Sabtu, 15 Oktober 2011

Membangun Masyarakat yang Adil: Pandangan Said Nursi dalam Khotbah Damaskus

1. Apa “Khotbah Damaskus” itu?
Pada tahun 1911, Said Nursi mengunjungi kota Damaskus di Siria. Beliau diundang oleh tokoh-tokoh Islam disana untuk memberi khotbah Jum’at. Ia setuju dan katanya sepuluh ribu orang hadir shalat Jum’at itu. Sesudah khotbahnya, orang-orang Siria meminta teksnya dan langsung terbitkannya. Karena cepat dijual dan khabar khotbah itu beredar, teks “khotbah Damaskus” itu harus diterbit dua kali dalam minggu yang sama.
Memang, khotbah Damaskus yang asli diberikan dalam bahasa Arab dan diterbitkan di Istanbul di Turki pada tahun 1922. Pada tahun 1950, hampir 40 tahun sesudah khotbah diberikan di kota Damaskus, Said Nursi sendiri menterjemahkan khotbahnya kedalam bahasa turki supaya teksnya bisa dimasukkan kedalam Risale-i Nur. Tentu saja, banyak hal terjadi di dunia diantara tahun 1911 waktu Said Nursi memberikan khotbah di kota Damaskus dan 1950, waktu beliau memperbaharui teksnya. Misalnya, dua perang se-dunia telah terjadi dengan jutaan korban dan kehancuran kota-kota dan negara-negara, komunisme beredar dan memerintahkan daerah luas, sekulerisme juga berkembang di negara-negara barat. Maka kita tidak heran bahwa dalam teks Khotbah Damaskus ada juga referensi ke peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah tahun 1911.

2. Pentingnya keadilan bagi masyarakat dan negara
Waktu Said Nursi memberikan khotbahnya pada tahun 1911 di kota Damaskus, Siria masih dijajah oleh Prancis, maka orang-orang Arab yang tinggal di Siria pada zaman itu sedang mengalami berbagai macam ketidakadilan. Bukan saja sistem politik dan ekonomi di Siria terjajah itu yang tidak adil, tetapi juga banyak macam ketidakadilan terdapat dalam kehidupan sosial, kekeluargaan dan keagamaan. Menurut Said Nursi, suatu masyarakat yang kurang adil tidak bisa berhasil karena tidak akan didukung oleh Tuhan Allah, apalagi karena masyarakat yang kurang adil tidak mampu memperbolehkan perkembangan manusia yang sungguh. Kata Said Nursi, “Karena sivilisasi Barat tidak berdasar pada kebenaran dan keadilan, melainkan pada prinsip kepaksaan, pertentangan dan agresi, kejahatan-kejahatan peradaban itu akan mengatasi kebaikan-kebaikannya. Kalau manusia menganut Islam, ia akan mengerti bagaimana dalam peradaban Islam, berdasar pada kebenaran-kebenaran terwahyukan dalam Qur’an al-Karim dan syari’at Nabi Muhammad, nilai-nilai kemajuan menonjol dan manfaat-manfaat peradaban bisa dicapai (Prefasi Khotbah Damaskus, h. 14).
Menurut Said Nursi, hanya suatu masyarakat yang berdasar pada nilai-nilai agama akan bisa berhasil membawa kepada manusia kemakmuran. Kata Nursi, “Benarlah, hanya lewat kebenaran-kebenaran Islam masyarakat Islam akan berhasil dan makmur. Masyarakat Islam bisa berfungsi dengan syari’at Islam dan kebahagiaan dunia akan tercapai. Kalau tidak, keadilan akan hilang dan keamanan masyarakat akan digulingkan” (Khotbah Damaskus, h. 67).

3. Sifat-sifat masyarakat Islam.
Dalam khotbahnya, Said Nursi berusaha menggambarkan sifat-sifat yang harus menandakan sivilisasi Islam. Menurut Nursi, peradaban yang dituntut Nabi Muhammad berdasar “bukan pada keterpaksaan, melainkan pada kebenaran, keadilan, dan kerukunan”. Tujuannya adalah “kebaikan, cinta kasih dan daya tarik”. Ikatan kesatuannya adalah hubungan ramah dan saling menolong teman-teman se-agama dan negara, bukan sikap nasionalis yang membenci orang-orang beragama atau suku lain. Tanda nilai-nilai itu adalah persaudaraan, perdamaian, dan ketidakkerasan, kecuali kalau ada serangan dari luar. Dalam kehidupan sehari-hari harus ada saling pertolongan, persetujuan dan solidaritas. Akhirnya, peradaban Islam menawarkan bimbingan supaya kekayaan dibagi-bagikan antara masyarakat seluas mungkin, daripada menganjurkan kerakusan dan egoisme (Khotbah Damaskus, Benih-benih Kenyataan, h. 106.)
Tentu saja, dalam masyarakat yang bersifat Islam, harus juga suatu kesadaran bahwa setiap orang sama dihadapan Allah, yaitu sama dalam hak-hak, dalam pertanggung-jawabannya, dan dalam kewajiban mentaati kehendak Allah. Suatu masyarakat yang memberi hak istimewa dan kehormatan yang lebih tinggi kepada beberapa anggota dan mengabaikan orang-orang kecil kurang adil, ternyata tidak bersifat islami. Kata Said Nursi, “Keadilan tanpa kesamaan bukan keadilan (yang sungguh)” (Khotbah Damaskus, Benih-benih Kenyataan, h. 111).
Said Nursi tidak melihat pertentangan antara orang-orang Islam mengikuti syar’iat Islam dan undang-undang dasar yang nasional. Pada tahun 1911, banyak daerah bermayoritas Islam menuju ke kemerdekaan, dan ada dua pendapat yang beredar secara luas. Ada pendapat bahwa dalam negara moderen, semuanya harus diperintahkan menurut undang-undang dasar yang tidak berhubungan dengan agama. Dari lain pihak, ada yang mengatakan bahwa orang-orang Islam sudah mempunyai undang-undang dasar dalam syari’at Islam, dan bagi kaum muslimin menerima undang-undang dasar lainnya merupakan semacam syirk. Menurut Said Nursi, seharusnya tidak ada pertentangan antara konsep undang-undang dasar nasional dan pengaruh ajaran Islam pada UUD itu. Menurut Nursi, setiap undang-undang dasar berminat untuk tiga hal: keadilan, musyawarah, dan kekuatan yang harus dibatasi oleh alat-alat hukum. Dan syari’at Islam justru merupakan sumber tiga nilai itu (Khotbah Damaskus, Tambahan Pertama, Bagian Ketiga, h. 72). Untuk membuktikan pandangannya, Nursi memberi daftar sumbangan syari’at Islam ke konstitusionalisme dan undang-undang dasar di berbagai negara. Karena daftarnya panjang, saya memberi saja ringkasan disini:
Syari’at merupakan sumber keadilan yang mutlak,
Memberi dukungan yang kuat untuk UUD,
Melindungi hak-hak masyarakat dari pemerasan oleh para penguasa,
Menarikkan keperhatian dan kekaguman orang-orang di negara lain,
Membangun solidaritas dan ijma’ dalam tujuan yang satu,
Menghalangi kejahatan-kejahatan luar menulari masyarakat, dsb.
(Khotbah Damaskus, Tambahan Pertama, Bagian Ketiga, h. 73.)
Said Nursi juga mencatat keuntungan lainnya kalau syari’at Islam mempengaruhi undang-undang dasar suatu negara. Mungkinlah topik ini bisa jadi bahan yang menarik untuk tesis bagi seorang mahasiswa yang mempelajari Risale-i Nur.

1 komentar:

  1. informasi yang menarik..:) smoga di kehidupan kita semakin adil..! salam kenal..:)

    BalasHapus