Senin, 20 Desember 2010

I'JAZ AL-QUR'AN

I’JAZ AL-QURAN

I. PENDAHULUAN

Salah satu objek yang penting dalam kajian tentang mata kuliah dasar-dasar ilmu Al-quran adalah perbincangan tentang mengenai ataupun tentang mukjizat. Persoalan mukjizat, terutama mukjizat Al-quran, pembahasan ini sangat penting dalam perdebatan yang berkepanjangan.
Dengan perantaran mukjizat, Allah mengingatkan manusia bahwa para rasul itu merupakan utusan yang mendapat dukungan dan dari langit,.mukjizat yang telah di berikan kepada nabi mempunyai fungsi yang sama,salah satunya mukjizat nabi Muhammad yaitu al-quran, kenapa al-quran bisa dikatakan mukjizat? Karena al-quran kitab yang mengetahui segala apa yang belum di ketahui oleh manusia, baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi,al-quran pun sumber dasar ilmu pengetahuan, sumber hukum dan lain sebagainya.
Allah sama sekali tidak akan menelantarkan manusia, maka dari itu allah menurunkan wahyu kepada nabi muhammad, dari waktu ke waktu, yang tak lain untuk membimbing manusia ke jalan agar mereka dapat menempuh liku-liku kehidupan dan kehidupan ini atas dasar keterangan dan pengetahuan.
Bila dukungan Allah kepada rasul-rasul terdahulu berbentuk ayat-ayat kauniyah yang memukau mata, dan tidak ada jalan bagi akal unuk menentangnya, seperti mukjizat nabi Musa tangan dan tongkatnya. Dan penyebuhan orang buta dan orang sakit sopak serta manghidupkan orang yang sudah mati atas izin allah bagi nabi Isa. Maka mukjizat nabi Muhammad, pada masa kejayaan ilmu pengetahuan ini, berbentuk mukjizat ’aqliyah, mukjizat yang bersifat rasional, yang berdialog dengan akal manusia dan menentangnya untuk selamanya . mukjizat tersebut adalah al-quran dengan segala ilmu pengetahuan yang di kandungnya serta beritanya tentang masa lalu dan masa yang akan datang. Akal manusia, betapa majunya tidak akan bisa menandingi al-quran, karena al-qiran adalah ayat kauniyah yang tiada bandingnya. Al-quran juga adalah wahyu allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan sangat di perlukan untuk di jadikan pedoman dan pembimbing bagi kehidupan kita.
Rasulullah bersabda:
’Tiada seorang nabi pun kecuali diberi mukjizat yang dapat membuat manusia beriman kepadanya. Namun apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku. Karena itu aku berharap semoga kiranya aku menjadi nabi paling banyak pengikutnya.(HR. Bukhari).




















A. Pengertian I`jaz
I`jaz (kemukjizatan) adalah menetapkan kelemahan. Kelemahan menurut pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kemampuan. I’jaz itu merupakan khazanah dalam bahasa arab sedangkan dalam bahas indonesia adalah mukjizat, i’jaz al-quran berarti mukjizat Al-quran. Apabila kemukjizatan itu telah terbukti maka nampaklah kemampuan mu’jiz (sesuatu yang melemahkan). Yang dimaksud dengan i’jaz dalam pembahasan ini ialah menampakan kebenaran nabi dalam pengakuannya sebagai rasul dengan menampakan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizat yang abadi atau yang kekal sampai hari kiamat nanti atau I’jaz al-quran bisa bermakna pengokohan al-quran sebagai sesuatu yang mampu melemahkan berbagai tantangan untuk penciptaan karya yang sejenisnya. Dan i’jaz atau mukjizat sesuatu hal yang di luar dugaan atau sesuatu yang luar biasa yang disertai tantangan dan pelawanan. Kenapa kitab al-quran bisa disebut mukjizat tidak seperti kitab-kitab yang lain? Unsur-unsur yang terdapat pada mukjizat al-quran sebagaimana yang dijelaskan oleh bapak Quraish Shihab: hal atau peristiwa yang luar biasa, terjadi atau dipaparkan oleh seorang yang mengaku nabi, mengadung tantangan terhadap yang meragukan kenabian, tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani. .
Berdasarkan pada kisah-kisah yang diangkat al-quran,al-suyuti membagi mukjizat para nabi ada kelompok besar, yaitu mukjizat hisiyah (sesuatu yang dapat di tangkap oleh panca indra), dan mukjizat aqliyah (sesuatu yang hanya dapat ditangkap oleh otak manusia) mukjizat hisiyah diperkenalkan oleh nabi yang oleh nabi yang berhadapan dengan umat yang terdahulu, seperti nabi Musa dengan tongkatnya yang berubah menjadi ular, dan Isa yang dapat menghidupkan orang sudah meninggal. Sedangkan mukjizat aqliyah diperkenalkan oleh nabi Muhammad yaitu al-quran, karena sifatnya adalah tantangan daya nalar, maka kemukjizatan tidak berakhir dengan wafatnya nabi Muhammda. Al-quran menentang siapa saja yang ingin mencoba menyainginya, termasuk generasi manusia setelah Rasul, dan bahkan umat manusia hari ini, hari esok, dan hari terus sampai hari kiamat nanti.

B. I’jaz al-lughawi, macam dan contohnya.

Al-quran itu kitab yang sempurna dari segi apapun termasuk dari segi bahasa yang telah kita ketahui bahwa kalimat maupun istilah yang termaktub dalam al-quran tidak bisa ditandingi oleh siapapun termasuk orang yang paling mahir dalam membuat puisi dan syair pada zanman rasulullah.sejarah menyaksikan, ahli-ahli bahasa terjun ke dalam medan festifal bahasa dan mereka memperoleh kemenangan. Tetapi tak satupun dari mereka tak berani memproklamsikan bahwa mereka berani menentang gaya bahasa al-quran.pada hal, hal ini terjadi pada masa kejayaan bahasa arab, pada waktu itu bahasa arab telah pada puncaknya, akan tetapi anehnya pada waktu itu al-quran tetap berdiri tegak dihadapan para ahli bahasa untuk menentang, dengan beberapa bentuk tantangan. Dan tak ada seorang pun yang bisa menandinginya atupun mengimbanginya, padahal mereka adalah orang-orang yang sombong, tinggi hati dan pantang menyerah dikalahkan.
Qur’an, di mana orang arab tidak mampu menandinginya itu, sebenarnya tidak lain karena aturan-aturan kalamnya, baik dalam lafaz dan huruf-hurufnya maupun susunan dan usulubnya. Akan tetapi qur’an jalinan huruf-hurufnya serasi, ungkapannya yang indah, uslubnya yang manis, ayat-ayatnya yang teratur, serta memperhatikan situasi dan kondisi dalam berbagai macam bayannya. Adapun macam-macam gaya bahasa dalam al-quran:
1. Keseimbangan dalam kata
A. keseimbangan jumlah kata dengan antonimnya. Contoh: Al-hyy dan al-mawt masing-masing sebanyak 145 kali;
B. keseimbangan jumlah kata dengan sinonimnya, contohnya al-harts dan al-zir’ah, masing-masing 27 kata.
C. keseimbangan jumlah antara suatu kata dengan kata lain yang menunjuk pada akibatnya contoh: al-infak dan al-ridha, masing-masing sebanyak 73 kali.
D. Keseimbangan antara jumlah kata dengan kata penyebabnya contoh : as-salam dengan at-thayyibah, masing-masing sebanyak 60 kali.
E. Selain keseimbangan–keseimbangan di atas, terdapat keseimbangan lain yang bersifat khusus yaitu : kata yaum (hari) dalam bentuk tanggal ada sebanyak 365, sesuai dengan jumlah hari dari satu tahun, sedangkan ayyam jamak dari yaum atau ayyamyni mutsanna, jumlah pemakaiyannya hanya 30, sama dalam hari dalam satu bulan, di sisi lain, kata yang berarti “bulan” ( syahr) hanya sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

2. konsistebsi pemakaian huruf yang menjadi pembuka surat.
Hasil penelitian Rasyad khalifah memperlibakan keajaiban al-quran yang sekaligus memperlihatkan otensitisannya, yaitu konsistensinya pemakaian huruf yang digunakan sebagai pembukaan surah.
Sebagai contoh, huruf qaf yang merupakan pembuka surat ke-50, di temukan terulang sebanyak 57 kali, yakni 38 kali 19, huruf ya da sin pembuka surat Yasin ditemukan terluang sebanyak 285 kali, yakni 15 kali 19. demikian pula huruf-huruf yang dipakai sebagai pembuka pada surat-surat yang lain’ dari buku sejarah dan ’uluum quran.

3. Keindahan sususnan kata dan pola-pola kalimtnya.
Syeikh fakhruddin al-Razi, penulis tafsir al-quran yang berjdul mafatih al-ghaib, menyatakan bahwa kafefasihan bahasa, keindahan susunan kata-kata, dan ploa-pola kalimat al-quran amat luar biasa. Qadhi Abu Bakar dalam ijaz al-quran menyatakan bahwa memahami kemukjizatan al-quran dari sisi keindahan kebahasaanya jika dibandingkan dengan sastra dan syair arab amat sangat sukar untuk dibandingi. Yang menjadi keindahan bahasa dalam al-quran dilihat dari bentuk kalimat seperti, ijaz, tasybih, majaz, dan istiharah. Contoh dari ijaz, pada surat yusuf/12: 82:
   •         
82. dan tanyalah (penduduk) negeri yang Kami berada disitu, dan kafilah yang Kami datang bersamanya, dan Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang benar".
Ayat ini menceritakan peristiwa yang di alami keluarga Ya’qub dalam proses penemuan kembali Yusuf yang sebelumnya diduga meninggal akibat penganiayaan saudara-saudaranya. Kata واسئل القرية merupakan hasil dari ringkasan واسئل أهل القر ية kalau di ungkapakan dalam kata aslinya terasa kurang bagus bentuk uslub-nya.
Bentuk-bentuk Tasybih
Disamping I’jaz, rumusan redaksi al-Qur’an banyak menggunakan bentuk-bentuk tasybih dalam ilmu balaghoh.
Contohnya, dalam surat al-nur ayat 39:
        •               
39. dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya[1042].


Dalam ayat ini Allah menjelaskan amal ibadah orang kafir untuk menjelaskan secara aktual, dia menyamakan sifat amal tersebut dengan fatamorgana agar lebih mudah di pahami para pembaca pola seperti ini sekaligus membuat susunan redaksi al-Qur’an semakin indah dan nikmat untuk dibaca dan disimak dan dihayati.

Bentuk majaz dan isti’aroh
Dalam ilmu balaghoh majaz antara lain terbagi menjadi dua majaz aqli dan majaz lughowi. Majaz aqli adalah menyandarkan suatu perbuatan kepada sesuatu yang lain. Contohnya, dalam surat al-Qori’ah ayat 8 sampai 11:
•               
8. dan Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
10. tahukah kamu Apakah neraka Hawiyah itu?
11. (yaitu) api yang sangat panas.

Dalam ayat ini Allah menyandarkan hawiyah yakni neraka yang amat panas. Pada kata ummu yang berarti ibu padahal neraka hawiyah itu bukan ibu bagi setiap orang tetapi hal ini, Allah hendak mendekatkan informasi-informasi keagamaannya itu kepada ummat manusia. Ia menggunakan kata ummu sebagai pinjaman kata agar mereka dapat memahaminya.

Majaz lughowi adalah penggunaan lafal bukan pada makna sebenarnya. Contohnya, dalam surat al-Baqoroh ayat 19:
                    
19. atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati[28]. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir[29].

Dalam ayat di atas, Allah menggunakan kata يجعلون أصابعهم dalam rangka memperlihatkan sikap mereka yang berlebihan. Ia tidak menggunakan kata الأنامل yang bermakna ujung jari. Padahal tidak mungkin menyumbat telingan dengan keseluruhan jari.







C. I’jaz al-ma’nawi macam dan contonya.
              
179. Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
Komposis kalimat diatas merupakan suatu rumusan padat yang mencerminkan penyederhanan redaksional secara sempurna, sehingga melahirkan bentuk kalam yang indah namun tetap utuh, karena makna yang dimaksud dapat dipahami dari konteks kalimat secara keseluruhan.
Kemudian, sebagaimana dikemukakan Rasyid Ridha, penyederhanaan redaksional juga terjadi dalam pengungkapan maknanya, karena didalam al-quran bisa mepunyai amkna yang haqiqi dan makna yang majazi contohnya, nazala minas samaail maaa,maa a disini kita bisa artikan rizki karena allah tidak mungkin menurunkan rezeki seseorang dengan langsung, tetapi menggunakan wasilah yaitu dengan menggunakan majaz.dan isti’arahnya juga demikian.dan dalam makna tasbih yang sudah ada contohnya pada sub bab pada judul tasybih, dan bentuk ijaznya cotohnya pada sub baba betuk ijaz
D. Sharfah
Kemu’jizatan Al-Qur’an pada umumnya terletak pada informasi-informasi ghaibnya, ilustrasi dan formulasi kebahasaannya. Akan tetapi Abu Ishaq dan pengikutnya berpendapat bahwakemu’jizatan al-Qur’an itu bukan terletak pada faktor-faktor tersebut, tetapi justru karena Allah megalihkan perhatian bangsa Arab agar tidak menandingi al-Qur’an padahalmereka mampu melakukannya. Inilah yang dalam istilah mereka biasa disebut sebagai Sharfah.
Sementara itu, Abu Hasan ‘Ali ibn al-Rumani, juga seorang tokoh dari Mu’tazilah, melihat lebih jauh, yakni bahwa Allah mengalihkan perhatian umat manusia sehingga mereka tidak mempunyai keinginan menyusun suatu karya untuk menandingi al-Qur’an.
Secara rinci al-Zarkasyi mengemukakan kelemahan argumentasi al-Nazham dan al-Rumani, yaitu:
1. Firman Allah pada surah al-Isra’ ayat 88 memperlihatkan kelamahan bangsa arab menyusun karya besar yang sejaja dengan al-Qurl’an. Dan kalau Allah melarang mereka , maka yang mu’jiz (melemahkan) itu bukanlah al-Qur’an, tapi justru Allah sendiri.
2. bahwa kemu’jizatan al-Qur’an terhadap masyrakat Arab saat itu berupa karya spesifik, yaitu dari segi isi dan pembahasannya belaka, mungkin saja mereka mampu, tetapi dari segi isi dan ilustrasinya, mereka akan sangat mengalami kesukaran, dan tidak akan mampu
3. Al-Qur’an mengemukakan hal-hal ghaib yang akan terjadi pada masa yang akan datang dalam kehidupan dunia ini, disamping berita-berita alam akhirat yang akan dialami umat manusia kelak. Segala yang dikemukakan al-Qur’an tersebut kemudian terbutkti dalam perjalanan hidup manusia ini.
4. al-Qur’an juga mengemukakan kisah-kisah lama yang tidak terangkat dalam cerita-cerita rakyat Arab, seperti kisah nabi Nuh serta kisah nabi-nabi lain dan perlawanan masyarakatnya terhadap dakwah mereka, dan akibat-akibat dari perlawanan tersebut.

KESIMPULAN
Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir yang Allah turunkan, dimaksudkan untuk menjadi petunjuk hamba-Nya. Bukan hanya bagi masyarakat tempat di mana kitab ini diturunkan, melainkan bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Al-Qur’an sebagai kalamullah haruslah memiliki nilai kemu’jizatan yang tidak mungkin bagi hamba Allah untuk bisa menandinginya. Oleh karena itu, al-Qur’an tetap terpelihara dan terjaga keaslianya. Allah SWT mempunyai cara tersendiri untuk memelihara kalam-Nya tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar