Minggu, 20 November 2011 0 komentar

KONFUSIANISME

A. Asal usul agama Konfusius
Secara historis Cina merupakan sebuah negara yang kita kenal mempunyai sejarah yang cukup panjang yang konon dimulai sekitar tahun 2700 SM. Pada waktu itu tradisi dan lembaga Cina masih tersusun secara rapi dan balance. Sekalipun demikian oang-orang tidak metahui secara pasti bagaimana semua itu terjadi.
Dijelaskan dalam buku sje-tsing (tentang pujian) dan shi ching (tentang sejarah) memberi kesan yang cukup luar biasa bahwa bangsa Cina yang purbakala, dimana paham monoteisme telah diaplikasikan oleh masyarakat Cina, yang nama Tuhan mereka adalah Shang-ti yang berarti penguasa tertinggi dan tien berarti sorga.
Akan tetapi, bersama perjalanan waktu agama Cina mengalami dekadensi moral dan kesenjangan sosial, di samping mereka tetap percaya terhadap Shang-ti bangsa Cina kuno juga percaya pada roh-roh halus dan roh-roh nenek moyang yang semuanya mereka sembah dalam upacara-upacara korban. Hal demikian kira-kira terjadi pada abad 6 SM kehidupan agama dan moral masyarakat Cina sudah sedemikian merosot. Kemudian bangsa Cina dulu yang kita kenal peradabannya berkembang dan tradisi yang sudah tersusun sekarang hanya tinggal bayangan saja. Dalam situasi yang seperti itu lahirlah seorang Konfusius atau Khong Hu Tsu atau koeng Foe Tze, yang ajaran-ajarannya sangat berpengaruh terhadap masyarakat Cina pada itu. Sehingga Konfusius dianggap guru pertama oleh masyarakat Cina selama hampir dua puluh lima abad.
Seorang konfusius dikenal juga sebagai guru pertama di Tiongkok yang memperjuangkan tersedianya pendidikan bagi semua orang, dan menekankan bahwa pendidikan bukan hanya sebagai suatu kewajiban semata-mata, melainkan suatu cara untuk menjalani kehidupan ini.
Jadi pendidikan tak sekedar kewajiban, akan tetapi dalam memperoleh pendidikan tidak lain hanya untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan seorang Konfusius
Konfusius berasal dari nama latin yaitu kung Tzu atau kong Hu Tsu atau kung. Ia dilahirkan di negara Lu, yang sekarang adalah provinsi Shantung pada tahun 551 SM. Konfusius dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana dan jujur.
Konfusius lahir ketika ayahnya berusia 64 tahun. Ibu Konfusius bernama Zheng-zhai dimana dia berasal dari keluarga Yen yang tingal di suatu daerah yang bernama Song.
Konfusius memulai kariernya sebagai pengawas lumbung padi sehingga dibebani tanggung jawab urusan pekerjaan yang umum.
Pada tahun 528 SM konfusius berhenti dari pekerjaannya itu karena kematian ibunya, selama periode duka cita kuran lebih 300 tahun, ia mengasingkan diri untuk belajar dan melakukan meditasi, akhirnya di mundul dari pengasingannya sebagai seorang guru dan ia berhasil menarik sejumlah besar murid yang setia. Kemashurannya semakin meningkat pada usia 50 tahun, ia kembali lagi kepada masyarakat, kemudian ditunjuk sebagai menteri pekerjaan dan pengadilan, jabatan-jabatan tersebut telah memberikan kesempatan kepadanya untuk praktek mengajar dan menyelengarakan suatu sistem administrasi yang teratur, ia berhasil membuat negara menjadi tentram dan adil sehingga kejahatan dan kerusakan akhlaq menjadi hilang.
Dalam keberhasilan dan kesuksesannya yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat secara tegas dan lugas, menyebabkan musuh-musuh atau lawan-lawannya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengeliminasikan Konfusius, sehingga Konfusius terpaksa meninggalkan negerinya selama 14 tahun bersama murid-muridnya yang setia mengikutinya. Akan tetapi dia diizinkan untuk kembali ke negerinya ketika ia berusia 68 tahun menghabiskan separuh usianya untuk mengajarkan pemahamannya dan meneliti warisan-warisan purbakala, sehingga menghasilkan sebuah karya yang membahas tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa di musim semi dan musim gugur hingga karyanya tersebut diberi nama Chun-tsin, (sejarah musim semi dan musim gugur) di dalam bukunya tersebut dia dengan berani mengkritik kebijakan pemimpin Lu dan menampilkan segala peristiwa yang terjadi di Lu secara apa adanya.
Pada 470 SM, akhirnya Konfusius meninggal dunia, meskipun demikian apa yang ia capai selama hidupnya mampu menjadikan kematiannya menjadi bermakna.

B. Ajaran-ajaran Konfusius
Konfusius menghindari membicarakan hal-hal yang metafisik dan abstrak. Suatu ketika chung-yu salah seorang muridnya bertanya kepadanya tentang jiwa, yang dijawabnya: jika kamu tidak bisa mngetahui orang bagaimana kamu dapat mengetahui jiwa? Apabila dia ditanya tentang kematian, ia menjawab: jika kamu belum mengerti tentang hidup bagaimana kamu bisa mengetahui tentang kematian?. Juga dikatakan tentang dia, bahwa dia tidak pernah membicarakan tentang keajaiban, kekuatan atau masalah ketuhanan. Tetapi dia tidak ragu-ragu bahwa Konfusius percaya pada Tuhan dan bahwa ia adalah seorang monoties yang etis. Ia menyatakan bahwa kehendak Tuhan telah dibukukan untuknya dan karena itu isinya adalah membuat kehendak tersebut berlaku di dunia ini. Di antara sekian banyak perkataanya adalah:
• “ada tiga hal yang menjadi tempat orang besar berdiri kagum: perintah-perintah Tuhan, orantg-orang penting, kata-kata yang bijaksana. Orang picik tidak tahu perintah-perintah Tuhan, tidak berdiri kagum di atasnya, tidak sopan terhadap orang-orang penting, ia menghina kata-kata yang bijaksana” (Analekta 16:8)
• “Tuhan memperkayakan daku dengan misi ketuhanan. Apa yang dapat dilakukan Huan Tuei (perwira militer yang pernah mengusirnya) terhadap saya?” (Analekta 7:23)
• “Jika itu merupakan kehendak Tuhan bahwa sistem ketuhanan itu hanya sia-sia, maka keturunan, anak cucu, tidak akan pernah ikut merasakan lagi pengetahuan tentang kepercayaan (keyakinan ini). Tetapi jika itu menjadi kehendak Tuhan bahwa sistem ini tidak akan sia-sia, apa yang dapat diperbuat oleh orang-orang kuang untukku?” (Analekta 9:25)

Inti ajaran Kunfusius yaitu:
1. Tentang kedudukan manusia dan tertib alam bahwa manusia asalnya baik, sama dan bersaudara, karena manusia mempunyai sifat samawi. Hendaknya masing-masing manusia menempati kedudukan sesuai dengan keahliannya demi ketertiban alam. “Tse-un-tse-un syu-en-syu-en, fu-fu, tse-tse” (biarlah raja tetap raja, rakyat tetap rakyat, bapak tetap bapak, anak tetap anak)
2. Ajaran tentang etiket disebit Li: menentukan agar setiap orang mengindahkan adat istiadat yang berlaku terutama yang berhubungan dengan istana.
3. Tentang kemanusiaan yang disebut Yen dijelaskan supaya manusia menghormati orang lain seperti menghormati diri sendiri dan lakukan kejahatan terhadap orang lain, karena dirinya sendiri juga tidak menghendaki.
4. Perihal kesetiaan yang disebut dengan Syiau, dimaksudkan agar pangeran atau tuan tanah setia kepada kepada raja, anak setia kepada bapak, kaum muda setia kepada kaum tua
5. Tentang manusia sempurna disebut Sying yen yang berarti orang bijaksana, semacam insan kamil, adalah manusia yang patut dijadikan contoh teladan bagi kehidupan umat manusia. Begitu pula orang terhormat (Hyen-yen) termasuk orang yang mengerti Sying Yen serta menjalankan ilmu yang benar dalam kehidupannya.

