Pages

Senin, 20 Desember 2010

BAB I
PENDAHULUAN

Wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus diberikan kepada orang tertentu tanpa diketahui orang laindan proses datangnya wahyu bisa melalui suara berupa firman atau melalui mimpi. Seperti dalam al-Qur’an al-Baqarah ayat 163.
Allah menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad di gua Hira ketika Nabi bertahannus dan ayat pertama kali diturunkan yaitu surat al-Alaq ayat 1-5 pada Lailatul Qadr.
Dalam al-Qur’an surat asy-Syura ayat45-51 dengan jelas mengatakan bahwa Allah tidak bercakap-cakap dengan manusia melainkan melalui sebuah perantara, inilah sebabnya Allah memerintahkan risalahnya melalui nabi-nabi yangterpilih.
Wahyu yang terakhir dan yang paling utama dalam islam adalah al-Qur’an dan wahyu ini dibawa melalui perantara malaikat Jibril yang disampaikan kepada nabi Muhammad yang selanjutnya diisyaratkan kepada umatnya.













BAB II
WAHYU
A. Pengertian Wahyu
Wahyu menurut bahasa adalah isyarat yang cepat dengan tangan dan sesuatu isyarat yang dilakukan juga bukan dengan tangan. Juga bermakna surat, tulisan, sebagaimana bermakna pula segala yang kita sebut kepada orang lain untuk diketahuinya . Syekh Mufid, sebagaimana dikutip oleh Ibrahim Amini menyebutkan bahwa dasar kata wahyu bermakna “ucapan yang tersembunyi”. Sedangkan menurut Thabathaba’i wahyu bermakna “isyarat dengan cepat”.
Sedangkan wahyu menurut istilah yaitu nama bagi sesuatu yang dituangkan dengan cara cepat dari Allah ke dalam dada Nabi-Nya. Sebagaimana dipergunakan juga untuk lafadz al-Qur’an. Atau debgan kata lain, wahyu dalam hal ini ialah pengetahuan-pengetahuan yang Allah tuangkan ke dalam jiwa nabi, dan dia kehendaki agar disampaikan kepada manusia untuk menunjukan manusia agar hidup bahagia dunia dan akhirat.
Di dalam al-Qur’an, lafadz “wahyu” dengan segala rgam bentuknya. Terulang kira-kira tujuh puluh delapan kali dengan arti yang berbeda-beda. Di antara makna yang berbeda tersebut ialah .
1. Wahyu berarti ilham fitriyah (naluriah) bagi manusia. Berkaitan dengan hal ini, firman Allah menyebutkan :
                        
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul”. (Q.S al-Qashash : 7).


B. Macam-macam Penyampaian Wahyu
Allah swt. menyampaikan wahyu kepada para utusan-Nya melalui tiga cara . Ayat al-Qur’an yang membicarakan hal ini adalah surat as-Syura ayat 51, sebagaimana berikut :
        •                
“Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”. (Q.S as-Syura : 51).

Berdasarkan Penjelasan ayat diatas dapat diketahui bahwa ada tiga macam cara penyampaian wahyu. Pertama, Illa Wahyan atau perbincangan yang tidak memiliki syarat. Atau dengan kata lain ucapan yang cepat, tersembunyi dan tanpa perantara, yang terjadi dalam kondisi tidur ataupun terjaga.
Kedua, cara penyampaian wahyu dalam bentuk ini adalah dengan cara dibalik tirai (nin wara’i hijab). Cara seperti ini berarti, Allah berbicarakepada para nabi tanpa perantara Malaikat. Nabi mendengr pembicaraan Allah, tetapi pembicaraan ini terdengar dari suatu tempat atau dari sesuatu sebagaimana nabi Musa mendengar pembicaraan Allah melalui sebatang pohon. Hal ini senada dengan yang disebutkan al-Qur’an :
                   
“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah Dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, Yaitu: "Ya Musa, Sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam”. (Q.S al-Qashash : 30)


Ketiga, cara penyampaian wahyu yaitu dengan cara melalui seorang utusan (Yursila rasulan). Dalam bentuk ini, wahyu disampaikan melalui seorang perantara, yaitu malaikat Jibril. Jibril turun dari sisi Allah menyampaikan pengetahuan. Hakikat dan pesan-pesan tersebut melalui pendengaran batin. Wahyu dalam bentuk seperti ini terjadi dalam beberapa macam. Terkandang mendengar suara malaikat tetapi tidak menyaksikannya, terkadang juga mendengar suara dan menyaksikan malaikat.

C. Kemungkinan Turunnya Wahyu
Wahyu turun kedalam hati Nabi saw kapan saja. Kadang-kadang disaat beliau sedang berada di tempat tidur. Beberapa saat beliau seolah-ola pingsan sejenak, kemudian bangun dan mengangkat kepala seraya tersenyum atau pada saat-saat beliau dirumah sedang menunaikan sholat sunnah larut malam. Surah al-Kautsar turun ketika beliau dalam keadaan seperti itu. Namun adakalanya wahyu terputus sehingga beliau merasa sangat kangen dan selalu berharap. Setelahturunnya surah al-Alaq wahyu sempat terputus selama tiga tahun. Hal ini menyebabkan beliau teramat sedih. Berulangkali beliau pergi berkhalwat di puncak bukit untuk bertemu dengan malaikat Jibril. Sampai akhirnya tibalah saat yang dinanti-nantikan dan turunlah Jibril memberitahu beliau, bahwa beliau adalah benar-benar Rasul Allah.
Dengan pemberitahuan itu beliau merasa tenang dan tentram. Suatu hari ketika sedang beerjalan-jalan terdengarsuara dari langit, lalu beliau memandang keatas. Tiba-tiba turun Jibril dalam bentuk yang sangat menakutkan beliau sehingga pulang kerumah dan berkata pada khadijah r.a :”Selimutilah aku…”! tak lama kemudian Allah menurunkan wahyu-Nya :
              
“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan dan Tuhanmu agungkanlah dan pakaianmu bersihkanlah,dan perbuatan dosa tinggalkanlah”.
Rasulullah merasa sangat girang dan kesedihannya selama penantian berubah menjadi kegembiraan. Kenyataan demikian itu meyakinkan kita bahwa wahyu turun tidak menuruti keingina dan pula tergantung pada beliau itu dan memang benar-benar berada diluar pemikiran beliau.

D. Macam-macam Cara Turun Wahyu Kepada Rasulullah SAW
Terkait dengan cara-cara penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad terdapat berbagai macam bentuk, antara lain :

1. Mimpi yang Benar (ar-Ru’yah ash-Shalihah)
Mimpi yang nyata merupakan prolog kewahyuan dan pengantar kenabian yang mempersiapkan mental Rasulullah saw. untuk menerima wahyu selanjutnya. Mimpi-mimpi seperti ini begitu nyata dan jelas. Ia mewujud dalam kesadaran persisi sebagaimana yang terlihat dalam mimpi. Atau dengan kata lain bias ditabirkan dan menjadi petanda baik dan berita petunjuk. Fase ini dimulai enam bulan sebelum pertemuan Nabi kepada malaikat Jibril di gua Hira dan berlangsung sepanjang sisa usia beliau. Al-Qur’an menyebutkan kasus-kasus mimpi yang dialami Nabi, sebagai berikut :
                      
“(Yaitu) ketika Allah Menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. dan Sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati”. (Q.S al-Anfal : 43)
Juga yang terdapat dalam surat al-Fath 27 :
                             • 


“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, insya Allah dalam Keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”. (Q.S al-Fath : 27)

2. Suara Gemercing Lonceng
Model penurunan wahyu seperti ini merupakan model yang paling keras. Sehingga dengan beban yang keras tersebut seolah-olah ketika wahyu turun kepada nabi terlihat dalam kening beliau banyak bercucuran keringat.
Dalam salah satu hadits nabi darri Aisyah, disebutkan bahwa model penurunan wahyu yang seperti gemercing lonceng ini adalah cara penurunan wahyu yang paling berat dirasakan oleh Nabi. Ketika wahyu turun dengan cara seperti ini, terjadi proses penyatuan kesadaran fisik dan mental, serta variabel-variabel perubah psikologis dan organis yang menarik nabi dengan sangat kuat untuk menerima wahyu, sehingga kesadaran nabi sepenuhnya tertuju pada sumber wahyu.
3. Penjelmaan Malaikat Jibril dalam Wujud Seorang Laki-laki
Kemampuan malaikat untuk merubah wujud menjadi manusia sudah kesepakatan seluruh agama para malaikat pernah turun menemui Nabi Ibrahim dalam wujud seorang laki-laki dan dia tidak mengetahui bahwa mereka adalah para malaikat kecuali saat mereka bersumpah kepadanya mengenai jati diri mereka. Al-Qur’an menceritakan kisah tersebut sebagai berikut :
                                          
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaamun". Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Maka Dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan anda makan." (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. mereka berkata: "Janganlah kamu takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak)”. (Q.S adz-Dzariyat : 24-28).
Beberapa malaikat juga pernah mendatangi nabi Luth. Dalam wujud pemuda-pemuda berparas tampan.
                                •           
“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, Dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan Dia berkata: "Ini adalah hari yang amat sulit. "Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: "Hai kaumku, Inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. tidak Adakah di antaramu seorang yang berakal?" (Q.S Hud : 77-78).
Malaikat Jibril pernah turun pula pada nabi Muhammad dan menjelma dalam wujud seorang laki-laki, sebagaimana penuturan Beliau sendiri yang dilansir oleh Bukhari dalam kitab shahihnya. “Kadang-kadang Malaikat menjelma dihadapanku dalam wujud seorang laki-laki. Ia berbicara denganku dan aku memahami apa yang ia katakan”.

E. Perbedaan antara Wahyu, Ilham, dan Ta’lim
 Perbedaan wahyu dengan ilham
Kata sebagian ulama, Ilham itu ialah menuangkan suatu pengetahuan kedalam jiwa yang diminta supaya dikerjakan oleh yang menerimanya dengan tidak lebih dahulu dilakukan ijtihad dan menyelidiki hujjah-hujjah agama.
Yang demikian itu terkadang diperoleh dengan jalan kasyaf dan terkadang diperoleh dengan tidak memakai perantara malaikat menurut cara yang tertentu yang tuhan pergunakan beserta tiap-tiap mawjud.
Dengan keterangan ini, nyatalah bahwa ilham itu suatu kasyaf ma’nawi karena wahyu itu hasil dengan mempersaksikan mereka dan mendengar tidurnya.
Golongan ini berkata wahyu itu khusus untuk Nabi, sedangkan ilham untuk umum. Lagipula wahyu itu penyampaiannya kepada umat.

 Perbedaan ilham dengan ta’lim
Ta’lim (member pelajaran) bersandar kepada pengetahuan danpenyelidikan, ilham tidak disandarkan dan tidak pula bersandar kepada pengetahuan yang hasil dari menyelami dalil-dalil agama, hanya satu nama bagi garisan-garisan hati yang diciptakan Allah dalam jiwa orang yang berakal, lalu ia sadar dan memahamkan maksud dengan secepat mungkin.
Karena inilah dinamai orang yang dapat mengetahui dengan kesempurnaan, kecerdikannya apa yang tidak bisa dilihat oleh mata.
Oleh karena itu ditafsirkan wahyu kepada lebah dengan ilham bukan dengan ta’lim.












BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
 Wahyu nama dari sesuatu yang dituangkan dengan cepat dari Allah ke dalam hati Nabi-Nya.
 Cara-cara Allah menurunkan al-Qur’an melalui tiga cara :
• Melalui wahyu.
• Dibalik tabir rahasia ketuhanan.
• Dengan mengirim utusan.
 Wahyu diturunkan pertama kali pada Lailatul Qadr pada tanggal 17 Ramadhan.
 Cara-cara wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan tiga cara :
a). Melalui mimpi.
b).Gemerincing lonceng.
c). penjelmaan Jibril dengan wujud seorang laki-laki.

Wahyu merupakan kasyaf syuhudi yang mengandung juga kasyaf ma’nawi, ilham merupakan kasyaf ma’nawi dan ta’lim (memberi pelajaran) yang bersandar kepada pengetahuan dan penyelidikan.

0 komentar:

Poskan Komentar