Senin, 20 Desember 2010 0 komentar

I'JAZ AL-QUR'AN

I’JAZ AL-QURAN

I. PENDAHULUAN

Salah satu objek yang penting dalam kajian tentang mata kuliah dasar-dasar ilmu Al-quran adalah perbincangan tentang mengenai ataupun tentang mukjizat. Persoalan mukjizat, terutama mukjizat Al-quran, pembahasan ini sangat penting dalam perdebatan yang berkepanjangan.
Dengan perantaran mukjizat, Allah mengingatkan manusia bahwa para rasul itu merupakan utusan yang mendapat dukungan dan dari langit,.mukjizat yang telah di berikan kepada nabi mempunyai fungsi yang sama,salah satunya mukjizat nabi Muhammad yaitu al-quran, kenapa al-quran bisa dikatakan mukjizat? Karena al-quran kitab yang mengetahui segala apa yang belum di ketahui oleh manusia, baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi,al-quran pun sumber dasar ilmu pengetahuan, sumber hukum dan lain sebagainya.
Allah sama sekali tidak akan menelantarkan manusia, maka dari itu allah menurunkan wahyu kepada nabi muhammad, dari waktu ke waktu, yang tak lain untuk membimbing manusia ke jalan agar mereka dapat menempuh liku-liku kehidupan dan kehidupan ini atas dasar keterangan dan pengetahuan.
Bila dukungan Allah kepada rasul-rasul terdahulu berbentuk ayat-ayat kauniyah yang memukau mata, dan tidak ada jalan bagi akal unuk menentangnya, seperti mukjizat nabi Musa tangan dan tongkatnya. Dan penyebuhan orang buta dan orang sakit sopak serta manghidupkan orang yang sudah mati atas izin allah bagi nabi Isa. Maka mukjizat nabi Muhammad, pada masa kejayaan ilmu pengetahuan ini, berbentuk mukjizat ’aqliyah, mukjizat yang bersifat rasional, yang berdialog dengan akal manusia dan menentangnya untuk selamanya . mukjizat tersebut adalah al-quran dengan segala ilmu pengetahuan yang di kandungnya serta beritanya tentang masa lalu dan masa yang akan datang. Akal manusia, betapa majunya tidak akan bisa menandingi al-quran, karena al-qiran adalah ayat kauniyah yang tiada bandingnya. Al-quran juga adalah wahyu allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan sangat di perlukan untuk di jadikan pedoman dan pembimbing bagi kehidupan kita.
Rasulullah bersabda:
’Tiada seorang nabi pun kecuali diberi mukjizat yang dapat membuat manusia beriman kepadanya. Namun apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku. Karena itu aku berharap semoga kiranya aku menjadi nabi paling banyak pengikutnya.(HR. Bukhari).




















A. Pengertian I`jaz
I`jaz (kemukjizatan) adalah menetapkan kelemahan. Kelemahan menurut pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kemampuan. I’jaz itu merupakan khazanah dalam bahasa arab sedangkan dalam bahas indonesia adalah mukjizat, i’jaz al-quran berarti mukjizat Al-quran. Apabila kemukjizatan itu telah terbukti maka nampaklah kemampuan mu’jiz (sesuatu yang melemahkan). Yang dimaksud dengan i’jaz dalam pembahasan ini ialah menampakan kebenaran nabi dalam pengakuannya sebagai rasul dengan menampakan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizat yang abadi atau yang kekal sampai hari kiamat nanti atau I’jaz al-quran bisa bermakna pengokohan al-quran sebagai sesuatu yang mampu melemahkan berbagai tantangan untuk penciptaan karya yang sejenisnya. Dan i’jaz atau mukjizat sesuatu hal yang di luar dugaan atau sesuatu yang luar biasa yang disertai tantangan dan pelawanan. Kenapa kitab al-quran bisa disebut mukjizat tidak seperti kitab-kitab yang lain? Unsur-unsur yang terdapat pada mukjizat al-quran sebagaimana yang dijelaskan oleh bapak Quraish Shihab: hal atau peristiwa yang luar biasa, terjadi atau dipaparkan oleh seorang yang mengaku nabi, mengadung tantangan terhadap yang meragukan kenabian, tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani. .
Berdasarkan pada kisah-kisah yang diangkat al-quran,al-suyuti membagi mukjizat para nabi ada kelompok besar, yaitu mukjizat hisiyah (sesuatu yang dapat di tangkap oleh panca indra), dan mukjizat aqliyah (sesuatu yang hanya dapat ditangkap oleh otak manusia) mukjizat hisiyah diperkenalkan oleh nabi yang oleh nabi yang berhadapan dengan umat yang terdahulu, seperti nabi Musa dengan tongkatnya yang berubah menjadi ular, dan Isa yang dapat menghidupkan orang sudah meninggal. Sedangkan mukjizat aqliyah diperkenalkan oleh nabi Muhammad yaitu al-quran, karena sifatnya adalah tantangan daya nalar, maka kemukjizatan tidak berakhir dengan wafatnya nabi Muhammda. Al-quran menentang siapa saja yang ingin mencoba menyainginya, termasuk generasi manusia setelah Rasul, dan bahkan umat manusia hari ini, hari esok, dan hari terus sampai hari kiamat nanti.

B. I’jaz al-lughawi, macam dan contohnya.

Al-quran itu kitab yang sempurna dari segi apapun termasuk dari segi bahasa yang telah kita ketahui bahwa kalimat maupun istilah yang termaktub dalam al-quran tidak bisa ditandingi oleh siapapun termasuk orang yang paling mahir dalam membuat puisi dan syair pada zanman rasulullah.sejarah menyaksikan, ahli-ahli bahasa terjun ke dalam medan festifal bahasa dan mereka memperoleh kemenangan. Tetapi tak satupun dari mereka tak berani memproklamsikan bahwa mereka berani menentang gaya bahasa al-quran.pada hal, hal ini terjadi pada masa kejayaan bahasa arab, pada waktu itu bahasa arab telah pada puncaknya, akan tetapi anehnya pada waktu itu al-quran tetap berdiri tegak dihadapan para ahli bahasa untuk menentang, dengan beberapa bentuk tantangan. Dan tak ada seorang pun yang bisa menandinginya atupun mengimbanginya, padahal mereka adalah orang-orang yang sombong, tinggi hati dan pantang menyerah dikalahkan.
Qur’an, di mana orang arab tidak mampu menandinginya itu, sebenarnya tidak lain karena aturan-aturan kalamnya, baik dalam lafaz dan huruf-hurufnya maupun susunan dan usulubnya. Akan tetapi qur’an jalinan huruf-hurufnya serasi, ungkapannya yang indah, uslubnya yang manis, ayat-ayatnya yang teratur, serta memperhatikan situasi dan kondisi dalam berbagai macam bayannya. Adapun macam-macam gaya bahasa dalam al-quran:
1. Keseimbangan dalam kata
A. keseimbangan jumlah kata dengan antonimnya. Contoh: Al-hyy dan al-mawt masing-masing sebanyak 145 kali;
B. keseimbangan jumlah kata dengan sinonimnya, contohnya al-harts dan al-zir’ah, masing-masing 27 kata.
C. keseimbangan jumlah antara suatu kata dengan kata lain yang menunjuk pada akibatnya contoh: al-infak dan al-ridha, masing-masing sebanyak 73 kali.
D. Keseimbangan antara jumlah kata dengan kata penyebabnya contoh : as-salam dengan at-thayyibah, masing-masing sebanyak 60 kali.
E. Selain keseimbangan–keseimbangan di atas, terdapat keseimbangan lain yang bersifat khusus yaitu : kata yaum (hari) dalam bentuk tanggal ada sebanyak 365, sesuai dengan jumlah hari dari satu tahun, sedangkan ayyam jamak dari yaum atau ayyamyni mutsanna, jumlah pemakaiyannya hanya 30, sama dalam hari dalam satu bulan, di sisi lain, kata yang berarti “bulan” ( syahr) hanya sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

2. konsistebsi pemakaian huruf yang menjadi pembuka surat.
Hasil penelitian Rasyad khalifah memperlibakan keajaiban al-quran yang sekaligus memperlihatkan otensitisannya, yaitu konsistensinya pemakaian huruf yang digunakan sebagai pembukaan surah.
Sebagai contoh, huruf qaf yang merupakan pembuka surat ke-50, di temukan terulang sebanyak 57 kali, yakni 38 kali 19, huruf ya da sin pembuka surat Yasin ditemukan terluang sebanyak 285 kali, yakni 15 kali 19. demikian pula huruf-huruf yang dipakai sebagai pembuka pada surat-surat yang lain’ dari buku sejarah dan ’uluum quran.

3. Keindahan sususnan kata dan pola-pola kalimtnya.
Syeikh fakhruddin al-Razi, penulis tafsir al-quran yang berjdul mafatih al-ghaib, menyatakan bahwa kafefasihan bahasa, keindahan susunan kata-kata, dan ploa-pola kalimat al-quran amat luar biasa. Qadhi Abu Bakar dalam ijaz al-quran menyatakan bahwa memahami kemukjizatan al-quran dari sisi keindahan kebahasaanya jika dibandingkan dengan sastra dan syair arab amat sangat sukar untuk dibandingi. Yang menjadi keindahan bahasa dalam al-quran dilihat dari bentuk kalimat seperti, ijaz, tasybih, majaz, dan istiharah. Contoh dari ijaz, pada surat yusuf/12: 82:
   •         
82. dan tanyalah (penduduk) negeri yang Kami berada disitu, dan kafilah yang Kami datang bersamanya, dan Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang benar".
Ayat ini menceritakan peristiwa yang di alami keluarga Ya’qub dalam proses penemuan kembali Yusuf yang sebelumnya diduga meninggal akibat penganiayaan saudara-saudaranya. Kata واسئل القرية merupakan hasil dari ringkasan واسئل أهل القر ية kalau di ungkapakan dalam kata aslinya terasa kurang bagus bentuk uslub-nya.
Bentuk-bentuk Tasybih
Disamping I’jaz, rumusan redaksi al-Qur’an banyak menggunakan bentuk-bentuk tasybih dalam ilmu balaghoh.
Contohnya, dalam surat al-nur ayat 39:
        •               
39. dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya[1042].


Dalam ayat ini Allah menjelaskan amal ibadah orang kafir untuk menjelaskan secara aktual, dia menyamakan sifat amal tersebut dengan fatamorgana agar lebih mudah di pahami para pembaca pola seperti ini sekaligus membuat susunan redaksi al-Qur’an semakin indah dan nikmat untuk dibaca dan disimak dan dihayati.

Bentuk majaz dan isti’aroh
Dalam ilmu balaghoh majaz antara lain terbagi menjadi dua majaz aqli dan majaz lughowi. Majaz aqli adalah menyandarkan suatu perbuatan kepada sesuatu yang lain. Contohnya, dalam surat al-Qori’ah ayat 8 sampai 11:
•               
8. dan Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
10. tahukah kamu Apakah neraka Hawiyah itu?
11. (yaitu) api yang sangat panas.

Dalam ayat ini Allah menyandarkan hawiyah yakni neraka yang amat panas. Pada kata ummu yang berarti ibu padahal neraka hawiyah itu bukan ibu bagi setiap orang tetapi hal ini, Allah hendak mendekatkan informasi-informasi keagamaannya itu kepada ummat manusia. Ia menggunakan kata ummu sebagai pinjaman kata agar mereka dapat memahaminya.

Majaz lughowi adalah penggunaan lafal bukan pada makna sebenarnya. Contohnya, dalam surat al-Baqoroh ayat 19:
                    
19. atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati[28]. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir[29].

Dalam ayat di atas, Allah menggunakan kata يجعلون أصابعهم dalam rangka memperlihatkan sikap mereka yang berlebihan. Ia tidak menggunakan kata الأنامل yang bermakna ujung jari. Padahal tidak mungkin menyumbat telingan dengan keseluruhan jari.







