Sabtu, 15 Oktober 2011 1 komentar

Membangun Masyarakat yang Adil: Pandangan Said Nursi dalam Khotbah Damaskus

1. Apa “Khotbah Damaskus” itu?
Pada tahun 1911, Said Nursi mengunjungi kota Damaskus di Siria. Beliau diundang oleh tokoh-tokoh Islam disana untuk memberi khotbah Jum’at. Ia setuju dan katanya sepuluh ribu orang hadir shalat Jum’at itu. Sesudah khotbahnya, orang-orang Siria meminta teksnya dan langsung terbitkannya. Karena cepat dijual dan khabar khotbah itu beredar, teks “khotbah Damaskus” itu harus diterbit dua kali dalam minggu yang sama.
Memang, khotbah Damaskus yang asli diberikan dalam bahasa Arab dan diterbitkan di Istanbul di Turki pada tahun 1922. Pada tahun 1950, hampir 40 tahun sesudah khotbah diberikan di kota Damaskus, Said Nursi sendiri menterjemahkan khotbahnya kedalam bahasa turki supaya teksnya bisa dimasukkan kedalam Risale-i Nur. Tentu saja, banyak hal terjadi di dunia diantara tahun 1911 waktu Said Nursi memberikan khotbah di kota Damaskus dan 1950, waktu beliau memperbaharui teksnya. Misalnya, dua perang se-dunia telah terjadi dengan jutaan korban dan kehancuran kota-kota dan negara-negara, komunisme beredar dan memerintahkan daerah luas, sekulerisme juga berkembang di negara-negara barat. Maka kita tidak heran bahwa dalam teks Khotbah Damaskus ada juga referensi ke peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah tahun 1911.

2. Pentingnya keadilan bagi masyarakat dan negara
Waktu Said Nursi memberikan khotbahnya pada tahun 1911 di kota Damaskus, Siria masih dijajah oleh Prancis, maka orang-orang Arab yang tinggal di Siria pada zaman itu sedang mengalami berbagai macam ketidakadilan. Bukan saja sistem politik dan ekonomi di Siria terjajah itu yang tidak adil, tetapi juga banyak macam ketidakadilan terdapat dalam kehidupan sosial, kekeluargaan dan keagamaan. Menurut Said Nursi, suatu masyarakat yang kurang adil tidak bisa berhasil karena tidak akan didukung oleh Tuhan Allah, apalagi karena masyarakat yang kurang adil tidak mampu memperbolehkan perkembangan manusia yang sungguh. Kata Said Nursi, “Karena sivilisasi Barat tidak berdasar pada kebenaran dan keadilan, melainkan pada prinsip kepaksaan, pertentangan dan agresi, kejahatan-kejahatan peradaban itu akan mengatasi kebaikan-kebaikannya. Kalau manusia menganut Islam, ia akan mengerti bagaimana dalam peradaban Islam, berdasar pada kebenaran-kebenaran terwahyukan dalam Qur’an al-Karim dan syari’at Nabi Muhammad, nilai-nilai kemajuan menonjol dan manfaat-manfaat peradaban bisa dicapai (Prefasi Khotbah Damaskus, h. 14).
Menurut Said Nursi, hanya suatu masyarakat yang berdasar pada nilai-nilai agama akan bisa berhasil membawa kepada manusia kemakmuran. Kata Nursi, “Benarlah, hanya lewat kebenaran-kebenaran Islam masyarakat Islam akan berhasil dan makmur. Masyarakat Islam bisa berfungsi dengan syari’at Islam dan kebahagiaan dunia akan tercapai. Kalau tidak, keadilan akan hilang dan keamanan masyarakat akan digulingkan” (Khotbah Damaskus, h. 67).

3. Sifat-sifat masyarakat Islam.
Dalam khotbahnya, Said Nursi berusaha menggambarkan sifat-sifat yang harus menandakan sivilisasi Islam. Menurut Nursi, peradaban yang dituntut Nabi Muhammad berdasar “bukan pada keterpaksaan, melainkan pada kebenaran, keadilan, dan kerukunan”. Tujuannya adalah “kebaikan, cinta kasih dan daya tarik”. Ikatan kesatuannya adalah hubungan ramah dan saling menolong teman-teman se-agama dan negara, bukan sikap nasionalis yang membenci orang-orang beragama atau suku lain. Tanda nilai-nilai itu adalah persaudaraan, perdamaian, dan ketidakkerasan, kecuali kalau ada serangan dari luar. Dalam kehidupan sehari-hari harus ada saling pertolongan, persetujuan dan solidaritas. Akhirnya, peradaban Islam menawarkan bimbingan supaya kekayaan dibagi-bagikan antara masyarakat seluas mungkin, daripada menganjurkan kerakusan dan egoisme (Khotbah Damaskus, Benih-benih Kenyataan, h. 106.)
Tentu saja, dalam masyarakat yang bersifat Islam, harus juga suatu kesadaran bahwa setiap orang sama dihadapan Allah, yaitu sama dalam hak-hak, dalam pertanggung-jawabannya, dan dalam kewajiban mentaati kehendak Allah. Suatu masyarakat yang memberi hak istimewa dan kehormatan yang lebih tinggi kepada beberapa anggota dan mengabaikan orang-orang kecil kurang adil, ternyata tidak bersifat islami. Kata Said Nursi, “Keadilan tanpa kesamaan bukan keadilan (yang sungguh)” (Khotbah Damaskus, Benih-benih Kenyataan, h. 111).
Said Nursi tidak melihat pertentangan antara orang-orang Islam mengikuti syar’iat Islam dan undang-undang dasar yang nasional. Pada tahun 1911, banyak daerah bermayoritas Islam menuju ke kemerdekaan, dan ada dua pendapat yang beredar secara luas. Ada pendapat bahwa dalam negara moderen, semuanya harus diperintahkan menurut undang-undang dasar yang tidak berhubungan dengan agama. Dari lain pihak, ada yang mengatakan bahwa orang-orang Islam sudah mempunyai undang-undang dasar dalam syari’at Islam, dan bagi kaum muslimin menerima undang-undang dasar lainnya merupakan semacam syirk. Menurut Said Nursi, seharusnya tidak ada pertentangan antara konsep undang-undang dasar nasional dan pengaruh ajaran Islam pada UUD itu. Menurut Nursi, setiap undang-undang dasar berminat untuk tiga hal: keadilan, musyawarah, dan kekuatan yang harus dibatasi oleh alat-alat hukum. Dan syari’at Islam justru merupakan sumber tiga nilai itu (Khotbah Damaskus, Tambahan Pertama, Bagian Ketiga, h. 72). Untuk membuktikan pandangannya, Nursi memberi daftar sumbangan syari’at Islam ke konstitusionalisme dan undang-undang dasar di berbagai negara. Karena daftarnya panjang, saya memberi saja ringkasan disini:
Syari’at merupakan sumber keadilan yang mutlak,
Memberi dukungan yang kuat untuk UUD,
Melindungi hak-hak masyarakat dari pemerasan oleh para penguasa,
Menarikkan keperhatian dan kekaguman orang-orang di negara lain,
Membangun solidaritas dan ijma’ dalam tujuan yang satu,
Menghalangi kejahatan-kejahatan luar menulari masyarakat, dsb.
(Khotbah Damaskus, Tambahan Pertama, Bagian Ketiga, h. 73.)
Said Nursi juga mencatat keuntungan lainnya kalau syari’at Islam mempengaruhi undang-undang dasar suatu negara. Mungkinlah topik ini bisa jadi bahan yang menarik untuk tesis bagi seorang mahasiswa yang mempelajari Risale-i Nur.
Senin, 10 Oktober 2011 0 komentar

TAFSIR SAHABAT

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian sahabat sebagai mufassir sepeninggal Rosul
Ahmad bin Hambal berkata: “Semua yang pernah bersahabat dengan Nabi saw. selama setahun, atau sebulan, atau sehari, atau sesaat, atau pernah melihatnya; maka ia adalah termasuk di antara para sahabat beliau. Dia tetap sahabat sebatas kadar persahabatannya dengan Nabi.” (Al Kifayah fi ma’rifati ushul ilmi ar-riwayah 1/192)
Ali bin Al Madini berkata: “Barangsiapa yang pernah menemani Nabi saw. atau melihatnya meskipun hanya sesaat dengan jelas, maka dia adalah termasuk di antara sahabat Nabi saw.” (Fath Al Bari Syarh Shahih Al Bukhari, 7/5)
Imam Bukhari berkata: “Barangsiapa di antara kaum muslimin yang pernah menemani Nabi saw. atau telah melihatnya, maka dia adalah termasuk sahabatnya.” (Shahih Al Bukhari/Kitab Al Manaqib, Bab Fadha’il Ash-hab An Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam)
Ibnu Hajar Al Haitami (w. 974h/1567M seorang ahli hadits terkenal ) mengatakan bahwa sahabat adalah orang yang pernah berjumpa dengan Nabi saw. Dan orang tersebut beriman kepadanya, hidup bersama beliau baik dalam waktu yang lama maupun sebentar baik orang tersebut meriwayatkan hadist atau tidak dari Nabi, atau orang yang pernah melihat beliau.
sahabat secara secara etomologis merupakan kata bentukan dari kata “ash-shuhbah” yang berarti persahabatan.
Sedangkan pengertian sahabat menurut ulama’ hadits adalah setiap muslim yang pernah melihat Rasulullah saw. Seperti Imam bukhori dalah shohihnya menyebutkan bahwa sahabat adalah kamu muslim yang pernah menyertai Nabi Muhammad saw atau pernah melihat Beliau atau sahabat Beliau.
Jadi esensi dari sahabat itu sendiri adalah seorang muslim yang hidup pada zaman Rasulullah dan melihat serta berjuang dengan beliau meskipun hanya sesaat.
Tafsir sahabat juga disebut dengan “tafsir ma’tsur”, yang mana tafsir ma’tsur termasuk tafsir yang bisa diterima sebagai pegangan, karena parea sahabat telah berkumpul dengan Rasullah saw dan mereka telah meminum air pertolongan yang bersih, mereka menyaksikan turunnya wahyu al-qur’an dan mereka juga tau tentang asbabu nnuzul. Mereka mempunya kesucian jiwa, keselamatan fitrah dan keunggulan dalam hal memahami secara benar dan selamat terhadap kalam Allah swt. Bahkan menjadikan mereka mampu menemukan rahasia-rahasia Al-Qur’an lebih banyak dibanding siapapun orangnya.
Klarifikasi sahabat
Abu Husain bin al Hajjaj al Qusyairi an-Naisabur atau yang kita kenal dengan Imam Muslim (Naisabur, 202 H/817 M - 261H/ 875M) seorang ahli hadist terkenal mengklasifikasikan sahabat Rasulullah menjadi dua belas tingkatan berdasarkan peristiwa yang mereka alami atau saksikan, yaitu:
1. Assabiqunal awwalun
2. Darun nawah ( kedung pertemuan bagi orang-orang Quraisy pada masa sebelum dan awal Islam)
3. Para sahabat yang ikut hijrah ke Habasiyah
4. Para sahabat yang membaiat Nabi pada aqabah pertama
5. Para sahabat yang membaiat Nabi pada aqobah kedua
6. Muhajirin yang pertama menemui nabi ketika Beliau tiba di Quba sebelum memasuki kota Madinah pada waktu hijrah
7. Sahabat yang ikut dalam perang badar
8. Sahabat yang berhijrah antara badar dan Hudaibiyah
9. Sahabat yang tergabung dalam bai’at Ridwan (bai’at yang dilakukan kaum muslimin ketika ghaswah/perjanjian Hubaidiyah)
10. Sahabat yang ikut hijrah antara Al Hudaibiyyah dan Al Fatah
11. Berdasarkan urutan masuk Islam
12. Para remaja dan anak-anak yang sempat melihat Rasulullah.

Stratifikasi sahabat
Al-hakim mengemukakan bahwa stratifikasi sahabat terbagi menjadi 12 yaitu:
1. Mereka yang mula-mula masuk islam seperti keempat kholifah
2. Mereka yang masuk islam sebelum musyawarah ahli Mekkah dar an-nadwah.
3. Mereka yang berhujrah yang ke Habsyah.
4. Mereka yang mengikuti Al-Aqobah al-ula.
5. Mereka yang mengikuti Al-Aqobah al-staniyah yang mayoritas kaum anshar.
6. Kaum muhajirin yang mula-mula bertemu dengan Nabi saw di Kuba sebelum Beliau memasuki Madinah.
7. Ahli badar
8. Mereka yang berhijrah di antara badar dan Al-Hudaibiyah
9. Para peserta bai’at Ar-ridwan di Hudaibiyah.
10. Mereka yang berhijrah antara hidaibiyah dan fath Mekkah, seperti: Kholid bin Walid al walid, Ibn al-Ash dan Abu Hurairah.
11. Orang-orang yang masuk Islam saat fath Mekkah.
12. Kalangan anak-anak yang menyaksikan Nabi saw saat fath Mekkah dan hajji wada’.
As suyuti dalam al-itqannya menyatakan tobaqot para mufassir ada sepuluh yaitu:
1. Abu bakar as shiddiq
2. Umar ibn Khattab
3. Ustman ibn Affan
4. Ali ibn Abi tholib
5. Ibn mas’ud
6. Ibn abbas
7. Ubay ibn Ka’ab
8. Zaid ibn Tsabit
9. Abu musa al asy’ari
10. Dan Abdullah ibn Zubair.

B. Berbagai sarana yang membantu sahabat dalam menafsirkan dan contoh-contohnya
Adapun sarana yang digunakan oleh para sahabat untuk menafsirkan Al-Qur’an yaitu dengan hadits Rasulullah (bil ma’tsur) dan dengan ijtihad
Contoh penafsiran dari sahabat yang ditafsirkan oleh Abdullah ibn Abbas
Abdullah ibn Abbas mempunyai kisah yang diriwayatkan oleh Imam bukhori dalam kitab shohihnya yang menunjukkan kehebatan ilmunya dan keunggulan dalam menyelami ke dasar rahasia-rahasia Al-Qur’an.
Imam bukhari meriwayatkan dari Said ibn Jubair dari ibn Abbas, dia berkata: “Umar ra memasukkanku bersama para tokoh badar. Seolah-olah sebagian mereka menganggap remeh, seraya berkata, “mengapa anak kecil ini diikutkan bersama kami, sesungguhnya kami punya anak-anak serupa dia? Lalu umar menjawab, “sesungguhnya dia anak yang akan kamu ketahui kecerdasan akan ilmunya, “ kemudian Umar mengundang mereka dan memasukkanku bersama mereka. Maka aku mengira Beliau mengundangku bersama mereka hanyalah untuk memperlihatkan kepada mereka. Beliau berkara,”apa pendapat kalian tentang firman Allah
     
Sebagian mereka menjawab, “kita diperintah untuk memuji dan memohon kepada Allah, ketika Dia telah menolong dan membukakan atas kita. “sebagian mereka diam, tidak berkata apa-apa. Lalu Umar berkata kepadaku, “apakah demikian juga pendapatmu, wahai ibn abbas? “maka aku menjawab, “tidak”. Dia berkata lagi, apa pendapatmu wahai ibn Abbas? Kujawab “itu adalah ajal Rasullah yang diperintahlan kepadanya. Firman Allah
     
Demikian itu adalah alamat ajalmu, hendaklah kamu memuji dan memohon ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Ia maha menerima taubat. Umar berkata: “demi Allah aku tidak mengetahui dari ayat tersebut selain apa yang kau katakan.”
C. Madrasah tafsir pada masa sahabat, ciri-cirinya serta karya-karya mereka
Dengan memperhatikan keterangan-leterangan yang telah lalu, nyatalah bahwa para sahabat mempunyai dua madrasah (aliran) dalam menafsiran Al-Qur’an yaitu:
1. Madrasah alhil atsar yaitu yang hanya menafsirkan Al-Qur’an atau dengan riwayat (madrasah ahlil tafsir bil ma’tsur) aliran tafsir yang berpegan teguh pada riwayat semata.
2. Madrasah ahlil ra’yi yaitu disamping menafsirkan Al-Qur’an dengan riwayat tetapi juga mempergunakan ijtihad (madrasah ahlil tafsir bil ma’qul).
Maka dari itu ciri-ciri tafsir sahabat secara umum tafsir dengan ayat sendiri atau dengan hadits atau dengan pendapat para sahabat
Secara umum para sahabat menafsirkan Al-Qur’an menurut penerangan riwayat semata, yakni menurut yang mereka terima. Menafsirkan Al-Qur’an dengan berpegan teguh pada kaidah-kaidah bahasa dan kekuatan ijtihad pada masa sahabat, belum umum dilakukan.
0 komentar

FILSAFAT PLATO

PEMBAHASAN
A. Latar belakang kehidupan Plato
Plato adalah seorang filsuf yang sangat berpengaruh di Yunani. Dia adalah murid Socrates yang sangat cerdas sekali. Kelahirannya belum diketahui dengan pasti oleh orang-orang, ada yang mengatakan dia lahir di Athena ada juga yang mengatakan dia lahir di pulau Aegina. Demikian juga dengan tahun kelahirannya ada yang mengatakan dia lahir pada tahun 427 SM. Plato berasal dari keluarga Aristokrat Athena, dimana keluarga tersebut turun temurun yang sangat berperan sekali dalam politk Athena.
Namanya bermula ialah Aristokles. Plato namanya kemuniasiaan yang diberikan oleh gurunya bermain senam ia memperoleh nama tersebut disebabkan bahunya yang lebar.
Plato belajar kepada Sokrates sejak umur 20 tahun, dengan metode soal jawab gurunya (Sokrates), dia sangat puas sekali belajar kepadanya, hingga semakin hari semakin mendalam ilmuanya. Ia menjadi murid Socrates yang sangat setia sampai pada akhir hidupnya Sokrates tetap menjadi pujangganya.
Pada umur 40 tahun Plato pergi ke Italia dan Cicilia, untuk belajar ajaran Pythagoras, di sana Plato tinggal di istana milik seoarang raja yang bernama Dionysios, dan di situ pula Plato kenal dengan ipar sang raja tersebut yang sangat muda yang bernama Dion hingga dia menjadi sahabat karibnya. Lambat laun Plato dan ipar sang raja tersebut (Dion) ingin memengaruhi sang raja agar sang raja melaksanakan teori Plato tentang pemerintahan yang baik dalam praktik. Akan tetapi ajaran Plato yang sangat menitik beratkan kepada moral dalam segala perbuatan, lambat laun menjemukan sang raja Dionysios, hingga akhirnya Plato ditangkap dan dijual sebagai budak. Akan tetappi di tengah pasar budak nasib baik menghampirinya, dia bertemu dengan bekas muridnya yang bernama Annikeris dan ditebusnya. Kemudian kejadian itu diketahui oleh sahabat-sahabatnya, dan mereka (sahabat Plato) mengumpulkan uang untuk menebus Plato kepada Annikeris yang telah menebusnya. Akan tetapi Annikeris tidak mau. Karena Annikeris tiadak mau menerima tebusan dari sahabat-sahabat Plato, akhirnya uang mereka dipergunakan untuk membeli sebidang tanah dan diberikan kepada Plato untuk dijadikan sekolah tempat ia mengajarkan filosofinya. Tempat itu diberi nama “AKADEMIA”. Di situlah plato mengajarkan filosofinya dari usia 40 tahun, pada tahun 387 SM sampai ia meninggal dalam usia 80 tahun.
B. Sumber pemikiran filsafat Plato
Guru filsafat yang amat dikagumi, dihormati, dan dicintai Plato ialah Sokrates. Bagi Plato, Sokrates adalah guru sekaligus sahabat. Karena itu, tak heran jika hampir seluruh karya filsafat Plato menggunakan” metode sokratik”, yaitu metode yang dikembangkan oleh Sokrates, yang dikenal dengan nama dialektis, “elenkhus”. Metode tersebut terwujud dalam suatu bentuk”tanya jawab”.
Plato dipengaruhi filsuf sebelumnya yang dikenal dengan filsuf pra-Sokrates. Sebelum Sokrates, Plato telah belajar filsafat dari Kratilos. Kratilos adalah murid dari Heraklitos, si gelap (ho skoteinas), yang meraih gelar demikian itu karena pemikiran filsafatnya yang sulit dipahami. Selain itu Plato juga dipengaruhi oleh ajaran para sophis, walaupun lebih banyak secara negatif, yakni merupakan kecaman terhadap para sophis itu.

C. Pemikiran filsafat Plato
Sebagaimana Sokrates, ia menggunakan metode dialog untuk mengantarkan falsafatnya. Namun, kebenaran umum (definisi) menurutnya bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif sebagaimana metode yang digunakan Sokrates. Pengertian umum (definisi) menurut Plato sudah tersedia di alam idea.
Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan daria dunia idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan merupakan tiruan dari yang asli, yaitu idea. Oleh karena itu, dunia pengalman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman. Barang-barang yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea.
Keadaan idea bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang tertinggi adalah idea kebaikan, di bawahnya idea jiwa dunia, yang menggerakkan dunia. Berikutnya dunia keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan, politik.
plato dinobatkan sebagai pemikir idealisme karena seluruh filsafatnya bertumpu pada dunia ide. Plato percaya bahwa ide adalah realita yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat dikenal oleh panca indera. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau keberadaan ada yang sesungguhnya, maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan atau gambaran yang berada hampir di dalam pemikiran manuisa.
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea.
Menurut Plato esensi itu mempunyai realitas di alam idea itu sendiri, ini memperkuat pendapat gurunya Socrates. Lewat karangan mitosnya di dalam dialog “Politeia” menjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera. Kebanyakan orang menjadi terbelenggu dan menerima pengalaman spontan begitu saja. Namun ada beberapa orang memperkirakan bahwa realitas inderawi hanyalah bayangan; mereka adalah filosof. Untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya manusia harus mampu melepaskan diri dari pengaruh indera yang menyesatkan, bahkan filosof pun tidak akan dipercayai orang.
Contoh. Melalui akal budi, ide pohon itu dapat dipahami, sedang melakukan kesaksian indera, terdapat bermacam-macam jenis dan bentuk pohon. Di dunia ide, hanya dikenal ide tentang pohon (satu dan tetap), tetapi di dunia realitas terdapat perbedaan, perubahan dan perkembangan bermacam-macam jenis pohon. Demikian juga dengan manusia. Dalm dunia jasmani, dikenla bermacam-macam jenis manusia, tetapi di dunia ide hanya ada satu, yaitu ide tentang manusia. Manusia sebagai makhluk jasmani, pasti akan mati, dan karena itu musnah. Tetapi di dalm ide manusia akan tetap abadi.
D. Karya-karya Plato
Plato mulai mengarang buku dimulai sekitar tahun 380 SM, berlangsung sampai pada ajalnya. Seluruh tulisan Plato yang dipublikasikan tersimpan, disampinh sebagian dari tulisan-tulisan lainnya tentang dia yang tidak sepenuhnya benar. Adapun tentang apa saja yang dia ucapkan dalam kuliah-kuliahnya, tidak ada yang tersimpan.
Tulisan-tulisan Plato dapat dibagi kedalam tiga kelompok. Pertama, tulisan-tulisan di waktu mudanya. Di antaranya yang penting adalah: protagoras, suatu pembelaan terhadap tesis, bahwa kebaikan adalah pengetahuan dan dapat dipikirkan; apologi, pleidio pembelaan Sokrates terhadap tuduhan Atheisme dan kerusakan moral orang-orang muda Athena; eutifro, masalah sifat kesucian, dan buku pertama tentang negara negara atau republik, sebuah diskusi tentang keadilan.
Kedua, tulisan-tulisan sesudah setengah tua. Pada saat itu termasuk gorgias, persoalan mengenai masalah etika; meno, diskusi tentang sifat pengetahuan; faedo, panorama kematian Sokrates, diskusinya tentang teori mengenai masalah bentuk, sifat, nyawa, dan masalah ketidak matian; simposium, berisi berbagai uraian plato tentang keindahan dan tentang cinta, serta politeia, vukunya kedua sampai dengan kesepuluh, tentang negara.
Ketiga, pada hari tua, antara lain teaitetus, suatu penolakan bahwa pengetahuan itu identis dengan cita rasa; parmeneides, penilaian kritis tentang bentuk; kaum sofis, kelanjutan diskusi mengenai teori tentang ide atau bentuk; timaius, pendapat Plato tentang ilmu pengetahuan alam dan tengtang kosmologi, dan nomoi, hukum yang berisi analisis praktis tentang masalah-masalah politik dan sosial.
Sedangkan menurut Mohammad Hatta dalambukunya “alam pikiran Yunani” karya-karya plato ditempatkan pada empat masa yaitu:
Pertama, karangan-karangan yang ditulisnya dalam masa mudanya yaitu waktu sokrates masih hidup sampai tak lama sesudah ia meninggal. Buku-bukunya yang diduga dalam masa itu ialah: apologie, kriton, ion, protagoras, laches, politeia buku I, lysis, charmides dan euthyphron.
Kedua, buah tangan yang ditulisnya dalam masa yang terkenal sebagai”masa peralihan”. Masa itu disebut juga masa megar, yaitu waktu plato tinggal sementara disitu. Dialog-dialog yang diduga ditulisnya dalam masa itu ialah Gorgias. Kratylos, menon, hippiasa dan beberapa lainnya.
Ketiga, buah tangan yang disiapkannya di masa matangnya. Tulisannya yang terkenal dari waktu itu dan kesohor sepanjang masa ialah phaidros, symposion, phaidon, dan politeia buku II-X.
Keempat, buah tangan yang ditulis pada hari tuanya. Dialog-dialog yang dikarangnya di masa itu sering disebut theaitetos, parmenides, sophistos, politikos, philibos, timaios, kritias, dan nomoi.
 
;