Pages

Senin, 20 Desember 2010

asbabun nuzul

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah dengan rasa syukur kepada Allah SWT, yang dengan rahmat dan inayah-Nya, makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik. Shalawat serta salam disampaikan kepada nabi Muhammad saw yang telah membimbing umatnya dari zaman kebodohan menuju zaman ilmu pengetahuan.
Makalah ini membahas tentang “ILMU ASBAB AN-NUZUL” disusun sebagai tugas kelompok pada mata pelajaran Dasar-dasar Ilmu Al-Qur’an.
Penulis mengucapakan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah membimbing dalam proses pembelajaran. Juga kepada semua pihak yang telah membantu sehingga terselesainya makalah ini.
Disadari bahwa makalah ini banyak kekurangan, untuk itu kepada segenap pembaca diharapkan kritik serta sarannya guna tercapainya makalah ini di masa yang akan datang.
Akhirnya, dengan senantiasa mengharap rahmat serta ridho Allah SWT, semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Jakarta, Oktober 2010

Penulis







DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
PENDAHULUAN..............................................................................................iii
PEMBAHASAN
1. Pengertian Asbab An-Nuzul..........................................................................1
2. Macam-macam Asbab An-Nuzul..................................................................1
3. Redaksi Asbab An-Nuzul..............................................................................5
4. Kaidah-kaidah dalam Asbab An-Nuzul.........................................................6
5. Kegunaan Mengetahui Asbab An-Nuzul.......................................................7
PENUTUP.........................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................13

















PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui, Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur, sesuai situasi yang menuntutnya. Karena itu, salah satu syarat pendahulu yang amat diperlukan untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an adalah mengetahui Asbab An-Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat).
Pembahasan ini meliputi, Pengertian asbab an-nuzul, macam-macam asbabun nuzul, kalimat-kalimat yang menunjukkan asbabun nuzul, cara-cara mengetahui asbabun nuzul, dan fungsi mengetahui asbabun nuzul.
2. Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini menjadi sangat penting untuk dibahas dan dikembangkan agar kita dapat mengetahui keadaan pada saat pewahyuan ayat-ayat Al-Qur’an, di mana ayat-ayat itu ketika diturunkan sangat terkait dengan konteks sejarah pada masa itu. Pembahasan tentang asbab an-nuzul ini dimaksudkan untuk mencapai efektivitas dalam memahami kandungan ayat Al-Qur’an.












