Senin, 20 Desember 2010

ululumul qur'an dan perkembangannya

PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam makalah yang berjudul’’U’LUMUL QUR’AN DAN PERKEMBANGANYA’’ini, kami akan membahas hal-hal yang berhubungan dengan ilmu yang membicarakan Al-Qur’an yang merupakan salah satu mata kuliah jurusan Tafsir Hadist semester satu(1)
Seiring bergantinya zaman,Al-Qur’an merupakan pedoman bagi islam sampai akhir zaman, dan salah satu kitab yag diturunkan kepada Nabi Muhummad saw yang kekal sepanjang massa.Marilah kita mengenal lebih jauh tentang bagaimana ilmu yang bersangkutan dengan Al-Qur’an agar kita lebih mengetahui U’lumul Qur’an, Pokok bahasan dan sejarah Al-Qur’an.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan dari pernyataan diatas, dalam makalah ini penulis mencoba membahas hal-hal yang berkaitan denganya yaitu:
1. Pengertian Ulumul Al-Qur’an
2. Pokok-Pokok Bahasannya
3. Sejarah Perkembannganya










Ulumul Qur’an dan Perkembangannya
1. Pengertian Ulumul Qur’an
A. Pengertian Ulumul Quran secara Bahasa
Kata ulum merupakan bentuk jama dari kata ilmu yang mempunyai arti pengetahuan dan pemahaman ( al-fahm wa al-idrak ) , atau juga bias diartikan sebagai ‘ilmu-ilmu karena kata ilmu sudah menjadi kata baku bahasa Indonesia yang diadopsi dari bahasa Arab.
Sedangkan adapun kata al-Qur’an dari segi bahasa terdapat tiga pendapat :
1. Kata al-Qur’an merupakan isim mashdar dari kata kerja ‘qara’a’, dan searti dengan lafadz al-qira’ah (bacaan) .
Pengertian seperti ini semakna dengan firman Allah SWT :

•       •  

“ Sesungguhanya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al-Qiyamah : 17-18)
Ayat di atas menunjukkan bahwa lafadz ‘quranahu’ searti dengan lafadz ‘qiraatahu’ (membaca). Lafadz ‘quran’ ikut wazan ‘fu’lan’ sebagaimana lafaz ‘ghufran’ .
2. ‘Al-Quran’ merupakan bentuk kata sifat dari kata ‘al-qar u’ yang bermakna ‘al-jam’u’ (kumpulan) karena al-Quran merupakan kumpulan dari inti kitab-kitab terdahulu, bahkan ada yang menyatakan bahwa al-Quran merupakan kumpulan dari semu ilmu .
Sebagaimana isyarat Allah dalam firman-Nya :


…  •      … 

“dan Kami turunkan Kitab (al-Quran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu … “ (QS. an-Nahl : 89)
Dan firman-Nya:
… •      … 

“… tidak ada sesuatu apa pun yang Kami luputkan di dalam aal-Quran …” (QS. Al-An’am : 38)
3. ‘Al-Quran’ merupakan nama tersendiri ( ‘alam syakhsh)’, artinya kata al-Quran bukan merupakan kata bentukan dari kata manapun.
Tetapi dalam hal ini, pendapat yang paling tepat adalah pendapat yang pertama. Sehingga kalau kita gabungkan dari pengertian-pengertian di atas, ulumul quran berarti ilmu-ilmu al-Quran. Frasa ini (ulumul qur an) mengandung dua kemungkinan makna, yaitu : ilmu-ilmu yang bersumber dari al-Qur an, dan ilmu-ilmu yang membicarakan tentang al-Qur an. Dari kedua pengertian ini, pengertian yang kedua (ilmu-ilmu yang membicarakan tentang al-Qur an) merupakan pengertian yang digunakan dalam kajian ini (ulumul qur an). Sedangkan pengertian yang pertama lebih dikenal sebagai isi kandungan al-Qur an, seperti ilmu tauhid/’aqidah, ilmu fiqh, ilmu akhlaq/mu’amalah, ilmu sosial/kemasyarakatan, dan ilmu lainnya.
Ulumul Quran membahas al-Quran dari segala segi yang ada relevansinya dengan al-Quran. Karena itu diberi nama Ulumul Quran dengan bentuk jama’, bukan ilmul Quran dalam bentuk mufrad.

B. Pengertian Ulumul Quran secara Istilah atau Gabungan
Para ulama telah banyak yang merumuskan definisi ulumul quran. Diantara definisi tersebut yaitu :
1. Ulumul Quran menurut az-Zarqani :
“ Pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Quran al-Karim darisegi turunnya, susunannya, penghimpunannya, penulisannya, pembacaannya, tafsirnya, kemukjizatannya, nasikh-mansukhnya, menolak kesangsian-kesangsian darinya, dan lain-lain.”
2. Ulumul Quran menurut al-Qaththan
“ Yang dimaksud dengan ulumul quran ialah ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Quran baik dari segi sebab-sebab turunnya al-Quran, pengumpulan dan susunannya, tentang makkiyah dan madaniyah, nasikh-mansukh,muhkam dan mutasyabbih, dan ilmu-ilmu lainnya yang terkait dengan al-Quran .”
Dari kedua definisi tersebut, dapat diketahui bahwa perbedaannya hanya terletak pada macam-macam ilmu yang dicontohkan sebagai bagian dari ulumul quran. Hanya saja az-Zarqani mencontohkan sembilan macam ilmu sedangkan al-Qaththan hanya mencontohkan enam macam ilmu. Namun dua macam ilmu yang disebutkan al-Qaththan (al-makky wa al-madany dan al-muhkam wa al-mutasyabbih)tidak terdapat pada definisi az-Zarqani. Sehingga, jika diakumulasikan akan terdapat sebelas macam ilmu.
Selain kedua definisi tersebut, masih banyak lagi para ulama ahli ulumul quranyang mengemukakan pendapat tentang definisi ulumul quran. Akan tetapi, kiranya kedua definisi tersebut (menurut az-Zarqani dan al-Qaththan) dipandang cukup memadai untuk memahami definisi ulumul quran.
2. Pokok-Pokok Pembahasan Ulumul Quran
Dari kedua definisi yang telah dikemukakan sebelumnya terlihat ada sebelas macam contoh nama-nama ilmu Quran yang disebutkan, yaitu :

a. Ilmu Nuzul al-Quran, adalah ilmu yang membahas al-Quran dari segi penurunannya, baik menyangkut proses turunya maupun cara penurunanya. Termasuk di dalamnya ilmu asbab an-nuzul adalah ilmu yang membicarakan tentang latar belakang historis turunnya suatu ayat atau beberapa ayat al-Quran.
b. Ilmu Tartib al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang pengumpulan al-Quran, baik dari segi proses pengumpulanya maupun cara-caranya.
c. Ilmu Jam’ al-Quran, adalah ilmu yang membahas tentang pengumpulan al-Quran , baik dari segi proses pengumpulannya maupun cara-caranya.
d. Ilmu Kitabah al-Quran adalah, ilmu yang menceritakan tentang bahsan tata cara penulisan al-Quran.
e. Ilmu Qira’at al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang al-Quran dari segi melafalkannya yang dinisabkan pada nama-nama qiraat termasuk didalamnya ilmu tajwid.
f. Ilmu Tafsir al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang cara menjelaskan dan menguraikan isi kandungan atau makna ayat-ayat al-Quran. Sedekat mungkin sesuai dengan apa yang dimaksud oleh penuturnya (Allah swt). Namun sebatas kemampuan manusia.
g. Ilmu I’jaz al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang keistimewaan al-Quran yang berfungsi sebagai bukti kenabian Muhammd saw.
h. Ilmu an-Nasikh wa al-Mansukh, adalah ilmu yang membicarakan tentang penghapus atau pembatalan hukum yang terkandung dalam suata ayat dan pemberlakuan hukum pada ayat lainya. Hal ini terjadi apabila dua ayat dipandang mengandaung hukum yang kontradiktif.
i. Ilmu Daf’ al-Syubhah, adalah ilmu yang membicarakan tentang cara menolak hujatan yang mencela eksistensi al-Quran, sehingga membuat orang mukmin ragu terhadap kewahyuannya dan otentisitasnya/keasliannya.
j. Ilmu al-Makkiy wa al-Madany, adalah ilmu yang membicarakan tentang klasifikasi ayat-ayat al-Quran berdasarkan tempat turunnya, di Makkah atau di Madainah, dan juga berdasarkan waktu turunnya, sebelum hijrah atau sesudah hijrah.
k. Ilmu al-Muhkam wa al-Mutasyabbih, adalah ilmu yang membicarakan tentang adanya ayat-ayat al-Quran yang jelas dan tagas kandungan maknanya, serta ayat-ayat yang maknanya masih samar, tidak jelas dan menimbulkan multi interpretasi.
Sebenarnya ulumul quran tidak terpatok pada sebelas ilmu tersebut, masih banyak lagi cabang-cabang ulumul quran yang lain. Bahkan al-Qadhi Abu Bakr ibn al-Arabi dalam kitabnya (Qanun at-Ta’wil) menyebutkan ulumul quran itu memiliki cabang sebanyak 77.450 (tujuh puluh ribu empat ratus lima puluh ribu) ilmu .
3. Sejarah Perkembangan Ulumul Quran
A. Masa Nabi Muhmmad SAW
Pada waktu Nabi Muhammad SAW masih hidup, ulumul quran masih belum ada. Sebab pada waktu itu Rasulullah SAW masih hidup sehingga jika terdapat suatu pertanyaan atau permasalahan mengenai al-Quran bisa ditanyakan langsung kepada Rasul kemudian diingat dalam pikiran dan hati para sahabat.
Selain alasan di atas, belum adanya kebutuhan untuk menulis kitab-kitab tentang ulumul quran merupakan alasan di balik belum munculnya ulumul quran pada masa Nabi.
B. Masa Sahabat
Ada beberapa alasan mengapa para sahabat tidak menuliskan segala sesuatunya yang mereka terima dari Nabi Muhammad SAW, yaitu :
1. Para sahabat Nabi memiliki daya hafal dan daya ingat yang tinggi sebagaimana orang Arab pada umumnya. Sehingga apa yang mereka terima dari Nabi mereka simpan dalam ingatan.
2. Sebagian dari sahabat Nabi adalah orang yang buta hurup atau buta aksara.
3. Rasulullah pernah melarang sahabat-sahabatnya untuk menulis yang selain al-Quran. Seperti sabdanya :
“ Janganlah kalian menulis sesuatu tentang diriku selain al-Quran. Barang siapa yang sudah menuliskan selain al-Quran , maka hendaklah ia menghapuskannya. Dan ceritakanlah (sesuatu yang berasal) dariku, maka ia tak berdosa. Namun barang siapa yang mendustakanku secara sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka”
Karena alasan-alasan itulah ulumul quran belum ditulis sebagaimana hadits.
Untuk lebih jelasnya perkembangan ulumul quran pada masa sahabat, pada bagian ini akan dijelaskan sedikit lebiih rinci perkembanga ulumul quran pada masa khulafa ar-Rasyidin :
1. Masa Abu Bakr as-Shiddiq ra dan Umar ibn al-Khaththab ra
Pada masa Abu Bakr as-Shiddiq masih belum ada ulumul quran yang berkembang, hanya saja pada masa Abi Bakr naskah-naskah al-Quran yang ditulis pada sekretaris Nabi SAW dikumpulkan dan disimpan atas saran Umar ra seiring banyaknya para kuttab dan huffadz yang gugur dalam medan perang.
2. Khalifah Utsman bin ‘Affan ra
Pada zaman Khalifah Utsman ra wilayah Islam sudah meluas, bahkan sampai pada bangsa-bangsa yang tidak mengenal bahasa Arab. Karena itu, Khalifah Utsman mulai khawatir al-Quran menjadi rancu (kacau) bila tidak dihimpun dalam sebuah mushhaf. Sehingga naskah yang ada di rumah Hafshah dikeluarkan untuk kemudian ditulis ulang dan disusun kembali.
Dengan upaya seperti itu, Khalifah Utsman telah meletakkan landasan yang kelak kita sebut dengan istilah ilmu rasm al-Quran /rasm al-Utsmany , salah satu cabang ulumul quran.
Penulisan dan pengiriman naskah standar itu atas usul Hudzaifah ibn Yaman yang melihat adanya perseteruan /perselisihan antara penduduk Syam dan Irak dalam hal bacaan al-Quran. Ini pula yang menjadi inspirasi terbentuknya ilmu al-Qiraah yang membahas aliran-aliran dalam melafadzkan al-Quran .
3. Khalifah Ali bin Abi Thalib ra
Sayyidina Ali melihat orang-orang non-Arab melakukan penyimpangan dalam berbahasa Arab hingga tingkat yang mengkhawatirkan. Oleh sebab itu, Khalifah Ali ra memerintahkan Abu al-Aswad ad-Da’uly untuk menyusun suatu metode demi menjaga bahasa al-Quran dari kecacatan. Dengan demikian muncullah ilmu nahwu dan salah satu cabang ulumul quran, yaitu ilmu I’rai al-Quran .
Uraian di atas hanya sejarah singkat lahirnya beberapa cabang ulumul quran. Untuk lebih ringkasnya, berikut ini adalah orang-orang yang berpengaruh dalam lahirnya cabang-cabang ulumul quran :
1. dari golongan sahabat : Khulafau al-Arba’ah, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al- Asy’ary, dan Abdullah bin Zubair;

2. dari golongan tabi’in
a. Murid-muridnya ibnu Abbas di Makkah : Sa’id bin Zubair, Mujahid, Ikrimah, Maula ibnu ‘Abbas, ‘Atha bin abi Rabah,
b. Murid-muridnya Ubay bin Ka’ab di Madinah : Zaid bin Aslam, Abu al-‘Aliyah, dan Muhammad bin Ka’ab.
c. Murid-muridnya Abdullah bin Mas’ud di Irak :Alqamah bin Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, ‘Amir asy-Sya’by, al-Hasan al-Bashry, Qatadah bin Da’amah as-Sadusy.
Mereka banyak meriwayatkan tentang ilmu tafsir, ilmu gharib al-quran, asbab an-nuzul, al-makky wa al-madany, dan an-nasikh wa al-mansukh .
Seiring berjalannya waktu, ulumul quran semakin dibutuhkan sehingga banyak ulama ulumul quran yang menyusun kitab ulumul quran, baik secara keseluruhan maupun secara spesifik. Di bawah ini adalah ulama-ulama yang menyusun kitab dari abad ke abad :
1. Abad Kedua
• Syu’ban ibn al-Hajjaj
• Sufyan ibn ‘Uyainah
• Waki’ ibn al-Jarrah
Mereka adalah penulis-penulis awal di bidang tafsir.
2. Abad ketiga
• Ali bin al-Madiny (w. 234 H ) : tentang asbab an-nuzul
• Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam (w. 224 H) : tentang an-nasikh wa al-mansukh
• Ibn Qutaibah (w. 276 H) : tentang musykil al-Quran
3. Abad keempat
• Muhammad bin Khalaf al-Hufi (w. 309) : pengarang kitab al-Hawy fi ‘ulum al-Quran (merupakan orang pertama yang menggabungkan bebrapa cabang ilmu al-Quran dalam satu kitab)
• Abu Bakr Muhammad bin al-Qasim al-Anbary (w. 328 H) : tentang ulum al-Quran
• Abu Bakr as-Sijistany (w. 330 H) : tentang gharib al-Quran
• M.uhammad bin Ali al-Adfawy (w. 338 H) : tentang al-istighna fi ulum al-Quran
3. Abad kelima hijriyah
• Abu Bakr al-Baqilany (w. 403 H) : tentang I’jazul Quran
• Ali bin Ibrahim ibn Sa’id al-Hufy (w. 430 H) : tentang I’rab al-Quran
• Al-Mawardi (w. 450 H) : tentang imtsal al-Quran
4. Abad keenam hijriyah
• Abu al-Qsim Abdu ar-Rahman as-Sabily : tentang mubham al-Quran
5. Abad ketujuh hijriyah
• Ibn abdu as-Salam (w. 660 H) : tentang majaz al-Quran
• Alamuddin as-Syakhawy (w. 640 H) : tentang ilm al-qiraat
6. Abad kedelapan hijriyah
• Ibn al-Qayyim (w. 751 H) : tentang aqsam al-Quran







4. Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bawa:

1.Al-Qur’an menurut bahasa adalah Qaraa artinya bacaan, menurut sifat adalah kumpuln atau sekumpulan ayat atau suray yang menceritakan tentang kisah nabi perintah dan larangannya,menurut isim alam bukan kata bentukan tetapi isim alam.
Menrut Azzarqani ulumul Qur’an ilmu yang membahas tentang kajian Al-Qur’an,segi turunya,susunan pengumpulanya,penulisan,bacaanya,penafsiran,kemukjizatan,nasikh dan mansukhnya,dan penolakan penyebab ragunya akan adanya Al-Qur’an,menurut Manna’ Khalil Qattan ada enam ilmu saja yaitu:sebab turunya,pengumpulan susunanya,makkah madaniyyahnya,nasikh dan mansukhnya, muhkam mutasyabihnya,dan ilmu lain yang terkait dengan al-Qur’an.

2.Pembahasan Al-Qur’an yang mencakup tentang:
Ilmu nuzul qur’an,ilmu tartib qur’an.ilmu kitabah qur’an,tafsir Qur’an,i’jaz qur’an,nasikh dan mansukhnya,syubhahnya,makkiy dan madaniyyahnya, dan muhkam mutasyabihnya.
Ada dua pengelompokan menuurut sifatnya: ektensial:ilmu yang membicarakan tentang keberadan Al-Qur’an.sedangkan essensial:ilmu yang membicarakan tentang isi kandungan Al-Qur’an
.
3.Membahas tentang sejarah perkembangan Al-Qur’an pada masa nabi Muhammad saw, sahabat Nabi abubakar, Umar, Ustman, dan Ali bin Abi thalib.



5. PENUTUP

Dari uraian diatas maka penulis menyadari bahwa banyak terdapat kesalahan,kekurangan, dikarenakan terbatasnya referensi buku yang kami dapat, untuk itu penulis mohon kritikan dan saran yang sifatnya konstruktif demi kesempurnaan makalah ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar