Sabtu, 12 November 2011

IDUL ADHA DAN AKSI RADIKALISME

Qissotun mujizatun “bertepatan pada tanggal 8 dzulhijjah Nabi ibrahim didatangi sebuah perintah atau pesan dari Allah melalui mimpi beliau yang isinya yaitu perintah untuk menyembelih anaknya sendiri Isma’il. Nabi ibrahim merasa bingung karena beliau sangat menyayangi anaknya (Isma’il), maka dari itu pada tanggal 8 dzulhijjah dinamakan hari renungan (yaum at-tarwiyah). karenanya Nabi ibrahim menceritakan tentang perintah Allah yang datang melalui mimpi beliau tersebut kepada isteri tercintanya sitti hajar. Siti hajar berkata “mungkin mimpimu itu hanya mainan belaka, akan tetapi kalau mimpi itu merupakan wahyu, maka wajiblah dituruti”. Pada malam selanjutnya mimpi itu menghampiri tidur nabi Ibrahim kembali, hingga beliau yakin bahwa mimipi itu benar-benar perintah Allah yang wajib dilaksanakan. Karena itu tanggal 9 dzulhijjah diberinama hari pengetahuan (yaum arafah). Mimpi demikian datang kembali pada tanggal 10 dzulhijjah, hingga membuat nabi Ibrahim benar-benar paham betul bahwa mimpi itu diperintahkan untuk menqurbanjkan anaknya. Karena tragedi inilah dinamakan hari qurban (yaum al-nahr). Karena ketaqwaan nabi Ibrahim kepada Allahm, maka beliau melaksanakan perintah-Nya yaitu menyembelih anaknya sendiri isma’il, akan tetapi yang terjadi Allah mengganti isma’il dengan seekor kambing saat nabi Ibrahim mau menyembelih anaknya, kemudian nabi Ibrahim menyembelih kambing tersebut. Kisah nabi Ibrahim ini diperingati oleh umat Islam yang dikenal dengan idhul adha. Kisah di atas dimana Allah mengganti Isma’il dengan kambing menunjukkan bahwa Allah melarang tindak anarkis sesama manusia. Dengan maraknya tindak kekerasan di Indonesia yang nota bene mayoritas agama Islam bahkan muslim terbesar di dunia, mulai dari perusakan tempat ibadah, kerusuhan, hingga pengeboman yang kian hari bagai kapas berterbangan di udara agaknya hari peristiwa itu perlu dijadikan kontemplasi religius agar umat muslim Indonesia tidak melakukan tindak anarkis antar umat manusia. Maka dari itu hari raya idhul adha ini jangan hanya dijadikan “perayaan ritual-ritualan” belaka, akan tetapi direnungi dan dihayati agar umat muslim indonesia khususnya tidak lagi melakukan aksi-aksi teror di mana-mana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar