Minggu, 26 Juni 2011

KAJIAN ORIENTALIS TERHADAP KANDUNGAN AL-QUR’AN

A. PENDAHULUAN
Semantik al-Qur’an yang merupakan bagian utama kajian ini hampir secara ekslusif berhubungan dengan masalah hubungan personal antara Tuhan dan manusia menurut cara pandang Qur’ani dan masalah-masalah topik khusus tersebut. Dua penekanan khusus yang memberikan karakteristik kajian ini secara keseluruhan sejak awal yaitu: semantic di satu pihak dan al-Qur’an dipihak yang lain.
Keduanya sama-sama penting, bila salah satunya diabaikan maka akan dengan serta merta kehilangan siginifikansinya. Signifikansinya bukan secara terpisah, tetapi justru kombinasi keduanya. Kombinasi ini membawa kita mendekati aspek khusus al-Qur’an tidak dari cara pandang khusus. Dan mesti diingat bahwa al-Qur’an bias di dekati dengan sejumlah cara pandang yang beragam seperti teologi, psikologi, sosiologi, tata bahasa, tafsir dan lain sebagainya. Dan (dengan cara itu) al-Qur’an menunjukkan sejumlah perbedaan, tetapi merupakan aspek yang sama-sama pentingnya. Jadi, penting bagi kita untuk memahami secara jelas relevansi metodelogi semantik untuk kajian al-Qur’an dan melihat apakah metodelogi ini benar-benar membantu dalam mendekati kitab suci al-Qur’an.

B. PEMBAHASAN
1. Semantik al-Qur’an
Sangat sulit bagi seorang di luar (disiplin linguistik) untuk mendapat gambaran secara umum seperti apa semantik itu. Hal ini dikarenakan bahwa semantik, sebagaimana ditegaskan pengertian etimologisnya, merupakan ilmu yang berhubungan dengan fenomena makna dalam pengertian yang lebih luas dari kata, begitu luas sehingga hampir apa saja yang dianggap memiliki makna merupakan objek semantik.
Yang dimaksudkan semantik di sini adalah kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual Weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu, tidak hanya sebagai alat bicara dan berpikir tetapi yang lebih penting lagi pengkonsepan dan penafsiran dunia yang melingkupinya. Semantik dalam pengertian itu adalah semacam Weltanschauungs-lehre, kajian tentang sifat dan struktur pandangan dunia sebuah bangsa saat sekarang atau pada periode sejarahnya yang signifikan, dengan menggunakan alat analisis metodelogis terhadap konsep-konsep pokok yang telah dihasilkan untuk dirinya sendiri dan telah mengkristal ke dalam kata-kata kunci bahasa itu.

2. Keterpaduan Konsep-Konsep Individual
Sepintas lalu tugas itu tampak begitu mudah. Kita mungkin menggap semua yang harus kita lakukan akan membuka seluruh kosa kata al-Qur’an, semua kata-kata penting yang mewakili konsep penting seperti Allah, Isalam, Nabiy, Iman, Kafir dan lain sebagainya dan menelaah apa makana semua kata-kata itu dalam konteks al-Qur’an. Bagaimanapun, kenyataannya tidaklah begitu mudah. Kata-kata atau konsep-konsep dalam al-Qur’an itu tidak sederhana. Kedudukannya masing-masing saling terpisah, tetapi sangat saling bergantung dan menghasilkan makna kongkrit justru dari seluruh system hubungan itu. Dan apa yang sungguh-sungguh penting bagi tujuan khusus kita adalah jenis sistem konseptual yang berfungsi dalam al-Qur’an, bukan konsep-konsep yang terpisah secara individual dan dipertimbangkan terlepas dari struktur umum atau Gestalt, ke dalam mana konsep-konsep tersebut diintegrasikan. Dalam menganalisis konsep-konsep kunci individual yang ditemukan dalam al-Qur’an kita tidak boleh kehilangan wawasan hubungan ganda yang saling memberi muatan dalam keseluruhan sistem.

3. Makna “Dasar” dan makna “Rasional”
Pada tahap ini dijelaskan perbedaan teknis antara makna “dasar” dan makna “rasional”, sebagai sebuah konsep metodologi semantik yang utama. Jika sekarang kita mengambil al-Qur’an dan menelaah istilah-istilah kunci di dalamnya dari sudut pandang kita, maka kita akan menemukan dua hal, yang satu begitu nyata dan biasa untuk dijelaskan, dan yang lainnya mungkin tidak begitu jelas. Sisi nyata persoalan tersebut adalah bahwa masing-masing kata individual, diambil secara terpisah, memiliki makna dasar atau kandungan kontekstualnya sendiri yang akan tetap melekat pada kata itu meskipun kata itu diambil di luar konteks al-Qur’annya. Kata kitab, misalnya makna dasarnya baik yang ditemukan dalam al-Qur’an maupun di luar al-Qur’an sama. Kata ini sepanjang dirasakan secara aktual oleh masyarakat penuturnya menjadi satu kata, mempertahankan makna fundamentalnya dalam hal ini, makna yang sangat umum dan tidak spesifik yaitu “kitab”. Kandungan unsur semantik ini tetap ada pada kata itu di manapun ia diletakkan dan bagaimanapun ia digunakan, inilah yang di sebut dengan makna kata “dasar” itu.
Dalam konteks al-Qur’an, kata kitab menerima makna yang luar biasa pentingnya sebagai isyarat konsep religious yang sangat khusus yang dilingkupi oleh cahaya kesucian. Ini dilihat dari kenyataan bahwa dalam konteks ini kata itu berdiri dalam hubungan yang sangat dekat dengan wahyu Ilahi, atau konsep-konsep yang cukup beragam yang merujuk langsung pada wahyu. Ini berarti bahwa kata sederhana kitab dengan makna dasar sederhana “kitab”, ketika diperkenalkan ke dalam sistem khusus dan diberikan posisi tertentu yang jelas, memerlukan banyak unsur semantik baru yang muncul dari situasi khusus ini, dan juga muncul dari hubungan yang beragam yang dibuat untuk menunjang konsep-konsep pokok lain dari sistem tersebut. Dengan demikian kata kitab, begitu diperkenalkan ke dalam sistem konseptual Islam, ditempatkan dalam hubungan erat dengan kata-kata penting al-Qur’an seperti, Allah, Wahyu “wahyu”, Tanzil “menurunkan” (firman Tuhan), Naby “nabi”, Ahl “masyarakat” (dalam kombinasi khusus ahl al-kitab “masyarakat berkitab” yang berarti masyarakat yang memiliki Kitab Wahyu Kristen dan Yahudi, dan sebagainya).
Oleh karenanya, kata itu dalam konteks karakteristik al-Qur’an harus dipahami dari segi semua istilah yang terkait, dan keterkaitan ini sendiri memberikan kata kitab warna semantik yang sangat khusus, sangat kompleks dan struktur makna khusus yang tidak akan pernah diperoleh jika kata itu tetap berada di luar sistem ini. Harus dicatat bahwa hal itu juga bagian dari makna kata kitab sepanjang digunakan dalam konteks al-Qur’an. Bagian maknanya yang sangat penting dan essensial yang sebenarnya jauh lebih penting dibandingkan makna dasarnya sendiri. Inilah yang di sebut sebagai makna “relasional”, kata ini digunakan untuk membedakan dengan makna dasar.
Jadi makna dasar kata adalah sesuatu yang melekat pada kata itu sendiri, yang selalu terbawa di manapun kata itu diletakkan. Sedangkan makna relasional adalah sesuatu yang konotatif yang diberikan dan ditambahkan pada makna yang sudah ada dengan meletakkan kata itu pada posisi khusus dalam bidang khusus berada pada relasi yang berbeda dengan semua kata-kata penting lainnya dalam sistem tersebut.

4. Kosa kata dan Weltanschauung
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan perbedaan metodelogis antara dua hal yang berbeda, meskipun terkait erat semacam makna kata yang untuk sementara ini masing-masing kita sebut dengan makna “dasar” dan makna “relasional”.
Analisis semantik bukanlah analisis sederhana mengenai struktur bentuk kata maupun studi makna asli yang melekat pada bentuk kata itu atau analisis etimologi. Etimologi hanya dapat memberikan petunjuk bagi kita untuk mencapai makna dasar kata. Analisis semantik dalam konsepsi kita, bermaksud mencapai lebih dari itu. Analisis unsur-unsur dasar dan relasional terhadap istilah kunci harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa sehingga jika kita benar-benar berhasil melakukannya, kombinasi dua aspek makna kata akan memperjelas aspek khusus. Dan pada akhirnya, jika kita mencapai tahap akhir, semua analisis akan membantu kita merekonstruksi pada tingkat analitik strukrur keseluruhan sebagai konsepsi masyarakat yang sungguh-sungguh ada – atau mengkin ada. Inilah apa yang disebut dengan “Weltanschauung semantik” budaya.
Kata-kata dalam bentuk bahasa adalah suatu sistem jaringan yang rapat. Pola utama system tersebut ditentukan oleh sejumlah kata-kata penting tertentu. Perlu dicatat di sini bahwa tidak semua kata-kata dalam suatu kosa kata sama nilainya dalam pembentukan struktur dasar konsepsi ontologis yang didasari kosa kata tersebut, meskipun kata-kata itu mungkin tampak penting dari sudut pandang lain.
Kata-kata yang memainkan peranan yang sangat menentukan dalam penyususnan struktur konseptual dasar pandangan dunia al-Qur’an disebut dengan “istilah-istilah kunci” al-Qur’an. Allah, Islam, Iman “keyakinan”, kafir “ingkar”, Nabiy “Nabi”, Rasul “utusan (Tuhan)” adalah sejumlah contoh lainnya.
Istilah-istilah kunci tersebut di tengah-tengah istilah-istilah kunci itu sendiri merupakan pola umum kosa kata yang mewakili kata-kata yang menjadi anggotanya. Dan kata-kata itu dalam kedudukannya memiliki hubungan rangkap dan beragam antara satu dan yang lainnya. Dengan demikian, kita tahu bahwa kosa kata dalam pengetian ini bukanlah semata-mata jumlah total kata-kata; bukan pula semata-mata kumpulan acak sejumlah besar kata-kata yang dikumpulkan tanpa aturan dan prinsip, yang masing-masing tetap berdiri sendiri tanpa hubungan esensial dengan kata-kata lainnya.
Kosa kata sebagai jumlah total semua bidang semantic kemudian akan terlihat sebagai kerangka kerja yang sangat luas dari hubungan-hubungan rangkap yang terbentang diantara kata-kata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar