Sabtu, 26 Maret 2011 0 komentar
AMSTAL DALAM AL-QUR’AN

A. Definisi amtsal
Secara etimologi kata amtsal berasal dari bentuk jamak (plural), mufrad (singular) adalah mastal (مثل) atau mitsl (مثل). Arti dan bentuknya persis seperti شبه:
مثيل-مثل-مثل sama seperti شبيه - شبه-شبه
شبه dan مثل : Seperti, serupa, laksana, bagaikan
شبه danمثل : Perumpamaan, ibarat
شبيه danمثيل: Menyerupai, mirip, contoh (lebih dulu)
Agar para pembaca lebih bisa memahami pengertian tentang amstal, maka kami akan membagi pengertian amtsal secara etimologi yaitu:
a) Amstal kata dalam bentuk jamak darei mufrod “mitsil”. Kata “mitsil” mengandung arti serupa dengan yang lai. Antara keduanya terdapat kemiripan sehingga yang satu dapat menjadi penjelasan atau gambaran bagi yang lain.
Contohnya: كيف اعا ودك فهذااثر فاسيك
b) Menurut al mubarrad beliau mengatakan bahwa kata “mitsil” yaitu kata-kata yang mejelaskan bahwa yang pertama seperti yang kedua. Di antara keduanya terdapat ikatan, yakni persamaan.
Contohnya: الابن سورة ابيه
c) Kata-kata yang dibentuk sedemikian rupa yang sudah berlaku untuk memperserukan sesuatu hal, dipersamakan dengan apa yang tercantum di dalam matsal.
Contohnya:رب رمية من غير رام
d) Adapula kata-kata yang berada di dalam cerita yang sangat sederhana, yang mulanya berasal dari lisan binatang, burung, tumbuh-tumbuhan atau benda biasa dalam rangka memberikan penyuluhan atapun nasehat.
Contohnya:ماوجدناه في كتاب كليلة ودمنة
e) Adapaun pendapat dari ulama bayan bahwasanya amtsal adalah majaz murakkab yang alaqoh-nya musyabbahah.
Contohnya:مالي اراك تقدم رجلا وتؤخر اخري
f) Amtsal adalah kalimat yang dibuat orang untuk memberikan kesan serta menggerakkan hati nurani, yang apabila didengar terus dapat menyentuh bagian hati yang paling dalam.
Sedangkanpengertian Al-Qur’an secara terminologi menurut Drs. Rosihon anwar, M.A.g beliau berkata bahwasanya ilmu amtsal Al-Qur’an adalah ilmu yang menerangkan perumpamaan Al-Qur’an, yakni menerangkan ayat-ayat perumpamaan yang dikemukakan Al-Quran.
Amtsal adalah menonjolkan makna dalam bentuk perkataan yang menarik dan padat sertamempunyai pengaruh mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih atau punperkataan bebas (lepas, bukan tasybih).
Adapula menurut Zamakhsyari beliau mengatakan bahwasanya matsal menururt asal berarti al-misl dan an-nazir (yang serupa, yang sebanding).
Kemudian menurut Ibnul Qoyyim amtsal Al-Qur’an adalah menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukum dan mendekatkan sesuatu yang abstrak (ma’qul) dengan yang kongkrit (mahsus), atau mendekatkan salah satu dari dua mahsus dengan yang lain dan menganggap salah satunya sebagai yang lain. Sebagaian besar contoh amtsal Al-Qur’an menurut Ibnul Qoyyim menggunakan tasybih shorihseperti firman Allah:

“Sesungguhnya matsal kedudukan dunia ituadalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit” (QS.Yunus:24)
Sebagian lagi berupa penggunaan tasybihdzimmi (penyerupaan tidak tegas/tidak langsung). Contoh:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagain yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya” (QS.Al hujurat:12).
Dan adapula yang tidak mengandung tasybih maupun isti’arah seperti firman Allah:


“Wahai manusia telah dibuat sebuah perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat punm, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tidaklah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah”. (QS.al haj:73)
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa amtsal Al-Qur’an adalah ilmu yang menerangkan tentang majaz, perbandingan, penyerupaan sesuatu dengan yang lain dalam Al-Qur’an.
B. Macam-macam amtsal Al-Qur’an
Ulama berbeda pendapat tentang pembagian macam-macam amtsal ini yaitu:
1. Menurut Zarkasyi amtsal Al-Qur’an dibagi menjadi dua macam:
 Amtsal dhahir (sharih)
 Amtsal kaminah (ghairu sharih).
2. Menurut Manna’ al Qatthan amtsal Al-Qur’an dibagi menjadi tiga macam:
 Amtsal musarrahah
 Amtsal kaminah
 Amtsal mursalah
Zarkasyi berbeda pendapat dengan Manna’ al Qhattan, dimana manna’ al Qhattan mengatakan bahwasanya amtsal Al-Qur’an dibagi menjadi tiga macam (musarrahah, kaminah, dan mursalah), karena majaz, perumpamaan dan perbandingan pada amtsal mursalah kurang jelas atau kurang nampak karena amtsal ini menggunakan peribahasa.
Dari dua pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa amtsal dhahir sama dengan amtsal musarrahah sehingga perbedaannya hanya pada amtsal mursalat. Imam az-Zarkasyi tidak mencantumkan amtsal mursalat sebagai bagian dari ilmu amtsal Al-Quran sedangkan al-Qattan memasukkan amtsal mursalat sebagai bagian dari ilmu amtsal Al-Quran. Sehingga yang kami bahas di sini hanya pada pendapat al-Qattan yang membagi macam-macam Al-Quran menjadi tiga bagian.


Berikut ini adalah macam-macam amtsal dalam Al-Quran:
1) Amtsal Mursarrahah
Amsal mursalah ialah yang didalamnya dengan lafaz amsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih Amsal seperti ini banyak ditemukan dalam Al-Qur’an diantaranya:
Firman Allah mengenai orang munafik:

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan apiMaka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”.
Di dalam ayat-ayat ini Allah membuat dua perumpamaan (matsal) bagi orang munafik; matsal yang berkenaan dengan api (nar) dalam firman-Nya “adalah seperti orang yang menyalakan api. Karena di dalam api terdapat unsur cahaya; dan masal yang berkenaan dengan api (nari) atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit…” Karena di dalam air terdapat materi kehidupan dan wahyu yang turun dari langit bermaksud untuk menerangi dan menghidupkannya. Allah menyebutkan juga kedudukan dan fasilitas orang munafik dalam dua keadaan. Di satu sisi mereka bagaikan orang yang menyalakan api untuk penerangan dan kemanfaatan; mengingat mereka memperoleh kemanfaatan materi dengan sebab masuk Islam. Namun disisi lain Islam tidak memberikan pengaruh ‘nur’Nya terhadap hati mereka. Karena Allah menghilangkan cahaya (nur) yang ada dalam api itu. Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan unsur “membakar” yang ada padanya. inilah perumpamaan mereka yang berkenaan dengan api.
Mengenai masal mereka yang berkenaan dengan air (ma’i) Allah menyerupakan mereka dengan keadaan orang ditimpa hujan lebat yang disertai gelap gulita, guruh dan kilat, sehingga terkoyaklah kekuatan orang itu dan ia meletakkan jari jemari untuk menyumbat telinga bahwa Al-Qur’an dengan salah peringatan, perintah larangan dan khitabnya bagi mereka tidak ubahnya dengan petir yang turun sambar menyambar.
Allah menyebutkan dua macam masal, ma’i dan nari (misalnya) Allah telah menurunkan air hujan dari langit, maka mengalirlah air itu di lembah menurut ukurannya. Banjir membawa buah yang menggembleng.

“Dan dari (benda) yang mereka lebur dalam api, untuk dibuat perhiasan dan barang-barang keperluan lain, terdapat pula buah seperti itu. Begitulah Allah membuat perumpamaan kebenaran dan kepalsuan. Adapun buah itu bagai barang yang tiada berharga, sedang apa yang berguna kepada manusia tinggal tetap dimuka bumi. Demikianlah Allah telah membuat perumpamaan-perumpamaan. (Ar-Rad:17)
Wahyu yang diturunkan Allah dari langit untuk kehidupan hati diserupakan dengan air hujan yang diturunkannya untuk kehidupan bumi dan tumbuh-tumbuhan. Dan hati diserupakan dengan lembah, arus air yang mengalir di lembah, membawa buah dan sampah. Begitu pula hidayah dan jika bila mengalir di hati akan berpengaruh terhadap nafsu syahwat, dengan menghilangkannya. Inilah matsal ma’i dalam firmannya, ‘Dia telah menurunkan air hujan) dari langit…”
Demikianlah Allah membuat masal bagi yang hak dan yang bathil
2) Amtsal Kaminah
Amtsal kaminah ialah ayat didalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamsil, tetapi menunjukkan makna-makna yang indah, menarik dalam kepadanya redaksinya, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya .
Perumpamaan yang tersirat pada amtsal kaminah bersifat pada makna dan penuh pesona bahasa, sehingga dapat memberikan perumpamaan yang lebih tepat pada sasaran yang diperbandingkan dan kesannya pun akan lebih mudah diserap.
Ada beberapa contoh mengenai hal ini diantaranya ayat-ayat ilahi yang bertendensikan pada pembentukan cara hidup dalam batas-batas kewajaran misalnya:
 Ayat-ayat yang senada dengan perkataan (sebaik-baiknya urusan adalah pertengahannya)
Contohnya: (QS al Baqarah : 68)

“Sapi betina yang ada tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu ……”
 Ayat yang senada dengan perkataan (khabar tidak sama dengan menyaksikan sendiri) contohnya (QS al Baqarah : 260)

“Allah berfirman: Belum yakinkah kamu? “Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”
 Ayat yang senada dengan perkataan (sebagaimana kamu telah mengutangkan, maka kamu akan dibayar).
Contohnya:(QS. An Nisa 123)

“Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah”
Ayat yang senada dengan perkataan (orang mukmin tidak akan disengat dua kali dari lubang yang sama)
Contohnya:

“Bagaimana aku akan mempercayainya (Bunyamin) kepadaku, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada dahulu.”( QS. Yusuf: 64)


3) Amtsal Mursalat
Mursalat berarti ungkapan lepas yang tidak terkait dengan lafadz tasybih, tetapi ayat-ayat itu digunakan seperti penggunaannya peribahasa.
Secara selintas, ciri utamanya adalah sama dengan ciri utama peribahasa, ungkapan atau kalimatnya ringkas; berisikan perbandingan, perumpamaan, nasehat, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku.
Ada beberapa contoh :

" …Bukankah subuh itu sudah dekat”

“Tidak sama yang buruk dengan yang baik…”

Dalam masalah amtsal mursalah ulama berbeda pendapat tentang apa dan bagaimana hukum menggunakannya sebagai matsal dalam uraian ini ada 2 pendapat:
Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang mempergunakan amtsal mursalah telah keluar dari adab Al-Qur’an. Alasannya adalah karena Allah telah menurunkan Al-Qur’an bukan untuk dijadikan matsal tetapi untuk direnungkan dan diamalkan isi kandungannya.
Pendapat kedua mengatakan bahwa tidak ada halangan bila seseorang mempergunakan Al-Qur’an sebagai matsal dalam keadaan sungguh-sungguh. Misalnya ada seseorang diajak untuk mengikuti ajarannya, maka ia bisa menjawab bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
C. Pendapat ulama tentang amtsal Al-Qur’an
Adapaun pendapat para ulama tentang amtsal ini sudah penulis camtumkan di atas baik menurut Ibnul Qoyyim, Zamakhsyari dll.
Dan perlu kita ketahui bersama bahwasanya orang yang pertyama kali menggunakan kata matsal ialah al-Hakam bin Yagus an-Nagri.
Kemudian Drs.Abd.Rahman Dahlan, M.A menggunakan matsal ini sebagai metode penyampaian pesan Al-Qur’an yang efektif.

D. Hikmah mengetahui amtsal dal Al-Qur’an

• Menonjolkan sesuatu yang abstrak dalam bentuk kongkrit yang dirasakan indra manusia sehingga akal muda menerimanya
Contoh:

“Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS. Al-Baqoroh 264)

• Menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak tampak menjadi seakan-akan tampak
Contoh:

"orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila"(QS. Al-Baqoroh:275)



• Mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti contoh yang terdapat pada amtsal kaminah dan mursalah
• Mendorong orang yang diberi matsal untuk berbuat sesuai dengan isi matsal jika isinya disenangi jiwa
Contoh:

"perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui".(Al-Baqoroh : 261)

• Meningalkan isi matsal jika isi matsal itu berupa sesuatu yang dibenci
Contoh:

“dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah”. (QS. Al-Hujurat : 12)

• Untuk memuji orang yang diberi matsal


Contoh:

“Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”(QS. Al-Fath:29)

• Untuk menggambarkan sesuatu yang mempunyai sifat yang padang buruk oleh orang banyak
Contoh:

"dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki," Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Al-A’raf:175-176)


• Amtsal akan lebih berpengaruh kepada jiwa, lebih efektif dalam membenrikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan, dan lebih dapat memuaskan hati
Contoh:

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini Setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.” (Az-Zumar : 27)

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (al-‘Ankabut : 43)


















DAFTAR PUSTAKA

 Muzakir AS. 2009. Manna’ Al- Qaththan studi ilmu-ilmu al-Qur’an. Jakarta; Litera Antarnusa.
 Azarqani, Abdul Azim.2009. Manahil Al-Urfan FI ‘Ulum Al- Qur’an. Jakarta; Gaya Media Pratama.
 Rosihon, Anwar. 2004. Ulumul qur’an. Bandung; Pustaka Setia.
 http://www.scribd.com/doc/28593894/Amtsal-Qur-An.
 Syafi’ie, Rahmat. 2006. Pengantar ilmu tafsir, Bandung; Pustaka Setia.
 Dahlan, Rahman, 1998, kaidah-kaidah ilmu tafsir, Bandung; Mizan.
0 komentar

HADIST MU'ALLAL

ILMU ILAL AL-HADITS DAN
HADIST MU’ALLAL

Makalah ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok
Pada Mata Kuliah Dasar-dasar ilmu Al-Qur’an

DOSEN PEMBIMBING :
DR.ISA SALAM. M.A














Disusun Oleh:


MUHAMMAD RASYIDI : 1110043000036
MUHAMMAD HAFIDH : 1110034000049
RINA ANDRIANI : 11100340000



PROGRAM STUDI TAFSIR HADITS
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010



KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
Allah tidak pernah tanpa maksud dalam setiap guratan takdir disekenario hidup-Nya.Segala apa yang terjadi dalam hidup ini tidak terlepas dari rencana besarnya-Nya atas kehidupan manusia.Dan oleh karena itu, tiada kata yang patut kami ucapkan selain syukur yang tiada terkira atas semua yang telah Allah gariskan pada kehidupan kami, baik suka ataupun duka, karena kami yakin apapun yang datang dari-Nya adalah yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Sholawat serta salam selalu kami ucapkan untuk manusia paripurna, utusan Allah yang paling utama yang telah memperkenalkan manusia pada agama pembawa kedamaian, yaitu Islam. Agama yang akan mampu menjawab segala pertanyan dan kegelisahan manusia sepanjang masa.

Selanjutnya kami sebagai pemakalah akan menjelaskan tentang “ilmu ilal al-hadist dan hadist muallal” semoga makalah yang kami buat ini dapat memberi pengetahuan kepada kita dan juga dapat memberikan manfa’at.






Jakarta, 11maret 2011




Penulis







DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR…………………………………………………………………i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………...ii


BAB I PENDAHULUAN
A.Latar belakang..……………………………………………………….1
B. Tujuan makalah……………………………………………………….1

BAB II PAMBAHASAN
A.Definisi…………………………………………………………………2
B. Macam-macam illat hadist……………………………………………..2
C. Ulama’ yang ahli dalam bidannya dan kitab-kitab ilal al-hadist……….6
D. Cara mengetahui illat pada hadist……………………………………...7
E. Hukum meriwayatkannya……………………………………………...8
BAB III PENUTUP
A, Kesimpulan…………………………………………………………….9
B. saran dan do’a…………………………………………………………10



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Telah kita ketahui bersama adapaun sumber Islam yaitu ada dua (Al-Qur’an dan Al- Hadist) Al- Qur’an adalah firman Allah SWT sedangkan hadist adalah sabda Rasul-Nya, yang mana kedua ini (Al-Qur’an dan Al-Hadist) tidak dapat terpisahkan dan saling berhubungan satu sama lain, Al- Qur’an merupakan firman Allah secara universal sedangkan hadist merupakan sabda Nabi Muhammad yang partikal yang berfungsi sebagai “mubayyin lil- qur’an”.
Maka dari itu dalam memperdalam ilmu agama Islam kita tidak boleh memisahkan antara keduannya (Al-Qur’an dan Al-Hadist) agar kita tetap berada pada jalan lurus-Nya.
B. Tujuan penulisan makalah
Adapun tujuan makalah yang kami susun ini agar para pembaca mengetahui dan menguasai sabda Nabi kita secara detail agar para pembaca tetap berada pada jalan yang di ridhoi oleh-Nya, amien amien ya rabbal alamien.















BAB II
PEMBAHASAN

ILMU ILAL AL-HADIST DAN HADIST MU’ALLAL
A.Definisi
Ilmu ilal al-hadist berasal dari kata illat, yang mana secara etimologi kata illat berarti “al maradh” (penyakit).Sedangkan secara terminologi kata illat menurut para muhadditsin yaitu: “suatu sebab yang tersembunyi yang dapat membuat cacat suatu hadist meski secara lahiriyah dapat terhindar darinya”
Kesimpulannya ilmu ilal al-hadist adalah: ilmu yang membahas tentang sebab-sebab yang samar samar lagi tersembunyi dari segi membuat kecacatan suatu hadist.Seperti memutthasilkan (menganggap bersambung) sanad suatu hadist yang sebenarnya sanad itu munqhati’ (terputus), merofa’kan (mengangkat sampai kepada nabi) berita yang mauquf (yang berakhir kepada sahabat), menyisipkan suatu hadist yang lain, meruwetkan sanad dengan matannya atau lain sebagainya.
Sedangkan hadist-hadist yang terkena illat atau yang berillat disebut dengan hadist muallal (ma’lul).
B. Macam-macam illat hadist
Menurut Al hakim Abu Abdillah illat hadist dibagi menjadi 10 yaitu:
1. Me-mutthashilkan sanad hadist yang munqhoti’.
2. Me marfu’kan hadist yang mursal.
Contoh: hadist Qaishah bin Uqbah bersanad Sufyan Khalid bin Kazdzda’i, Ashim dan Abu Qilabah yang diriwayatkan secara marfu’ kepada Nabi:
ارحمم امتيي بامتي ابوو بكر وواشدهم في امرر الله عمرواصددقهم حياءعثمان واقراهم لكتاباللهااببي بن كعب واقررضهم زيد بن ثابت واعلمهم بالحلال والحرام معاذ ابن جبل
“Sekasih-kasih ummatku terhadap ummatku adalah Abu Bakar, sekeras keras ummat dalam melakukan ketentuan Allah adalah Umar, sebenar-benar ummat yang pemalu adalah Utsman, sefasih-fasih orang untuk membaca kitab Allah adalah Ubay ibn Ka’ab, sepintar-pintar orang dalam ilmu faro’idh adalah Zaid ibn Stabit dan sepandai-pandai orang dalam hal halal dan haram adalah Muadz ibn Jabal”
Seorang perawi yang bernama Habisyah dia mengaku menerima hadist dari Sufyan dari Khalid al Hadzdza’i dari Ashim dari Abu Kilabah dan yang terakhir dia mengatakan menerima dari Nabi Muhammad SAW.
Akan tetapi sebenarnya yang menerima hadist ini adalah sahabat Anas bin Malik r.a yaitu: dari Atturmudzi mentakhrijkan melalui sanad-sanad Sufyan bin Waki’, Humad bin Abdurrahman, Dawud al-Athar, Ma’mar, Qotadah dan Anas bin Malik r.a. jelaslah sekarang sahabat Abu Qilabah menggugurksn (mengirsalakan) sahabat Anas bin Malik r.a.
3. Mensyadzkan hadist yang mahfudh.
Contoh: hadist Musa bin Uqbah yang diterima dari Abu Ishaq dari Burdah dari ayahnya, yaitu abu Musa al asy’ari.
انه ليغان علي قلبي واني للاستغفرالله في اليوم مماءة مراة
“Sesungghnya hatiku telah terpesona dan dalam keadaan yang demikan itu sungguh aku meminta ampun kepada Allah dalam waktu sehari (saja) seratus kali.”
Hadist ini ditakhrij oleh Musa bin Uqbah yang bersanad Abi Ishaq, Abu Burdah dan ayahnya, yaitu abu Musa al asy’ari r.a adalah syadz.
Akan tetapi setelah diadakan penelitian menunjukkan bahwa Imam Muslim mentakhrij hadist tersebut melalui sanad-sanad Yahya bin Yahya dan Qutaibah dari Hammad bin Zaid, dari Stabit, dari Abu Burdah dari al Gharr al Muzanny r.a dari Rasulullah SAW.
Jadi sangat jelas bahwasanya hadist Musa bin Uqbah adalah syadz dan hadist muslim adalah lebih stiqat (mahfudh).
4. Mewahamkan sanad yang mahfudh
Contoh: Hadist yang di takhrij oleh Al asykari yang bersanad Zuhair bin Muhammad, Usman bin Sulaiman dari ayahnya yang mengatakan:
انه سمع رسول الله صلي لله عليه وسلم يقرافي المغرب بالطور
Bahwa ia mendengar Rasulullah SAW membaca surat At thur pada waktu shalat maghrib.
Adapun hadist ini di takhrij oleh Al asykari dengan sanad Zuhair bin Muhammad. Usman bin Sulaiman dari ayahnya.
Sedangkan menurut para Muhadditsin sahabat yang meriwayatkan hadist ini adalah Jubair bin Muth’im.
Imam Bukhari mentakhrij hadist Jubair bin Muth’im melalui sanad sanad: Abdullah bin Yunus, Malik, Ibnu Syihab, Muhammad bin Jubair bin Muth’im.
Nyatalah sekarang karena Sulaiman adalah seorang tabi’iy, dia tidak mungkin mendengar langsung dari Rasulullah tanpa seorang sahabat yang hidup sezaman dan bertemu dengan Rasulullah.
5. Meriwayatkan secara an’anah suatu hadist yang sanadnya telah digugurkan seorang atau beberapa orang
Contoh: Hadist yang diriwayatkan melalui Yunus dari Ibnu Syihab dari Ali bin Husain dari seorang laki laki Anshar yang mengatakan:
انهم كانو مع رسو ل الله صللي الله عليه وسلم ذات ليلة فرمى بنجم فاستنار
“Konon orang-orang Anshar besama-sama dengan Rasulullah SAW pada suatu malam, tiba tiba beliau kejatuhan bintang (melihat bintang jatuh), hingga kesilauan”.
Hadist yang melalui periwayatan Yunus yang diterima dari Ibnu Shihab dari Ali bin Al Husain yang mengatakan bahwa Ali menerimanya dari orang Anshar ini adalah ma’lul.
Dalam hadits ini terdapat illat yaitu: Yunus mengugurkan seorang sanad yaitu, Ibnu Abbas r.a kemudian dia meriwayatkan menggunakan kata “an” (dari). Padahal sebenarnya hadist tersebut diriwayatkan oleh seorang sahabat Ibnu Abbas r.a
6. Melawani pengisnadan rawi yang lebih stiqah.
Contoh: Hadist Umar bin Khattab r.a yang bertanya kepada rasulullah SAW ujarnya:
يارسول الله ما لك افصحنا
“Wahai Rasulullah, apakah engkau mempunyai sesuatu yang dapat menfasihkan kami?..... Dan seterusnya
Hadist ini diriwayatkan oleh orang orang yang stiqah dari Ali bin Alhusain bin Waqid dari ayahnya (waqid) dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya dari Umar bin Khattab r.a. hadist ini adalah hadist mahfudh yang dilawani sanadnya
Sedangkan hadist yang diriwayatkan Ali bin Khasyram dari Ali bin al Husain bin Waqib dari Umar bin Khattab r.a adalah hadist yang ma’lul. Illatnya terletak pada Ali bin al Khasyram yang menyandarkan periwayatannya dengan mengatakan “Haddatsanaali bin al Husain bin Waqid, ballaghany an Umar bin Khattab r.a (telah bercerita kepadaku Ali bin al Husain bin Waqid, telah sampai kepadaku dari Umar)” kata haddasana itu mberikan pemahaman kepada kita kepastian pertemuan antara rawi dengan guru.
7. Mentadhlish syuyukhkan hadist yang mahfudh.
Contoh: Hadist Abu Dawud yang bersumber dari sahabat Abu Hurairah r.a yang diriwayatkan secara marfu’.
المؤمن غر كريم والفاجر خب لءيم
“Orang mu’min itu adalah orang yang mulia lagi dermawan, sedang orang fasik itu adalah perusak yang pemberani”
Hadist Abu Dawud yang bersanad: Nasir bin Ali, Abu Ahmad, Sufyan dan Abu Hurairah r.a adalah ma’lul, karena di dalam sanadnya terdapat seorang laki laki yang tidak di sebut namanya (mubham) sehingga sulit untuk di ketahui identiasnya.
8. Mentadlish isnadkan hadist yang mahfudh.
Contoh:
كان رسول الله صلي الله عليه وسلم اذا افطر عند قوم قال لهم:افطر عندكم الصاءمون واكل كعامكم الابرار وتنزلت الملا ءكة

Konon Rasulullah saw bila berbuka disisi suatu kaum beliau bersabda kepada mereka: “Disampingmu, orang orang yang berpuasa ikut berbuka, orang orang yang baik ikut menikmati makananmu dan para Malaikat pembawa rahmat turun menyampaikan rahmat”.
Illat yang terdapat pada hadist ini adalah pada Yahya bin Katsir, sebenarnya ia mendengar dari orang Bashrah yang bernama Amr bin Zabib . Meskipun Yahya bin Katsir banyak meriwayatkan hadist dari Anas bin Malik namun hadist ini tidak ia terima Anas bin Malik.Pembajakan pemberitan inilah yang menjadikan cacat hadist itu.
9. Mengisnadkan secara waham suatu hadist yang sudah musnad.
Contoh:
كان رسول الله صليي لله عليه وسلم اذا افتتح الصلاة قال سبحانك اللهم وبحمدك تبارك اسمك وتعالي جدك ولاا اله غيرك
Konon Rasulullah saw bila membaca iftitah (do’a antara takbiratul ihram dengan bacaan Al fatihah) membaca maha suci engkau dan dengan pujian-Mu aku menyucikan engkau, yang maha memberkahi nama-Mu, maha tinggi keagungan-Mu dan tiada tuhan sekain engkau.”
Hadist ini sudah mempunyai sanad tertentu akan tetapi salah seorang rawinya meriwayatkan hadist tersebut dari dari sanad lain di luar sanad yang sudah tertentu itu secara waham (duga-duga).
10. Memauqufkan hadist yang marfu’ .
C. Ulama’ yang ahli dalam bidannya dan kitab-kitab ilal al-hadist.
Adapun kitab-kitab karangan ahli dalam bidang ilamu ilal al-hadist yaitu:
Kitab-kitab yang muncul sebelum abad IV antara lain:
1. At-tkarikh wal ilal, karya Imam Al-Hafidh Yahya bin Ma’an (253-233 H).
2. Ilalul hadist, karya Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H).
3. Al-musnadul-mu’allal, karya Al-Hafidh Ya’qub bin Syaibah as –Sudusy Al bashri (182-279 H).
4. Al-ilal, karya Imam Muhammad bin Isa At-Turmudzy (209-279 H).

Kemudian kitab-kitab ilalul hadist yang lahir sdudah abad tersebut yaitu:
1. Ilalul hadist, karya Al hafidh Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Razy (204-327 H). Kitab ini terdiri dari dua jilid dan dicetak di Mesir pada tahun 1343 H.
2. Al ilal Al waridhah fil Ahadistin nabawiyah, karya Al hafidh Ali bin Umar Ad Dharuquthi (306-375 H). Kitab ini sudah mencakup seluruh tulisan dalam ilmu ilalul hadist yang telah disusun oleh ulama-ulama yang mendahuluinya. Dan ini terdiri dari 12 jilid.
D. Cara mengetahui illat pada hadist
Untuk mengetahui illat dalam suatu hadist memang sangatlah sulit, orang yang mampu mengetahui hal ini hanyalah orang-orang yang benar-benar memiliki pemahaman yang sangat mendalan dan mempunyai hafalan yang kuat dan luas.Oleh sebab itu, Abdurrahman ibn Mahdy berkata ”mengetahui illat satu hadist menurutku lebih aku sukai dari pada menulis sepuluh hadist (yang tidak aku ketahui). Ibnu Shalah juga berkata” pengetahuan tentang illat-illat hadist merupakan ilmu yang paling agung, paling pelik dan paling mulia. Yang bisa mendalaminya hanyalah ahli hafalan, cermat dan pemahaman yang mendalam ”
Dalam meneliti dan menela’ah illat yang terdapat pada hadist kita harus melihat riwayat riwayat para perawi, kemampuannya dan keahliannya dalam meriwayatkan sebuah hadist.
Adapun illat yang terdapat dalam sebuah hadist terdapat pada dua bagian yaitu:
• Sanad
• Matan dan
• Sanad dan matan bersama-sama.

a. Illat yang terdapat pada sanad ini lebih banyak terjadi dari pada illat yang teredapat pada matan. Illat pada sanad ini kadang terjadi pada sanad saja dan ada pula yang perpengaruh pada matan, disebabkan oleh seorang rawinya.
b. Kemudian sebaliknya illat yang terdapat pada matan ini tidak sebanyak illat yang terdapat pada sanad. Ada hadist yang berillat pada sanad saja dan matannya tidak terdapat illat, akan tetapi hadist yang berillat pada matan pasti pada sanadnya juga terdapat illat karena disebabkan oleh rawi yang menyisipkan perkataannya pada matan tersebut.
c. Yang terakhir illat yang terdapat pada sanad danh matan sebuah hadist ini dapat berpengaruh dan mencacatkan sanad dan matan hadist.
E. Hukum meriwayatkannya
Hukum meriwayatkan hadist Muallal adalah sama dengan hadist mursal, hadist munqhoti’ dan hadist mauquf, karena hadist muallal mngirsalkan hadist yang mutthasil, mewashalkan hadist yang munqhati’ dan memauqufkan hadist yang marfu’.




























BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat kita simpulkan yaitu:
• Ilmu ilal al hadist adalah: ilmu yang mempelajari cara-cara mengetahui cacat (illat) yang terdapat pada sebuah hadist.
• Macam-macam ilmu ilal al hadist yaitu:
1. Memauqufkan hadist yang marfu’
2. Mengisnadkan secara waham suatu hadist yang sudah musnad
3. Mentadlish isnadkan hadist yang mahfudh
4. Mentadhlish syuyukhkan hadist yang mahfudh
5. Melawani pengisnadan rawi yang lebih stiqah
6. Meriwayatkan secara an’anah suatu hadist yang sanadnya telah digugurkan seorang atau beberapa orang
7. Mewahamkan sanad yang mahfudh
8. Mensyadzkan hadist yang mahfudh
9. Me-mutthashilkan sanad hadist yang munqhoti’.
10. Me marfu’kan hadist yang mursal
• Illat yang terdapat pada hadist ada tiga bagian yaitu:
1. Pada sanad
2. Pada matan dan
3. Pada sanad dan matan
B. Saran dan do’a
Kami sangat menyadari bahwasanya makalah yang kami buat ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharap dan membuka saran dan kritik bagi seluruh pembaca dengan tujuan mencapai kesempurnaan bersama.
Dan semoga makalah yang kami buat ini bermanfat dan barokah bagi kita semua amien amien ya rabbal alamien…..
0 komentar

AKHLAQ+TASAWWUF

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Al-Qur’an di turunkan Allah kepada rasulullah Muhammad SAW untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap gulita menuju yang terang serta membimbing mereka kejalan yang lurus. Didalam al-Qur’an terdapat petunjuk bagi seluruh umat manusia, al-Qur’an juga merupakan mu’jizat Nabi Muhammad SAW yang masih bisa di rasakan sampai sekarang.
Seandainya al-Qur’an tidak dipelihara pada waktu Itu mungkin generasi muda sekarang tidak akan pernah tahu bentuk fisik dari al-Qur’an dan karena itu rujukan kaum muslim menjadi tidak orisinil.
Selain itu banyak ilmu-ilmu ataupun pengetahuan islam yang berkembang zaman demi zaman mengalami peningkatan seperti ilmu akhlaq tasawwuf

B. Tujuan Penulisan Makalah
Oleh sebab itu makalah ini menjadi penting untuk dibahas agar kita sebagai kaum muslimin dapat mengetahui bagaimana definisi akhlaq tasawwuf yang sebenarnya dan bisa mengaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.








BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian akhlak dan tasawwuf
 Definisi akhlaq
Ada dua pendekatan mengenai definisi akhlaq yaitu secara linguistik (kebahasaan) dan secara terminologik (peristilahan).
Secara bahasa kata akhlaq berasal dari bahasa Arab yaitu isim mashdar (bentuk infinitif) dari kata akhlaqa-yukhliqu- ikhlaqan, sesuai dengan wazan tsulasi majid af’ala-yuf’ilu-if’alan yang berarti al-sajiyah (perangai), at thabi’ah (kelakuan, tabi’at atau watak dasar), al adat (kebiasaan, kelaziman), al maru’ah (peradabanyang baik).
Akan tetapi kata yang di atas yaitu kata akhlaq darikata akhlaqa nampaknya kurang pantas dan kurang cocok , karena isim mashdar dari kata akhlaqa bukan akhlaq akan tetapi ikhlaq, berkenaan dengan ini maka ada pula yang berpendapat bahwa kata akhlaq merupakan isim jamid atau isim ghairu mustaq, yang isim yang tidak memiliki akar kata . kataakhlaq adalah jama’ dari kata khilqun ataupum khuluqun yang artinya sama dengan arti akhlaq sebagaimana telah disebutkan di atas, baik kata Akhlaq atau khuluq keduanya dijumpai pemakaiannya baik dalam al-qur’an, maupun al-hadist, sebagai berikut:

“ Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”

"(Agama Kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu."


اكمل المؤمنين ايمانا احسنهم خلقا
“Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang sempurna budi pekerinya.(HR.Turmudzi).”

انما بعثت لاتمم مكارم لاخلاق
“Bahwasanya aku diututus (Allah) untuk menyempurnakan keluhuran budi pekerti.(HR. Ahmad).
Sedangakan secara terminologi kata akhlaq terdapat beberapa pendapat antara lain yaitu.Ibnu Maskawaih sebagai pakar bidang akhlaq beliau berpendapat bahwa akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Selain itu al-Ghazali juga berpendapat, dimana beliau disebut hujjatul Islam, beliau mengatakan akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yangmenimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Sejalan dengan itu Ibrahim Anis juga mengatakan bahwa adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik dan buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
Setelah kita ketahui bersama beberapa pendapat dari para ulama tetang definisi tasawwuf secara terminologinya, maka kami akan menyimpulkan definisi tasawwuf dengan lima ciri yaitu:
1. Perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa sesorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya.
2. Perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa ada pemikiran.
3. Bahwa perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa adapaksaan atau tekanan dari luar.
4. Bahwa perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena sandiwara.
5. Sejalan dengan ciri-ciri keempat, perbuatan akhlaq (khususnya akhlaq yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan secara ikhlas semata-mata karena Allah swt, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian.

 Definisi Tasawwuf
Secara etimologi taswwuf berarti berasal dari kata shafa yang berarti kesucian.Adapula yang berpendapat bahwasanya berasal dari kata Arab yaitu safwe yang berarti orang-orang yang terpilih. Makna ini sering dikutip dalam literatur sufi.
Secara terminilogi ada beberapa pendapat pula yaitu:
Ada orang yang berpendapat bahwasanya kata tasawwuf itu tidak terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadist. Bagi orang yang tidak mau mengikuti perkembangan ilmu, dengan mudah saja membenarkan pendapat tersebut, akan tetapi bagi seseorang yang sering menggunakan pikirannya, dia akan berkata: itu ilmu Tauhid, itu ilmu Fiqih, itu ilmu Nahwu, Shorrof, Balaghah, dan lain-lain, semuanya itu tidak ada di dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Akan tetapi seluruh ummat Islam di dunia mengakui ilmu tersebut sebagai pengetahuan tentang Keislaman.
Adapula pendapat bahwasanya definisi tasawwuf itu bid’ah karena tidak ada di dalam al-Qur’an dan di dalam al-Hadits. Memang nama definisi itu tidak ada di dalam al-Qur’an dan Hadts, karena nabi Muhammad di rasulkan bukan untuk membuat atau untuk merumuskan definisi. Nama dan definisi itu di buat oleh ulama-ulama kemudian.
Dalam pada ini, Prof.Dr.Hamka dalam bukunya “perkembangan tasawwuf dari abad ke abad” beliau berkata: “bahwa tasawwuf islami itu telah timbul sejak timbulnya agama Islam itu sendiri, bertimbuh di di dalam jiwa pendiri Islam itu sendiri yaitu nabi besar Muhammad saw disauk airnya daeri Qur’a itu sendiri”
B.Faedah mempelajari akhlaq tasawwuf
Faedah mempelajari ilmu akhlaq menurut Ahmad Yamin beliau mengatakan apabila kita belajar ilmu akhlaq maka kita dapat menetapkan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang baik dan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang buruk.Bersikap adil termasuk baik, sedangkan berbuat dzalim termasuk perbuatan buruk dan lain-lain.
Adapun faedah kita mempelajari ilmu tasawwuf yaitu:
• Tetap bertekun beribadah kepada Allah.
• Memutuskan ketergantungan hatinya selain kepada Allah.
• Menjauhkan diri dari kemewahan-kemewaha duniawi.
• Menjauhkan diri dari berfoya-foya dengan harta yang kemegah-megahan.












BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
• Adapun definisi akhlaq secara etimologi berasal dari bahasa Arab akhlaqa
• Kata tasawwuf berasal dari bahasa Arab juga yang yaitu shafa yang berarti kesucian
• Kemudian faedah mempelajari akhlaq tasawwuf adalah:
1. Tetap bertekun beribadah kepada Allah.
2. Memutuskan ketergantungan hatinya selain kepada Allah.
3. Menjauhkan diri dari kemewahan-kemewaha duniawi.
4. Menjauhkan diri dari berfoya-foya dengan harta yang kemegah-megahan.
B.Saran-saran dan do’a
Dengan rasa sangat berharap kepada seluruh pembaca untuk menyalurkan perbaikannya, karena kami sebagai pemakalah merasa sangat jauh dari kesempurnaan.
Kemudian semoga makalah yang kami susun dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca amien amien ya rabbal alamien….
 
;