علم اسباب النزول
A. PENGERTIAN ASBABUN NUZUL
Asbabun nuzul berasal dari kata asbab اسْبَاب(tunggal),berarti alasan atau sebab. Sedangkan نزول berasal dari kata نزل yang artinya turun. Asbab an-nuzul berarti pengetahuan tentang sebab-sebab diturunkannya suatu ayat. Ada juga yang berpendapat Asbabun Nuzul adalah:
مَا نُزِلَتِ الآيَةُُ اَوِ الآيَاتُ بِسَبَبِهِ مُتَضَمِّنَةً لَهُ اَوْ مُجِيْبَةً عَنْهُ اَوْ مُبَيِّنَةً لِحُكْمِهِ زَمَنَ وُقُوْعِهِ
“Sesuatu yang sebabnyalah turun sesuatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban tentang sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya peristiwa itu.”
Yakni, suatu kejadian yang terjadi di zaman Nabi SAW. Atau sesuatu pertanyaan yang dihadapkan kepada Nabi, dan turunlah satu atau beberapa ayat dari Allah S.W.T. yang berhubungan dengan kejadian itu atau dengan penjawaban pertanyaan itu. Baik peristiwa itu merupakan pertengkaran ataupun merupakan kesalahan yang dilakukan maupun suatu peristiwa atau suatu keinginan yang baik.
Menurut Al-Zarqani, asbab an-nuzul adalah “Suatu kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat. Atau suatu peristiwa yang dapat di jadikan petunjuk hukum berkenaan turunnya suatu ayat.”
Jadi, Asbabun nuzul adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat Al-Qur’an diturunkan. Makna Asbabun Nuzul secara lengkap yaitu: “Kejadian yang karenanya diturunkan ayat Al-Qur’an untuk menerangkan hukumnya dihari timbulnya kejadian-kejadian itu dan suasana, yang di dalam suasana itu Al-Qur’an diturunkan serta membicarakan sebab yang tersebut itu, baik diturunkan langsung sesudah terjadi sebab itu, ataupun kemudian lantaran suatu hikmah.
B. MACAM-MACAM ASBABUN NUZUL
Jenis-jenis Asbabun nuzul dapat dikatagorikan kedalam beberapa bentuk sebagai berikut:
1. sebagai tanggapan atas suatu peristiwa
Misalnya Urwah bin zubair mengalami kesulitan dalam memahami hukum fardhu sa’i , antara shafa dan marwah.
•                      •    
“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah . Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui.”(Q.S Al-Baqarah: 158)
Urwah bin zubair kesulitan memahami “tidak ada dosa” (لا جناح) didalam ayat ini. Ia lalu menanyakan kepada Aisyah perihal ayat tersebut, lalu Aisyah menjelaskan bahwa peniadaan dosa disitu bukan peniadaan hukum fardhu, peniadaan disitu dimaksudkan sebagai penolakan terhadap keyakinan yang telah mengakar dihati kaum muslimin ketika itu, bahwa melakukan sa’i antara shofa dan marwah termasuk perbuatan jahiliyah. Keyakinan ini di dasarkan atas pandangan bahwa pada masa sebelum islam, dibukit shofa terdapat sebuah patung yang disebut isaf dan dibukit marwah ada sebuah patung yang disebut nailah. Jika melakukan sa’i antara dua bukit itu orang-orang jahiliyah sebelumnya mengusap kedua patung tersabut. Ketika umat islam lahir, patung tersebut dihancurkan, dan sebagian umat islam enggan melakukan sa’i ditempat itu, maka turunlah ayat ini.
2. sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan yang kepada Rasul
                              •                       •                       •     
“Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan ; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua , Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(Q.S An-nisa: 11)
Ayat tersebut turun untuk memberikan jawaban secara tuntas terhadap pertanyaan Jabir kepada Nabi, sebagaimana diriwayatkan Jabir: “Rasulullah datang bersama Abu Bakar, berjalan kaki mengunjungiku (karena sakit) diperkampungan Banu Salamah. Rasulullah menemukanku dalam keadaan tidak sadar, sehingga Beliau meminta agar disediakan air, kemudian berwhudhu, dan memercikkan sebagian pada tubuhku. Lalu aku sadar, dan berkata: “Ya Rasulullah! Apakah yang Allah perintahkan bagiku berkenaan dengan harta benda milikku?” Maka turunlah ayat diatas.
3. sebagai jawaban dari pertanyaan Rasul
 •                   
“dan tidaklah Kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (Q.s Maryam:64)
Ayat tersebut turun untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan Nabi, sebagaimana diriwayatkan ibn Abbas bahwa Rasulullah bertanya kepada malaikat jibril,”Apa yang menghalangi kehadiranmu, sehingga lebih jarang muncul ketimbang masa-masa sebelumnya?” Maka turunlah ayat diatas.
4. sebagai tanggapan atas pertanyaan yang bersifat umum
Ayat al-qur’an di turunkan untuk memberi petunjuk perihal pertanyaan yang bersifat umum, yang muncul di kalangan sahabat nabi, Contoh:
                         •      
“mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci . apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Q.S Al-baqarah: 222)
Ayat ini turun perihal pertanyaan yang bersifat umum dari kalangan sahabat Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Tsabit dari Anas bahwa dikalangan Yahudi, apabila wanita mereka (istri) sedang haid, mereka tidak makan bersama istri mereka, atau juga tidak tinggal serumah. Para sahabat yang mengetahui masalah itu kemudian bertanya kepada Rasulullah tentang hal ini, maka turunlah ayat diatas.
5. Sebagai teguran kepada Nabi
      
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.” (Q.S ’abasa: 1-2)
Orang buta itu bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia datang kepada Rasulullah s.a.w. meminta ajaran-ajaran tentang Islam, lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan berpaling dari padanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat ini sebagi teguran kepada Rasulullah s.a.w.
C. REDAKSI ASBABUN NUZUL
Redaksi riwayat asbabun nuzul terbagi menjadi dua bagian , yaitu :
1. pasti (shorih)
Bentuk redaksi ini antara lain:
سَبَبُ نُزُوْلِ هذِهِ الآيَةُ كَذَا...
“Sebab turun ayat ini adalah....”
Atau ia menggunakan kata (maka) “fa ta’qibiyah” Setelah ia mengatakan peristiwa tertentu, misalnya:
حَدَثَ هذَا ... فَنَزَلَتِ الآيَةُ ...
“Telah terjadi....Maka turunlah ayat....”
سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ عَنْ كَذَا ... فَنَزَلَتِ الآيَةُ ...
“Rasulullah pernah ditanya tentang....Maka turunlah ayat....”
2. muhtamil (tidak pasti)
نُزِلَتْ هذِهِ الآيَةُ فِى كَذَا ...
“Ayat ini diturunkan berkenaan dengan...”
اَحْسَبُ هذِهِ الآيَةُ نُزِلَتْ فِى كَذَا ...
“Saya kira ayat ini diturunkan berkenaan dengan....”
مَا اَحْسَبُ نَزَلَتْ هذِهِ الآيَةُ إِلَّا فِي كَذَا ...
“Saya kira ayat ini tidak diturunkan, kecuali berkenaan dengan....”
D. KAIDAH-KAIDAH DALAM ASBABUN NUZUL
Asbabbun nuzul adalah peristiwa yang terjadi pada zaman rasulullah, dan oleh karena itu, tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya selain berdasarkan periwayatan yang benar (sahih ) dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung turunnya ayat al-qur’an, Maka dari itu kita harus cermat, teliti dan berhati-hati dalam menerima periwayatan yang berkaitan dengan asbabun nuzul.
Cara mengetahui asbabun nuzul dapat menggunakan redaksi yang sharih (pasti atau jelas) yang telah di bahas dalam judul sebelumnya. Sering pula terjadi beberapa riwayat yang berbeda-beda tentang sebab turunnya suatu ayat . Untuk menanggapi hal demikian, para ulama mengemukakan langkah-langkah sebagai berikut;
1. Mengambil riwayat yang sharih/ tegas
Bila ahli tafsir(mufassir) mengemukakan dua riwayat, yang pertama menyebutkan sebab turunnya ayat secara tegas, sedangkan yang kedua tidak. Maka yang diambil sebagai sebab turunnya adalah riwayat yang pertama.
2. Melakukan study selektif (tarjih)
Bila terdapat dua riwayat menungkapkan sebab yang berbeda dari ayat yang sama maka yang di pegang adalah sanadnya yang sahih bukan yang dhaif. Bila kedua sanadnya sama-sama shohih, maka kita harus melakukan penelitian lebih lanjut, sehingga dapat diketahui riwayat yang terkuat diantara keduanya.
3. Melakukan studi kompromi (Jama’)
Langkah ini diambil bila kedua riwayat yang bertentangan itu sama-sama memiliki keshohihan hadits yang sederajat dan tidak mungkin dilakukan tarjih.
E. KEGUNAAN MENGETAHUI ASBABUN NUZUL
Asbab An-Nuzul mempunyai arti penting dalam menafsirkan Al-Qur’an. Al-Wahidi berkata:
لَا يُمْكِنُ مَعْرِفَةُ تَفْسِيْرِ الآيَةِ دُوْنَ الوُقُوْفِ عَلَى قِصَتِّهَا وَبَيَانِ نُزُوْلِهَا
“tidak mungkin menetahui tafsir ayat, jika tidak dilengkapi dengan pengetahuan tentang peristiwa dan penjelasan yang berkaitan dengan diturunkannya suatu ayat.”
Pendapat Ibnu Daqiq Al-‘Ied:
بَيَانُ سَبَبِ النُّزُوْلِ طَرِيْقٌ قَوِيٌّ فِى فَهْمِ مَعَانِى القُرْآنَ
“penjelasan terhadap asbabun nuzul merupakan metode yang kuat untuk memahami makna Al-Qur’an”
Jadi, seseorang tidak dapat mencapai pemahaman yang baik jika tidak memahami riwayat asbabun nuzul.
fungsi mengetahui asbabun nuzul antara lain sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui hikmah dan rahasia dibalik disyariatkannya suatu hukum
seperti penghafusan minuman keras secara bertahap:
  •      •  •      
“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan” (Q.S An-Nahl:67 )
          ••                   
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (Q.S Al-Baqarah:219)
             •                                •    • 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.” (Q.S An-Nisa: 43)
                                     
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Q.S Al-Maidah:90-91)
2. Membantu memberikan kejelasan dalam memahami Al-Qur’an dan menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab turunnya.
Misalnya Urwah bin zubair mengalami kesulitan dalam memahami hukum fardhu sa’i , antara shafa dan marwah.
•                      •    
“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah . Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui.”(Q.S Al-Baqarah: 158)
Urwah bin zubair kesulitan memahami “tidak ada dosa” (لا جناح) didalam ayat ini. Ia lalu menanyakan kepada Aisyah perihal ayat tersebut, lalu Aisyah menjelaskan bahwa peniadaan dosa disitu bukan peniadaan hukum fardhu , peniadaan disitu dimaksudkan sebagai penolakan terhadap keyakinan yang telah mengakar dihati kaum muslimin ketika itu, bahwa melakukan sa’i antara shofa dan marwah termasuk perbuatan jahiliyah. Keyakinan ini di dasarkan atas pandangan bahwa pada masa sebelum islam, dibukit shofa terdapat sebuah patung yang disebut isaf dan dibukit marwah ada sebuah patung yang disebut nailah. Jika melakukan sa’i antara dua bukit itu orang-orang jahiliyah sebelumnya mengusap kedua patung tersabut. Ketika umat islam lahir, patung tersebut dihancurkan, dan sebagian umat islam enggan melakukan sa’i ditempat itu, maka turunlah ayat ini.
3. mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an, jika hukum tersebut dinyatakan dalam bentuk umum.
Ini bagi mereka yang berpendapat Al-Ibrah bil khusus as-sabab la bi ‘umum al-lafzi (yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus, bukan lafaz yang umum). Contoh
 •     •       •        
“janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Q.S Ali Imran: 188)
Diriwayatkan bahwa Marwan berkata kepada penjaga pintunya, “Pergilah, hai rafi’, kepada Ibnu Abbas dan katakan kepadanya, sekiranya setiap orang di antara kita bergembira dengan apa yang telah kita kerjakan dan ingin dipuji dengan perbuatan yang yang belum dikerjakan itu akan disiksa, niscaya kita semua akan disiksa. “Ibnu Abbas berkata: Ayat ini turun berkenaan dengan ahli kitab. Kemudian ia membaca ayat
       • ••              
Lalu Ibnu Abbas melanjutkan ,”rasulullah menanyakan kepada mereka tentang sesuatu, tetapi mereka menyembunyikannya, dengan mengalihkan kepada persoalan lain. Itulah yang mereka tunjukkan kepada beliau. Kemudian mereka pergi, mereka menganggap bahwa mereka telah diberitahukan kepada Rasulullah apa yang ditanyakan kepada mereka. Dengan perbuatan itu mereka ingin dipuji oleh Rasulullah dan mereka bergembira dengan apa yang mereka kerjakan, yaitu menyembunyikan apa yang ditanyakan kepada mereka itu.”
4. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat, serta untuk memantapakn wahyu kedalam hati orang yang mendengarnya.
Hal ini karena berhubungan sebab akibat hukum, peristiwa dan pelaku, masa dan tempat merupakan satu jalinan yang dapat mengikat hati










PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari uraian makalah ini, penulis mengambil suatu kesimpulan
 Asbabun Nuzul adalah suatu kejadian yang menyebabkan (melatar belakangi) turunnya suatu atau beberapa ayat
 Jenis-jenis Asbabun Nuzul:
1. Sebagai tanggapan atas suatu peristiwa
2. Sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan kepada Rasul
3. Sebagai jawaban dari pertanyaan Rasul
4. Sebagai tanggapan atas pertanyaaan yang bersifat umum
5. Sebagai teguran kepada Nabi
 Kata-kata yang menunjukkan Asbabun nuzul seperti:
سَبَبُ نُزُوْلِ هذِهِ الآيَةُ كَذَا...
 Cara mengetahui Asbabun Nuzul:
1. Mengambil riwayat yang shorih (tegas)
2. melakukan studi selektif (tarjih)
3. Melakukan studi kompromi (Jama’)
 Kegunaan Asbabun Nuzul
1. Mengetahui hikmah dan rahasia dibalik disyariatkannya suatu hukum
2. Memberikan kejelasan dalam memahami Al-Qur’an dan menyimhkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab turunnya
3. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an
4. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat
2. Saran
Demikiankah makalah yang dapat penulis susun, penulis sangat menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi membangun perbaikan dan pengembangan. Dan semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan kita dan semoga bermanfaat. Amin
DAFTAR PUSTAKA

0 komentar:

Poskan Komentar