu mempercayai Realitas tertinggi hanya satu akan tetapi tidak membatasi yang satu sebagai realitas yang dimaksud adalah tuhan.
Agama Hindu seiring perjalanan dan perkembangnya yang sangat pesat hingga sampai ke Nusantara dan menjadi keyakina sebagian masyarakat Indonesia terutama di Bali.
Maka dari itu penulis di sini aka memaparkan bagaimana perkembangan dan ajaran Hindu hingga sampai ke Indonesia terutama di Bali., semoga bermanfaat amien….


BAB II
PEMBAHASAN


A. Sejarah perkembangan agama hindu di Indonesia sampai ke Bali
pengaruh yang paling besar dalam agama hindu adalah aliran Siwa dan Tantra yaitu pada abad 6. aliran tantra dan agama Budha di Indonesia menyatu, kemudian keduanya disebut dengan agama siwa budha, percampuran antara keduanya terlihat pada zaman singasari pada tahun 1222-1292.
Sebenarnya masuknya agama Hindu di Indonesia tidak diketahui secara pasti, penemuan-penemuan purbakalapun tidak memberikan informasi siapa yang membawa agama Hindu ke Indonesia. Akan tetapi ada bukti yang mencerminkan pengaruh agama Hindu di Indonesia yaitu bangunan-bangunan dan adat-adat keraton yang teradobsi oleh agama Hindu ini. System kasta juga tidak sama sekali memberi pengaruh agama Hindu terhadap masyarakat Indonesia kecuali kasta Brahmana, karena hanya kasta Brahmanalah yang mempunyai wewenang membaca klitab suci dan mengatur peribadatan agama Hindu.
Dengan demikian juga ada asumsi bahwa bukan orang-orang dari kasta Brahmana yang mempengaruhi rakyat Inonesia, akan tetapi orang-orang Indonesialah yang selalu mengadakan hubungan atau kerjasama dengan orang-orang dari kasta Brahmana dalam hal berdagang, sehingga hubungan orang dari kasta Brahmana dan masyarakat Indoinesia terjalin dengan baik dan rukun sehinga orang dari kasta Brahmana diberi kesempatan untuk menempati keraton karena dia telah menjalin hubungan dan kerjasama yang baik dengan masyarakat Indonesia, dan para raja keraton merasa senang kepadanya. Hal ini terbukti dengan penemuan prasasti bahwa ketika raja ingin bersedekah, raja memberikan beberapa ekor sapai kepada para Brahmana.
Dengan ini telah kita ketahui bahwasanya ajaran-ajaran agama Hindu berpusat di keratin karena mayoritas para brahmana berada di lingkungan keraton.
Dalam perkembangan selanjutnya, selain pusat-pusat keagamaan di keraton, juga terdapat pusat-pusat keagamaan Hindu yang disebut paguron atau mandala atau kasturi. Ditempat-tempat ini para pendeta memberikan pelajaran. Kitab-kitab yang ada pada waktu itu adalah kitab tantu pagelaran, juga juga kitab nawaruci yang juga disebut kitab tattwajnana, kitab terakhir ini penting karena mistik yang terdapat di dalamnya sampai sekarang masih berlaku di kalangan tertentu. Dasar fikiran mistik itu sendiri juga terdapat dalam kitab-kitab suluk yang sudah mendapat pengaruh dari Islam.
Kemudian ajaran-ajaran Hindu ini sampai ke Bali karena karena pengaruh Majapahit yang sangat kuat, ajaran Hindu Jawapun sudah berkembang di bali, lama kelamaan ajaran Hindu bercampur dengan agama asli Bali yang disebut agama Tirta dan kemudian disebut dengan Hindu Dharma.
Pada zaman itu perkembangan budaya yang berlandaskan Agama Hindu sangat pesat termasuk di Daerah Bali dan perkembangan terakhir menunjukkan bahwa para Arya dari Kerajaan Majapahit sebagian besar hijrah ke Bali dan di Daerah ini para Arya-Arya tersebut lebih memantapkan ajaran-ajaran Agama Hindu sampai sekarang.
Masyarakat Hindu di Bali dalam kehidupan sehari-harinya selalu berpedoman pada ajaran Agama Hindu warisan para lelulur Hindu di Bali terutama dalam pelaksanaan upacara ritual dalam hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam tetap berlandaskan pada ajaran-ajaran Agama Hindu dan dalam pelaksanaan Upacara Keagamaan.
Dalam perkembangan agama Hindu di Bali, ada enam tokoh yang sangat berpengaruh pada perkembangan agama Hindu di bali yaitu:

1. DARHYANG MARKANDEYA
Pada abad ke-8 beliau mendapat pencerahan di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah. Setelah menetap di Taro, Tegal lalang - Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (Banten), dan Pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali. Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali.
Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten. Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu : Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang. Beliau juga mendapat pencerahan ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll. Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah
.
2. MPU SANGKULPUTIH
Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak. Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual. Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan. Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.
Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll. Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.

3. MPU KUTURAN
Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali. Seperti disebutkan oleb R. Goris pada masa Bali Kuna berkembang suatu kehidupan keagamaan yang bersifat sektarian. Ada sembilan sekte yang pernah berkembang pada masa Bali Kuna antara lain sekte Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Diantara sekte-sekte tersebut Çiwa Sidhanta merupakan sekte yang sangat dominan (Ardhana 1989:56). Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewa tertentu sebagai istadewatanya atau sebagai Dewa Utamanya dengan Nyasa (simbol) tertentu serta berkeyakinan bahwa istadewatalah yang paling utama sedangkan yang lainnya dianggap lebih rendah.Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya yang menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa didalam tubuh masyarakat Bali Aga.
Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negative pada hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Akibat yang bersifat negative ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur yang oleh Gunaprya Dharmapatni sudah dikenal sejak dahulu semasih beliau ada di Jawa Timur. Oleh karena itu Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa bersekepatan untuk mendatangkan 4 orang Brahmana bersaudara yaitu:a. Mpu Semeru, dari sekte Ciwa tiba di Bali pada hari jumat Kliwon, wuku Pujut, bertepatan dengan hari Purnamaning Kawolu, candra sengkala jadma siratmaya muka yaitu tahun caka 921 (999M) lalu berparhyangan di Besakih.b. Mpu Ghana, penganut aliran Gnanapatya tiba di Bali pada hari Senin Kliwon, wuku Kuningan tanggal 7 tahun caka 922 (1000M), lalu berparhyangan di Gelgelc.
Mpu Kuturan, pemeluk agama Budha dari aliran Mahayana tiba di Bali pada hari Rabu Kliwon wuku pahang, maduraksa (tanggal ping 6), candra sengkala agni suku babahan atau tahun caka 923 (1001M), selanjutnya berparhyangan di Cilayukti (Padang)d. Mpu Gnijaya, pemeluk Brahmaisme tiba di Bali pada hari Kamis Umanis, wuku Dungulan, bertepatan sasih kadasa, prati padha cukla (tanggal 1), candra sengkala mukaa dikwitangcu (tahun caka 928 atau 1006M) lalu berparhyangan di bukit Bisbis (Lempuyang)Sebenarnya keempat orang Brahmana ini di Jawa Timur bersaudara 5 orang yaitu adiknya yang bungsu bernama Mpu Bharadah ditinggalkan di Jawa Timur dengan berparhyangan di Lemahtulis, Pajarakan. Kelima orang Brahmana ini lazim disebut Panca Pandita atau “Panca Tirtha” karena beliau telah melaksanakan upacara “wijati” yaitu menjalankan dharma “Kabrahmanan”. Dalan suatu rapat majelis yang diadakan di Bata Anyar yang dihadiri oleh unsur tiga kekuatan pada saat itu, yaitu :o Dari pihak Budha Mahayana diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua sidango Dari pihak Ciwa diwakili oleh Mpu Semeruo Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali AgaDalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali, yg terdiri dari berbagai aliran.
Tatkala itu semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti (Brahma,Wisnu,Ciwa) untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan yang layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa.Konsesus yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, dimana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut “Ciwa Budha” sebagai persenyawaan Ciwa dan Budha.Semenjak itu penganut Ciwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yang masing-masing bernama:ØPura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Brahma sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan)ØPura Puseh untuk memuja kemulian Wisnu sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa ØPura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatari Durga yaitu caktinya Bhatara Ciwa sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi WasaKetiga pura tersebut disebut Pura “Kahyangan Tiga” yang menjadi lambang persatuan umat Ciwa Budha di Bali. Dalam Samuan Tiga juga dilahirkan suatu organisasi “Desa Pakraman” yang lebih dikenal sebagai “Desa Adat”.
Dan sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam bidang politik, social, dan spiritual. Jika sebelum keempat Brahmana tersebut semua prasasti ditulis dengan menggunakan huruf Bali Kuna, maka sesudah itu mulai ditulis dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi).
Akhirnya di bekas tempat rapat itu dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Samuan Tiga.Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih. Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider).

4. MPU MANIK ANGKERAN
Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra. Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.

5. MPU JIWAYA
Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9). Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.
6. DANGHYANG DWIJENDRA

Datang di Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Atas wahyu Hyang Widhi di Purancak, Jembrana, Beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana. Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal. Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.
Karya sastra beliau yang terkenal antara lain : Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll. Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.

B. Ajaran-Ajaran Hindu Di Bali
• Segala upaca dan gerak keagamaan Bali mengandung maksud berhubungan dengan dewa dan para lelmbut (makhluk halus).
• Sebelum berhubungan dengan para dewa, seseorang harus bersuci terlebih dahulu menggunakan tanah, api dan air, dimana masing-masing mempunyai peranan menghilangkan penyakit menular, membakar serta membersihkan.
Berhubungan dengan penggunaan air ini, maka agama Hindu Bali juga kadang disebut agam Tirta.
• Ada tiga macam keselamatan yang dapat menghubungkan dengan para dewa, serta dua macam pemujaan. Upacara keselamatan dengan sesajian dan pemujaan inilah yang merupakan identitas agama Hindu Bali. Upacara keselamatan dan pemujaan tersebut adalah sebagai berikut:
1) karyamanusa, yaitu upacara yang dilakukan untuk keselamtan hidup manusia sejak lahir hingga meninggal.
2) Pitrayatnya, yaitu selamatan ketika ada orang yang meninggal
3) Dewayatnya, yaitu selamatan yang dipersembahkankepada para dewa sehubungan dengan berdirinya sebuah pura.
4) Manusatya, yaitu selamatan memberi makanan dan pakaian serta harta benda dan lainnya kepada khalayak ramai (semacam sedekah sosial) dengan upacara.
5) Bhutayatnya, seperti juga manusatnya, hanya ditambah sajian makanan kepada setan, buta kala, dan lain-lain.
• Pembakaran mayat bagi orang Hindu Bali dilakukan setelah jenazahnya dukubur atau disimpan beberapa hariuntuk menunggu hari baik. Biasanya, mayat pendeta dari golongan Brahmana tidak boleh dikubur, melainkan harus disegerakan pembakarannya. Upacara ini mengandung makna tersendiri, dimana seseorang yang meninggal terlebih dahuludisucikan dengan tanah (kuburan), kemudian diberi pertolongan dengan api (pembakaran), selanjutnya dihilangkan penyakit menular (melemparkan abunya ke laut).
• Upacara selamatan atau pemujaan dilakukan orang Hindu Bali di sebuah pura (sebagai lambing persatuan penunggal).
1). Pura sangah, pamaraja, kawitan, atau Hibu untuk persatuan sanak family dan saudara.
2). Balai Agung, puseh atau Dalem untuk persatuan penduduk atau desa.
3). Cubak, masketi atau Empalan, untuk persatuan penduduk sepengairan.
4). Sadahyangan, penataran atau Basakih untuk persatuan masyarakat satu praja (negeri).







DAFTAR PUSTAKA

• Ali, Mukti, agama-agama di dunia, Jogjakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988
• http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2010/01/enam-tokoh-suci-dalam-perkembangan.html
• Ali, Abdullah, agama dalam ilmu perbandingan, Bandung: Nuansa Auliya, 2007
• http://www.balisweethome.com/id/bali/keunikan/hinduism.htm

Selasa, 20 Desember 2011 0 komentar

ASAL-USUL AGAMA DAN KONSEP AGAMA

A. Asal-usul agama

Menurut sejarahnya, agama tumbuh bersamaan dengan berkembangnya kebutuhan manusia. Salah satu dari kebuthan itu adalah kepentingan manusia dalam memenuhi hajat rohani yang bersifat spiritual, yakni sesuatu yang dianggap mampu memberikan motivasi semangat dan dorongan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, unsur rohani yang dapat memberikan spirit dicari dan dikejar sampai akhirnya mereka menemukan suatu zat yang dianggap suci, memiliki kekuatan, maha tinggi dan maha kuasa. Sesuai dengan taraf perkembangan cara berfikir mereka, manusia mulai menemukan apa yang dianggap sebagaimana tuhan. dapatlah dimengerti bahwa hakekat agama merupakan fitrah naluriyah manusia yang tumbuh dan berkembang dari dalam dirinya dan pada akhirnya mendapat pemupukan dari lingkungan alam sekitarnya pada awalnya, perkembangan dan pertumbuhan agama pada diri seseorang itu dilatar belakangi antara lain oleh beberapa sebab berikut.
1. agama adalah produk dari rasa takut
rasa takut manusia pada alam, dari suara guruh yang menggetarkan dari luasnya lautan dan ombaknya yang menggulung serta gejala-gejala alamiyah lainnya. sebagai akibat rasa takut ini, terlintaslah agama dalam benak mansuia. Lucretius, seorang filsuf Yunani menyebutkan bahwa nenek moyang pertama para dewa ialah dewa ketakutan.
2. agama adalah produk dari kebodohan
sebagian orang percaya bahwa faktor yang mewujudkan agama adalah kebodohan manusia, sebab manusia, sesuai dengan wataknya, selalu cenderung untuk mengetahui sebab-sebab dan hukum-hukum yang berlaku atas alam ini serta yang yterjadi di dalamnya. mungkin karena tidak berhasil mengenalnya ia menisbahkan hal itu kepada sesuatu yang bersifat metafisis.
3. pendambaan akan keadilan dan keteraturan
sebagian orang memperkirakan bahwa motivasi keterikatan manusia pada agama ialah pendambaannya akan keadilan dan keteraturan. keadilan dalam masyarakat dan alam, karena itu ia menciptakan agama dan berpegang erat kepadanya demi meredakan penderitaan kejiwaannya. (Murtadha muthahari).
persepsi manusia bahwa ada sesuatu kekuatan yang berada di luar dirinya telah mendorong seseorang yang merasa takut untuk mencari perlindungan, dei keselamatan dan kebahagiaan hidupnya. ketika manusia merasa akibat adanya bencana alam, gempa bumi dan tsunami misalnya, mereka bersama-sama atau secara individu melakukan persembahan terhadap dewa laut dewa alam dewa bumi dan sebagainya. ketika masyarakat merasa takut terhadap angin taufan yang melanda perkampungannya, takut kepada api yang membakar seluruh hutan dan sawah ladangnya mereka melakukan pemujaan terhadap dewa angin, dewa api, dan dewa lain-lainnya. jadi, sangat memungkinkan bahwa rasa takut manusia adalah menumbuhkan keyakinan kepada "zat yang dianggap sakral". keyakinan terhadap zat yang dianggap Tuhan itu, melahirkan konsekuensi peribadatan berbentuk ritual yang berdasarkan pada aturan-aturan yang ditentukan secara normatif. oleh karena itu, Karl Jung dalam Joesof Sou'yb (1983:17) mengartikan agama sebagai penjelmaan tata cara hidup manusia yang dikembangkan oleh manusia untuk mengatur kehidupannya, disebabkan ketakutan dan kekcewaan yang telah tertanam di alam bawah sadar manusia.
dengan demikian, dapat dijelaskan beberapa aspek pokok yang terkandung dalam suatu agama, antara lain seperti berikut.
pertama, agama adalah sistem credo (tata cara keimanan dan keyakinan) karena adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia.
kedua, di samping itu, agama adalah juga suatu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu.
ketiga, disamping merupakan suatu sistem credo dan sistem ritus, maka agama juga adalah satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termaksud di atas.
suatu sistem pada dasarnya merupaka sejumlah satuan yang saling terkait satu sama lain, terdiri dari unit-unit tertentu yang mempunyai struktur dan proses secara fungsional. sebagai suatu sistem, agama merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari keyakinan, peribadatan dan norma, yang satu sama lain saling berhubungan sesuai dengan fungsinya. keyakinan atau kepercayaan terhadap zat yang dianggap tuhan diperoleh masyarakat melalui proses kejiwaan. manifestasi dari keyakinan seorang atau masyarakat dibuktikan dalam bentuk peribadatan, persembahan atau pemujaan secara ritual, sesuai norma atau aturan-aturan yang berlaku bagi masing-masing agama. dengan kata lain, kikatakan bahwa agama sebagai suatu sistem yang tidak bisa terlepas dari komponen-komponen lain yang saling terkait. secara internal, agama terkait dengan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, seperti kepercayaan, peribadatan, norma dan nilai-nilai sosial; secara eksternal ia juga terkait dengan lingkungan masyarakat manusia yang mempercayainya, karena bagaimanapun "secara historis agama berumur setua dengan sejarah manusia, yang tidak bisa hidup tanpa bentuk suatu agama. seluruh agama merupakan perpaduan kepercayaan sejumlah upacara.
B. konsep-konsep ketuhanan

kepercayaan pada adanya tuhan adalah dasar yang utama sekali dalam paham keagaman. tiap-tiap agama kecuali budhisme yang asli dan beberapa agama lain berdasar atas kepercayaan pada sesuatu kekuatan ghaib; dan cara hidup tiap-tiap manusia yang percaya pada agama di dunia ini amat rapat hubungannya dengan kepercayaan tersebut. kekuatan ghaib itu, kecuali dalam agamga-agama primitif, disebut tuhan. konsep tentang Tuhan berbagai rupa. umpamanya orang percaya pada deisme, tetapi tidak pada teisme atau pada panteisme tetapi tidak pada politeisme. atau pula orang percaya pada monoteisme tetapi monoteisme manakah yang dianutnya itu.
leh sebab itu filsafat agama merasa penting untuk mempelajari perkembangan paham-paham yang berbeda-beda itu. studi ini dimulai oleh falsafat agama dengan mempelajari paham kekuatan ghaib yang ada dalam agamga-agama primitif.
agama-agama primitif belum memberi nama tuhan kepada kekuatan ghaib itu. dengan kata lain kekuatan ghaib itu beumlah berasal dari luar alam ini, tetapi masih berpangkal dalam alam. kekuatan ghaib itu belum mempunyai arti teisme atau deisme, tetapi dinamisme dan animisme.
Rabu, 14 Desember 2011 1 komentar

RISAUMU

Ga tau mesti mengawali dari bagian mana Terlalu awam bagiQ untuk memahami ini semua Terlalu berliku, bagai berjalan di lorong panjang nan gelap yang mustahil menemukan setitik cahayaL Penjelasan apa yang harus aku papar? jawaban apa yang harus ku beri disetiap tanya dan ragumu? Yang akupun tak pahami penjelasan dan jawabanQ sendiri. Bukan mau menumpuk dan membiarkan masalah2 kecil, tapi hanya......................Astagfirullah..............Belum mampu menjabarkan semua ini Sekalipun harus digambarkan melalui sketsa, entah siapa yg mampu menterjemahkan. Bahkan bukan juga aku (Yang ada hanya coretan tanpa arah, tak beraturan, tanpa tujuan, dan tak berbentuk Hampir Q bujuk perasaan utk sedikit berlogika “ Membiarkan waktu bergulir dan menjawab semua” “Tapi sepertinya tak pantas “, sisi lainQ menjawab Apa aku akan membiarkan seribu tanya, yang menumpuk dibenak mu? Apa aku harus tetap hangat dalam kebekuan ini? Jawab tidak pastinya Lalu apa? Ahhh..... entahlah yang ada aku hanya akan menuang jawaban yang sama
Selasa, 13 Desember 2011 0 komentar

LIMA TERM UMUM (AL KULLIYAT AL-KHAMSI)

PENDAHULUAN

Ilmu logika berkembang dari zaman-zaman ke zaman-zaman hingga sampai ke tangan tokoh orang-orang muslim seperti al-farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusd dan lain-lain, meskipun sebagian orang-orang muslim mengkritiknya.
Pembahasan tentang term sebenarnya hanya mengkaji tentang masalah bahasa, akan tetapi term ini sangatlah penting dalam logika, karena kajian dalam term ini mengacu kepada behasa yang dipakai saat bertutur kata dan membuat konsep sehingga menghasilkan kesimpulan yang mendekati kebenaran hingga kepada kebenaran.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Term Umum (predictable) (الكليات الخمس)
Term dapat didefinisikan sebagai pernyataan verbal tentang suatu gagasan. Term adalah bunyi yang diartikulasikan dan befungsi sebagai simbol atau tanda gagasan. Term biasanya bersifat konvensional dan dapat dipahami sebagai sebuah gagasan atau segugus gagasan yang dinyatakan dalam wujud kata-kata. Kita membentuk gagasan atas dasar pemahaman kita terhadap benda-benmda yang kita ketahui melalui daya tangkap panca indera. Gagasan ini selanjutnya direalisasikan dalam wujud kata-kata atau term.
B. Penjelasan tentang lima Term Umum (predicable)

Dari skema di atas sangat jelas dapat disimpulkan bahwa pembagian kulli (Term) di bagi menjadi dua yaitu: Dzati dan Irdhi
Sedangkan Dzati dibagi menjadi tiga yatiu: Jins, fashl dan nau’
Kemudian Irdhi dibagi menjadi dua yaitu: khasshah

Sedangkan menurut Prof. Dr Zainun kamal MA dalam buku hasil desertasinya menyebutkan pembagian lima term umu yaitu:
• Genus (jins)
• Spesies (nau’)
• Diferentia (fashl)
• Proprium (Ardh al-khashah)
• Aksiden (Ardh al-Amm)
Baiklah di bawah ini kami akan menjelaskan lima term umum/predicable:
klasifikasi kulli dzati:
1. Jins adalah: lafadz kulli yang mashadaqnya terdiri dari subtansi-subtansi (hakikat yang berbeda), atau lafasdz kulli yang di bawahnya terdapat lafadzx-lafadz kulli yang mempunya makna yang lebih khusus.
Contoh: lafadz “hayawan” mengandung makna manusia dan hewan-hewan lainnya seperti kambing, kerbau dan sebagainya.

2. Fashal adalah: pemisah atau pembeda dalam terminologi mantihq fashl adalah ciri atau sejumlah ciri dari hakekat (benda, diri, orang) yang berbeda substasi-substansi atua hakikat-hakikat yang berbeda dalam satu jenis antara yang satu dengan yang lainnya.
Contoh : insan dan hayawan, dikaitkan dengan nathiq
Kedua lafazh itu berbeda dalam satu jenis. Ke dalam lafazh hayawan tergasbung manusia, kambing dan sebagainya. Namun, antara insan dan hewan itu dapat dipisahkan dengan menggunakan fashl, yaitu berkata-kata dan berfikir yang menjadi pemisah atau pembeda antara insan dan hayawan karena yang dapat berkata-kata dan berfikir hanyalah insan.

3. Nau’ secara lughawi, adalah macam (bisa juga berarti jenis). Secara mantiqi nau’ adalah lafazh kulli yang mashadaq-nya terdiri dasri hakikat-hakikat yang sama, seperti lafazh insan yang mashadaq-nya Mustafa, Ibrahim, Yadi, Ali, Usman, Ahmad, dan lain-lain yang semuanya mempunyai hakikat yang sama. Atau, dapat juga dikatakan bahwa nau’ adalah lafazh kulli yang berada di bawah lafazh kulli yang lebih umum, seperti insan yang mashadaq-nya Ibrahim dan Mustafa tadi, tetapi lafazh insan itu juga berada di bawah lafazh kulli yang lebih umum, yaitu hayawan.

Klasifikasi kulli irdhi:
1. Irdhi Ammah adalah: suatu sifat atau kebiasaan yang menyifati sesuatu secara berbeda dan bukan untuk jenis tertentu.
Contoh: sifat makan yang umum bagi semua baik untuk orang, hewan dan tumbuhan. Sifat “makan” bukan hanya manusia yang memilikinya, akan tetapi hewan juga memerlukan makan, begitu juga dengan tumbuhan.
2. Irdhi khasshah adalah: suatu sifat yang menyifati sesuatu secara khusus dan satu jenis tertentu.
Contoh: bisa mempelajari bahasa Arab. Yang bisa bisa mempelajarui bahasa Arab hanyalah manusia.

DAFTAR PUSTAKA

 E. Sumaryono, dasar-dasar Logika,Penerbit Kamisius, Yogyakarta: 1998
 Syekh Abdurrahman Al-akhdhari, Al-sullam Al-munawwarah, Sidogiri As-Salafy
 Baihaqi A.K, ilmu mantik, Darul Ulum Press, Jakarta: 2007
 Zainun Kamal, Ibn Taimiyah Versus Para Filosof Polemik Logika, Rajawali Pers, Jakarta: 2006
 
;