Minggu, 26 Juni 2011 0 komentar

KAJIAN ORIENTALIS TERHADAP KANDUNGAN AL-QUR’AN

A. PENDAHULUAN
Semantik al-Qur’an yang merupakan bagian utama kajian ini hampir secara ekslusif berhubungan dengan masalah hubungan personal antara Tuhan dan manusia menurut cara pandang Qur’ani dan masalah-masalah topik khusus tersebut. Dua penekanan khusus yang memberikan karakteristik kajian ini secara keseluruhan sejak awal yaitu: semantic di satu pihak dan al-Qur’an dipihak yang lain.
Keduanya sama-sama penting, bila salah satunya diabaikan maka akan dengan serta merta kehilangan siginifikansinya. Signifikansinya bukan secara terpisah, tetapi justru kombinasi keduanya. Kombinasi ini membawa kita mendekati aspek khusus al-Qur’an tidak dari cara pandang khusus. Dan mesti diingat bahwa al-Qur’an bias di dekati dengan sejumlah cara pandang yang beragam seperti teologi, psikologi, sosiologi, tata bahasa, tafsir dan lain sebagainya. Dan (dengan cara itu) al-Qur’an menunjukkan sejumlah perbedaan, tetapi merupakan aspek yang sama-sama pentingnya. Jadi, penting bagi kita untuk memahami secara jelas relevansi metodelogi semantik untuk kajian al-Qur’an dan melihat apakah metodelogi ini benar-benar membantu dalam mendekati kitab suci al-Qur’an.

B. PEMBAHASAN
1. Semantik al-Qur’an
Sangat sulit bagi seorang di luar (disiplin linguistik) untuk mendapat gambaran secara umum seperti apa semantik itu. Hal ini dikarenakan bahwa semantik, sebagaimana ditegaskan pengertian etimologisnya, merupakan ilmu yang berhubungan dengan fenomena makna dalam pengertian yang lebih luas dari kata, begitu luas sehingga hampir apa saja yang dianggap memiliki makna merupakan objek semantik.
Yang dimaksudkan semantik di sini adalah kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual Weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu, tidak hanya sebagai alat bicara dan berpikir tetapi yang lebih penting lagi pengkonsepan dan penafsiran dunia yang melingkupinya. Semantik dalam pengertian itu adalah semacam Weltanschauungs-lehre, kajian tentang sifat dan struktur pandangan dunia sebuah bangsa saat sekarang atau pada periode sejarahnya yang signifikan, dengan menggunakan alat analisis metodelogis terhadap konsep-konsep pokok yang telah dihasilkan untuk dirinya sendiri dan telah mengkristal ke dalam kata-kata kunci bahasa itu.

2. Keterpaduan Konsep-Konsep Individual
Sepintas lalu tugas itu tampak begitu mudah. Kita mungkin menggap semua yang harus kita lakukan akan membuka seluruh kosa kata al-Qur’an, semua kata-kata penting yang mewakili konsep penting seperti Allah, Isalam, Nabiy, Iman, Kafir dan lain sebagainya dan menelaah apa makana semua kata-kata itu dalam konteks al-Qur’an. Bagaimanapun, kenyataannya tidaklah begitu mudah. Kata-kata atau konsep-konsep dalam al-Qur’an itu tidak sederhana. Kedudukannya masing-masing saling terpisah, tetapi sangat saling bergantung dan menghasilkan makna kongkrit justru dari seluruh system hubungan itu. Dan apa yang sungguh-sungguh penting bagi tujuan khusus kita adalah jenis sistem konseptual yang berfungsi dalam al-Qur’an, bukan konsep-konsep yang terpisah secara individual dan dipertimbangkan terlepas dari struktur umum atau Gestalt, ke dalam mana konsep-konsep tersebut diintegrasikan. Dalam menganalisis konsep-konsep kunci individual yang ditemukan dalam al-Qur’an kita tidak boleh kehilangan wawasan hubungan ganda yang saling memberi muatan dalam keseluruhan sistem.

3. Makna “Dasar” dan makna “Rasional”
Pada tahap ini dijelaskan perbedaan teknis antara makna “dasar” dan makna “rasional”, sebagai sebuah konsep metodologi semantik yang utama. Jika sekarang kita mengambil al-Qur’an dan menelaah istilah-istilah kunci di dalamnya dari sudut pandang kita, maka kita akan menemukan dua hal, yang satu begitu nyata dan biasa untuk dijelaskan, dan yang lainnya mungkin tidak begitu jelas. Sisi nyata persoalan tersebut adalah bahwa masing-masing kata individual, diambil secara terpisah, memiliki makna dasar atau kandungan kontekstualnya sendiri yang akan tetap melekat pada kata itu meskipun kata itu diambil di luar konteks al-Qur’annya. Kata kitab, misalnya makna dasarnya baik yang ditemukan dalam al-Qur’an maupun di luar al-Qur’an sama. Kata ini sepanjang dirasakan secara aktual oleh masyarakat penuturnya menjadi satu kata, mempertahankan makna fundamentalnya dalam hal ini, makna yang sangat umum dan tidak spesifik yaitu “kitab”. Kandungan unsur semantik ini tetap ada pada kata itu di manapun ia diletakkan dan bagaimanapun ia digunakan, inilah yang di sebut dengan makna kata “dasar” itu.
Dalam konteks al-Qur’an, kata kitab menerima makna yang luar biasa pentingnya sebagai isyarat konsep religious yang sangat khusus yang dilingkupi oleh cahaya kesucian. Ini dilihat dari kenyataan bahwa dalam konteks ini kata itu berdiri dalam hubungan yang sangat dekat dengan wahyu Ilahi, atau konsep-konsep yang cukup beragam yang merujuk langsung pada wahyu. Ini berarti bahwa kata sederhana kitab dengan makna dasar sederhana “kitab”, ketika diperkenalkan ke dalam sistem khusus dan diberikan posisi tertentu yang jelas, memerlukan banyak unsur semantik baru yang muncul dari situasi khusus ini, dan juga muncul dari hubungan yang beragam yang dibuat untuk menunjang konsep-konsep pokok lain dari sistem tersebut. Dengan demikian kata kitab, begitu diperkenalkan ke dalam sistem konseptual Islam, ditempatkan dalam hubungan erat dengan kata-kata penting al-Qur’an seperti, Allah, Wahyu “wahyu”, Tanzil “menurunkan” (firman Tuhan), Naby “nabi”, Ahl “masyarakat” (dalam kombinasi khusus ahl al-kitab “masyarakat berkitab” yang berarti masyarakat yang memiliki Kitab Wahyu Kristen dan Yahudi, dan sebagainya).
Oleh karenanya, kata itu dalam konteks karakteristik al-Qur’an harus dipahami dari segi semua istilah yang terkait, dan keterkaitan ini sendiri memberikan kata kitab warna semantik yang sangat khusus, sangat kompleks dan struktur makna khusus yang tidak akan pernah diperoleh jika kata itu tetap berada di luar sistem ini. Harus dicatat bahwa hal itu juga bagian dari makna kata kitab sepanjang digunakan dalam konteks al-Qur’an. Bagian maknanya yang sangat penting dan essensial yang sebenarnya jauh lebih penting dibandingkan makna dasarnya sendiri. Inilah yang di sebut sebagai makna “relasional”, kata ini digunakan untuk membedakan dengan makna dasar.
Jadi makna dasar kata adalah sesuatu yang melekat pada kata itu sendiri, yang selalu terbawa di manapun kata itu diletakkan. Sedangkan makna relasional adalah sesuatu yang konotatif yang diberikan dan ditambahkan pada makna yang sudah ada dengan meletakkan kata itu pada posisi khusus dalam bidang khusus berada pada relasi yang berbeda dengan semua kata-kata penting lainnya dalam sistem tersebut.

4. Kosa kata dan Weltanschauung
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan perbedaan metodelogis antara dua hal yang berbeda, meskipun terkait erat semacam makna kata yang untuk sementara ini masing-masing kita sebut dengan makna “dasar” dan makna “relasional”.
Analisis semantik bukanlah analisis sederhana mengenai struktur bentuk kata maupun studi makna asli yang melekat pada bentuk kata itu atau analisis etimologi. Etimologi hanya dapat memberikan petunjuk bagi kita untuk mencapai makna dasar kata. Analisis semantik dalam konsepsi kita, bermaksud mencapai lebih dari itu. Analisis unsur-unsur dasar dan relasional terhadap istilah kunci harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa sehingga jika kita benar-benar berhasil melakukannya, kombinasi dua aspek makna kata akan memperjelas aspek khusus. Dan pada akhirnya, jika kita mencapai tahap akhir, semua analisis akan membantu kita merekonstruksi pada tingkat analitik strukrur keseluruhan sebagai konsepsi masyarakat yang sungguh-sungguh ada – atau mengkin ada. Inilah apa yang disebut dengan “Weltanschauung semantik” budaya.
Kata-kata dalam bentuk bahasa adalah suatu sistem jaringan yang rapat. Pola utama system tersebut ditentukan oleh sejumlah kata-kata penting tertentu. Perlu dicatat di sini bahwa tidak semua kata-kata dalam suatu kosa kata sama nilainya dalam pembentukan struktur dasar konsepsi ontologis yang didasari kosa kata tersebut, meskipun kata-kata itu mungkin tampak penting dari sudut pandang lain.
Kata-kata yang memainkan peranan yang sangat menentukan dalam penyususnan struktur konseptual dasar pandangan dunia al-Qur’an disebut dengan “istilah-istilah kunci” al-Qur’an. Allah, Islam, Iman “keyakinan”, kafir “ingkar”, Nabiy “Nabi”, Rasul “utusan (Tuhan)” adalah sejumlah contoh lainnya.
Istilah-istilah kunci tersebut di tengah-tengah istilah-istilah kunci itu sendiri merupakan pola umum kosa kata yang mewakili kata-kata yang menjadi anggotanya. Dan kata-kata itu dalam kedudukannya memiliki hubungan rangkap dan beragam antara satu dan yang lainnya. Dengan demikian, kita tahu bahwa kosa kata dalam pengetian ini bukanlah semata-mata jumlah total kata-kata; bukan pula semata-mata kumpulan acak sejumlah besar kata-kata yang dikumpulkan tanpa aturan dan prinsip, yang masing-masing tetap berdiri sendiri tanpa hubungan esensial dengan kata-kata lainnya.
Kosa kata sebagai jumlah total semua bidang semantic kemudian akan terlihat sebagai kerangka kerja yang sangat luas dari hubungan-hubungan rangkap yang terbentang diantara kata-kata.
2 komentar

Ibnu Taimiyah VS Wahhabi

Belakangan ini kata ’salaf’ semakin populer. Bermunculan pula kelompok yang mengusung nama salaf, salafi, salafuna, salaf shaleh dan derivatnya. Beberapa kelompok yang sebenarnya berbeda prinsip saling mengklaim bahwa dialah yang paling sempurna mengikuti jalan salaf. Runyamnya jika ternyata kelompok tersebut berbeda dengan generasi pendahulunya dalam banyak hal. Kenyataan ini tak jarang membuat umat islam bingung, terutama mereka yang masih awam. Lalu siapa pengikut salaf sebenarnya? Apakah kelompok yang konsisten menapak jejak salaf ataukah kelompok yang hanya menggunakan nama salafi?.

Tulisan ini mencoba menjawab kebingungan di atas dan menguak siapa pengikut salaf sebenarnya. Istilah salafi berasal dari kata salaf yang berarti terdahulu. Menurut ahlussunnah yang dimaksud salaf adalah para ulama’ empat madzhab dan ulama sebelumnya yang kapasitas ilmu dan amalnya tidak diragukan lagi dan mempunyai sanad (mata rantai keilmuan) sampai pada Nabi SAW. Namun belakangan muncul sekelompok orang yang melabeli diri dengan nama salafi dan aktif memakai nama tersebut pada buku-bukunya.
Kelompok yang berslogan “kembali” pada Al Qur’an dan sunnah tersebut mengaku merujuk langsung kepada para sahabat yang hidup pada masa Nabi SAW, tanpa harus melewati para ulama empat madzhab. Bahkan menurut sebagian mereka, diharamkan mengikuti madzhab tertentu. Sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz dalam salah satu majalah di Arab Saudi, dia juga menyatakan tidak mengikuti madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.Pernyataan di atas menimbulkan pertanyaan besar di kalangan umat islamyang berpikir obyektif. Sebab dalam catatan sejarah, ulama-ulama besar pendahulu mereka adalah penganut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Sebut saja Syekh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab, Ibnu Abdil Hadi, Ibnu Qatadah, kemudian juga menyusul setelahnya Al Zarkasyi, Mura’i, Ibnu Yusuf, Ibnu Habirah, Al Hajjawiy, Al Mardaway, Al Ba’ly, Al Buhti dan Ibnu Muflih. Serta yang terakhir Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab beserta anak-anaknya, juga mufti Muhammad bin Ibrahim, dan Ibnu Hamid. Semoga rahmat Allah atas mereka semua.

Ironis sekali memang, apakah berarti Imam Ahmad bin Hanbal dan para imam lainnya tidak berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah? Sehingga kelompok ini tidak perlu mengikuti para pendahulunya dalam bermadzhab?. Apabila mereka sudah mengesampingkan kewajiban bermadzhab dan tidak mengikuti para salafnya, layakkah mereka menyatakan dirinya salafy?

Aksi Manipulasi Mereka Terhadap Ilmu Pengetahuan
Belum lagi aksi manipulasi mereka terhadap ilmu pengetahuan. Mereka memalsukan sebagian dari kitab kitab karya ulama’ salaf. Sebagai contoh, kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi cetakan Darul Huda, Riyadh, 1409 H, yang ditahqiq oleh Abdul Qadir Asy Syami. Pada halaman 295, pasal tentang ziarah ke makam Nabi SAW, dirubah judulnya menjadi pasal tentang ziarah ke masjid Nabi SAW. Beberapa baris di awal dan akhir pasal itu juga dihapus. Tak cukup itu, mereka juga dengan sengaja menghilangkan kisah tentang Al Utbiy yang diceritakan Imam Nawawi dalam kitab tersebut. Untuk diketahui, Al Utbiy (guru Imam Syafi’i) pernah menyaksikan seorang arab pedalaman berziarah dan bertawassul kepada Nabi SAW.

Kemudian Al Utbiy bermimpi bertemu Nabi SAW, dalam mimpinya Nabi menyuruh memberitahukan pada orang dusun tersebut bahwa ia diampuni Allah berkat ziarah dan tawassulnya. Imam Nawawi juga menceritakan kisah ini dalam kitab Majmu’ dan Mughni.
Pemalsuan juga mereka lakukan terhadap kitab Hasyiah Shawi atas Tafsir Jalalain dengan membuang bagian-bagian yang tidak cocok dengan pandangannya. Hal itu mereka lakukan pula terhadap kitab Hasyiah Ibn Abidin dalam madzhab Hanafi dengan menghilangkan pasal khusus yang menceritakan para wali, abdal dan orang-orang sholeh.
Ibnu Taymiyah Vs Wahhaby
Parahnya, kitab karya Ibnu Taimiyah yang dianggap sakral juga tak luput dari aksi mereka. Pada penerbitan terakhir kumpulan fatwa Syekh Ibnu Taimiyah, mereka membuang juz 10 yang berisi tentang ilmu suluk dan tasawwuf. (Alhamdulilah, penulis memiliki cetakan lama) Bukankah ini semua perbuatan dzalim? Mereka jelas-jelas melanggar hak cipta karya intelektual para pengarang dan melecehkan karya-karya monumental yang sangat bernilai dalam dunia islam. Lebih dari itu, tindakan ini juga merupakan pengaburan fakta dan ketidakjujuran terhadap dunia ilmu pengetahuan yang menjunjung tinggi sikap transparansi dan obyektivitas.
Mengikuti salaf?

Berikut ini beberapa hal yang berkaitan dengan masalah tasawwuf, maulid, talqin mayyit, ziarah dan lain-lain yang terdapat dalam kitab-kitab para ulama pendahulu wahhabi. Ironisnya, sikap mereka sekarang justru bertolak belakang dengan pendapat ulama mereka sendiri.

Pertama, ibnu taimiyah dan imam 4 madzab dukung tasawuf.

Dalam kumpulan fatwa jilid 10 hal 507 Syekh Ibnu Taimiyah berkata, “Para imam sufi dan para syekh yang dulu dikenal luas, seperti Imam Juneid bin Muhammad beserta pengikutnya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani serta lainnya, adalah orang-orang yang paling teguh dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Syekh Abdul Qadir al-Jailani, kalam-kalamnya secara keseluruhan berisi anjuran untuk mengikuti ajaran syariat dan menjauhi larangan serta bersabar menerima takdir Allah.
Dalam “Madarijus salikin” hal. 307 jilid 2 Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Agama secara menyeluruh adalah akhlak, barang siapa melebihi dirimu dalam akhlak, berarti ia melebihi dirimu dalam agama. Demikian pula tasawuf, Imam al Kattani berkata, “Tasawwuf adalah akhlak, barangsiapa melebihi dirimu dalam akhlak berarti ia melebihi dirimu dalam tasawwuf.”
Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam kitab Fatawa wa Rosail hal. 31 masalah kelima. “Ketahuilah -mudah-mudahan Allah memberimu petunjuk – Sesungguhnya Allah SWT mengutus Nabi Muhammad dengan petunjuk berupa ilmu yang bermanfaat dan agama yang benar berupa amal shaleh. Orang yang dinisbatkan kepada agama Islam, sebagian dari mereka ada yang memfokuskan diri pada ilmu dan fiqih dan sebagian lainnya memfokuskan diri pada ibadah dan mengharap akhirat seperti orang-orang sufi. Maka sebenarnya Allah telah mengutus Nabi-Nya dengan agama yang meliputi dua kategori ini (Fiqh dan tasawwuf)”. Demikianlah penegasan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa ajaran tasawuf bersumber dari Nabi SAW.

Kedua, Ibnu taymiyah iktiraf mengenai pembacaan maulid.
Dalam kitab Iqtidha’ Sirathil Mustaqim “Di dalam kitab beliau, Iqtidha’ as-Shiratil Mustaqim, cetakan Darul Hadis, halaman 266, Ibnu Taimiyah berkata, Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebahagian manusia samada menyaingi orang Nasrani pada kelahiran Isa عليه السلام, ataupun kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengagungkan baginda, dan Allah mengurniakan pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad ini…” Seterusnya beliau nyatakan lagi : “Ia tidak dilakukan oleh salaf, tetapi ada sebab baginya, dan tiada larangan daripadanya.”
Kita pula tidak mengadakan maulid melainkan seperti apa yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah sebagai:“Kecintaan kepada Nabi dan mengagungkan baginda.”'

Ketiga, Ibnu taymiyah dan imam madzab iktiraf sampainya hadiah pahala
Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barang siapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam Majmu’ fatawa juz 24 hal306 ia menyatakan, “Para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah pahala orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama islam dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah dan ijma’ (konsensus ulama’). Barang siapa menentang hal tersebut maka ia termasuk ahli bid’ah”.
Lebih lanjut pada juz 24 hal 366 Ibnu Taimiyah menafsirkan firman Allah “dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS an-Najm [53]: 39) ia menjelaskan, Allah tidak menyatakan bahwa seseorang tidak bisa mendapat manfaat dari orang lain, Namun Allah berfirman, seseorang
hanya berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang lain adalah hak orang lain. Namum demikian ia bisa memiliki harta orang lain apabila dihadiahkan kepadanya.
Begitu pula pahala, apabila dihadiahkan kepada si mayyit maka ia berhak menerimanya seperti dalam solat jenazah dan doa di kubur. Dengan demikian si mayit berhak atas pahala yang dihadiahkan oleh kaum muslimin, baik kerabat maupun orang lain”
Dalam kitab Ar-Ruh hal 153-186 Ibnul Qayyim membenarkan sampainya pahala kepada orang yang telah meninggal. Bahkan tak tangung-tanggung Ibnul Qayyim menerangkan secara panjang lebar sebanyak 33 halaman tentang hal tersebut.

Keempat, masalah talqin.
Dalam kumpulan fatwa juz 24 halaman 299 Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa sebagian sahabat Nabi SAW melaksanakan talqin mayit, seperti Abu Umamah Albahili, Watsilah bin al-Asqa’ dan lainnya. Sebagian pengikut imam Ahmad menghukuminya sunnah. Yang benar, talqin hukumnya boleh dan bukan merupakan sunnah. (Ibnu Taimiyah tidak menyebutnya bid’ah)
Dalam kitab AhkamTamannil Maut Muhammad bin Abdul Wahhab juga meriwayatkan hadis tentang talqin dari Imam Thabrani dalam kitab Al Kabir dari Abu Umamah.

Kelima, tentang ziarah ke makam Nabi SAW.
Dalam qasidah Nuniyyah (bait ke 4058) Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ziarah ke makam Nabi SAW adalah salah satu ibadah yang paling utama “Diantara amalan yang paling utama dalah ziarah ini. Kelak menghasilkan pahala melimpah di timbangan amal pada hari kiamat”.
Sebelumnya ia mengajarkan tata cara ziarah (bait ke 4046-4057). Diantaranya, peziarah hendaklah memulai dengan sholat dua rakaat di masjid Nabawi. Lalu memasuki makam dengan sikap penuh hormat dan takdzim, tertunduk diliputi kewibawaan sang Nabi. Bahkan ia
menggambarkan pengagungan tersebut dengan kalimat “Kita menuju makam Nabi SAW yang mulia sekalipun harus berjalan dengan kelopak mata (bait 4048).
Hal ini sangat kontradiksi dengan pemandangan sekarang. Suasana khusyu’ dan khidmat di makam Nabi SAW kini berubah menjadi seram. Orang-orang bayaran wahhabi dengan congkaknya membelakangi makam Nabi yang mulia. Mata mereka memelototi peziarah dan membentak-bentak mereka yang sedang bertawassul kepada beliau SAW dengan tuduhan syirik dan bid’ah. Tidakkah mereka menghormati jasad makhluk termulia di semesta ini..? Tidakkah mereka ingat firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. “Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al Hujarat, 49: 2-3).

Allah A'lam
0 komentar

KAJIAN ORIENTALIS TERHADAP KANDUNGAN AL-QUR’AN

A. PENDAHULUAN
Semantik al-Qur’an yang merupakan bagian utama kajian ini hampir secara ekslusif berhubungan dengan masalah hubungan personal antara Tuhan dan manusia menurut cara pandang Qur’ani dan masalah-masalah topik khusus tersebut. Dua penekanan khusus yang memberikan karakteristik kajian ini secara keseluruhan sejak awal yaitu: semantic di satu pihak dan al-Qur’an dipihak yang lain.
Keduanya sama-sama penting, bila salah satunya diabaikan maka akan dengan serta merta kehilangan siginifikansinya. Signifikansinya bukan secara terpisah, tetapi justru kombinasi keduanya. Kombinasi ini membawa kita mendekati aspek khusus al-Qur’an tidak dari cara pandang khusus. Dan mesti diingat bahwa al-Qur’an bias di dekati dengan sejumlah cara pandang yang beragam seperti teologi, psikologi, sosiologi, tata bahasa, tafsir dan lain sebagainya. Dan (dengan cara itu) al-Qur’an menunjukkan sejumlah perbedaan, tetapi merupakan aspek yang sama-sama pentingnya. Jadi, penting bagi kita untuk memahami secara jelas relevansi metodelogi semantik untuk kajian al-Qur’an dan melihat apakah metodelogi ini benar-benar membantu dalam mendekati kitab suci al-Qur’an.

B. PEMBAHASAN
1. Semantik al-Qur’an
Sangat sulit bagi seorang di luar (disiplin linguistik) untuk mendapat gambaran secara umum seperti apa semantik itu. Hal ini dikarenakan bahwa semantik, sebagaimana ditegaskan pengertian etimologisnya, merupakan ilmu yang berhubungan dengan fenomena makna dalam pengertian yang lebih luas dari kata, begitu luas sehingga hampir apa saja yang dianggap memiliki makna merupakan objek semantik.
Yang dimaksudkan semantik di sini adalah kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual Weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu, tidak hanya sebagai alat bicara dan berpikir tetapi yang lebih penting lagi pengkonsepan dan penafsiran dunia yang melingkupinya. Semantik dalam pengertian itu adalah semacam Weltanschauungs-lehre, kajian tentang sifat dan struktur pandangan dunia sebuah bangsa saat sekarang atau pada periode sejarahnya yang signifikan, dengan menggunakan alat analisis metodelogis terhadap konsep-konsep pokok yang telah dihasilkan untuk dirinya sendiri dan telah mengkristal ke dalam kata-kata kunci bahasa itu.

2. Keterpaduan Konsep-Konsep Individual
Sepintas lalu tugas itu tampak begitu mudah. Kita mungkin menggap semua yang harus kita lakukan akan membuka seluruh kosa kata al-Qur’an, semua kata-kata penting yang mewakili konsep penting seperti Allah, Isalam, Nabiy, Iman, Kafir dan lain sebagainya dan menelaah apa makana semua kata-kata itu dalam konteks al-Qur’an. Bagaimanapun, kenyataannya tidaklah begitu mudah. Kata-kata atau konsep-konsep dalam al-Qur’an itu tidak sederhana. Kedudukannya masing-masing saling terpisah, tetapi sangat saling bergantung dan menghasilkan makna kongkrit justru dari seluruh system hubungan itu. Dan apa yang sungguh-sungguh penting bagi tujuan khusus kita adalah jenis sistem konseptual yang berfungsi dalam al-Qur’an, bukan konsep-konsep yang terpisah secara individual dan dipertimbangkan terlepas dari struktur umum atau Gestalt, ke dalam mana konsep-konsep tersebut diintegrasikan. Dalam menganalisis konsep-konsep kunci individual yang ditemukan dalam al-Qur’an kita tidak boleh kehilangan wawasan hubungan ganda yang saling memberi muatan dalam keseluruhan sistem.

3. Makna “Dasar” dan makna “Rasional”
Pada tahap ini dijelaskan perbedaan teknis antara makna “dasar” dan makna “rasional”, sebagai sebuah konsep metodologi semantik yang utama. Jika sekarang kita mengambil al-Qur’an dan menelaah istilah-istilah kunci di dalamnya dari sudut pandang kita, maka kita akan menemukan dua hal, yang satu begitu nyata dan biasa untuk dijelaskan, dan yang lainnya mungkin tidak begitu jelas. Sisi nyata persoalan tersebut adalah bahwa masing-masing kata individual, diambil secara terpisah, memiliki makna dasar atau kandungan kontekstualnya sendiri yang akan tetap melekat pada kata itu meskipun kata itu diambil di luar konteks al-Qur’annya. Kata kitab, misalnya makna dasarnya baik yang ditemukan dalam al-Qur’an maupun di luar al-Qur’an sama. Kata ini sepanjang dirasakan secara aktual oleh masyarakat penuturnya menjadi satu kata, mempertahankan makna fundamentalnya dalam hal ini, makna yang sangat umum dan tidak spesifik yaitu “kitab”. Kandungan unsur semantik ini tetap ada pada kata itu di manapun ia diletakkan dan bagaimanapun ia digunakan, inilah yang di sebut dengan makna kata “dasar” itu.
Dalam konteks al-Qur’an, kata kitab menerima makna yang luar biasa pentingnya sebagai isyarat konsep religious yang sangat khusus yang dilingkupi oleh cahaya kesucian. Ini dilihat dari kenyataan bahwa dalam konteks ini kata itu berdiri dalam hubungan yang sangat dekat dengan wahyu Ilahi, atau konsep-konsep yang cukup beragam yang merujuk langsung pada wahyu. Ini berarti bahwa kata sederhana kitab dengan makna dasar sederhana “kitab”, ketika diperkenalkan ke dalam sistem khusus dan diberikan posisi tertentu yang jelas, memerlukan banyak unsur semantik baru yang muncul dari situasi khusus ini, dan juga muncul dari hubungan yang beragam yang dibuat untuk menunjang konsep-konsep pokok lain dari sistem tersebut. Dengan demikian kata kitab, begitu diperkenalkan ke dalam sistem konseptual Islam, ditempatkan dalam hubungan erat dengan kata-kata penting al-Qur’an seperti, Allah, Wahyu “wahyu”, Tanzil “menurunkan” (firman Tuhan), Naby “nabi”, Ahl “masyarakat” (dalam kombinasi khusus ahl al-kitab “masyarakat berkitab” yang berarti masyarakat yang memiliki Kitab Wahyu Kristen dan Yahudi, dan sebagainya).
Oleh karenanya, kata itu dalam konteks karakteristik al-Qur’an harus dipahami dari segi semua istilah yang terkait, dan keterkaitan ini sendiri memberikan kata kitab warna semantik yang sangat khusus, sangat kompleks dan struktur makna khusus yang tidak akan pernah diperoleh jika kata itu tetap berada di luar sistem ini. Harus dicatat bahwa hal itu juga bagian dari makna kata kitab sepanjang digunakan dalam konteks al-Qur’an. Bagian maknanya yang sangat penting dan essensial yang sebenarnya jauh lebih penting dibandingkan makna dasarnya sendiri. Inilah yang di sebut sebagai makna “relasional”, kata ini digunakan untuk membedakan dengan makna dasar.
Jadi makna dasar kata adalah sesuatu yang melekat pada kata itu sendiri, yang selalu terbawa di manapun kata itu diletakkan. Sedangkan makna relasional adalah sesuatu yang konotatif yang diberikan dan ditambahkan pada makna yang sudah ada dengan meletakkan kata itu pada posisi khusus dalam bidang khusus berada pada relasi yang berbeda dengan semua kata-kata penting lainnya dalam sistem tersebut.

4. Kosa kata dan Weltanschauung
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan perbedaan metodelogis antara dua hal yang berbeda, meskipun terkait erat semacam makna kata yang untuk sementara ini masing-masing kita sebut dengan makna “dasar” dan makna “relasional”.
Analisis semantik bukanlah analisis sederhana mengenai struktur bentuk kata maupun studi makna asli yang melekat pada bentuk kata itu atau analisis etimologi. Etimologi hanya dapat memberikan petunjuk bagi kita untuk mencapai makna dasar kata. Analisis semantik dalam konsepsi kita, bermaksud mencapai lebih dari itu. Analisis unsur-unsur dasar dan relasional terhadap istilah kunci harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa sehingga jika kita benar-benar berhasil melakukannya, kombinasi dua aspek makna kata akan memperjelas aspek khusus. Dan pada akhirnya, jika kita mencapai tahap akhir, semua analisis akan membantu kita merekonstruksi pada tingkat analitik strukrur keseluruhan sebagai konsepsi masyarakat yang sungguh-sungguh ada – atau mengkin ada. Inilah apa yang disebut dengan “Weltanschauung semantik” budaya.
Kata-kata dalam bentuk bahasa adalah suatu sistem jaringan yang rapat. Pola utama system tersebut ditentukan oleh sejumlah kata-kata penting tertentu. Perlu dicatat di sini bahwa tidak semua kata-kata dalam suatu kosa kata sama nilainya dalam pembentukan struktur dasar konsepsi ontologis yang didasari kosa kata tersebut, meskipun kata-kata itu mungkin tampak penting dari sudut pandang lain.
Kata-kata yang memainkan peranan yang sangat menentukan dalam penyususnan struktur konseptual dasar pandangan dunia al-Qur’an disebut dengan “istilah-istilah kunci” al-Qur’an. Allah, Islam, Iman “keyakinan”, kafir “ingkar”, Nabiy “Nabi”, Rasul “utusan (Tuhan)” adalah sejumlah contoh lainnya.
Istilah-istilah kunci tersebut di tengah-tengah istilah-istilah kunci itu sendiri merupakan pola umum kosa kata yang mewakili kata-kata yang menjadi anggotanya. Dan kata-kata itu dalam kedudukannya memiliki hubungan rangkap dan beragam antara satu dan yang lainnya. Dengan demikian, kita tahu bahwa kosa kata dalam pengetian ini bukanlah semata-mata jumlah total kata-kata; bukan pula semata-mata kumpulan acak sejumlah besar kata-kata yang dikumpulkan tanpa aturan dan prinsip, yang masing-masing tetap berdiri sendiri tanpa hubungan esensial dengan kata-kata lainnya.
Kosa kata sebagai jumlah total semua bidang semantic kemudian akan terlihat sebagai kerangka kerja yang sangat luas dari hubungan-hubungan rangkap yang terbentang diantara kata-kata.
 
;