Sabtu, 26 Maret 2011

AMSTAL DALAM AL-QUR’AN

A. Definisi amtsal
Secara etimologi kata amtsal berasal dari bentuk jamak (plural), mufrad (singular) adalah mastal (مثل) atau mitsl (مثل). Arti dan bentuknya persis seperti شبه:
مثيل-مثل-مثل sama seperti شبيه - شبه-شبه
شبه dan مثل : Seperti, serupa, laksana, bagaikan
شبه danمثل : Perumpamaan, ibarat
شبيه danمثيل: Menyerupai, mirip, contoh (lebih dulu)
Agar para pembaca lebih bisa memahami pengertian tentang amstal, maka kami akan membagi pengertian amtsal secara etimologi yaitu:
a) Amstal kata dalam bentuk jamak darei mufrod “mitsil”. Kata “mitsil” mengandung arti serupa dengan yang lai. Antara keduanya terdapat kemiripan sehingga yang satu dapat menjadi penjelasan atau gambaran bagi yang lain.
Contohnya: كيف اعا ودك فهذااثر فاسيك
b) Menurut al mubarrad beliau mengatakan bahwa kata “mitsil” yaitu kata-kata yang mejelaskan bahwa yang pertama seperti yang kedua. Di antara keduanya terdapat ikatan, yakni persamaan.
Contohnya: الابن سورة ابيه
c) Kata-kata yang dibentuk sedemikian rupa yang sudah berlaku untuk memperserukan sesuatu hal, dipersamakan dengan apa yang tercantum di dalam matsal.
Contohnya:رب رمية من غير رام
d) Adapula kata-kata yang berada di dalam cerita yang sangat sederhana, yang mulanya berasal dari lisan binatang, burung, tumbuh-tumbuhan atau benda biasa dalam rangka memberikan penyuluhan atapun nasehat.
Contohnya:ماوجدناه في كتاب كليلة ودمنة
e) Adapaun pendapat dari ulama bayan bahwasanya amtsal adalah majaz murakkab yang alaqoh-nya musyabbahah.
Contohnya:مالي اراك تقدم رجلا وتؤخر اخري
f) Amtsal adalah kalimat yang dibuat orang untuk memberikan kesan serta menggerakkan hati nurani, yang apabila didengar terus dapat menyentuh bagian hati yang paling dalam.
Sedangkanpengertian Al-Qur’an secara terminologi menurut Drs. Rosihon anwar, M.A.g beliau berkata bahwasanya ilmu amtsal Al-Qur’an adalah ilmu yang menerangkan perumpamaan Al-Qur’an, yakni menerangkan ayat-ayat perumpamaan yang dikemukakan Al-Quran.
Amtsal adalah menonjolkan makna dalam bentuk perkataan yang menarik dan padat sertamempunyai pengaruh mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih atau punperkataan bebas (lepas, bukan tasybih).
Adapula menurut Zamakhsyari beliau mengatakan bahwasanya matsal menururt asal berarti al-misl dan an-nazir (yang serupa, yang sebanding).
Kemudian menurut Ibnul Qoyyim amtsal Al-Qur’an adalah menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukum dan mendekatkan sesuatu yang abstrak (ma’qul) dengan yang kongkrit (mahsus), atau mendekatkan salah satu dari dua mahsus dengan yang lain dan menganggap salah satunya sebagai yang lain. Sebagaian besar contoh amtsal Al-Qur’an menurut Ibnul Qoyyim menggunakan tasybih shorihseperti firman Allah:

“Sesungguhnya matsal kedudukan dunia ituadalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit” (QS.Yunus:24)
Sebagian lagi berupa penggunaan tasybihdzimmi (penyerupaan tidak tegas/tidak langsung). Contoh:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagain yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya” (QS.Al hujurat:12).
Dan adapula yang tidak mengandung tasybih maupun isti’arah seperti firman Allah:


“Wahai manusia telah dibuat sebuah perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat punm, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tidaklah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah”. (QS.al haj:73)
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa amtsal Al-Qur’an adalah ilmu yang menerangkan tentang majaz, perbandingan, penyerupaan sesuatu dengan yang lain dalam Al-Qur’an.
B. Macam-macam amtsal Al-Qur’an
Ulama berbeda pendapat tentang pembagian macam-macam amtsal ini yaitu:
1. Menurut Zarkasyi amtsal Al-Qur’an dibagi menjadi dua macam:
 Amtsal dhahir (sharih)
 Amtsal kaminah (ghairu sharih).
2. Menurut Manna’ al Qatthan amtsal Al-Qur’an dibagi menjadi tiga macam:
 Amtsal musarrahah
 Amtsal kaminah
 Amtsal mursalah
Zarkasyi berbeda pendapat dengan Manna’ al Qhattan, dimana manna’ al Qhattan mengatakan bahwasanya amtsal Al-Qur’an dibagi menjadi tiga macam (musarrahah, kaminah, dan mursalah), karena majaz, perumpamaan dan perbandingan pada amtsal mursalah kurang jelas atau kurang nampak karena amtsal ini menggunakan peribahasa.
Dari dua pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa amtsal dhahir sama dengan amtsal musarrahah sehingga perbedaannya hanya pada amtsal mursalat. Imam az-Zarkasyi tidak mencantumkan amtsal mursalat sebagai bagian dari ilmu amtsal Al-Quran sedangkan al-Qattan memasukkan amtsal mursalat sebagai bagian dari ilmu amtsal Al-Quran. Sehingga yang kami bahas di sini hanya pada pendapat al-Qattan yang membagi macam-macam Al-Quran menjadi tiga bagian.


Berikut ini adalah macam-macam amtsal dalam Al-Quran:
1) Amtsal Mursarrahah
Amsal mursalah ialah yang didalamnya dengan lafaz amsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih Amsal seperti ini banyak ditemukan dalam Al-Qur’an diantaranya:
Firman Allah mengenai orang munafik:

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan apiMaka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”.
Di dalam ayat-ayat ini Allah membuat dua perumpamaan (matsal) bagi orang munafik; matsal yang berkenaan dengan api (nar) dalam firman-Nya “adalah seperti orang yang menyalakan api. Karena di dalam api terdapat unsur cahaya; dan masal yang berkenaan dengan api (nari) atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit…” Karena di dalam air terdapat materi kehidupan dan wahyu yang turun dari langit bermaksud untuk menerangi dan menghidupkannya. Allah menyebutkan juga kedudukan dan fasilitas orang munafik dalam dua keadaan. Di satu sisi mereka bagaikan orang yang menyalakan api untuk penerangan dan kemanfaatan; mengingat mereka memperoleh kemanfaatan materi dengan sebab masuk Islam. Namun disisi lain Islam tidak memberikan pengaruh ‘nur’Nya terhadap hati mereka. Karena Allah menghilangkan cahaya (nur) yang ada dalam api itu. Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan unsur “membakar” yang ada padanya. inilah perumpamaan mereka yang berkenaan dengan api.
Mengenai masal mereka yang berkenaan dengan air (ma’i) Allah menyerupakan mereka dengan keadaan orang ditimpa hujan lebat yang disertai gelap gulita, guruh dan kilat, sehingga terkoyaklah kekuatan orang itu dan ia meletakkan jari jemari untuk menyumbat telinga bahwa Al-Qur’an dengan salah peringatan, perintah larangan dan khitabnya bagi mereka tidak ubahnya dengan petir yang turun sambar menyambar.
Allah menyebutkan dua macam masal, ma’i dan nari (misalnya) Allah telah menurunkan air hujan dari langit, maka mengalirlah air itu di lembah menurut ukurannya. Banjir membawa buah yang menggembleng.

“Dan dari (benda) yang mereka lebur dalam api, untuk dibuat perhiasan dan barang-barang keperluan lain, terdapat pula buah seperti itu. Begitulah Allah membuat perumpamaan kebenaran dan kepalsuan. Adapun buah itu bagai barang yang tiada berharga, sedang apa yang berguna kepada manusia tinggal tetap dimuka bumi. Demikianlah Allah telah membuat perumpamaan-perumpamaan. (Ar-Rad:17)
Wahyu yang diturunkan Allah dari langit untuk kehidupan hati diserupakan dengan air hujan yang diturunkannya untuk kehidupan bumi dan tumbuh-tumbuhan. Dan hati diserupakan dengan lembah, arus air yang mengalir di lembah, membawa buah dan sampah. Begitu pula hidayah dan jika bila mengalir di hati akan berpengaruh terhadap nafsu syahwat, dengan menghilangkannya. Inilah matsal ma’i dalam firmannya, ‘Dia telah menurunkan air hujan) dari langit…”
Demikianlah Allah membuat masal bagi yang hak dan yang bathil
2) Amtsal Kaminah
Amtsal kaminah ialah ayat didalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamsil, tetapi menunjukkan makna-makna yang indah, menarik dalam kepadanya redaksinya, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya .
Perumpamaan yang tersirat pada amtsal kaminah bersifat pada makna dan penuh pesona bahasa, sehingga dapat memberikan perumpamaan yang lebih tepat pada sasaran yang diperbandingkan dan kesannya pun akan lebih mudah diserap.
Ada beberapa contoh mengenai hal ini diantaranya ayat-ayat ilahi yang bertendensikan pada pembentukan cara hidup dalam batas-batas kewajaran misalnya:
 Ayat-ayat yang senada dengan perkataan (sebaik-baiknya urusan adalah pertengahannya)
Contohnya: (QS al Baqarah : 68)

“Sapi betina yang ada tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu ……”
 Ayat yang senada dengan perkataan (khabar tidak sama dengan menyaksikan sendiri) contohnya (QS al Baqarah : 260)

“Allah berfirman: Belum yakinkah kamu? “Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”
 Ayat yang senada dengan perkataan (sebagaimana kamu telah mengutangkan, maka kamu akan dibayar).
Contohnya:(QS. An Nisa 123)

“Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah”
Ayat yang senada dengan perkataan (orang mukmin tidak akan disengat dua kali dari lubang yang sama)
Contohnya:

“Bagaimana aku akan mempercayainya (Bunyamin) kepadaku, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada dahulu.”( QS. Yusuf: 64)


3) Amtsal Mursalat
Mursalat berarti ungkapan lepas yang tidak terkait dengan lafadz tasybih, tetapi ayat-ayat itu digunakan seperti penggunaannya peribahasa.
Secara selintas, ciri utamanya adalah sama dengan ciri utama peribahasa, ungkapan atau kalimatnya ringkas; berisikan perbandingan, perumpamaan, nasehat, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku.
Ada beberapa contoh :

" …Bukankah subuh itu sudah dekat”

“Tidak sama yang buruk dengan yang baik…”

Dalam masalah amtsal mursalah ulama berbeda pendapat tentang apa dan bagaimana hukum menggunakannya sebagai matsal dalam uraian ini ada 2 pendapat:
Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang mempergunakan amtsal mursalah telah keluar dari adab Al-Qur’an. Alasannya adalah karena Allah telah menurunkan Al-Qur’an bukan untuk dijadikan matsal tetapi untuk direnungkan dan diamalkan isi kandungannya.
Pendapat kedua mengatakan bahwa tidak ada halangan bila seseorang mempergunakan Al-Qur’an sebagai matsal dalam keadaan sungguh-sungguh. Misalnya ada seseorang diajak untuk mengikuti ajarannya, maka ia bisa menjawab bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
C. Pendapat ulama tentang amtsal Al-Qur’an
Adapaun pendapat para ulama tentang amtsal ini sudah penulis camtumkan di atas baik menurut Ibnul Qoyyim, Zamakhsyari dll.
Dan perlu kita ketahui bersama bahwasanya orang yang pertyama kali menggunakan kata matsal ialah al-Hakam bin Yagus an-Nagri.
Kemudian Drs.Abd.Rahman Dahlan, M.A menggunakan matsal ini sebagai metode penyampaian pesan Al-Qur’an yang efektif.

D. Hikmah mengetahui amtsal dal Al-Qur’an

• Menonjolkan sesuatu yang abstrak dalam bentuk kongkrit yang dirasakan indra manusia sehingga akal muda menerimanya
Contoh:

“Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS. Al-Baqoroh 264)

• Menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak tampak menjadi seakan-akan tampak
Contoh:

"orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila"(QS. Al-Baqoroh:275)



• Mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti contoh yang terdapat pada amtsal kaminah dan mursalah
• Mendorong orang yang diberi matsal untuk berbuat sesuai dengan isi matsal jika isinya disenangi jiwa
Contoh:

"perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui".(Al-Baqoroh : 261)

• Meningalkan isi matsal jika isi matsal itu berupa sesuatu yang dibenci
Contoh:

“dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah”. (QS. Al-Hujurat : 12)

• Untuk memuji orang yang diberi matsal


Contoh:

“Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”(QS. Al-Fath:29)

• Untuk menggambarkan sesuatu yang mempunyai sifat yang padang buruk oleh orang banyak
Contoh:

"dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki," Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Al-A’raf:175-176)


• Amtsal akan lebih berpengaruh kepada jiwa, lebih efektif dalam membenrikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan, dan lebih dapat memuaskan hati
Contoh:

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini Setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.” (Az-Zumar : 27)

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (al-‘Ankabut : 43)


















DAFTAR PUSTAKA

 Muzakir AS. 2009. Manna’ Al- Qaththan studi ilmu-ilmu al-Qur’an. Jakarta; Litera Antarnusa.
 Azarqani, Abdul Azim.2009. Manahil Al-Urfan FI ‘Ulum Al- Qur’an. Jakarta; Gaya Media Pratama.
 Rosihon, Anwar. 2004. Ulumul qur’an. Bandung; Pustaka Setia.
 http://www.scribd.com/doc/28593894/Amtsal-Qur-An.
 Syafi’ie, Rahmat. 2006. Pengantar ilmu tafsir, Bandung; Pustaka Setia.
 Dahlan, Rahman, 1998, kaidah-kaidah ilmu tafsir, Bandung; Mizan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar