Senin, 20 Desember 2010

ilmu munasabah

A.Pengertian Munasabah
kata munasabah merupakan mashdar dari kata ناسب – يناسب- مناسبة,yang secara bahasa artinya musyakalah(kemiripan) dan muroqobah(kedekatan).
Dan menurut istilah ulumul qur’an berarti pengetahuan tentang berbagai hubungan didalam alqur’an secara keseluruhan dan latar belakang penempatan tertib dan ayat suratnya.
Ilmu munasabah alqur’an berfungsi untuk mengetahui hubungan isi kandungan alqur’an, ilmu ini dibahas dalam ulumul qur’an ,karena naskah alqur’an menurut mushaf utsmani tidak disusun berdasarkan kronologi turunnya,hal ini menimbulkan pembahasan tersendiri didalam ulumul qur’an.
Timbul pertanyaan apakah susunan alqur’an berdasarkan petunjuk nabi atau yang biasa disebut dengan tauqifi,atau hanya ijtihad para penulis?
Sehubungan pertanyaan ini,ulama berpendapat bahwa susunan ayat alqur’an bersifat tawqifi.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa munasabah merupakan sebuah ilmu yang digunakan untuk mengetahui alasan-alasan penertiban bagian-bagian dari alqur’an. Ada juga yang berpendapat dan mengatakan munasabah merupakan usaha pemikiran ( ijtihadi )dalam menggali rahasia hubungan antar ayat atau surat yang dapat diterima akal.
Dengan demikian,ilmu ini menjelaskan aspek-aspek hubungan antara beberapa ayat atau surat. Adapun yang menjadi kriteria dalam menerangkan macan-macam munasabah ini sesuai dengan derajat kesesuaian atau yang biasa disebut dengan tamatsul atau tasyabuh antara aspek-aspek yang akan dibandingkannya. Jika munasabah itu terjadi pada masalah-masalah yang ada sebabnya dan ada keterkaitan, maka munasabah ini dapat dipahami dan diterima akal. Sebaliknya jik munasabah itu terjadi pada ayat-ayat yang tidak ada keterkaitan,maka itu tidak tidak bisa dikatakan dengan munasabah,



Karena sebagian ulama mengatakan:
“ munasabah adalah suatu urusan (masalah) yang dapat dipahami,jika ia dikemukakan terhadap akal niscaya akal menerimanya”.

المناسبة امر معقول اذا علي المعقول تلقته بالقبول

B. sejarah perkembangan ilmu munasabah
Abu bakar Al-naisaburi yang wafat pada tahun 324 H dikenal dengan orang yang pertama kali mencetuskan ilmu tentang munasabah di baghdad. Perhatiannya terhadap munasabah tampak ketika ia mempertanyakan alasan dan rahasia penempatan surat-surat dan ayat-ayat . Langkah Al-naisabudi yang memiliki perhatian besar pada munasabah ini merupakan upaya yang bernilai langka di masa itu bahkan dikatakan sebuah kejutan bagi kalangan ulama tafsir. Atas usaha dalam bidang ini maka ia dinobatkan sebagai bapak ilmu munasabah.
Dalam perkembangan selanjutnya munasabah meningkat menjadi salah satu cabang dari ulumul qur’an . dalam pembahasan ilmu ini masih dijelaskan secara parsial pada ulama-ulama sebelumnya namun pada ulama-ulama sesudahnya dijelaskan secara spesifik. Kitab Al-burhan fi munasabah tartib qur’an yang dikarang oleh Ahmad Ibnu Ibrahim Al-andalusi (wafat pada tahun 807 H) dipandang sebagai kitab yang secara khusus membahas munasabah. Sedangkan penulis-penulis berikutnya yang antusias dengan masalah ini diantaranya: Burhan AL-din Al-bikai yang menulis kitab nazham Al-durar fi tanasub Al-ayah was-suwar.
Selainkedua tokoh diatas yakni Ahmad Ibnu Ibrahim dan Burhan Abdin, penulis-penulis dimasa berikutnya sama-sama membahas munasabah,tetapi pembahasan mereka tidak secara khusus dalam satu kitab mereka. Pembahasan munasabah tersebut hanya ditempatkan dalam satu bab dari karya mereka misalnya Azzar Kashi yang membahas munasabah dalam Al-buraha yang berjudul ma’rifah Al-munasabah Bayan al-ayah,selanjutnya tokoh ulumul qur’an Assuyuti membahas munasabah dalam Al-itqon yang berjudul fi munasabah al-ayat . manna’ Al-qhotton dan shubhi sholeh membahas munasah dalam bahasan sababul nuzul, namu di era modern ini ada juga ulama yang secara khusus menulis munasabah dalam kitabnya yaitu Muhammad Al-khumari dalam kitabnya yang berjudul jawahir Al-bayan fi tanasub suwar Al-qur’an.
Beberapa istilah yang digunakan oleh para ulama untuk munasabah yaitu irthibath yang digunakan oleh Assaid qhuthub, Ithishol dan Ta’lil yang digunakan oleh Rashid rida, tartib yang digunakan oleh Al-alusi dan ta’alluq yang digunakan oleh Al-razi, istilah-istilah tersebut memiliki pengertian yang sama yaitu hubungan, relevansi dan kaitan .

C. Macam-macam Munasabah
Ditinjau dari sifatnya,munasabah terbagi menjadi dua bagian ,yaitu:
1. Zhahir al-Irtibath (persesuaian nyata) ظاهر الارتباط
Munasabah ini terjadi karena bagian Al-quran yang satu dengan yang lainnya tampak jelas dan kuat disebabkan kuatnya kaitan kalimat yang satu dengan yang lainya. Deretan beberapa ayat yang menerangkan sesuatu materi itu terkadang, ayat yang satu berupa penguat, penafsir, penyambung, penjelas, pengecualian atau pembatas dengan ayat yang lain, sehingga semua ayat itu tampak sebagai satu kesatuan yang utuh. Misalnya, kelanjutan ayat 1 dari surat Al-Isra’ yang menjelaskan tentang perjalanan malam Nabi saw. (isra’), yaitu ayat 2 yang menjelaskan diturunkannya kitab taurat kepada Nabi Musa, memiliki hubungan yang
Erat,yaitu keduanya sama-sama utusan Allah SWT.
                                   
1. Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
2. Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan kami jadikan Kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain aku,



2. Khafiy al-Irtiibath (persesuaian tidak nyata) خفي الارتباط
Munasabah ini terjadi karena antara bagian-bagian Al-quran tidak ada kesesuaian, sehingga tidak tampak adanya hubungan diantara keduanya, bahkan tampak masing-masing ayat atau surat berdiri sendiri, baik karena ayat-ayat yang dihubungkan dengan ayat lain maupun karena yang satu bertentangan dengan yang lain. Misalnya, hubungan antara ayat 189 dan ayat 190 dari surat Al-Baqoroh.
        ••             •       •                   
189. Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnyaakan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
190. Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Ayat 189 menjelaskan tentang bulan sabit (hilal), tanggal untuk tanda waktu dan untuk jadwal ibadah haji. Sedangkan ayat 190 menjelaskan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat islam. Sepintas, kedua ayat tersebut tidak ada relevansinya. Padahal kalau dicermati dapat diketahui munasabahnya, yaitu pada waktu haji umat islam dilarang berperang, kecuali kalau diserang musuh, mereka perlu melakukan balasan.

Adapun munasabah ditinjau dari segi materinya, terbagi dua bagian, yaitu:
1. Munasabah antar Ayat المناسبة بالاية
Sebagaimana telah dijelaskan dimuka bahwa ayat Al-quran disusun berdasarkan tawqify Nabi.
Munasabah antar ayat ini Misalnya, munasabah antara ayat 2 dan 3 surat al-Baqoroh:
                  
" kitab inilah yang tidak ada keraguan didalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa; yakni orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang dimilikinya.”

Berdasarkan dua ayat diatas, ayat pertama menjelaskan peranan alquran dan hakikatnya bagi orang yang bertaqwa, sedangkan ayat yang kedua menjelaskan karakteristik dari orang-orang bertakwa.

Contoh lainnya, munasabah antara ayat 103 dan 102 dari surat ‘Ali ‘Imran.
     •   •                              •           
102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Faedah munasabah ini untuk menjadikan dua ayat tersebut sebagai dua hal yang sama. Ayat 102 menyuruh bertakwa,sedangkan ayat 103 menyuruh berpegang teguh kepada Allah SWT.
Jadi, diantara dua ayat tersebut ada kaitan yaitu antara bertakwa dan berpegang teguh kepada Allah SWT..
2. munasabah antar surat المناسبة بالسورة
Sebagai halnya munasabah antar ayat Al-quran,munasabah antar surat alquran memilki rahasia sendiri. Munasabah antar Al-quran ini menyangkup:
a. hubungan antara satu surat dengan surat sebelumnya, seperti surat al-fatihah
   
Lalu dijelaskan di dalam surat al-baqarah bahwa jalan yang lurus itu ialah mengikuti petunjuk al-qur’an, sebagaimana disebutkan :
         


b. hubungan antara permulaan surat dan penutupan surat sebelumnya, seperti permulaan surat al-hadid dan penutup surat sebelumnya. yaitu surat al-waqi’ah:
          
    
Hubungan ini menyangkut tentang tasbih,yakni mensucikan Allah SWT.

c. Hubungan antara dua surat dalam soal materinya,yaitu materi surat yang satu sama dengan materi surat yang lain.Misalnya munasabah antara isi kandungan surat Al-Baqarah sama dengan kandungan surat Al-Fatihah.Kedua surat tersebut sama-sama menjelaskan tentang akidah,ibadah,muamalah,kisah dan janji dan ancaman.Bedanya,kandungan tersebut,dalam surat Al-Fatihah dijelaskan secara global,sedangkan dalam surat Al-Baqarah dijelaskan secara perinci.

D. Kedudukan munasabah dalam penafsiran Al-quran
Berbicara munasabah ini para ulama berbeda pendapat ada yang pro dan kontra. Diantara ulama yang mendukung munasabah ini adalah al-Buqai’. Ia, sebagai dikutip mustofa muslim, mengatakan bahwa ilmu munasabah sangat penting, ia merupakan ilmu yang agung, sehingga hubungannya dengan ilmu tafsir bagaikan ilmu nahwu dan ilmu bayan. Menurut al-Zarkasyi ilmu munasabah menjadikan bagian-bagian kalam saling menguatkan satu dengan lainnya. Ilmu ini, menurut al-Raziy, sangat bernilai tinggi selama dapat diterima akal. Sedangkan tokoh tafsir yang menentang keberadaan munasabah adalah Mahmud Syaltut dan al-Syathibi yang menganggap percuma usaha mencari hubungan apa yang ada diantara ayat dan surat dalam Al-quran.
Harus diakui bahwa ayat-ayat dan surat-surat dalam Al-quran tidak dapat dipisahkan, karena itu diperlukan pengetahuan tentang hubungan di antara ayat dan surat tersebut. Dalam hal ini ‘Izzud al-Din ‘Abd al-Salam mengatakan bahwa ketika menghubungkan antara kalimat yang satu dengan kalimat lainnya disyaratkan agar tepat dengan hal-hal yang benar-benar berkaitan, baik di awal maupun di akhir.
Penguasaan seseorang dalam munasabah akan mengetahui mutu dan tingkat kebalaghahan Al-quran dan konteks kalimatnya antara yang satu dengan yang lain. Bagaiman tidak, korelasi antar ayat akan menjadikan keutuhan yang indah dalam tata bahasa Al-quran, yang jika dipenggal keindahan tersebut akan hilang. Ini bukti bahwa Al-quran betul-betul mukjizat dari Allah bukan kreasi Muhammad. Sebagai dikatakan al-Razi bahwa kebanyakan keindahan-keindahan Al-quran terletak pada susunan dan hubungannya, sedangkan susunan kalimat yang paling indah (baligh) adalah yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Di sini jelas bahwa pengetahuan tentang munasabah dapat memudahkan orang dalam memahami makna ayat atau surat Al-quran secara utuh. Adanya penafsiran yang sepenggal-sepenggal terhadap ayat-ayat Al-quran akan mengakibatkan penyimpangan dan kekeliruan dalam penafsiran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar