Senin, 20 Desember 2010

makkiyah dan madaniiyah

MAKKIYAH DAN MADANIYAH

 Pengertian Surah Makkiyah dan Madaniyah

Ada tiga pengertian yang dipakai para ulama dalam mengartikan ayat Makkiyah dan Madaniyah diantaranya adalah sebagai berikut: Pertama : Surat Makkiyah adalah surat yang diturunkan di Makkah walaupun turunnya itu setelah hijrah. Sedangkan surat Madaniyyah adalah surat yang diturunkan di Madinah. Yang termasuk turun di Makkah adalah daerah-daerah yang masih dalam kawasan Makkah, seperti ayat-ayat yang diturunkan nabi Muhammad saw ketika di Mina, Arafah, dan hudaibiyah. Dan yang termasuk turun di Madinah adalah yang daerah-daerah yang masih dalam kawasan Madinah, seperti ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi ketika beliau berada di kawasan Badar dan Uhud.
Kedua : ayat Makkiyah adalah yang mengkhiitobi penduduk Makkah, sedangkan ayat Madaniyah adalah yang mengkhitobi penduduk Madinah. Dari pengertian ini dapat kami simpulkan bahwa sebenernya ayat-ayat Al-Qur’an yang dimulai dengan lafadz يا أيها ا لنا س adalah ayat Makkiyah, dan ayat yang dimulai dengan يا ا يها ا لذين ا منوا termasuk ayat Madaniyah, karena kebanyakan orang kafir berasal dari Makkah, sehingga mereka dikhitobi dengan يا أيها ا لنا س Sedangkan orang-orang yang beriman kebanyakan adalah penduduk Madinah, maka mereka dikhitobi dengan يا أيها الذين امنوا.
Ketiga : Sebenarnya ayat Makiyah adalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum Nabi hijrah ke Madinah, walaupun turunnya di lain kota Makkah. Sedangkan ayat Madaniyah adalah yang diturunkan setelah Nabi berhijrah, walaupun turunnya ayat tersebut di Makkah. Pembagian seperti ini dilihat dari pembagian waktu turunnya. Pembagian ini adalah pembagian yang benar karena disini terdapat patokan dan batasan yang berlaku secara umum yang tidak dipertentangkan. Maka kami menggambil kesimpulan bahwa pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat dan para sebagian ulama juga berpegang pada pendapat ini.
Tidak diragukan lagi, banyak para sahabat Nabi yang mengetahui benar mana bagian-bagian al-Qur’an yang Makkiyyah dan yang Madaniyyah. Pengetahuan mereka itu dapat lebih memperdalam lagi rincian sekecil-kecilnya yang dimuat dalam kitab-kitab tafsir dan buku-buku lainnya tentang ilmu al-Qur’an yang tidak sedikit jumlahnya. Beberapa diantaranya telah kami tunjukkan sebagai contoh dan pembuktian. Mengenai soal itu baiklah kami ketengahkan suatu pemikiran yang menunjukkan betapa banyak pengetahuan para sahabat Nabi tentang al-Qur’an. Ibnu Mas’ud misalnya, ia menegaskan:”Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, tak satu ayat pun yang turun yang tidak kuketahui mengenai siapa ayat itu turun dan dimana ayat itu turun”
Meskipun luas pengetahuan Ibnu Mas’ud mengenai al-Quran, tapi ia bukanlah orang satu-satunya dikalangan para sahabat Nabi yang menegaskan pernyataan seperti itu dengan sumpah. ‘Ali bin Abi Thalib pun menegaskan pernyataan serupa itu. Dapat dipatikan, diantara para sahabat Nabi tentu masih ada orang lain yang menyaksikan sebagaimana yang disaksikan oleh dua orang sagabat Nabi terkemuka itu. Bahkan mingkin diantara mereka pun ada yang mengetahui lebih banyak dari pada yang diketahui dua orang sahabat Nabi itu. Tidak mustahil pula kalau diantara para sahabat Nabi yang termasuk awam pun ada yang mengetahui riwayat Hadis tentang sesuatu yang luput dari pengetahuan para sahabat terkemuka. Karna itu, bersandar pada riwayat Hadis shahih tidak berarti mengingkari peranan fikiran dan ijtihad, terutama mengenai soal-soal yang tidak terdapat nashnya yang jelas di dalam al-Qur’an. Ijtihad untuk meneliti bagian-bagian al-Qur’an yang Makiyyah dan yang Madaniyyah dapat ditempuh melalui berbagai cara. Adakalanya terjadi perbedaan pendapat mengenai le-Makiyyah-an dan ke-Madaniyyah-an beberapa Surah tertentu. Demikian juga pengecualian ayat-ayat Makiyyah yang terdapat di dalam surah Makiyyah. Kadang terjadi pula perbedaan pendapat sehubungan dengan urutan ayat-ayat yang turun di Mekah dan yang turun di Madinah; atau mengenai cirri-ciri susunan kalimat dan pokok persoalan pada ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah. Perbedaan pendapat dalam soal-soal tersebut tidak dapat dipecahkan kecuali dengan jalan ijtihad.
kalau an-Nahhas memandang Surah an-Nisa itu Makiyyah karena didalamnya terdapat firman Allah:
•       
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya( an-Nisa, 58)
Yaitu ayat-ayat yang diturunkan di Mekah tentang persoalan kunci Ka’bah; as-Suyuthi tidak membenarkan pendapat tersebut dan menilainya lemah. Ia mengatakan: “Alasan itu tidak berdasar, sebab sebuah surah panjang yang sebagian besar ayat-ayatanya turun di Madinah, dikatakan sebagai surah Makkiyyah. Apalagi setelah adanya pendapat yang lebih kuat (dikalangan jumhur ulama) bahwa semua yang turun sesudah hijrah adalah Madaniyyah. Orang yang menelaan sebab turunnya ayat-ayat tersebut pasti menolak pendapat an-Nahhas. Alasan lain adalah sebuah Hadis yang di ketengahkan Bukhari berasal dari ‘Aisyah ra. Yang mengatakan: “Surah al-Baqarah dan an-Nisa turun pada waktu aku sudah berkumpul dengan beliau (Rasulullah Saw)”. Semua ahli riwayat sepakat bulat bahwa ‘Aisyah r.a. baru berkumpul dengan Rasulullah (sebagai suami istri) sesudah hijrah.
Jadi, kalau didalam setiap Surah Makkiyyah dan Madaniyyah terdapat ayat-ayat pengecualian, maka ada sementara ulama yang dalam mengecualikan ayat-ayat itu bersandar pada ijtihad, bukan bersandar pada nash. Hal itu tidak berlawanan dengan ucapan Ibnu ‘Abbas, bahwa: “Surah yang ayat-ayat pembukannya turun di Mekkah, ditulis di Mekkah; selanjutnya Allah berkuasa menambahkan didalamnya apa saja yang dikehendaki-Nya”, karena memasukkan ayat Makkiyyah kedalam Surah Madaniyyah, segi hikmahnya dapat diketahui melalui ijtihad. Misalnya, Surah al-Isra adalah Makkiyyah, namun para ulama mengecualikan sebuah ayat yang ada didalamnya, yaitu:
       
(Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadam.. al-Isra, 73)
Mereka memastikan ayat terebut adalah Madaniyyah, “turun mengenai beberapa orang utusan dari Tsagif yang datang kepada Rasaulullah Saw untuk meminta hal-hal yang melampaui batas. Mereka berkata:”Bairkanlah kami memuja-muja tuhan-tuhan (berhala-berhala) kami hingga kami mengambil apa yang dihadiahkan orang kepadanya. Bila hadiah-hadiah itu telah kami ambil, Berhala-berhala itu akan kami hancurkan dan kami akan memeluk Islam; dan jadikanlah lembah pemukiman kami sebagai lembah suci seperti Mekah, agar semua orang arab mengetahui bahwa kami lebih utama daripada mereka.” Berdasarkan berbagai sumber riwayat dan isnad-nya para ulama menentukan mana Surah Makkiyyah dan mana Surah Madaniyyah, kemudian mereka menyusun urutannya menurut waktu turunnya.
Namun mereka ragu ketika menentukan mana Surah yang pertama turun dan mana Surah yang terakhir. Akhirnya mereka sampai pada perbedaan pendapat tentang Surah al-fatihah yang dibaca kaum muslimin pada setiap rakaat di dalam shalat. Sebagian ulama berpendapat, Surah terebut adalah Makkiyyah, dan sebagian lain Madaniyyah. Ada juga kelompok ulama yang mengatakan Surah tersebut turun dua kali. Selain mereka ada juga yang memastikan bahwa Surah al-Fatihah merupakan Surah pertama yang turun di Mekah, dengan demikian maka al-Fatihah adalah Surah yang pertama turun. Tetapi sementara ulama memastikan adanya beberapa Surah yang turun dulu sebelum al-Fatihah. Mereka saling mengutarakan dalil dan hujjah (argumentasi) serta alasannya masing-masing, yang lebih banyak bersifat ijtihad daripada naql (nash-nash Hadis). Al-Wahidi misalnya, memandang musatahil kalau lebih dari sepuluh tahun tinggal di Mekah Rasulullah Saw menunaikan shalat tanpa al-Fatihah. Sepanjang sepengetahuan kami, al-Wahidi menulis bukunya yang terkenal, Asbabun Nuzul, hanya berdasarkan riwayat-riwayat Hadis dan Isnad-isnad-nya. Meskipun demikian, pintu ijtihad dan istinbath (menarik kesimpulan sebagai hasil ijtihad) senantiasa tetap terbuka, bahkan bagi mereka yang mengutamakan naql dan nash.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar