Pages

Senin, 10 Oktober 2011

TAFSIR SAHABAT

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian sahabat sebagai mufassir sepeninggal Rosul
Ahmad bin Hambal berkata: “Semua yang pernah bersahabat dengan Nabi saw. selama setahun, atau sebulan, atau sehari, atau sesaat, atau pernah melihatnya; maka ia adalah termasuk di antara para sahabat beliau. Dia tetap sahabat sebatas kadar persahabatannya dengan Nabi.” (Al Kifayah fi ma’rifati ushul ilmi ar-riwayah 1/192)
Ali bin Al Madini berkata: “Barangsiapa yang pernah menemani Nabi saw. atau melihatnya meskipun hanya sesaat dengan jelas, maka dia adalah termasuk di antara sahabat Nabi saw.” (Fath Al Bari Syarh Shahih Al Bukhari, 7/5)
Imam Bukhari berkata: “Barangsiapa di antara kaum muslimin yang pernah menemani Nabi saw. atau telah melihatnya, maka dia adalah termasuk sahabatnya.” (Shahih Al Bukhari/Kitab Al Manaqib, Bab Fadha’il Ash-hab An Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam)
Ibnu Hajar Al Haitami (w. 974h/1567M seorang ahli hadits terkenal ) mengatakan bahwa sahabat adalah orang yang pernah berjumpa dengan Nabi saw. Dan orang tersebut beriman kepadanya, hidup bersama beliau baik dalam waktu yang lama maupun sebentar baik orang tersebut meriwayatkan hadist atau tidak dari Nabi, atau orang yang pernah melihat beliau.
sahabat secara secara etomologis merupakan kata bentukan dari kata “ash-shuhbah” yang berarti persahabatan.
Sedangkan pengertian sahabat menurut ulama’ hadits adalah setiap muslim yang pernah melihat Rasulullah saw. Seperti Imam bukhori dalah shohihnya menyebutkan bahwa sahabat adalah kamu muslim yang pernah menyertai Nabi Muhammad saw atau pernah melihat Beliau atau sahabat Beliau.
Jadi esensi dari sahabat itu sendiri adalah seorang muslim yang hidup pada zaman Rasulullah dan melihat serta berjuang dengan beliau meskipun hanya sesaat.
Tafsir sahabat juga disebut dengan “tafsir ma’tsur”, yang mana tafsir ma’tsur termasuk tafsir yang bisa diterima sebagai pegangan, karena parea sahabat telah berkumpul dengan Rasullah saw dan mereka telah meminum air pertolongan yang bersih, mereka menyaksikan turunnya wahyu al-qur’an dan mereka juga tau tentang asbabu nnuzul. Mereka mempunya kesucian jiwa, keselamatan fitrah dan keunggulan dalam hal memahami secara benar dan selamat terhadap kalam Allah swt. Bahkan menjadikan mereka mampu menemukan rahasia-rahasia Al-Qur’an lebih banyak dibanding siapapun orangnya.
Klarifikasi sahabat
Abu Husain bin al Hajjaj al Qusyairi an-Naisabur atau yang kita kenal dengan Imam Muslim (Naisabur, 202 H/817 M - 261H/ 875M) seorang ahli hadist terkenal mengklasifikasikan sahabat Rasulullah menjadi dua belas tingkatan berdasarkan peristiwa yang mereka alami atau saksikan, yaitu:
1. Assabiqunal awwalun
2. Darun nawah ( kedung pertemuan bagi orang-orang Quraisy pada masa sebelum dan awal Islam)
3. Para sahabat yang ikut hijrah ke Habasiyah
4. Para sahabat yang membaiat Nabi pada aqabah pertama
5. Para sahabat yang membaiat Nabi pada aqobah kedua
6. Muhajirin yang pertama menemui nabi ketika Beliau tiba di Quba sebelum memasuki kota Madinah pada waktu hijrah
7. Sahabat yang ikut dalam perang badar
8. Sahabat yang berhijrah antara badar dan Hudaibiyah
9. Sahabat yang tergabung dalam bai’at Ridwan (bai’at yang dilakukan kaum muslimin ketika ghaswah/perjanjian Hubaidiyah)
10. Sahabat yang ikut hijrah antara Al Hudaibiyyah dan Al Fatah
11. Berdasarkan urutan masuk Islam
12. Para remaja dan anak-anak yang sempat melihat Rasulullah.

Stratifikasi sahabat
Al-hakim mengemukakan bahwa stratifikasi sahabat terbagi menjadi 12 yaitu:
1. Mereka yang mula-mula masuk islam seperti keempat kholifah
2. Mereka yang masuk islam sebelum musyawarah ahli Mekkah dar an-nadwah.
3. Mereka yang berhujrah yang ke Habsyah.
4. Mereka yang mengikuti Al-Aqobah al-ula.
5. Mereka yang mengikuti Al-Aqobah al-staniyah yang mayoritas kaum anshar.
6. Kaum muhajirin yang mula-mula bertemu dengan Nabi saw di Kuba sebelum Beliau memasuki Madinah.
7. Ahli badar
8. Mereka yang berhijrah di antara badar dan Al-Hudaibiyah
9. Para peserta bai’at Ar-ridwan di Hudaibiyah.
10. Mereka yang berhijrah antara hidaibiyah dan fath Mekkah, seperti: Kholid bin Walid al walid, Ibn al-Ash dan Abu Hurairah.
11. Orang-orang yang masuk Islam saat fath Mekkah.
12. Kalangan anak-anak yang menyaksikan Nabi saw saat fath Mekkah dan hajji wada’.
As suyuti dalam al-itqannya menyatakan tobaqot para mufassir ada sepuluh yaitu:
1. Abu bakar as shiddiq
2. Umar ibn Khattab
3. Ustman ibn Affan
4. Ali ibn Abi tholib
5. Ibn mas’ud
6. Ibn abbas
7. Ubay ibn Ka’ab
8. Zaid ibn Tsabit
9. Abu musa al asy’ari
10. Dan Abdullah ibn Zubair.

B. Berbagai sarana yang membantu sahabat dalam menafsirkan dan contoh-contohnya
Adapun sarana yang digunakan oleh para sahabat untuk menafsirkan Al-Qur’an yaitu dengan hadits Rasulullah (bil ma’tsur) dan dengan ijtihad
Contoh penafsiran dari sahabat yang ditafsirkan oleh Abdullah ibn Abbas
Abdullah ibn Abbas mempunyai kisah yang diriwayatkan oleh Imam bukhori dalam kitab shohihnya yang menunjukkan kehebatan ilmunya dan keunggulan dalam menyelami ke dasar rahasia-rahasia Al-Qur’an.
Imam bukhari meriwayatkan dari Said ibn Jubair dari ibn Abbas, dia berkata: “Umar ra memasukkanku bersama para tokoh badar. Seolah-olah sebagian mereka menganggap remeh, seraya berkata, “mengapa anak kecil ini diikutkan bersama kami, sesungguhnya kami punya anak-anak serupa dia? Lalu umar menjawab, “sesungguhnya dia anak yang akan kamu ketahui kecerdasan akan ilmunya, “ kemudian Umar mengundang mereka dan memasukkanku bersama mereka. Maka aku mengira Beliau mengundangku bersama mereka hanyalah untuk memperlihatkan kepada mereka. Beliau berkara,”apa pendapat kalian tentang firman Allah
     
Sebagian mereka menjawab, “kita diperintah untuk memuji dan memohon kepada Allah, ketika Dia telah menolong dan membukakan atas kita. “sebagian mereka diam, tidak berkata apa-apa. Lalu Umar berkata kepadaku, “apakah demikian juga pendapatmu, wahai ibn abbas? “maka aku menjawab, “tidak”. Dia berkata lagi, apa pendapatmu wahai ibn Abbas? Kujawab “itu adalah ajal Rasullah yang diperintahlan kepadanya. Firman Allah
     
Demikian itu adalah alamat ajalmu, hendaklah kamu memuji dan memohon ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Ia maha menerima taubat. Umar berkata: “demi Allah aku tidak mengetahui dari ayat tersebut selain apa yang kau katakan.”
C. Madrasah tafsir pada masa sahabat, ciri-cirinya serta karya-karya mereka
Dengan memperhatikan keterangan-leterangan yang telah lalu, nyatalah bahwa para sahabat mempunyai dua madrasah (aliran) dalam menafsiran Al-Qur’an yaitu:
1. Madrasah alhil atsar yaitu yang hanya menafsirkan Al-Qur’an atau dengan riwayat (madrasah ahlil tafsir bil ma’tsur) aliran tafsir yang berpegan teguh pada riwayat semata.
2. Madrasah ahlil ra’yi yaitu disamping menafsirkan Al-Qur’an dengan riwayat tetapi juga mempergunakan ijtihad (madrasah ahlil tafsir bil ma’qul).
Maka dari itu ciri-ciri tafsir sahabat secara umum tafsir dengan ayat sendiri atau dengan hadits atau dengan pendapat para sahabat
Secara umum para sahabat menafsirkan Al-Qur’an menurut penerangan riwayat semata, yakni menurut yang mereka terima. Menafsirkan Al-Qur’an dengan berpegan teguh pada kaidah-kaidah bahasa dan kekuatan ijtihad pada masa sahabat, belum umum dilakukan.

0 komentar:

Poskan Komentar