Rabu, 28 Desember 2011 0 komentar

AJARAN HINDU DI BALI

BAB I
PENDAHULUAN

Agama Hindu timbul dari dua arus utama yang membentuknya, yaitu agama bangsa Dravida dan agama bangsa Arya, sehingga untuk memahami agama Hindu sangatlah sulit sekali. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas R. Trautmann mendefisikan agama Hindu sangat sulit sekali.
Unsure penting yang ada dalam ajaran Hindu adalah teologi, filsafat dab etika atau moral. Agama Hindu mempercayai Realitas tertinggi hanya satu akan tetapi tidak membatasi yang satu sebagai realitas yang dimaksud adalah tuhan.
Agama Hindu seiring perjalanan dan perkembangnya yang sangat pesat hingga sampai ke Nusantara dan menjadi keyakina sebagian masyarakat Indonesia terutama di Bali.
Maka dari itu penulis di sini aka memaparkan bagaimana perkembangan dan ajaran Hindu hingga sampai ke Indonesia terutama di Bali., semoga bermanfaat amien….


BAB II
PEMBAHASAN


A. Sejarah perkembangan agama hindu di Indonesia sampai ke Bali
pengaruh yang paling besar dalam agama hindu adalah aliran Siwa dan Tantra yaitu pada abad 6. aliran tantra dan agama Budha di Indonesia menyatu, kemudian keduanya disebut dengan agama siwa budha, percampuran antara keduanya terlihat pada zaman singasari pada tahun 1222-1292.
Sebenarnya masuknya agama Hindu di Indonesia tidak diketahui secara pasti, penemuan-penemuan purbakalapun tidak memberikan informasi siapa yang membawa agama Hindu ke Indonesia. Akan tetapi ada bukti yang mencerminkan pengaruh agama Hindu di Indonesia yaitu bangunan-bangunan dan adat-adat keraton yang teradobsi oleh agama Hindu ini. System kasta juga tidak sama sekali memberi pengaruh agama Hindu terhadap masyarakat Indonesia kecuali kasta Brahmana, karena hanya kasta Brahmanalah yang mempunyai wewenang membaca klitab suci dan mengatur peribadatan agama Hindu.
Dengan demikian juga ada asumsi bahwa bukan orang-orang dari kasta Brahmana yang mempengaruhi rakyat Inonesia, akan tetapi orang-orang Indonesialah yang selalu mengadakan hubungan atau kerjasama dengan orang-orang dari kasta Brahmana dalam hal berdagang, sehingga hubungan orang dari kasta Brahmana dan masyarakat Indoinesia terjalin dengan baik dan rukun sehinga orang dari kasta Brahmana diberi kesempatan untuk menempati keraton karena dia telah menjalin hubungan dan kerjasama yang baik dengan masyarakat Indonesia, dan para raja keraton merasa senang kepadanya. Hal ini terbukti dengan penemuan prasasti bahwa ketika raja ingin bersedekah, raja memberikan beberapa ekor sapai kepada para Brahmana.
Dengan ini telah kita ketahui bahwasanya ajaran-ajaran agama Hindu berpusat di keratin karena mayoritas para brahmana berada di lingkungan keraton.
Dalam perkembangan selanjutnya, selain pusat-pusat keagamaan di keraton, juga terdapat pusat-pusat keagamaan Hindu yang disebut paguron atau mandala atau kasturi. Ditempat-tempat ini para pendeta memberikan pelajaran. Kitab-kitab yang ada pada waktu itu adalah kitab tantu pagelaran, juga juga kitab nawaruci yang juga disebut kitab tattwajnana, kitab terakhir ini penting karena mistik yang terdapat di dalamnya sampai sekarang masih berlaku di kalangan tertentu. Dasar fikiran mistik itu sendiri juga terdapat dalam kitab-kitab suluk yang sudah mendapat pengaruh dari Islam.
Kemudian ajaran-ajaran Hindu ini sampai ke Bali karena karena pengaruh Majapahit yang sangat kuat, ajaran Hindu Jawapun sudah berkembang di bali, lama kelamaan ajaran Hindu bercampur dengan agama asli Bali yang disebut agama Tirta dan kemudian disebut dengan Hindu Dharma.
Pada zaman itu perkembangan budaya yang berlandaskan Agama Hindu sangat pesat termasuk di Daerah Bali dan perkembangan terakhir menunjukkan bahwa para Arya dari Kerajaan Majapahit sebagian besar hijrah ke Bali dan di Daerah ini para Arya-Arya tersebut lebih memantapkan ajaran-ajaran Agama Hindu sampai sekarang.
Masyarakat Hindu di Bali dalam kehidupan sehari-harinya selalu berpedoman pada ajaran Agama Hindu warisan para lelulur Hindu di Bali terutama dalam pelaksanaan upacara ritual dalam hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam tetap berlandaskan pada ajaran-ajaran Agama Hindu dan dalam pelaksanaan Upacara Keagamaan.
Dalam perkembangan agama Hindu di Bali, ada enam tokoh yang sangat berpengaruh pada perkembangan agama Hindu di bali yaitu:

1. DARHYANG MARKANDEYA
Pada abad ke-8 beliau mendapat pencerahan di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah. Setelah menetap di Taro, Tegal lalang - Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (Banten), dan Pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali. Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali.
Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten. Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu : Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang. Beliau juga mendapat pencerahan ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll. Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah
.
2. MPU SANGKULPUTIH
Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak. Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual. Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan. Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.
Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll. Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.

3. MPU KUTURAN
Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali. Seperti disebutkan oleb R. Goris pada masa Bali Kuna berkembang suatu kehidupan keagamaan yang bersifat sektarian. Ada sembilan sekte yang pernah berkembang pada masa Bali Kuna antara lain sekte Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Diantara sekte-sekte tersebut Çiwa Sidhanta merupakan sekte yang sangat dominan (Ardhana 1989:56). Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewa tertentu sebagai istadewatanya atau sebagai Dewa Utamanya dengan Nyasa (simbol) tertentu serta berkeyakinan bahwa istadewatalah yang paling utama sedangkan yang lainnya dianggap lebih rendah.Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya yang menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa didalam tubuh masyarakat Bali Aga.
Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negative pada hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Akibat yang bersifat negative ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur yang oleh Gunaprya Dharmapatni sudah dikenal sejak dahulu semasih beliau ada di Jawa Timur. Oleh karena itu Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa bersekepatan untuk mendatangkan 4 orang Brahmana bersaudara yaitu:a. Mpu Semeru, dari sekte Ciwa tiba di Bali pada hari jumat Kliwon, wuku Pujut, bertepatan dengan hari Purnamaning Kawolu, candra sengkala jadma siratmaya muka yaitu tahun caka 921 (999M) lalu berparhyangan di Besakih.b. Mpu Ghana, penganut aliran Gnanapatya tiba di Bali pada hari Senin Kliwon, wuku Kuningan tanggal 7 tahun caka 922 (1000M), lalu berparhyangan di Gelgelc.
Mpu Kuturan, pemeluk agama Budha dari aliran Mahayana tiba di Bali pada hari Rabu Kliwon wuku pahang, maduraksa (tanggal ping 6), candra sengkala agni suku babahan atau tahun caka 923 (1001M), selanjutnya berparhyangan di Cilayukti (Padang)d. Mpu Gnijaya, pemeluk Brahmaisme tiba di Bali pada hari Kamis Umanis, wuku Dungulan, bertepatan sasih kadasa, prati padha cukla (tanggal 1), candra sengkala mukaa dikwitangcu (tahun caka 928 atau 1006M) lalu berparhyangan di bukit Bisbis (Lempuyang)Sebenarnya keempat orang Brahmana ini di Jawa Timur bersaudara 5 orang yaitu adiknya yang bungsu bernama Mpu Bharadah ditinggalkan di Jawa Timur dengan berparhyangan di Lemahtulis, Pajarakan. Kelima orang Brahmana ini lazim disebut Panca Pandita atau “Panca Tirtha” karena beliau telah melaksanakan upacara “wijati” yaitu menjalankan dharma “Kabrahmanan”. Dalan suatu rapat majelis yang diadakan di Bata Anyar yang dihadiri oleh unsur tiga kekuatan pada saat itu, yaitu :o Dari pihak Budha Mahayana diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua sidango Dari pihak Ciwa diwakili oleh Mpu Semeruo Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali AgaDalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali, yg terdiri dari berbagai aliran.
Tatkala itu semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti (Brahma,Wisnu,Ciwa) untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan yang layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa.Konsesus yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, dimana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut “Ciwa Budha” sebagai persenyawaan Ciwa dan Budha.Semenjak itu penganut Ciwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yang masing-masing bernama:ØPura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Brahma sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan)ØPura Puseh untuk memuja kemulian Wisnu sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa ØPura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatari Durga yaitu caktinya Bhatara Ciwa sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi WasaKetiga pura tersebut disebut Pura “Kahyangan Tiga” yang menjadi lambang persatuan umat Ciwa Budha di Bali. Dalam Samuan Tiga juga dilahirkan suatu organisasi “Desa Pakraman” yang lebih dikenal sebagai “Desa Adat”.
Dan sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam bidang politik, social, dan spiritual. Jika sebelum keempat Brahmana tersebut semua prasasti ditulis dengan menggunakan huruf Bali Kuna, maka sesudah itu mulai ditulis dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi).
Akhirnya di bekas tempat rapat itu dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Samuan Tiga.Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih. Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider).

4. MPU MANIK ANGKERAN
Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra. Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.

5. MPU JIWAYA
Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9). Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.
6. DANGHYANG DWIJENDRA

Datang di Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Atas wahyu Hyang Widhi di Purancak, Jembrana, Beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana. Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal. Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.
Karya sastra beliau yang terkenal antara lain : Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll. Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.

B. Ajaran-Ajaran Hindu Di Bali
• Segala upaca dan gerak keagamaan Bali mengandung maksud berhubungan dengan dewa dan para lelmbut (makhluk halus).
• Sebelum berhubungan dengan para dewa, seseorang harus bersuci terlebih dahulu menggunakan tanah, api dan air, dimana masing-masing mempunyai peranan menghilangkan penyakit menular, membakar serta membersihkan.
Berhubungan dengan penggunaan air ini, maka agama Hindu Bali juga kadang disebut agam Tirta.
• Ada tiga macam keselamatan yang dapat menghubungkan dengan para dewa, serta dua macam pemujaan. Upacara keselamatan dengan sesajian dan pemujaan inilah yang merupakan identitas agama Hindu Bali. Upacara keselamatan dan pemujaan tersebut adalah sebagai berikut:
1) karyamanusa, yaitu upacara yang dilakukan untuk keselamtan hidup manusia sejak lahir hingga meninggal.
2) Pitrayatnya, yaitu selamatan ketika ada orang yang meninggal
3) Dewayatnya, yaitu selamatan yang dipersembahkankepada para dewa sehubungan dengan berdirinya sebuah pura.
4) Manusatya, yaitu selamatan memberi makanan dan pakaian serta harta benda dan lainnya kepada khalayak ramai (semacam sedekah sosial) dengan upacara.
5) Bhutayatnya, seperti juga manusatnya, hanya ditambah sajian makanan kepada setan, buta kala, dan lain-lain.
• Pembakaran mayat bagi orang Hindu Bali dilakukan setelah jenazahnya dukubur atau disimpan beberapa hariuntuk menunggu hari baik. Biasanya, mayat pendeta dari golongan Brahmana tidak boleh dikubur, melainkan harus disegerakan pembakarannya. Upacara ini mengandung makna tersendiri, dimana seseorang yang meninggal terlebih dahuludisucikan dengan tanah (kuburan), kemudian diberi pertolongan dengan api (pembakaran), selanjutnya dihilangkan penyakit menular (melemparkan abunya ke laut).
• Upacara selamatan atau pemujaan dilakukan orang Hindu Bali di sebuah pura (sebagai lambing persatuan penunggal).
1). Pura sangah, pamaraja, kawitan, atau Hibu untuk persatuan sanak family dan saudara.
2). Balai Agung, puseh atau Dalem untuk persatuan penduduk atau desa.
3). Cubak, masketi atau Empalan, untuk persatuan penduduk sepengairan.
4). Sadahyangan, penataran atau Basakih untuk persatuan masyarakat satu praja (negeri).







DAFTAR PUSTAKA

• Ali, Mukti, agama-agama di dunia, Jogjakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988
• http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2010/01/enam-tokoh-suci-dalam-perkembangan.html
• Ali, Abdullah, agama dalam ilmu perbandingan, Bandung: Nuansa Auliya, 2007
• http://www.balisweethome.com/id/bali/keunikan/hinduism.htm

Selasa, 20 Desember 2011 0 komentar

ASAL-USUL AGAMA DAN KONSEP AGAMA

A. Asal-usul agama

Menurut sejarahnya, agama tumbuh bersamaan dengan berkembangnya kebutuhan manusia. Salah satu dari kebuthan itu adalah kepentingan manusia dalam memenuhi hajat rohani yang bersifat spiritual, yakni sesuatu yang dianggap mampu memberikan motivasi semangat dan dorongan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, unsur rohani yang dapat memberikan spirit dicari dan dikejar sampai akhirnya mereka menemukan suatu zat yang dianggap suci, memiliki kekuatan, maha tinggi dan maha kuasa. Sesuai dengan taraf perkembangan cara berfikir mereka, manusia mulai menemukan apa yang dianggap sebagaimana tuhan. dapatlah dimengerti bahwa hakekat agama merupakan fitrah naluriyah manusia yang tumbuh dan berkembang dari dalam dirinya dan pada akhirnya mendapat pemupukan dari lingkungan alam sekitarnya pada awalnya, perkembangan dan pertumbuhan agama pada diri seseorang itu dilatar belakangi antara lain oleh beberapa sebab berikut.
1. agama adalah produk dari rasa takut
rasa takut manusia pada alam, dari suara guruh yang menggetarkan dari luasnya lautan dan ombaknya yang menggulung serta gejala-gejala alamiyah lainnya. sebagai akibat rasa takut ini, terlintaslah agama dalam benak mansuia. Lucretius, seorang filsuf Yunani menyebutkan bahwa nenek moyang pertama para dewa ialah dewa ketakutan.
2. agama adalah produk dari kebodohan
sebagian orang percaya bahwa faktor yang mewujudkan agama adalah kebodohan manusia, sebab manusia, sesuai dengan wataknya, selalu cenderung untuk mengetahui sebab-sebab dan hukum-hukum yang berlaku atas alam ini serta yang yterjadi di dalamnya. mungkin karena tidak berhasil mengenalnya ia menisbahkan hal itu kepada sesuatu yang bersifat metafisis.
3. pendambaan akan keadilan dan keteraturan
sebagian orang memperkirakan bahwa motivasi keterikatan manusia pada agama ialah pendambaannya akan keadilan dan keteraturan. keadilan dalam masyarakat dan alam, karena itu ia menciptakan agama dan berpegang erat kepadanya demi meredakan penderitaan kejiwaannya. (Murtadha muthahari).
persepsi manusia bahwa ada sesuatu kekuatan yang berada di luar dirinya telah mendorong seseorang yang merasa takut untuk mencari perlindungan, dei keselamatan dan kebahagiaan hidupnya. ketika manusia merasa akibat adanya bencana alam, gempa bumi dan tsunami misalnya, mereka bersama-sama atau secara individu melakukan persembahan terhadap dewa laut dewa alam dewa bumi dan sebagainya. ketika masyarakat merasa takut terhadap angin taufan yang melanda perkampungannya, takut kepada api yang membakar seluruh hutan dan sawah ladangnya mereka melakukan pemujaan terhadap dewa angin, dewa api, dan dewa lain-lainnya. jadi, sangat memungkinkan bahwa rasa takut manusia adalah menumbuhkan keyakinan kepada "zat yang dianggap sakral". keyakinan terhadap zat yang dianggap Tuhan itu, melahirkan konsekuensi peribadatan berbentuk ritual yang berdasarkan pada aturan-aturan yang ditentukan secara normatif. oleh karena itu, Karl Jung dalam Joesof Sou'yb (1983:17) mengartikan agama sebagai penjelmaan tata cara hidup manusia yang dikembangkan oleh manusia untuk mengatur kehidupannya, disebabkan ketakutan dan kekcewaan yang telah tertanam di alam bawah sadar manusia.
dengan demikian, dapat dijelaskan beberapa aspek pokok yang terkandung dalam suatu agama, antara lain seperti berikut.
pertama, agama adalah sistem credo (tata cara keimanan dan keyakinan) karena adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia.
kedua, di samping itu, agama adalah juga suatu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu.
ketiga, disamping merupakan suatu sistem credo dan sistem ritus, maka agama juga adalah satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termaksud di atas.
suatu sistem pada dasarnya merupaka sejumlah satuan yang saling terkait satu sama lain, terdiri dari unit-unit tertentu yang mempunyai struktur dan proses secara fungsional. sebagai suatu sistem, agama merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari keyakinan, peribadatan dan norma, yang satu sama lain saling berhubungan sesuai dengan fungsinya. keyakinan atau kepercayaan terhadap zat yang dianggap tuhan diperoleh masyarakat melalui proses kejiwaan. manifestasi dari keyakinan seorang atau masyarakat dibuktikan dalam bentuk peribadatan, persembahan atau pemujaan secara ritual, sesuai norma atau aturan-aturan yang berlaku bagi masing-masing agama. dengan kata lain, kikatakan bahwa agama sebagai suatu sistem yang tidak bisa terlepas dari komponen-komponen lain yang saling terkait. secara internal, agama terkait dengan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, seperti kepercayaan, peribadatan, norma dan nilai-nilai sosial; secara eksternal ia juga terkait dengan lingkungan masyarakat manusia yang mempercayainya, karena bagaimanapun "secara historis agama berumur setua dengan sejarah manusia, yang tidak bisa hidup tanpa bentuk suatu agama. seluruh agama merupakan perpaduan kepercayaan sejumlah upacara.
B. konsep-konsep ketuhanan

kepercayaan pada adanya tuhan adalah dasar yang utama sekali dalam paham keagaman. tiap-tiap agama kecuali budhisme yang asli dan beberapa agama lain berdasar atas kepercayaan pada sesuatu kekuatan ghaib; dan cara hidup tiap-tiap manusia yang percaya pada agama di dunia ini amat rapat hubungannya dengan kepercayaan tersebut. kekuatan ghaib itu, kecuali dalam agamga-agama primitif, disebut tuhan. konsep tentang Tuhan berbagai rupa. umpamanya orang percaya pada deisme, tetapi tidak pada teisme atau pada panteisme tetapi tidak pada politeisme. atau pula orang percaya pada monoteisme tetapi monoteisme manakah yang dianutnya itu.
leh sebab itu filsafat agama merasa penting untuk mempelajari perkembangan paham-paham yang berbeda-beda itu. studi ini dimulai oleh falsafat agama dengan mempelajari paham kekuatan ghaib yang ada dalam agamga-agama primitif.
agama-agama primitif belum memberi nama tuhan kepada kekuatan ghaib itu. dengan kata lain kekuatan ghaib itu beumlah berasal dari luar alam ini, tetapi masih berpangkal dalam alam. kekuatan ghaib itu belum mempunyai arti teisme atau deisme, tetapi dinamisme dan animisme.
Rabu, 14 Desember 2011 1 komentar

RISAUMU

Ga tau mesti mengawali dari bagian mana Terlalu awam bagiQ untuk memahami ini semua Terlalu berliku, bagai berjalan di lorong panjang nan gelap yang mustahil menemukan setitik cahayaL Penjelasan apa yang harus aku papar? jawaban apa yang harus ku beri disetiap tanya dan ragumu? Yang akupun tak pahami penjelasan dan jawabanQ sendiri. Bukan mau menumpuk dan membiarkan masalah2 kecil, tapi hanya......................Astagfirullah..............Belum mampu menjabarkan semua ini Sekalipun harus digambarkan melalui sketsa, entah siapa yg mampu menterjemahkan. Bahkan bukan juga aku (Yang ada hanya coretan tanpa arah, tak beraturan, tanpa tujuan, dan tak berbentuk Hampir Q bujuk perasaan utk sedikit berlogika “ Membiarkan waktu bergulir dan menjawab semua” “Tapi sepertinya tak pantas “, sisi lainQ menjawab Apa aku akan membiarkan seribu tanya, yang menumpuk dibenak mu? Apa aku harus tetap hangat dalam kebekuan ini? Jawab tidak pastinya Lalu apa? Ahhh..... entahlah yang ada aku hanya akan menuang jawaban yang sama
Selasa, 13 Desember 2011 0 komentar

LIMA TERM UMUM (AL KULLIYAT AL-KHAMSI)

PENDAHULUAN

Ilmu logika berkembang dari zaman-zaman ke zaman-zaman hingga sampai ke tangan tokoh orang-orang muslim seperti al-farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusd dan lain-lain, meskipun sebagian orang-orang muslim mengkritiknya.
Pembahasan tentang term sebenarnya hanya mengkaji tentang masalah bahasa, akan tetapi term ini sangatlah penting dalam logika, karena kajian dalam term ini mengacu kepada behasa yang dipakai saat bertutur kata dan membuat konsep sehingga menghasilkan kesimpulan yang mendekati kebenaran hingga kepada kebenaran.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Term Umum (predictable) (الكليات الخمس)
Term dapat didefinisikan sebagai pernyataan verbal tentang suatu gagasan. Term adalah bunyi yang diartikulasikan dan befungsi sebagai simbol atau tanda gagasan. Term biasanya bersifat konvensional dan dapat dipahami sebagai sebuah gagasan atau segugus gagasan yang dinyatakan dalam wujud kata-kata. Kita membentuk gagasan atas dasar pemahaman kita terhadap benda-benmda yang kita ketahui melalui daya tangkap panca indera. Gagasan ini selanjutnya direalisasikan dalam wujud kata-kata atau term.
B. Penjelasan tentang lima Term Umum (predicable)

Dari skema di atas sangat jelas dapat disimpulkan bahwa pembagian kulli (Term) di bagi menjadi dua yaitu: Dzati dan Irdhi
Sedangkan Dzati dibagi menjadi tiga yatiu: Jins, fashl dan nau’
Kemudian Irdhi dibagi menjadi dua yaitu: khasshah

Sedangkan menurut Prof. Dr Zainun kamal MA dalam buku hasil desertasinya menyebutkan pembagian lima term umu yaitu:
• Genus (jins)
• Spesies (nau’)
• Diferentia (fashl)
• Proprium (Ardh al-khashah)
• Aksiden (Ardh al-Amm)
Baiklah di bawah ini kami akan menjelaskan lima term umum/predicable:
klasifikasi kulli dzati:
1. Jins adalah: lafadz kulli yang mashadaqnya terdiri dari subtansi-subtansi (hakikat yang berbeda), atau lafasdz kulli yang di bawahnya terdapat lafadzx-lafadz kulli yang mempunya makna yang lebih khusus.
Contoh: lafadz “hayawan” mengandung makna manusia dan hewan-hewan lainnya seperti kambing, kerbau dan sebagainya.

2. Fashal adalah: pemisah atau pembeda dalam terminologi mantihq fashl adalah ciri atau sejumlah ciri dari hakekat (benda, diri, orang) yang berbeda substasi-substansi atua hakikat-hakikat yang berbeda dalam satu jenis antara yang satu dengan yang lainnya.
Contoh : insan dan hayawan, dikaitkan dengan nathiq
Kedua lafazh itu berbeda dalam satu jenis. Ke dalam lafazh hayawan tergasbung manusia, kambing dan sebagainya. Namun, antara insan dan hewan itu dapat dipisahkan dengan menggunakan fashl, yaitu berkata-kata dan berfikir yang menjadi pemisah atau pembeda antara insan dan hayawan karena yang dapat berkata-kata dan berfikir hanyalah insan.

3. Nau’ secara lughawi, adalah macam (bisa juga berarti jenis). Secara mantiqi nau’ adalah lafazh kulli yang mashadaq-nya terdiri dasri hakikat-hakikat yang sama, seperti lafazh insan yang mashadaq-nya Mustafa, Ibrahim, Yadi, Ali, Usman, Ahmad, dan lain-lain yang semuanya mempunyai hakikat yang sama. Atau, dapat juga dikatakan bahwa nau’ adalah lafazh kulli yang berada di bawah lafazh kulli yang lebih umum, seperti insan yang mashadaq-nya Ibrahim dan Mustafa tadi, tetapi lafazh insan itu juga berada di bawah lafazh kulli yang lebih umum, yaitu hayawan.

Klasifikasi kulli irdhi:
1. Irdhi Ammah adalah: suatu sifat atau kebiasaan yang menyifati sesuatu secara berbeda dan bukan untuk jenis tertentu.
Contoh: sifat makan yang umum bagi semua baik untuk orang, hewan dan tumbuhan. Sifat “makan” bukan hanya manusia yang memilikinya, akan tetapi hewan juga memerlukan makan, begitu juga dengan tumbuhan.
2. Irdhi khasshah adalah: suatu sifat yang menyifati sesuatu secara khusus dan satu jenis tertentu.
Contoh: bisa mempelajari bahasa Arab. Yang bisa bisa mempelajarui bahasa Arab hanyalah manusia.

DAFTAR PUSTAKA

 E. Sumaryono, dasar-dasar Logika,Penerbit Kamisius, Yogyakarta: 1998
 Syekh Abdurrahman Al-akhdhari, Al-sullam Al-munawwarah, Sidogiri As-Salafy
 Baihaqi A.K, ilmu mantik, Darul Ulum Press, Jakarta: 2007
 Zainun Kamal, Ibn Taimiyah Versus Para Filosof Polemik Logika, Rajawali Pers, Jakarta: 2006
Minggu, 20 November 2011 0 komentar

KONFUSIANISME

A. Asal usul agama Konfusius
Secara historis Cina merupakan sebuah negara yang kita kenal mempunyai sejarah yang cukup panjang yang konon dimulai sekitar tahun 2700 SM. Pada waktu itu tradisi dan lembaga Cina masih tersusun secara rapi dan balance. Sekalipun demikian oang-orang tidak metahui secara pasti bagaimana semua itu terjadi.
Dijelaskan dalam buku sje-tsing (tentang pujian) dan shi ching (tentang sejarah) memberi kesan yang cukup luar biasa bahwa bangsa Cina yang purbakala, dimana paham monoteisme telah diaplikasikan oleh masyarakat Cina, yang nama Tuhan mereka adalah Shang-ti yang berarti penguasa tertinggi dan tien berarti sorga.
Akan tetapi, bersama perjalanan waktu agama Cina mengalami dekadensi moral dan kesenjangan sosial, di samping mereka tetap percaya terhadap Shang-ti bangsa Cina kuno juga percaya pada roh-roh halus dan roh-roh nenek moyang yang semuanya mereka sembah dalam upacara-upacara korban. Hal demikian kira-kira terjadi pada abad 6 SM kehidupan agama dan moral masyarakat Cina sudah sedemikian merosot. Kemudian bangsa Cina dulu yang kita kenal peradabannya berkembang dan tradisi yang sudah tersusun sekarang hanya tinggal bayangan saja. Dalam situasi yang seperti itu lahirlah seorang Konfusius atau Khong Hu Tsu atau koeng Foe Tze, yang ajaran-ajarannya sangat berpengaruh terhadap masyarakat Cina pada itu. Sehingga Konfusius dianggap guru pertama oleh masyarakat Cina selama hampir dua puluh lima abad.
Seorang konfusius dikenal juga sebagai guru pertama di Tiongkok yang memperjuangkan tersedianya pendidikan bagi semua orang, dan menekankan bahwa pendidikan bukan hanya sebagai suatu kewajiban semata-mata, melainkan suatu cara untuk menjalani kehidupan ini.
Jadi pendidikan tak sekedar kewajiban, akan tetapi dalam memperoleh pendidikan tidak lain hanya untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan seorang Konfusius
Konfusius berasal dari nama latin yaitu kung Tzu atau kong Hu Tsu atau kung. Ia dilahirkan di negara Lu, yang sekarang adalah provinsi Shantung pada tahun 551 SM. Konfusius dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana dan jujur.
Konfusius lahir ketika ayahnya berusia 64 tahun. Ibu Konfusius bernama Zheng-zhai dimana dia berasal dari keluarga Yen yang tingal di suatu daerah yang bernama Song.
Konfusius memulai kariernya sebagai pengawas lumbung padi sehingga dibebani tanggung jawab urusan pekerjaan yang umum.
Pada tahun 528 SM konfusius berhenti dari pekerjaannya itu karena kematian ibunya, selama periode duka cita kuran lebih 300 tahun, ia mengasingkan diri untuk belajar dan melakukan meditasi, akhirnya di mundul dari pengasingannya sebagai seorang guru dan ia berhasil menarik sejumlah besar murid yang setia. Kemashurannya semakin meningkat pada usia 50 tahun, ia kembali lagi kepada masyarakat, kemudian ditunjuk sebagai menteri pekerjaan dan pengadilan, jabatan-jabatan tersebut telah memberikan kesempatan kepadanya untuk praktek mengajar dan menyelengarakan suatu sistem administrasi yang teratur, ia berhasil membuat negara menjadi tentram dan adil sehingga kejahatan dan kerusakan akhlaq menjadi hilang.
Dalam keberhasilan dan kesuksesannya yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat secara tegas dan lugas, menyebabkan musuh-musuh atau lawan-lawannya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengeliminasikan Konfusius, sehingga Konfusius terpaksa meninggalkan negerinya selama 14 tahun bersama murid-muridnya yang setia mengikutinya. Akan tetapi dia diizinkan untuk kembali ke negerinya ketika ia berusia 68 tahun menghabiskan separuh usianya untuk mengajarkan pemahamannya dan meneliti warisan-warisan purbakala, sehingga menghasilkan sebuah karya yang membahas tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa di musim semi dan musim gugur hingga karyanya tersebut diberi nama Chun-tsin, (sejarah musim semi dan musim gugur) di dalam bukunya tersebut dia dengan berani mengkritik kebijakan pemimpin Lu dan menampilkan segala peristiwa yang terjadi di Lu secara apa adanya.
Pada 470 SM, akhirnya Konfusius meninggal dunia, meskipun demikian apa yang ia capai selama hidupnya mampu menjadikan kematiannya menjadi bermakna.

B. Ajaran-ajaran Konfusius
Konfusius menghindari membicarakan hal-hal yang metafisik dan abstrak. Suatu ketika chung-yu salah seorang muridnya bertanya kepadanya tentang jiwa, yang dijawabnya: jika kamu tidak bisa mngetahui orang bagaimana kamu dapat mengetahui jiwa? Apabila dia ditanya tentang kematian, ia menjawab: jika kamu belum mengerti tentang hidup bagaimana kamu bisa mengetahui tentang kematian?. Juga dikatakan tentang dia, bahwa dia tidak pernah membicarakan tentang keajaiban, kekuatan atau masalah ketuhanan. Tetapi dia tidak ragu-ragu bahwa Konfusius percaya pada Tuhan dan bahwa ia adalah seorang monoties yang etis. Ia menyatakan bahwa kehendak Tuhan telah dibukukan untuknya dan karena itu isinya adalah membuat kehendak tersebut berlaku di dunia ini. Di antara sekian banyak perkataanya adalah:
• “ada tiga hal yang menjadi tempat orang besar berdiri kagum: perintah-perintah Tuhan, orantg-orang penting, kata-kata yang bijaksana. Orang picik tidak tahu perintah-perintah Tuhan, tidak berdiri kagum di atasnya, tidak sopan terhadap orang-orang penting, ia menghina kata-kata yang bijaksana” (Analekta 16:8)
• “Tuhan memperkayakan daku dengan misi ketuhanan. Apa yang dapat dilakukan Huan Tuei (perwira militer yang pernah mengusirnya) terhadap saya?” (Analekta 7:23)
• “Jika itu merupakan kehendak Tuhan bahwa sistem ketuhanan itu hanya sia-sia, maka keturunan, anak cucu, tidak akan pernah ikut merasakan lagi pengetahuan tentang kepercayaan (keyakinan ini). Tetapi jika itu menjadi kehendak Tuhan bahwa sistem ini tidak akan sia-sia, apa yang dapat diperbuat oleh orang-orang kuang untukku?” (Analekta 9:25)

Inti ajaran Kunfusius yaitu:
1. Tentang kedudukan manusia dan tertib alam bahwa manusia asalnya baik, sama dan bersaudara, karena manusia mempunyai sifat samawi. Hendaknya masing-masing manusia menempati kedudukan sesuai dengan keahliannya demi ketertiban alam. “Tse-un-tse-un syu-en-syu-en, fu-fu, tse-tse” (biarlah raja tetap raja, rakyat tetap rakyat, bapak tetap bapak, anak tetap anak)
2. Ajaran tentang etiket disebit Li: menentukan agar setiap orang mengindahkan adat istiadat yang berlaku terutama yang berhubungan dengan istana.
3. Tentang kemanusiaan yang disebut Yen dijelaskan supaya manusia menghormati orang lain seperti menghormati diri sendiri dan lakukan kejahatan terhadap orang lain, karena dirinya sendiri juga tidak menghendaki.
4. Perihal kesetiaan yang disebut dengan Syiau, dimaksudkan agar pangeran atau tuan tanah setia kepada kepada raja, anak setia kepada bapak, kaum muda setia kepada kaum tua
5. Tentang manusia sempurna disebut Sying yen yang berarti orang bijaksana, semacam insan kamil, adalah manusia yang patut dijadikan contoh teladan bagi kehidupan umat manusia. Begitu pula orang terhormat (Hyen-yen) termasuk orang yang mengerti Sying Yen serta menjalankan ilmu yang benar dalam kehidupannya.

Kitab suci Konfusius
1. Kitab yih king, yaitu kitab perubahan yang mengandung perubahan Kung untuk mengubah tradisi kerajaan yang dianggap tidak baik atau menyimpang
2. Syi king kitab syair yang berisi sajak-sajak tentang kebijakan
3. Syu, kitab sejarah yang mengandung pelajaran perihal kehidupan bangsa, yang pernah diajarkan oleh Kung kepada murid-muridnya di sekolah dulu.
Kitab-kitab di atas ditulis sendiri oleh Konfusius/Kung, sedangkan kitab yang lain ditulis oleh murid-muridnnya, antara lain: lun yu (kumpulan pokok ajaran Kung), Ta Hioh (pelajaran Kung untuk murid-muridnya) dan Chung yung (pelajaran tentang kebijaksanaan).



SUMBER:
Abdullah ali, agama dalam ilmu perbandingan, Nuansa Auliya, Bandung: 2007
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/10/biografi-konfusius.html
Romdhon dkk, Agama-agama dunia, IAIN Sunan Kalijaga Press, Jogjakarta: 1988
http://wihara.com/forum/kong-hu-cu/821-ajaran-konfusius.html
Sabtu, 12 November 2011 0 komentar

IDUL ADHA DAN AKSI RADIKALISME

Qissotun mujizatun “bertepatan pada tanggal 8 dzulhijjah Nabi ibrahim didatangi sebuah perintah atau pesan dari Allah melalui mimpi beliau yang isinya yaitu perintah untuk menyembelih anaknya sendiri Isma’il. Nabi ibrahim merasa bingung karena beliau sangat menyayangi anaknya (Isma’il), maka dari itu pada tanggal 8 dzulhijjah dinamakan hari renungan (yaum at-tarwiyah). karenanya Nabi ibrahim menceritakan tentang perintah Allah yang datang melalui mimpi beliau tersebut kepada isteri tercintanya sitti hajar. Siti hajar berkata “mungkin mimpimu itu hanya mainan belaka, akan tetapi kalau mimpi itu merupakan wahyu, maka wajiblah dituruti”. Pada malam selanjutnya mimpi itu menghampiri tidur nabi Ibrahim kembali, hingga beliau yakin bahwa mimipi itu benar-benar perintah Allah yang wajib dilaksanakan. Karena itu tanggal 9 dzulhijjah diberinama hari pengetahuan (yaum arafah). Mimpi demikian datang kembali pada tanggal 10 dzulhijjah, hingga membuat nabi Ibrahim benar-benar paham betul bahwa mimpi itu diperintahkan untuk menqurbanjkan anaknya. Karena tragedi inilah dinamakan hari qurban (yaum al-nahr). Karena ketaqwaan nabi Ibrahim kepada Allahm, maka beliau melaksanakan perintah-Nya yaitu menyembelih anaknya sendiri isma’il, akan tetapi yang terjadi Allah mengganti isma’il dengan seekor kambing saat nabi Ibrahim mau menyembelih anaknya, kemudian nabi Ibrahim menyembelih kambing tersebut. Kisah nabi Ibrahim ini diperingati oleh umat Islam yang dikenal dengan idhul adha. Kisah di atas dimana Allah mengganti Isma’il dengan kambing menunjukkan bahwa Allah melarang tindak anarkis sesama manusia. Dengan maraknya tindak kekerasan di Indonesia yang nota bene mayoritas agama Islam bahkan muslim terbesar di dunia, mulai dari perusakan tempat ibadah, kerusuhan, hingga pengeboman yang kian hari bagai kapas berterbangan di udara agaknya hari peristiwa itu perlu dijadikan kontemplasi religius agar umat muslim Indonesia tidak melakukan tindak anarkis antar umat manusia. Maka dari itu hari raya idhul adha ini jangan hanya dijadikan “perayaan ritual-ritualan” belaka, akan tetapi direnungi dan dihayati agar umat muslim indonesia khususnya tidak lagi melakukan aksi-aksi teror di mana-mana.
Sabtu, 15 Oktober 2011 1 komentar

Membangun Masyarakat yang Adil: Pandangan Said Nursi dalam Khotbah Damaskus

1. Apa “Khotbah Damaskus” itu?
Pada tahun 1911, Said Nursi mengunjungi kota Damaskus di Siria. Beliau diundang oleh tokoh-tokoh Islam disana untuk memberi khotbah Jum’at. Ia setuju dan katanya sepuluh ribu orang hadir shalat Jum’at itu. Sesudah khotbahnya, orang-orang Siria meminta teksnya dan langsung terbitkannya. Karena cepat dijual dan khabar khotbah itu beredar, teks “khotbah Damaskus” itu harus diterbit dua kali dalam minggu yang sama.
Memang, khotbah Damaskus yang asli diberikan dalam bahasa Arab dan diterbitkan di Istanbul di Turki pada tahun 1922. Pada tahun 1950, hampir 40 tahun sesudah khotbah diberikan di kota Damaskus, Said Nursi sendiri menterjemahkan khotbahnya kedalam bahasa turki supaya teksnya bisa dimasukkan kedalam Risale-i Nur. Tentu saja, banyak hal terjadi di dunia diantara tahun 1911 waktu Said Nursi memberikan khotbah di kota Damaskus dan 1950, waktu beliau memperbaharui teksnya. Misalnya, dua perang se-dunia telah terjadi dengan jutaan korban dan kehancuran kota-kota dan negara-negara, komunisme beredar dan memerintahkan daerah luas, sekulerisme juga berkembang di negara-negara barat. Maka kita tidak heran bahwa dalam teks Khotbah Damaskus ada juga referensi ke peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah tahun 1911.

2. Pentingnya keadilan bagi masyarakat dan negara
Waktu Said Nursi memberikan khotbahnya pada tahun 1911 di kota Damaskus, Siria masih dijajah oleh Prancis, maka orang-orang Arab yang tinggal di Siria pada zaman itu sedang mengalami berbagai macam ketidakadilan. Bukan saja sistem politik dan ekonomi di Siria terjajah itu yang tidak adil, tetapi juga banyak macam ketidakadilan terdapat dalam kehidupan sosial, kekeluargaan dan keagamaan. Menurut Said Nursi, suatu masyarakat yang kurang adil tidak bisa berhasil karena tidak akan didukung oleh Tuhan Allah, apalagi karena masyarakat yang kurang adil tidak mampu memperbolehkan perkembangan manusia yang sungguh. Kata Said Nursi, “Karena sivilisasi Barat tidak berdasar pada kebenaran dan keadilan, melainkan pada prinsip kepaksaan, pertentangan dan agresi, kejahatan-kejahatan peradaban itu akan mengatasi kebaikan-kebaikannya. Kalau manusia menganut Islam, ia akan mengerti bagaimana dalam peradaban Islam, berdasar pada kebenaran-kebenaran terwahyukan dalam Qur’an al-Karim dan syari’at Nabi Muhammad, nilai-nilai kemajuan menonjol dan manfaat-manfaat peradaban bisa dicapai (Prefasi Khotbah Damaskus, h. 14).
Menurut Said Nursi, hanya suatu masyarakat yang berdasar pada nilai-nilai agama akan bisa berhasil membawa kepada manusia kemakmuran. Kata Nursi, “Benarlah, hanya lewat kebenaran-kebenaran Islam masyarakat Islam akan berhasil dan makmur. Masyarakat Islam bisa berfungsi dengan syari’at Islam dan kebahagiaan dunia akan tercapai. Kalau tidak, keadilan akan hilang dan keamanan masyarakat akan digulingkan” (Khotbah Damaskus, h. 67).

3. Sifat-sifat masyarakat Islam.
Dalam khotbahnya, Said Nursi berusaha menggambarkan sifat-sifat yang harus menandakan sivilisasi Islam. Menurut Nursi, peradaban yang dituntut Nabi Muhammad berdasar “bukan pada keterpaksaan, melainkan pada kebenaran, keadilan, dan kerukunan”. Tujuannya adalah “kebaikan, cinta kasih dan daya tarik”. Ikatan kesatuannya adalah hubungan ramah dan saling menolong teman-teman se-agama dan negara, bukan sikap nasionalis yang membenci orang-orang beragama atau suku lain. Tanda nilai-nilai itu adalah persaudaraan, perdamaian, dan ketidakkerasan, kecuali kalau ada serangan dari luar. Dalam kehidupan sehari-hari harus ada saling pertolongan, persetujuan dan solidaritas. Akhirnya, peradaban Islam menawarkan bimbingan supaya kekayaan dibagi-bagikan antara masyarakat seluas mungkin, daripada menganjurkan kerakusan dan egoisme (Khotbah Damaskus, Benih-benih Kenyataan, h. 106.)
Tentu saja, dalam masyarakat yang bersifat Islam, harus juga suatu kesadaran bahwa setiap orang sama dihadapan Allah, yaitu sama dalam hak-hak, dalam pertanggung-jawabannya, dan dalam kewajiban mentaati kehendak Allah. Suatu masyarakat yang memberi hak istimewa dan kehormatan yang lebih tinggi kepada beberapa anggota dan mengabaikan orang-orang kecil kurang adil, ternyata tidak bersifat islami. Kata Said Nursi, “Keadilan tanpa kesamaan bukan keadilan (yang sungguh)” (Khotbah Damaskus, Benih-benih Kenyataan, h. 111).
Said Nursi tidak melihat pertentangan antara orang-orang Islam mengikuti syar’iat Islam dan undang-undang dasar yang nasional. Pada tahun 1911, banyak daerah bermayoritas Islam menuju ke kemerdekaan, dan ada dua pendapat yang beredar secara luas. Ada pendapat bahwa dalam negara moderen, semuanya harus diperintahkan menurut undang-undang dasar yang tidak berhubungan dengan agama. Dari lain pihak, ada yang mengatakan bahwa orang-orang Islam sudah mempunyai undang-undang dasar dalam syari’at Islam, dan bagi kaum muslimin menerima undang-undang dasar lainnya merupakan semacam syirk. Menurut Said Nursi, seharusnya tidak ada pertentangan antara konsep undang-undang dasar nasional dan pengaruh ajaran Islam pada UUD itu. Menurut Nursi, setiap undang-undang dasar berminat untuk tiga hal: keadilan, musyawarah, dan kekuatan yang harus dibatasi oleh alat-alat hukum. Dan syari’at Islam justru merupakan sumber tiga nilai itu (Khotbah Damaskus, Tambahan Pertama, Bagian Ketiga, h. 72). Untuk membuktikan pandangannya, Nursi memberi daftar sumbangan syari’at Islam ke konstitusionalisme dan undang-undang dasar di berbagai negara. Karena daftarnya panjang, saya memberi saja ringkasan disini:
Syari’at merupakan sumber keadilan yang mutlak,
Memberi dukungan yang kuat untuk UUD,
Melindungi hak-hak masyarakat dari pemerasan oleh para penguasa,
Menarikkan keperhatian dan kekaguman orang-orang di negara lain,
Membangun solidaritas dan ijma’ dalam tujuan yang satu,
Menghalangi kejahatan-kejahatan luar menulari masyarakat, dsb.
(Khotbah Damaskus, Tambahan Pertama, Bagian Ketiga, h. 73.)
Said Nursi juga mencatat keuntungan lainnya kalau syari’at Islam mempengaruhi undang-undang dasar suatu negara. Mungkinlah topik ini bisa jadi bahan yang menarik untuk tesis bagi seorang mahasiswa yang mempelajari Risale-i Nur.
Senin, 10 Oktober 2011 0 komentar

TAFSIR SAHABAT

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian sahabat sebagai mufassir sepeninggal Rosul
Ahmad bin Hambal berkata: “Semua yang pernah bersahabat dengan Nabi saw. selama setahun, atau sebulan, atau sehari, atau sesaat, atau pernah melihatnya; maka ia adalah termasuk di antara para sahabat beliau. Dia tetap sahabat sebatas kadar persahabatannya dengan Nabi.” (Al Kifayah fi ma’rifati ushul ilmi ar-riwayah 1/192)
Ali bin Al Madini berkata: “Barangsiapa yang pernah menemani Nabi saw. atau melihatnya meskipun hanya sesaat dengan jelas, maka dia adalah termasuk di antara sahabat Nabi saw.” (Fath Al Bari Syarh Shahih Al Bukhari, 7/5)
Imam Bukhari berkata: “Barangsiapa di antara kaum muslimin yang pernah menemani Nabi saw. atau telah melihatnya, maka dia adalah termasuk sahabatnya.” (Shahih Al Bukhari/Kitab Al Manaqib, Bab Fadha’il Ash-hab An Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam)
Ibnu Hajar Al Haitami (w. 974h/1567M seorang ahli hadits terkenal ) mengatakan bahwa sahabat adalah orang yang pernah berjumpa dengan Nabi saw. Dan orang tersebut beriman kepadanya, hidup bersama beliau baik dalam waktu yang lama maupun sebentar baik orang tersebut meriwayatkan hadist atau tidak dari Nabi, atau orang yang pernah melihat beliau.
sahabat secara secara etomologis merupakan kata bentukan dari kata “ash-shuhbah” yang berarti persahabatan.
Sedangkan pengertian sahabat menurut ulama’ hadits adalah setiap muslim yang pernah melihat Rasulullah saw. Seperti Imam bukhori dalah shohihnya menyebutkan bahwa sahabat adalah kamu muslim yang pernah menyertai Nabi Muhammad saw atau pernah melihat Beliau atau sahabat Beliau.
Jadi esensi dari sahabat itu sendiri adalah seorang muslim yang hidup pada zaman Rasulullah dan melihat serta berjuang dengan beliau meskipun hanya sesaat.
Tafsir sahabat juga disebut dengan “tafsir ma’tsur”, yang mana tafsir ma’tsur termasuk tafsir yang bisa diterima sebagai pegangan, karena parea sahabat telah berkumpul dengan Rasullah saw dan mereka telah meminum air pertolongan yang bersih, mereka menyaksikan turunnya wahyu al-qur’an dan mereka juga tau tentang asbabu nnuzul. Mereka mempunya kesucian jiwa, keselamatan fitrah dan keunggulan dalam hal memahami secara benar dan selamat terhadap kalam Allah swt. Bahkan menjadikan mereka mampu menemukan rahasia-rahasia Al-Qur’an lebih banyak dibanding siapapun orangnya.
Klarifikasi sahabat
Abu Husain bin al Hajjaj al Qusyairi an-Naisabur atau yang kita kenal dengan Imam Muslim (Naisabur, 202 H/817 M - 261H/ 875M) seorang ahli hadist terkenal mengklasifikasikan sahabat Rasulullah menjadi dua belas tingkatan berdasarkan peristiwa yang mereka alami atau saksikan, yaitu:
1. Assabiqunal awwalun
2. Darun nawah ( kedung pertemuan bagi orang-orang Quraisy pada masa sebelum dan awal Islam)
3. Para sahabat yang ikut hijrah ke Habasiyah
4. Para sahabat yang membaiat Nabi pada aqabah pertama
5. Para sahabat yang membaiat Nabi pada aqobah kedua
6. Muhajirin yang pertama menemui nabi ketika Beliau tiba di Quba sebelum memasuki kota Madinah pada waktu hijrah
7. Sahabat yang ikut dalam perang badar
8. Sahabat yang berhijrah antara badar dan Hudaibiyah
9. Sahabat yang tergabung dalam bai’at Ridwan (bai’at yang dilakukan kaum muslimin ketika ghaswah/perjanjian Hubaidiyah)
10. Sahabat yang ikut hijrah antara Al Hudaibiyyah dan Al Fatah
11. Berdasarkan urutan masuk Islam
12. Para remaja dan anak-anak yang sempat melihat Rasulullah.

Stratifikasi sahabat
Al-hakim mengemukakan bahwa stratifikasi sahabat terbagi menjadi 12 yaitu:
1. Mereka yang mula-mula masuk islam seperti keempat kholifah
2. Mereka yang masuk islam sebelum musyawarah ahli Mekkah dar an-nadwah.
3. Mereka yang berhujrah yang ke Habsyah.
4. Mereka yang mengikuti Al-Aqobah al-ula.
5. Mereka yang mengikuti Al-Aqobah al-staniyah yang mayoritas kaum anshar.
6. Kaum muhajirin yang mula-mula bertemu dengan Nabi saw di Kuba sebelum Beliau memasuki Madinah.
7. Ahli badar
8. Mereka yang berhijrah di antara badar dan Al-Hudaibiyah
9. Para peserta bai’at Ar-ridwan di Hudaibiyah.
10. Mereka yang berhijrah antara hidaibiyah dan fath Mekkah, seperti: Kholid bin Walid al walid, Ibn al-Ash dan Abu Hurairah.
11. Orang-orang yang masuk Islam saat fath Mekkah.
12. Kalangan anak-anak yang menyaksikan Nabi saw saat fath Mekkah dan hajji wada’.
As suyuti dalam al-itqannya menyatakan tobaqot para mufassir ada sepuluh yaitu:
1. Abu bakar as shiddiq
2. Umar ibn Khattab
3. Ustman ibn Affan
4. Ali ibn Abi tholib
5. Ibn mas’ud
6. Ibn abbas
7. Ubay ibn Ka’ab
8. Zaid ibn Tsabit
9. Abu musa al asy’ari
10. Dan Abdullah ibn Zubair.

B. Berbagai sarana yang membantu sahabat dalam menafsirkan dan contoh-contohnya
Adapun sarana yang digunakan oleh para sahabat untuk menafsirkan Al-Qur’an yaitu dengan hadits Rasulullah (bil ma’tsur) dan dengan ijtihad
Contoh penafsiran dari sahabat yang ditafsirkan oleh Abdullah ibn Abbas
Abdullah ibn Abbas mempunyai kisah yang diriwayatkan oleh Imam bukhori dalam kitab shohihnya yang menunjukkan kehebatan ilmunya dan keunggulan dalam menyelami ke dasar rahasia-rahasia Al-Qur’an.
Imam bukhari meriwayatkan dari Said ibn Jubair dari ibn Abbas, dia berkata: “Umar ra memasukkanku bersama para tokoh badar. Seolah-olah sebagian mereka menganggap remeh, seraya berkata, “mengapa anak kecil ini diikutkan bersama kami, sesungguhnya kami punya anak-anak serupa dia? Lalu umar menjawab, “sesungguhnya dia anak yang akan kamu ketahui kecerdasan akan ilmunya, “ kemudian Umar mengundang mereka dan memasukkanku bersama mereka. Maka aku mengira Beliau mengundangku bersama mereka hanyalah untuk memperlihatkan kepada mereka. Beliau berkara,”apa pendapat kalian tentang firman Allah
     
Sebagian mereka menjawab, “kita diperintah untuk memuji dan memohon kepada Allah, ketika Dia telah menolong dan membukakan atas kita. “sebagian mereka diam, tidak berkata apa-apa. Lalu Umar berkata kepadaku, “apakah demikian juga pendapatmu, wahai ibn abbas? “maka aku menjawab, “tidak”. Dia berkata lagi, apa pendapatmu wahai ibn Abbas? Kujawab “itu adalah ajal Rasullah yang diperintahlan kepadanya. Firman Allah
     
Demikian itu adalah alamat ajalmu, hendaklah kamu memuji dan memohon ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Ia maha menerima taubat. Umar berkata: “demi Allah aku tidak mengetahui dari ayat tersebut selain apa yang kau katakan.”
C. Madrasah tafsir pada masa sahabat, ciri-cirinya serta karya-karya mereka
Dengan memperhatikan keterangan-leterangan yang telah lalu, nyatalah bahwa para sahabat mempunyai dua madrasah (aliran) dalam menafsiran Al-Qur’an yaitu:
1. Madrasah alhil atsar yaitu yang hanya menafsirkan Al-Qur’an atau dengan riwayat (madrasah ahlil tafsir bil ma’tsur) aliran tafsir yang berpegan teguh pada riwayat semata.
2. Madrasah ahlil ra’yi yaitu disamping menafsirkan Al-Qur’an dengan riwayat tetapi juga mempergunakan ijtihad (madrasah ahlil tafsir bil ma’qul).
Maka dari itu ciri-ciri tafsir sahabat secara umum tafsir dengan ayat sendiri atau dengan hadits atau dengan pendapat para sahabat
Secara umum para sahabat menafsirkan Al-Qur’an menurut penerangan riwayat semata, yakni menurut yang mereka terima. Menafsirkan Al-Qur’an dengan berpegan teguh pada kaidah-kaidah bahasa dan kekuatan ijtihad pada masa sahabat, belum umum dilakukan.
0 komentar

FILSAFAT PLATO

PEMBAHASAN
A. Latar belakang kehidupan Plato
Plato adalah seorang filsuf yang sangat berpengaruh di Yunani. Dia adalah murid Socrates yang sangat cerdas sekali. Kelahirannya belum diketahui dengan pasti oleh orang-orang, ada yang mengatakan dia lahir di Athena ada juga yang mengatakan dia lahir di pulau Aegina. Demikian juga dengan tahun kelahirannya ada yang mengatakan dia lahir pada tahun 427 SM. Plato berasal dari keluarga Aristokrat Athena, dimana keluarga tersebut turun temurun yang sangat berperan sekali dalam politk Athena.
Namanya bermula ialah Aristokles. Plato namanya kemuniasiaan yang diberikan oleh gurunya bermain senam ia memperoleh nama tersebut disebabkan bahunya yang lebar.
Plato belajar kepada Sokrates sejak umur 20 tahun, dengan metode soal jawab gurunya (Sokrates), dia sangat puas sekali belajar kepadanya, hingga semakin hari semakin mendalam ilmuanya. Ia menjadi murid Socrates yang sangat setia sampai pada akhir hidupnya Sokrates tetap menjadi pujangganya.
Pada umur 40 tahun Plato pergi ke Italia dan Cicilia, untuk belajar ajaran Pythagoras, di sana Plato tinggal di istana milik seoarang raja yang bernama Dionysios, dan di situ pula Plato kenal dengan ipar sang raja tersebut yang sangat muda yang bernama Dion hingga dia menjadi sahabat karibnya. Lambat laun Plato dan ipar sang raja tersebut (Dion) ingin memengaruhi sang raja agar sang raja melaksanakan teori Plato tentang pemerintahan yang baik dalam praktik. Akan tetapi ajaran Plato yang sangat menitik beratkan kepada moral dalam segala perbuatan, lambat laun menjemukan sang raja Dionysios, hingga akhirnya Plato ditangkap dan dijual sebagai budak. Akan tetappi di tengah pasar budak nasib baik menghampirinya, dia bertemu dengan bekas muridnya yang bernama Annikeris dan ditebusnya. Kemudian kejadian itu diketahui oleh sahabat-sahabatnya, dan mereka (sahabat Plato) mengumpulkan uang untuk menebus Plato kepada Annikeris yang telah menebusnya. Akan tetapi Annikeris tidak mau. Karena Annikeris tiadak mau menerima tebusan dari sahabat-sahabat Plato, akhirnya uang mereka dipergunakan untuk membeli sebidang tanah dan diberikan kepada Plato untuk dijadikan sekolah tempat ia mengajarkan filosofinya. Tempat itu diberi nama “AKADEMIA”. Di situlah plato mengajarkan filosofinya dari usia 40 tahun, pada tahun 387 SM sampai ia meninggal dalam usia 80 tahun.
B. Sumber pemikiran filsafat Plato
Guru filsafat yang amat dikagumi, dihormati, dan dicintai Plato ialah Sokrates. Bagi Plato, Sokrates adalah guru sekaligus sahabat. Karena itu, tak heran jika hampir seluruh karya filsafat Plato menggunakan” metode sokratik”, yaitu metode yang dikembangkan oleh Sokrates, yang dikenal dengan nama dialektis, “elenkhus”. Metode tersebut terwujud dalam suatu bentuk”tanya jawab”.
Plato dipengaruhi filsuf sebelumnya yang dikenal dengan filsuf pra-Sokrates. Sebelum Sokrates, Plato telah belajar filsafat dari Kratilos. Kratilos adalah murid dari Heraklitos, si gelap (ho skoteinas), yang meraih gelar demikian itu karena pemikiran filsafatnya yang sulit dipahami. Selain itu Plato juga dipengaruhi oleh ajaran para sophis, walaupun lebih banyak secara negatif, yakni merupakan kecaman terhadap para sophis itu.

C. Pemikiran filsafat Plato
Sebagaimana Sokrates, ia menggunakan metode dialog untuk mengantarkan falsafatnya. Namun, kebenaran umum (definisi) menurutnya bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif sebagaimana metode yang digunakan Sokrates. Pengertian umum (definisi) menurut Plato sudah tersedia di alam idea.
Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan daria dunia idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan merupakan tiruan dari yang asli, yaitu idea. Oleh karena itu, dunia pengalman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman. Barang-barang yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea.
Keadaan idea bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang tertinggi adalah idea kebaikan, di bawahnya idea jiwa dunia, yang menggerakkan dunia. Berikutnya dunia keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan, politik.
plato dinobatkan sebagai pemikir idealisme karena seluruh filsafatnya bertumpu pada dunia ide. Plato percaya bahwa ide adalah realita yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat dikenal oleh panca indera. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau keberadaan ada yang sesungguhnya, maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan atau gambaran yang berada hampir di dalam pemikiran manuisa.
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea.
Menurut Plato esensi itu mempunyai realitas di alam idea itu sendiri, ini memperkuat pendapat gurunya Socrates. Lewat karangan mitosnya di dalam dialog “Politeia” menjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera. Kebanyakan orang menjadi terbelenggu dan menerima pengalaman spontan begitu saja. Namun ada beberapa orang memperkirakan bahwa realitas inderawi hanyalah bayangan; mereka adalah filosof. Untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya manusia harus mampu melepaskan diri dari pengaruh indera yang menyesatkan, bahkan filosof pun tidak akan dipercayai orang.
Contoh. Melalui akal budi, ide pohon itu dapat dipahami, sedang melakukan kesaksian indera, terdapat bermacam-macam jenis dan bentuk pohon. Di dunia ide, hanya dikenal ide tentang pohon (satu dan tetap), tetapi di dunia realitas terdapat perbedaan, perubahan dan perkembangan bermacam-macam jenis pohon. Demikian juga dengan manusia. Dalm dunia jasmani, dikenla bermacam-macam jenis manusia, tetapi di dunia ide hanya ada satu, yaitu ide tentang manusia. Manusia sebagai makhluk jasmani, pasti akan mati, dan karena itu musnah. Tetapi di dalm ide manusia akan tetap abadi.
D. Karya-karya Plato
Plato mulai mengarang buku dimulai sekitar tahun 380 SM, berlangsung sampai pada ajalnya. Seluruh tulisan Plato yang dipublikasikan tersimpan, disampinh sebagian dari tulisan-tulisan lainnya tentang dia yang tidak sepenuhnya benar. Adapun tentang apa saja yang dia ucapkan dalam kuliah-kuliahnya, tidak ada yang tersimpan.
Tulisan-tulisan Plato dapat dibagi kedalam tiga kelompok. Pertama, tulisan-tulisan di waktu mudanya. Di antaranya yang penting adalah: protagoras, suatu pembelaan terhadap tesis, bahwa kebaikan adalah pengetahuan dan dapat dipikirkan; apologi, pleidio pembelaan Sokrates terhadap tuduhan Atheisme dan kerusakan moral orang-orang muda Athena; eutifro, masalah sifat kesucian, dan buku pertama tentang negara negara atau republik, sebuah diskusi tentang keadilan.
Kedua, tulisan-tulisan sesudah setengah tua. Pada saat itu termasuk gorgias, persoalan mengenai masalah etika; meno, diskusi tentang sifat pengetahuan; faedo, panorama kematian Sokrates, diskusinya tentang teori mengenai masalah bentuk, sifat, nyawa, dan masalah ketidak matian; simposium, berisi berbagai uraian plato tentang keindahan dan tentang cinta, serta politeia, vukunya kedua sampai dengan kesepuluh, tentang negara.
Ketiga, pada hari tua, antara lain teaitetus, suatu penolakan bahwa pengetahuan itu identis dengan cita rasa; parmeneides, penilaian kritis tentang bentuk; kaum sofis, kelanjutan diskusi mengenai teori tentang ide atau bentuk; timaius, pendapat Plato tentang ilmu pengetahuan alam dan tengtang kosmologi, dan nomoi, hukum yang berisi analisis praktis tentang masalah-masalah politik dan sosial.
Sedangkan menurut Mohammad Hatta dalambukunya “alam pikiran Yunani” karya-karya plato ditempatkan pada empat masa yaitu:
Pertama, karangan-karangan yang ditulisnya dalam masa mudanya yaitu waktu sokrates masih hidup sampai tak lama sesudah ia meninggal. Buku-bukunya yang diduga dalam masa itu ialah: apologie, kriton, ion, protagoras, laches, politeia buku I, lysis, charmides dan euthyphron.
Kedua, buah tangan yang ditulisnya dalam masa yang terkenal sebagai”masa peralihan”. Masa itu disebut juga masa megar, yaitu waktu plato tinggal sementara disitu. Dialog-dialog yang diduga ditulisnya dalam masa itu ialah Gorgias. Kratylos, menon, hippiasa dan beberapa lainnya.
Ketiga, buah tangan yang disiapkannya di masa matangnya. Tulisannya yang terkenal dari waktu itu dan kesohor sepanjang masa ialah phaidros, symposion, phaidon, dan politeia buku II-X.
Keempat, buah tangan yang ditulis pada hari tuanya. Dialog-dialog yang dikarangnya di masa itu sering disebut theaitetos, parmenides, sophistos, politikos, philibos, timaios, kritias, dan nomoi.
Sabtu, 24 September 2011 0 komentar

ILMU SOSIOLOGI

A. Pengertian sosiologi dan ruang lingkupnya menurut para ahli

Para ahli berpendapat bahwa sosiologi adalah:
a. Pitirim sorokin bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari:
i. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka ragam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga dengan moral; hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik dan lain sebagainya);
ii. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala-gejala non sosial (misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya);
iii. Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.
b. Roucek dan warren mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari antara manusia dalam kelompok-kelompok.
c. William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
d. J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
e. Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari strktur sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
Menurut Stephen K. sanderson sosiologi adalah lajian ilmiah tentang kehidupan sosial.
Emile durkheim adalah orang pertama yang mecoba melepaskan sosiologi dari dominasi kedua kekuatan yang mempengaruhinya itu. Durkheim terutama melepaskan sosiologi dari alam filsafat positif august comte untuk kemudian meletakkan sosiologi ke atas dunia empiris.
Dari semua pendapat para ahli di atas kita bisa menyimpulkan bahwa sosiologi adalah suatu kajian, studi, hubungan antara masyarakat dan individu dengan yang lainnya dan melakukan hubungan timbal-balik.
Contoh: pada sore hari yang bercuaca panas, Pak Ahmad, seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil, sedang berbaring di kamar tidur dengan memakai pakaian dalam seadanya. Tiba-tiba istrinya membangunkan untuk mengabarkan bahwa keluarga mereka kedatangan tamu istimewa, yaitu Kiyai Haji Abdul Rahim, seorang Ulama yang sangat dihormati di Desa tempat mereka tinggal. Pak Ahmad segera bangun dari tempat tidur dan bergegas memakai pakaian yang paling baik. Dengan penampilan yang rapi, Pak Ahmad menemui tamunya yang sudah menunggu di beranda depan rumah. Setelah saling tegur sapa dengan penuh basa-basi dan rasa hormat, terjadilah pembicaraan hangat di antara tamu dan pribumi tentang berbagai masalah sehari-hari di desa mereka, terutama masalah-masalah keagamaan. Pembicaraan mereka baru berakhir setelah adzan maghrib dikumandangkan dari menara nmesjid pesantren sang Kiyai.
Dari peristiwa pendek di atas adalah gambaran sederhana tentang keadaan seseorang (Pak Ahmad), ia bisa menikmati kebebasannya dan bisa melepaskan diri dari ikatan-ikatan sosialnya. Tetapi ketika mulai berhubungan dengan individu lai, ia berada dalam suatu lingkungan sosial dengan seperangkat aturan, hukum, norma, dan nilai yang mengikat. Ia tidak lagi menikmati kebebasan individual, tetapi terikat dengan berbagai kewajiban maral terhadap individu yang lain.
Ruang lingkup sosiologi
Ruang lingkup kajian sosiologi tersebut jika dirincikan menjadi beberapa hal, misalnya antara lain:
• Ekonomi beserta kegiatan usahanya secara prinsipil yang berhubungan dengan produksi, distribusi,dan penggunaan sumber-sumber kekayaan alam;
• Masalah manajemen yaitu pihak-pihak yang membuat kajian, berkaitan dengan apa yang dialami warganya;
• Persoalan sejarah yaitu berhubungan dengan catatan kronologis, misalnya usaha kegiatan manusia beserta prestasinya yang tercatat, dan sebagainya
B. Karakteristik sosiologi
berdasarkan anggapan Durkheim, fakta sosial memiliki empat ciri atau karakteristik yang membedakannya dari yang bukan sosial, yaitu:
1. Suatu wujud di luar individu
2. Melakukan hambatan atau membuat kendala terhadap individu
3. Bersifat luas atau umum; dan
4. Bebas dari manifestasi atau melampaui manivestasi individu.
Sebagai ilmu, sosiologi memiliki sifat hakikat atau karakteristik sosiologi:
1. Merupakan ilmu sosial, bukan ilmu kealaman ataupun humaniora
2. Bersifat empirik-kategorik, bukan normatif atau etik; artinya sosiologi berbicara apa adanya tentang fakta sosial secara analitis, bukan mempersoalkan baik-buruknya fakta sosial tersebut. Bandingkan dengan pendidikan agama atau pendidikan moral.
3. Merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat umum, artinya bertujuan untuk menghasilkan pengertian dan pola-pola umum dari interaksi antar-manusia dalam masyarakat, dan juga tentang sifat hakikat, bentuk, isi dan struktur masyarakat.
4. Merupakan ilmu pengetahuan murni (pure science), bukan ilmu pengetahuan terapan (applied science)
5. Merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak atau bersifat teoritis. Dalam hal ini sosiologi selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat sehingga menjadi teori.
Sosilogi itu berdasarkan penalaran dan pengamatan yang semua berhubungan dengan panca indera manusia yang di alami dalam kehidupan sosial. Itulah karakteristik sosilogi yang empiris.
Ada empat sifat untuk menetukan apakah sosiologi itu disebut ilmu atau tidak.
a. Bersifat empiris: berdasarkan penalaran dan pengamatan.
b. Bersifat teoritis: mempunyai teori.
c. Bersifat kumulatif: berasal dari kata “cumulare” yang berarti menumpuk, menimbun, makin lama makin besar. Sosiologi dibentiuk berdasarkan teori lama yang disempurnakan dan makin lama makin baik.
d. Sosiologi itu tidak menilai: sosiologi selalu berusaha untuk menggambarkan dan menjelaskan masyarakat bukan untuk menilai moral baik dan buruk.
C. Hubungan sosiologi dengan ilmu-ilmu sosial lainnya
sosiologi mengkaji masyarakat baik dalan teori dan prakteknya seperti:
a. Sosiologi dan sejarah: Merupakan dua ilmu sosial yang sama-sama mengkaji kejadian dan hubungan yang dialami manusia.
b. Sosiologi dan ekonomi: Ekonomi merupakan ilmu yang menyelidiki semua fenomena yang berhubungan dengan usaha, produksi dan distribusi sumber daya. Sebagai contoh ekonomi berusaha memecahkan masalah yang timbul karena tidak seimbangnya persediaan pangan dengan jumlah penduduk dengan cara menaikkan produksi bahan pangan. Sosiologi berusaha melihat permasalahan ini dengan melibatlan unsur-unsur dalam masyarakat misalnya petani.
c. Sosiologi dan politik: Politik meneliti tentang pemerintah dan menjelaskan kompleksitas pemerintahan antara lain mempelajari tentang upaya untuk memperoleh kekuasaan dan pendayagunaan kekuasaan. Sosiologi memusatkan perhatiannya pada segi-segi masyarakat yang bersifat umum untuk memperoleh kekuasaan digambarkan oleh sosiologi sebagai salah satu bentuk persaingan atau konflik.
d. Sosiologi dan antropologi: Antropologi memusatkan perhatiannya pada masyarakat tradisional yang masih sederhana kebudayaannya sedangkan sosiologi mengamati masyarakat-masyarakat modern yang strukturnya sudah komplek.
e. Sosiologi dan psikologi sosial: Ilmu psikologi sosial meneliti prilaku manusia sebagai individu antara lain meneliti tingkat kepandaian seseorang, kemampuannya, daya ingatnya, impian-impiannya dan perasaan kecewanya.

A.Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat kita simpulkan yaitu:
• sosiologi adalah suatu kajian, studi, hubungan antara masyarakat dan individu dengan yang lainnya dan melakukan hubungan timbal-balik..
• Ada empat sifat untuk menetukan apakah sosiologi itu disebut ilmu atau tidak.
e. Bersifat empiris: berdasarkan penalaran dan pengamatan.
f. Bersifat teoritis: mempunyai teori.
g. Bersifat kumulatif: berasal dari kata “cumulare” yang berarti menumpuk, menimbun, makin lama makin besar. Sosiologi dibentiuk berdasarkan teori lama yang disempurnakan dan makin lama makin baik.
h. Sosiologi itu tidak menilai: sosiologi selalu berusaha untuk menggambarkan dan menjelaskan masyarakat bukan untuk menilai moral baik dan buruk.
• sosiologi mengkaji masyarakat baik dalan teori dan prakteknya seperti:
a. Sosiologi dan sejarah
b. Sosiologi dan ekonomi
c. Sosiologi dan politik
d. Sosiologi dan antropologi
e. Sosiologi dan psikologi sosial
B. Saran dan do’a
Kami sangat menyadari bahwasanya makalah yang kami buat ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharap dan membuka saran dan kritik bagi seluruh pembaca dengan tujuan mencapai kesempurnaan bersama.
Dan semoga makalah yang kami buat ini bermanfat dan barokah bagi kita semua amien amien ya rabbal alamien…..


DAFTAR PUSTAKA
 Dadang kahmad, sosiologi agama, Rosda: bandung, 2003
 http://agsasman3yk.wordpress.com/2009/07/13/konsep-dasar-sosiologi/
 Soejono soekanto, sosiologi suatu pengantar , Rajawali press: Jakarta, 2004
 George ritzer, sosiologi ilmu pengetahuan berparadigma ganda, Rajawali press: Jakarta, 1985
 http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi
 Stephen K. sanderson, makro sosiologi, , Rajawali press: Jakarta, 2003
0 komentar

ILMU RIJAL HADITS

A. Pengertian

Secara bahasa: kata rijal haditsberasal dari kata: RIJAL dan HADITS, dimana kata rijal berasal dari bahasa Arab yang berarti: beberapa laki-laki. Dan kata tersebut , merupakan jama’ dari mufrad “رجل” yang artinya laki-laki. Sedangkan kata hadits artinya: sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw baik berupa perkataan, perbuatan dan penatapan, jadi ilmu rijal hadits adalah: ilmu yang membahas tentang seseorang yang menyandarkan segala sesuatu kepada Nabi Muhammad saw.
Secara istilah:
العلم الذىبحث فيه عن احوال الرواة وسيرهم من الصحابة والتابعين واتباع التابعين

“ilmu pengtahuan yang dalam pembahasannya , membicarakan hal ihwal dan sejarah kehidupan para rawi dari golongan sahabat, tabi’in dan tabi;it tabi’in”
B. Pembagian ilmu rijal hadits
Karena sangat pentingnya ilmu ini terdapat dua kutub besar yang dibahas ulama dalam ilmu ini, yaitu:
1. Tarikh ar- ruwah
2. jarh wat- ta’dil


1.tarikh ar-ruwah adalah:
العلم الذي يعرف برواة الحديث منالناحىة التي تتعلق بروايتهم للحديث فهو يتناول بالبيان احوال الروات, وىذكر تاريخ ولادة الراوي, ووفاته وشيوخه, وتاريخ سماعه منهم, ومن روى عنه, وبلادهم ومواطنهم ورحلات الراوى وتاريخ قدومه الى البلدان المختلفة وسماعه من بعض الشيوخ قبل الاخطلاط ام بعده وغير ذالك مما له صلة بامورالحديث .
“ilmu yang mengenalkan kepada kita akan perawi-perawi hadits dari segi mereka meriwayatka hadits, maka ilmu ini menerangkan keadaan-keadaan perawi, hari kelahirannya, kewafatannya, guru-gurunya, masa dia mulai mendengar hadits dan orang-orang yang meriwayatkan hadits dari padanya negrinya, tempat kediamannya, perlawatan-perlawatannya, sejarah kedatangannya ke tempat-tempat yang dikunjungi dan segala yang berhubungan dengan urusan hadits.”
Menurut Endang Soetarai ilmu tarikh ruwah adalah: ilmu yang membahas tentang biografi para perawi yang menjelaskan tentang nama dan gelar, tanggal dan tempat kelahiran, keturunan, guru, murid, jumlah hadits yang diriwayatkan, tempat dan waktu, dan lain-lain.
Adapun materi yang dibahas oleh ilmu tarikh ruwah ini yaitu:
1. Konsep rawi dan thabaqoh,
2. Rincian thabaqoh
3. Biografi dari rawi yang telah terbagi pada tiap thabaqoh.
Rawi adalah: orang yang memindahkan hadits . Selain dia sebagai pemindah dia juga sebagai pemelihara dan penyampai hadits kepada orang lain dari apa yang telah ia dapatkan dari gurunya.
Thabaqoh adalah:
علم يبحث فيه عن كل جماعة تشترك في امر واحد
“suatu ilmu pengetahuan yang dalam pokok pambahasannya diarahkan kepada kelompok orang-orang yang berserikat dalam satu alat pengikat yang sama”
2. ilmu jarh wat-ta’dil adalah: ilmu yang menerangkan tentang kecacatan dan keadilan seorang perawi.
Menurut muhadditsin lafadh “jarh” ialah sifat seorang perawi yang dapat mencacatkan kedilan dan kehafalannya.
Menurut ajaj al khatib ilmu jarh wat-ta’dil ialah:
العلم الذي يبحث في احوال الرواة من حيث قبول روايتهم او ردها.
“ilmu yang membahas hal ihwal para perawi dari segi diterima atau ditolak riwayat mereka”
C. landasan teori ilmu rijal hadits
Ilmu rijal al hadits merupakan salah satu ilmu yang sangat penting bagi orang yang ingin mengetahui betul ulumul hadits, karena ilmu ini mencakup masalah orang yang meriwayatkan dan yang diriwayatkannya apakah shahih nilainya atau tidak. Nilai tersebuit sangat dipengaruhi oleh: hal-ihwal, sifat, tingkah laku, biografi, madzhab-madzhab yang dianut dan cara-cara menerima dan menyampaikan hadits.
Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya ulama yang mengarang masalah ilmu rijal al- Hadits baik itu berupa ilmu tarih al ruwah atau ilmu jarh wa ta’dil.
1. Kitab rijal al hadits yang bersifat umum
a) Al-tarikh al kabir
Kitab ini merupakan karya terbesar al- Bukhori (wafat 256 H/870 M), di dalamnya terdapat 12315 biografi periwayat hadits. Al-Bukhari menyusun nama-nama orang secara alfabetis dengan ciri khas tertentu, dengan disesuaikan dari huruf pertama dari nama itu dan nama ayahnya. Nama yang pertama diuraikan adalah mereka yang bernama Muhammad, nama tersebut dipertimbangkan kemuliaan nama Nabi Muhammad saw, sebagaimana didahulukannya nama sahabat yang paling pertama, dengan tanpa melihat nama ayah mereka. Setelah penulis menguraikan nama-nama yang ditempatkan secara khusus itu, baru ia menguraikan nama-nama yang lain secara alfabertis. Dalam kitab tersebut diuraikan juga lafadz-lafadz jarh dan ta’dil.
b) Al jarh wat ta’dil
Kitab ini ditulis oleh Ibn Hatim (wafat 327 H) nama periwayat ditulis secara lengkap dengan menyebutkan nama ayah dan gelarnya, kemudian diurut secara alfabetis. Nama periwayat dilengkapi dengan biografinya dan sebagian penulis menyebutkan hadits-hsdits yang diriwayatkan mereka, namun yang paling menonjol dari kitab ini adalah memberikan penilaian kualitas periwayat sesuai dengan nama kitab tersebut, yaitu الجرح والتعديل .
2. Kitab biografi para periwayat kitab-kitab tertentu
a) Al-hidayah wal-irsyad fi ma’rifah ahli al tsiqot wa al saddat
Kitab ini dikarang oleh Abi nashr Ahmad ibn Muhammad Al-Kalabadi (wafat 318 H). kitab ini dikhususkan pengarangnya hanya membahas biografi para periwayat dalam shahih Bukhari.
b) Rijal al shahih muslim
Kitab ini dikarang oleh Abi bakar Ahmad Ibn Ali Al-Ashfahani yang dikenal dengan nama Ibn Manjuyah (wafat 428 H). kitab ini berisi para periwayat kitab shahih Muslim secara khusus.
c) Kutub al tarajum al-khassah bi rijal al-kutub al-asittah.
Induk dari kitab yang termasuk dalam kelompok ini adalah kitab al-kamal fi asma ar-rijal, karangan Abdu al-Ghani al-Maqsidi (wafat 600 H). kitab ini merupakan kitab induk dalam kajian rujal al-hadits
d) Kitab rijal khusus menghimpun periwayat tsiqah
1. Ali ibn Abdullah Al-Madini (234 H). menghimpun periwayat hadits yang tsiqah dalam karyanya yang diberi judul al tsiqah wal-mutsbbitin yang tersdiri dari sepuluh juz.
2. Abu Al-hasan Muhammad ibn Abdillah Ibn Shahih Al-Ijli (261 H). juga menghimpun periwayat hadits yang tsiqah dalam koleksinya yang diberi judul kitab tsiqah. Di dalam kitab ini, nama-nama periwayat hadits disusun secara alfabetis.
3. Muhammad Ibn Ahmad Hibban Al-busti (354 H) juga menghimpun periwayat hadits yang tsiqah dalam satu kitab tertentu, yang diberi nama kitab al-tsiqah. Dalam kitab ini, nama periwayat disusun secara alfabetis.
e) Kitab rijal khusus menghimpun periwayat dhoif
Kitab yang membahas periwayat dha’if, di antaranya al-dhuafa’ wa al-matrukin, karya Al-Nasa’i dan kitab al-dhu’afa’, karya Abu Ja’far Muhammad bin Amr al-Uqaili (wafat 323 H), serta yang bersifat khusus lainnya.



BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat kita simpulkan yaitu:
• Ilmu rijal hadits adalah: ilmu pengetahuan yang dalam pembahasannya membahas tentang hal ihwal dan sejarah kehidupan para rawi dari golongan sahabat, tabi’in, tabi’ttabi’in.
• Ilmu rijal hadits dibagi menjaci dua macam yaitu:
1. Tarikh ar-Ruwah dan,
2. Jarh wat al-Ta’dil

B. Saran dan do’a
Kami sangat menyadari bahwasanya makalah yang kami buat ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharap dan membuka saran dan kritik bagi seluruh pembaca dengan tujuan mencapai kesempurnaan bersama.
Dan semoga makalah yang kami buat ini bermanfat dan barokah bagi kita semua amien amien ya rabbal alamien…..
Minggu, 26 Juni 2011 0 komentar

KAJIAN ORIENTALIS TERHADAP KANDUNGAN AL-QUR’AN

A. PENDAHULUAN
Semantik al-Qur’an yang merupakan bagian utama kajian ini hampir secara ekslusif berhubungan dengan masalah hubungan personal antara Tuhan dan manusia menurut cara pandang Qur’ani dan masalah-masalah topik khusus tersebut. Dua penekanan khusus yang memberikan karakteristik kajian ini secara keseluruhan sejak awal yaitu: semantic di satu pihak dan al-Qur’an dipihak yang lain.
Keduanya sama-sama penting, bila salah satunya diabaikan maka akan dengan serta merta kehilangan siginifikansinya. Signifikansinya bukan secara terpisah, tetapi justru kombinasi keduanya. Kombinasi ini membawa kita mendekati aspek khusus al-Qur’an tidak dari cara pandang khusus. Dan mesti diingat bahwa al-Qur’an bias di dekati dengan sejumlah cara pandang yang beragam seperti teologi, psikologi, sosiologi, tata bahasa, tafsir dan lain sebagainya. Dan (dengan cara itu) al-Qur’an menunjukkan sejumlah perbedaan, tetapi merupakan aspek yang sama-sama pentingnya. Jadi, penting bagi kita untuk memahami secara jelas relevansi metodelogi semantik untuk kajian al-Qur’an dan melihat apakah metodelogi ini benar-benar membantu dalam mendekati kitab suci al-Qur’an.

B. PEMBAHASAN
1. Semantik al-Qur’an
Sangat sulit bagi seorang di luar (disiplin linguistik) untuk mendapat gambaran secara umum seperti apa semantik itu. Hal ini dikarenakan bahwa semantik, sebagaimana ditegaskan pengertian etimologisnya, merupakan ilmu yang berhubungan dengan fenomena makna dalam pengertian yang lebih luas dari kata, begitu luas sehingga hampir apa saja yang dianggap memiliki makna merupakan objek semantik.
Yang dimaksudkan semantik di sini adalah kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual Weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu, tidak hanya sebagai alat bicara dan berpikir tetapi yang lebih penting lagi pengkonsepan dan penafsiran dunia yang melingkupinya. Semantik dalam pengertian itu adalah semacam Weltanschauungs-lehre, kajian tentang sifat dan struktur pandangan dunia sebuah bangsa saat sekarang atau pada periode sejarahnya yang signifikan, dengan menggunakan alat analisis metodelogis terhadap konsep-konsep pokok yang telah dihasilkan untuk dirinya sendiri dan telah mengkristal ke dalam kata-kata kunci bahasa itu.

2. Keterpaduan Konsep-Konsep Individual
Sepintas lalu tugas itu tampak begitu mudah. Kita mungkin menggap semua yang harus kita lakukan akan membuka seluruh kosa kata al-Qur’an, semua kata-kata penting yang mewakili konsep penting seperti Allah, Isalam, Nabiy, Iman, Kafir dan lain sebagainya dan menelaah apa makana semua kata-kata itu dalam konteks al-Qur’an. Bagaimanapun, kenyataannya tidaklah begitu mudah. Kata-kata atau konsep-konsep dalam al-Qur’an itu tidak sederhana. Kedudukannya masing-masing saling terpisah, tetapi sangat saling bergantung dan menghasilkan makna kongkrit justru dari seluruh system hubungan itu. Dan apa yang sungguh-sungguh penting bagi tujuan khusus kita adalah jenis sistem konseptual yang berfungsi dalam al-Qur’an, bukan konsep-konsep yang terpisah secara individual dan dipertimbangkan terlepas dari struktur umum atau Gestalt, ke dalam mana konsep-konsep tersebut diintegrasikan. Dalam menganalisis konsep-konsep kunci individual yang ditemukan dalam al-Qur’an kita tidak boleh kehilangan wawasan hubungan ganda yang saling memberi muatan dalam keseluruhan sistem.

3. Makna “Dasar” dan makna “Rasional”
Pada tahap ini dijelaskan perbedaan teknis antara makna “dasar” dan makna “rasional”, sebagai sebuah konsep metodologi semantik yang utama. Jika sekarang kita mengambil al-Qur’an dan menelaah istilah-istilah kunci di dalamnya dari sudut pandang kita, maka kita akan menemukan dua hal, yang satu begitu nyata dan biasa untuk dijelaskan, dan yang lainnya mungkin tidak begitu jelas. Sisi nyata persoalan tersebut adalah bahwa masing-masing kata individual, diambil secara terpisah, memiliki makna dasar atau kandungan kontekstualnya sendiri yang akan tetap melekat pada kata itu meskipun kata itu diambil di luar konteks al-Qur’annya. Kata kitab, misalnya makna dasarnya baik yang ditemukan dalam al-Qur’an maupun di luar al-Qur’an sama. Kata ini sepanjang dirasakan secara aktual oleh masyarakat penuturnya menjadi satu kata, mempertahankan makna fundamentalnya dalam hal ini, makna yang sangat umum dan tidak spesifik yaitu “kitab”. Kandungan unsur semantik ini tetap ada pada kata itu di manapun ia diletakkan dan bagaimanapun ia digunakan, inilah yang di sebut dengan makna kata “dasar” itu.
Dalam konteks al-Qur’an, kata kitab menerima makna yang luar biasa pentingnya sebagai isyarat konsep religious yang sangat khusus yang dilingkupi oleh cahaya kesucian. Ini dilihat dari kenyataan bahwa dalam konteks ini kata itu berdiri dalam hubungan yang sangat dekat dengan wahyu Ilahi, atau konsep-konsep yang cukup beragam yang merujuk langsung pada wahyu. Ini berarti bahwa kata sederhana kitab dengan makna dasar sederhana “kitab”, ketika diperkenalkan ke dalam sistem khusus dan diberikan posisi tertentu yang jelas, memerlukan banyak unsur semantik baru yang muncul dari situasi khusus ini, dan juga muncul dari hubungan yang beragam yang dibuat untuk menunjang konsep-konsep pokok lain dari sistem tersebut. Dengan demikian kata kitab, begitu diperkenalkan ke dalam sistem konseptual Islam, ditempatkan dalam hubungan erat dengan kata-kata penting al-Qur’an seperti, Allah, Wahyu “wahyu”, Tanzil “menurunkan” (firman Tuhan), Naby “nabi”, Ahl “masyarakat” (dalam kombinasi khusus ahl al-kitab “masyarakat berkitab” yang berarti masyarakat yang memiliki Kitab Wahyu Kristen dan Yahudi, dan sebagainya).
Oleh karenanya, kata itu dalam konteks karakteristik al-Qur’an harus dipahami dari segi semua istilah yang terkait, dan keterkaitan ini sendiri memberikan kata kitab warna semantik yang sangat khusus, sangat kompleks dan struktur makna khusus yang tidak akan pernah diperoleh jika kata itu tetap berada di luar sistem ini. Harus dicatat bahwa hal itu juga bagian dari makna kata kitab sepanjang digunakan dalam konteks al-Qur’an. Bagian maknanya yang sangat penting dan essensial yang sebenarnya jauh lebih penting dibandingkan makna dasarnya sendiri. Inilah yang di sebut sebagai makna “relasional”, kata ini digunakan untuk membedakan dengan makna dasar.
Jadi makna dasar kata adalah sesuatu yang melekat pada kata itu sendiri, yang selalu terbawa di manapun kata itu diletakkan. Sedangkan makna relasional adalah sesuatu yang konotatif yang diberikan dan ditambahkan pada makna yang sudah ada dengan meletakkan kata itu pada posisi khusus dalam bidang khusus berada pada relasi yang berbeda dengan semua kata-kata penting lainnya dalam sistem tersebut.

4. Kosa kata dan Weltanschauung
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan perbedaan metodelogis antara dua hal yang berbeda, meskipun terkait erat semacam makna kata yang untuk sementara ini masing-masing kita sebut dengan makna “dasar” dan makna “relasional”.
Analisis semantik bukanlah analisis sederhana mengenai struktur bentuk kata maupun studi makna asli yang melekat pada bentuk kata itu atau analisis etimologi. Etimologi hanya dapat memberikan petunjuk bagi kita untuk mencapai makna dasar kata. Analisis semantik dalam konsepsi kita, bermaksud mencapai lebih dari itu. Analisis unsur-unsur dasar dan relasional terhadap istilah kunci harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa sehingga jika kita benar-benar berhasil melakukannya, kombinasi dua aspek makna kata akan memperjelas aspek khusus. Dan pada akhirnya, jika kita mencapai tahap akhir, semua analisis akan membantu kita merekonstruksi pada tingkat analitik strukrur keseluruhan sebagai konsepsi masyarakat yang sungguh-sungguh ada – atau mengkin ada. Inilah apa yang disebut dengan “Weltanschauung semantik” budaya.
Kata-kata dalam bentuk bahasa adalah suatu sistem jaringan yang rapat. Pola utama system tersebut ditentukan oleh sejumlah kata-kata penting tertentu. Perlu dicatat di sini bahwa tidak semua kata-kata dalam suatu kosa kata sama nilainya dalam pembentukan struktur dasar konsepsi ontologis yang didasari kosa kata tersebut, meskipun kata-kata itu mungkin tampak penting dari sudut pandang lain.
Kata-kata yang memainkan peranan yang sangat menentukan dalam penyususnan struktur konseptual dasar pandangan dunia al-Qur’an disebut dengan “istilah-istilah kunci” al-Qur’an. Allah, Islam, Iman “keyakinan”, kafir “ingkar”, Nabiy “Nabi”, Rasul “utusan (Tuhan)” adalah sejumlah contoh lainnya.
Istilah-istilah kunci tersebut di tengah-tengah istilah-istilah kunci itu sendiri merupakan pola umum kosa kata yang mewakili kata-kata yang menjadi anggotanya. Dan kata-kata itu dalam kedudukannya memiliki hubungan rangkap dan beragam antara satu dan yang lainnya. Dengan demikian, kita tahu bahwa kosa kata dalam pengetian ini bukanlah semata-mata jumlah total kata-kata; bukan pula semata-mata kumpulan acak sejumlah besar kata-kata yang dikumpulkan tanpa aturan dan prinsip, yang masing-masing tetap berdiri sendiri tanpa hubungan esensial dengan kata-kata lainnya.
Kosa kata sebagai jumlah total semua bidang semantic kemudian akan terlihat sebagai kerangka kerja yang sangat luas dari hubungan-hubungan rangkap yang terbentang diantara kata-kata.
2 komentar

Ibnu Taimiyah VS Wahhabi

Belakangan ini kata ’salaf’ semakin populer. Bermunculan pula kelompok yang mengusung nama salaf, salafi, salafuna, salaf shaleh dan derivatnya. Beberapa kelompok yang sebenarnya berbeda prinsip saling mengklaim bahwa dialah yang paling sempurna mengikuti jalan salaf. Runyamnya jika ternyata kelompok tersebut berbeda dengan generasi pendahulunya dalam banyak hal. Kenyataan ini tak jarang membuat umat islam bingung, terutama mereka yang masih awam. Lalu siapa pengikut salaf sebenarnya? Apakah kelompok yang konsisten menapak jejak salaf ataukah kelompok yang hanya menggunakan nama salafi?.

Tulisan ini mencoba menjawab kebingungan di atas dan menguak siapa pengikut salaf sebenarnya. Istilah salafi berasal dari kata salaf yang berarti terdahulu. Menurut ahlussunnah yang dimaksud salaf adalah para ulama’ empat madzhab dan ulama sebelumnya yang kapasitas ilmu dan amalnya tidak diragukan lagi dan mempunyai sanad (mata rantai keilmuan) sampai pada Nabi SAW. Namun belakangan muncul sekelompok orang yang melabeli diri dengan nama salafi dan aktif memakai nama tersebut pada buku-bukunya.
Kelompok yang berslogan “kembali” pada Al Qur’an dan sunnah tersebut mengaku merujuk langsung kepada para sahabat yang hidup pada masa Nabi SAW, tanpa harus melewati para ulama empat madzhab. Bahkan menurut sebagian mereka, diharamkan mengikuti madzhab tertentu. Sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz dalam salah satu majalah di Arab Saudi, dia juga menyatakan tidak mengikuti madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.Pernyataan di atas menimbulkan pertanyaan besar di kalangan umat islamyang berpikir obyektif. Sebab dalam catatan sejarah, ulama-ulama besar pendahulu mereka adalah penganut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Sebut saja Syekh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab, Ibnu Abdil Hadi, Ibnu Qatadah, kemudian juga menyusul setelahnya Al Zarkasyi, Mura’i, Ibnu Yusuf, Ibnu Habirah, Al Hajjawiy, Al Mardaway, Al Ba’ly, Al Buhti dan Ibnu Muflih. Serta yang terakhir Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab beserta anak-anaknya, juga mufti Muhammad bin Ibrahim, dan Ibnu Hamid. Semoga rahmat Allah atas mereka semua.

Ironis sekali memang, apakah berarti Imam Ahmad bin Hanbal dan para imam lainnya tidak berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah? Sehingga kelompok ini tidak perlu mengikuti para pendahulunya dalam bermadzhab?. Apabila mereka sudah mengesampingkan kewajiban bermadzhab dan tidak mengikuti para salafnya, layakkah mereka menyatakan dirinya salafy?

Aksi Manipulasi Mereka Terhadap Ilmu Pengetahuan
Belum lagi aksi manipulasi mereka terhadap ilmu pengetahuan. Mereka memalsukan sebagian dari kitab kitab karya ulama’ salaf. Sebagai contoh, kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi cetakan Darul Huda, Riyadh, 1409 H, yang ditahqiq oleh Abdul Qadir Asy Syami. Pada halaman 295, pasal tentang ziarah ke makam Nabi SAW, dirubah judulnya menjadi pasal tentang ziarah ke masjid Nabi SAW. Beberapa baris di awal dan akhir pasal itu juga dihapus. Tak cukup itu, mereka juga dengan sengaja menghilangkan kisah tentang Al Utbiy yang diceritakan Imam Nawawi dalam kitab tersebut. Untuk diketahui, Al Utbiy (guru Imam Syafi’i) pernah menyaksikan seorang arab pedalaman berziarah dan bertawassul kepada Nabi SAW.

Kemudian Al Utbiy bermimpi bertemu Nabi SAW, dalam mimpinya Nabi menyuruh memberitahukan pada orang dusun tersebut bahwa ia diampuni Allah berkat ziarah dan tawassulnya. Imam Nawawi juga menceritakan kisah ini dalam kitab Majmu’ dan Mughni.
Pemalsuan juga mereka lakukan terhadap kitab Hasyiah Shawi atas Tafsir Jalalain dengan membuang bagian-bagian yang tidak cocok dengan pandangannya. Hal itu mereka lakukan pula terhadap kitab Hasyiah Ibn Abidin dalam madzhab Hanafi dengan menghilangkan pasal khusus yang menceritakan para wali, abdal dan orang-orang sholeh.
Ibnu Taymiyah Vs Wahhaby
Parahnya, kitab karya Ibnu Taimiyah yang dianggap sakral juga tak luput dari aksi mereka. Pada penerbitan terakhir kumpulan fatwa Syekh Ibnu Taimiyah, mereka membuang juz 10 yang berisi tentang ilmu suluk dan tasawwuf. (Alhamdulilah, penulis memiliki cetakan lama) Bukankah ini semua perbuatan dzalim? Mereka jelas-jelas melanggar hak cipta karya intelektual para pengarang dan melecehkan karya-karya monumental yang sangat bernilai dalam dunia islam. Lebih dari itu, tindakan ini juga merupakan pengaburan fakta dan ketidakjujuran terhadap dunia ilmu pengetahuan yang menjunjung tinggi sikap transparansi dan obyektivitas.
Mengikuti salaf?

Berikut ini beberapa hal yang berkaitan dengan masalah tasawwuf, maulid, talqin mayyit, ziarah dan lain-lain yang terdapat dalam kitab-kitab para ulama pendahulu wahhabi. Ironisnya, sikap mereka sekarang justru bertolak belakang dengan pendapat ulama mereka sendiri.

Pertama, ibnu taimiyah dan imam 4 madzab dukung tasawuf.

Dalam kumpulan fatwa jilid 10 hal 507 Syekh Ibnu Taimiyah berkata, “Para imam sufi dan para syekh yang dulu dikenal luas, seperti Imam Juneid bin Muhammad beserta pengikutnya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani serta lainnya, adalah orang-orang yang paling teguh dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Syekh Abdul Qadir al-Jailani, kalam-kalamnya secara keseluruhan berisi anjuran untuk mengikuti ajaran syariat dan menjauhi larangan serta bersabar menerima takdir Allah.
Dalam “Madarijus salikin” hal. 307 jilid 2 Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Agama secara menyeluruh adalah akhlak, barang siapa melebihi dirimu dalam akhlak, berarti ia melebihi dirimu dalam agama. Demikian pula tasawuf, Imam al Kattani berkata, “Tasawwuf adalah akhlak, barangsiapa melebihi dirimu dalam akhlak berarti ia melebihi dirimu dalam tasawwuf.”
Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam kitab Fatawa wa Rosail hal. 31 masalah kelima. “Ketahuilah -mudah-mudahan Allah memberimu petunjuk – Sesungguhnya Allah SWT mengutus Nabi Muhammad dengan petunjuk berupa ilmu yang bermanfaat dan agama yang benar berupa amal shaleh. Orang yang dinisbatkan kepada agama Islam, sebagian dari mereka ada yang memfokuskan diri pada ilmu dan fiqih dan sebagian lainnya memfokuskan diri pada ibadah dan mengharap akhirat seperti orang-orang sufi. Maka sebenarnya Allah telah mengutus Nabi-Nya dengan agama yang meliputi dua kategori ini (Fiqh dan tasawwuf)”. Demikianlah penegasan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa ajaran tasawuf bersumber dari Nabi SAW.

Kedua, Ibnu taymiyah iktiraf mengenai pembacaan maulid.
Dalam kitab Iqtidha’ Sirathil Mustaqim “Di dalam kitab beliau, Iqtidha’ as-Shiratil Mustaqim, cetakan Darul Hadis, halaman 266, Ibnu Taimiyah berkata, Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebahagian manusia samada menyaingi orang Nasrani pada kelahiran Isa عليه السلام, ataupun kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengagungkan baginda, dan Allah mengurniakan pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad ini…” Seterusnya beliau nyatakan lagi : “Ia tidak dilakukan oleh salaf, tetapi ada sebab baginya, dan tiada larangan daripadanya.”
Kita pula tidak mengadakan maulid melainkan seperti apa yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah sebagai:“Kecintaan kepada Nabi dan mengagungkan baginda.”'

Ketiga, Ibnu taymiyah dan imam madzab iktiraf sampainya hadiah pahala
Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barang siapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam Majmu’ fatawa juz 24 hal306 ia menyatakan, “Para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah pahala orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama islam dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah dan ijma’ (konsensus ulama’). Barang siapa menentang hal tersebut maka ia termasuk ahli bid’ah”.
Lebih lanjut pada juz 24 hal 366 Ibnu Taimiyah menafsirkan firman Allah “dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS an-Najm [53]: 39) ia menjelaskan, Allah tidak menyatakan bahwa seseorang tidak bisa mendapat manfaat dari orang lain, Namun Allah berfirman, seseorang
hanya berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang lain adalah hak orang lain. Namum demikian ia bisa memiliki harta orang lain apabila dihadiahkan kepadanya.
Begitu pula pahala, apabila dihadiahkan kepada si mayyit maka ia berhak menerimanya seperti dalam solat jenazah dan doa di kubur. Dengan demikian si mayit berhak atas pahala yang dihadiahkan oleh kaum muslimin, baik kerabat maupun orang lain”
Dalam kitab Ar-Ruh hal 153-186 Ibnul Qayyim membenarkan sampainya pahala kepada orang yang telah meninggal. Bahkan tak tangung-tanggung Ibnul Qayyim menerangkan secara panjang lebar sebanyak 33 halaman tentang hal tersebut.

Keempat, masalah talqin.
Dalam kumpulan fatwa juz 24 halaman 299 Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa sebagian sahabat Nabi SAW melaksanakan talqin mayit, seperti Abu Umamah Albahili, Watsilah bin al-Asqa’ dan lainnya. Sebagian pengikut imam Ahmad menghukuminya sunnah. Yang benar, talqin hukumnya boleh dan bukan merupakan sunnah. (Ibnu Taimiyah tidak menyebutnya bid’ah)
Dalam kitab AhkamTamannil Maut Muhammad bin Abdul Wahhab juga meriwayatkan hadis tentang talqin dari Imam Thabrani dalam kitab Al Kabir dari Abu Umamah.

Kelima, tentang ziarah ke makam Nabi SAW.
Dalam qasidah Nuniyyah (bait ke 4058) Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ziarah ke makam Nabi SAW adalah salah satu ibadah yang paling utama “Diantara amalan yang paling utama dalah ziarah ini. Kelak menghasilkan pahala melimpah di timbangan amal pada hari kiamat”.
Sebelumnya ia mengajarkan tata cara ziarah (bait ke 4046-4057). Diantaranya, peziarah hendaklah memulai dengan sholat dua rakaat di masjid Nabawi. Lalu memasuki makam dengan sikap penuh hormat dan takdzim, tertunduk diliputi kewibawaan sang Nabi. Bahkan ia
menggambarkan pengagungan tersebut dengan kalimat “Kita menuju makam Nabi SAW yang mulia sekalipun harus berjalan dengan kelopak mata (bait 4048).
Hal ini sangat kontradiksi dengan pemandangan sekarang. Suasana khusyu’ dan khidmat di makam Nabi SAW kini berubah menjadi seram. Orang-orang bayaran wahhabi dengan congkaknya membelakangi makam Nabi yang mulia. Mata mereka memelototi peziarah dan membentak-bentak mereka yang sedang bertawassul kepada beliau SAW dengan tuduhan syirik dan bid’ah. Tidakkah mereka menghormati jasad makhluk termulia di semesta ini..? Tidakkah mereka ingat firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. “Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al Hujarat, 49: 2-3).

Allah A'lam
 
;