Kitab suci Konfusius
1. Kitab yih king, yaitu kitab perubahan yang mengandung perubahan Kung untuk mengubah tradisi kerajaan yang dianggap tidak baik atau menyimpang
2. Syi king kitab syair yang berisi sajak-sajak tentang kebijakan
3. Syu, kitab sejarah yang mengandung pelajaran perihal kehidupan bangsa, yang pernah diajarkan oleh Kung kepada murid-muridnya di sekolah dulu.
Kitab-kitab di atas ditulis sendiri oleh Konfusius/Kung, sedangkan kitab yang lain ditulis oleh murid-muridnnya, antara lain: lun yu (kumpulan pokok ajaran Kung), Ta Hioh (pelajaran Kung untuk murid-muridnya) dan Chung yung (pelajaran tentang kebijaksanaan).



SUMBER:
Abdullah ali, agama dalam ilmu perbandingan, Nuansa Auliya, Bandung: 2007
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/10/biografi-konfusius.html
Romdhon dkk, Agama-agama dunia, IAIN Sunan Kalijaga Press, Jogjakarta: 1988
http://wihara.com/forum/kong-hu-cu/821-ajaran-konfusius.html
Sabtu, 12 November 2011 0 komentar

IDUL ADHA DAN AKSI RADIKALISME

Qissotun mujizatun “bertepatan pada tanggal 8 dzulhijjah Nabi ibrahim didatangi sebuah perintah atau pesan dari Allah melalui mimpi beliau yang isinya yaitu perintah untuk menyembelih anaknya sendiri Isma’il. Nabi ibrahim merasa bingung karena beliau sangat menyayangi anaknya (Isma’il), maka dari itu pada tanggal 8 dzulhijjah dinamakan hari renungan (yaum at-tarwiyah). karenanya Nabi ibrahim menceritakan tentang perintah Allah yang datang melalui mimpi beliau tersebut kepada isteri tercintanya sitti hajar. Siti hajar berkata “mungkin mimpimu itu hanya mainan belaka, akan tetapi kalau mimpi itu merupakan wahyu, maka wajiblah dituruti”. Pada malam selanjutnya mimpi itu menghampiri tidur nabi Ibrahim kembali, hingga beliau yakin bahwa mimipi itu benar-benar perintah Allah yang wajib dilaksanakan. Karena itu tanggal 9 dzulhijjah diberinama hari pengetahuan (yaum arafah). Mimpi demikian datang kembali pada tanggal 10 dzulhijjah, hingga membuat nabi Ibrahim benar-benar paham betul bahwa mimpi itu diperintahkan untuk menqurbanjkan anaknya. Karena tragedi inilah dinamakan hari qurban (yaum al-nahr). Karena ketaqwaan nabi Ibrahim kepada Allahm, maka beliau melaksanakan perintah-Nya yaitu menyembelih anaknya sendiri isma’il, akan tetapi yang terjadi Allah mengganti isma’il dengan seekor kambing saat nabi Ibrahim mau menyembelih anaknya, kemudian nabi Ibrahim menyembelih kambing tersebut. Kisah nabi Ibrahim ini diperingati oleh umat Islam yang dikenal dengan idhul adha. Kisah di atas dimana Allah mengganti Isma’il dengan kambing menunjukkan bahwa Allah melarang tindak anarkis sesama manusia. Dengan maraknya tindak kekerasan di Indonesia yang nota bene mayoritas agama Islam bahkan muslim terbesar di dunia, mulai dari perusakan tempat ibadah, kerusuhan, hingga pengeboman yang kian hari bagai kapas berterbangan di udara agaknya hari peristiwa itu perlu dijadikan kontemplasi religius agar umat muslim Indonesia tidak melakukan tindak anarkis antar umat manusia. Maka dari itu hari raya idhul adha ini jangan hanya dijadikan “perayaan ritual-ritualan” belaka, akan tetapi direnungi dan dihayati agar umat muslim indonesia khususnya tidak lagi melakukan aksi-aksi teror di mana-mana.
 
;