C. I’jaz al-ma’nawi macam dan contonya.
              
179. Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
Komposis kalimat diatas merupakan suatu rumusan padat yang mencerminkan penyederhanan redaksional secara sempurna, sehingga melahirkan bentuk kalam yang indah namun tetap utuh, karena makna yang dimaksud dapat dipahami dari konteks kalimat secara keseluruhan.
Kemudian, sebagaimana dikemukakan Rasyid Ridha, penyederhanaan redaksional juga terjadi dalam pengungkapan maknanya, karena didalam al-quran bisa mepunyai amkna yang haqiqi dan makna yang majazi contohnya, nazala minas samaail maaa,maa a disini kita bisa artikan rizki karena allah tidak mungkin menurunkan rezeki seseorang dengan langsung, tetapi menggunakan wasilah yaitu dengan menggunakan majaz.dan isti’arahnya juga demikian.dan dalam makna tasbih yang sudah ada contohnya pada sub bab pada judul tasybih, dan bentuk ijaznya cotohnya pada sub baba betuk ijaz
D. Sharfah
Kemu’jizatan Al-Qur’an pada umumnya terletak pada informasi-informasi ghaibnya, ilustrasi dan formulasi kebahasaannya. Akan tetapi Abu Ishaq dan pengikutnya berpendapat bahwakemu’jizatan al-Qur’an itu bukan terletak pada faktor-faktor tersebut, tetapi justru karena Allah megalihkan perhatian bangsa Arab agar tidak menandingi al-Qur’an padahalmereka mampu melakukannya. Inilah yang dalam istilah mereka biasa disebut sebagai Sharfah.
Sementara itu, Abu Hasan ‘Ali ibn al-Rumani, juga seorang tokoh dari Mu’tazilah, melihat lebih jauh, yakni bahwa Allah mengalihkan perhatian umat manusia sehingga mereka tidak mempunyai keinginan menyusun suatu karya untuk menandingi al-Qur’an.
Secara rinci al-Zarkasyi mengemukakan kelemahan argumentasi al-Nazham dan al-Rumani, yaitu:
1. Firman Allah pada surah al-Isra’ ayat 88 memperlihatkan kelamahan bangsa arab menyusun karya besar yang sejaja dengan al-Qurl’an. Dan kalau Allah melarang mereka , maka yang mu’jiz (melemahkan) itu bukanlah al-Qur’an, tapi justru Allah sendiri.
2. bahwa kemu’jizatan al-Qur’an terhadap masyrakat Arab saat itu berupa karya spesifik, yaitu dari segi isi dan pembahasannya belaka, mungkin saja mereka mampu, tetapi dari segi isi dan ilustrasinya, mereka akan sangat mengalami kesukaran, dan tidak akan mampu
3. Al-Qur’an mengemukakan hal-hal ghaib yang akan terjadi pada masa yang akan datang dalam kehidupan dunia ini, disamping berita-berita alam akhirat yang akan dialami umat manusia kelak. Segala yang dikemukakan al-Qur’an tersebut kemudian terbutkti dalam perjalanan hidup manusia ini.
4. al-Qur’an juga mengemukakan kisah-kisah lama yang tidak terangkat dalam cerita-cerita rakyat Arab, seperti kisah nabi Nuh serta kisah nabi-nabi lain dan perlawanan masyarakatnya terhadap dakwah mereka, dan akibat-akibat dari perlawanan tersebut.

KESIMPULAN
Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir yang Allah turunkan, dimaksudkan untuk menjadi petunjuk hamba-Nya. Bukan hanya bagi masyarakat tempat di mana kitab ini diturunkan, melainkan bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Al-Qur’an sebagai kalamullah haruslah memiliki nilai kemu’jizatan yang tidak mungkin bagi hamba Allah untuk bisa menandinginya. Oleh karena itu, al-Qur’an tetap terpelihara dan terjaga keaslianya. Allah SWT mempunyai cara tersendiri untuk memelihara kalam-Nya tersebut.
0 komentar

TAFSIR TAKWIL DAN TARJAMAH

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’anul Karim adalah sumber Tasyri’ pertama bagi umat Muhammad,dan kebahagian mereka bergantung pada pemahaman makna,pengetahuan rahasia-rahasia,dan pengalaman apa yang terkandung di dlamnya.Kemampuan seseorang dalam memahami lafadz dan ungkapan Qur’an tidak sama,padahal penjelasannya sedemikian gambling dan ayat-ayatnya pun sedemikian rinci.Perbedaan nalar di antara mereka ini adalah suatu hal yang tidak di pertentangkan lagi.Kalangan awam hanya dapat memahami makna-maknanya yang zahir dan pengertian ayat-ayatnya secara global.Sedangkan kalangan cerdik cendikia dan terpelajar akan dapat menyimpulkan makna-makna yang menarik.Maka tidaklah mengherankan jika Al-Qur’an mendapatkan perhatian besar dari umatnya melalui pengkajian intensif terutama dalam rangka menafsirkan kata-kata gharib,menta’wilkan tarkib atau mengalihkannya ke dalam bahasa arab.Oleh karena itu,penulis menyusun makalah ini dengan tujuan untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai “Tafsir,Ta’wil dan Tarjamah agar pembaca bisa memahaminya.
1.2. Permasalah
Masalah-masalah yang akan penulis bahas dalam makalah ini adalah:
• Pengertian tafsir,ta’wil dan tarjamah
• Perbedaan dan persamaan antara ketiga tersebut
• Macam-macam tarjamah dan Contohnya
• Pendapat ulama tentang Tarjamah.

1.3. Tujuan Penulisan
Makalah dengan judul :Tafsir,Ta’wil dan Tarjamah” ini bertujuan untuk melengkapi tugas mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Al-Qur’an.

1.4. Metode Pengumpulan Data
Data-data yang penulis olah menjadi makalah ini di peroleh melalui buku-buku yang relevan.



1.5. Kegunaan Penulisan
Makalah ini dapat di gunakan sebagai penambah ilmu pengetahuan dan sebagai pedoman dalam mempelajari dan memahami masalah tafsir,ta’wil dan tarjamah.

1.6. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab.Bab I Pendahuluan,terdiri dari latar belakang masalah,permasalahan,tujuan penulisan,metode pengumpulan data,kegunaan tulisan dan sistematiak penulisan.Bab II isi,terdiri dari pengertian tafsir,ta’wil dan tarjamah,perbadaan dan persamaan antara ketiganya,macam-macam tarjamah dan contohnya dan pendapat ulama tentang tarjamah.Bab III Penutup,terdiri dari kesimpulan dan saran.























BAB II
Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah

A. Pengertian Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah
1. Tafsir
Secara bahasa mengikuti wazan Taf’il yang berarti penjelasan, menyikap dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak. Dalam Lisanul Arab di katakan:kata at-tafsir berarti menyingkapkan maksud suatu lafadz yang musykil,pelik. Al-Qur’an menggunakan istilah tafsir dengan makna penjelasan seperti yang terdapat dalam firman Allah swt:
       • 
Artinya:
“Tidaklah orang-orang kafir itu dating kepadamu (membaawa) sesuatu yang ganjil,melainkan kami datangkan suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (Qs.Al-Furqan:33).

Menurut istilah,ada beberapa pendapat mengenai Tafsir,diantaranya:
a) Abu Hayyan:Tafsir ialah ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafadz-lafadz Al-Qur’an,tentang petunjuk-petunjuknya, hukum-hukunnya baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dan makna-makna yang memunggkinkan baginya ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya.
b) Az-Zakarsyi: Tafsir ialah ilmu untuk memehami kitabullah yang di turunkan kepada Muhammad menjelaskan maknanya serta mengeluarkan hokum dan maknanya .
c) As-Sibagh: Tafsir ialah suatu ilmu yang di gunakan untuk memahami kitabullah, yaitu menjelaskan makna, mengeluarkan hukum dan hikmahnya.
Berdasarkan definisi di atas,maka tafsir mempunyai dua arti yaitu tafsir sebagai ilmu alat untuk menjelaskan makna Al-Qur’an dan tafsir sebagai hasil pemahaman terhadap Al-Qur’an berdasarkan ilmu alat.

2. Ta’wil
Secara bahasa mengikuti wazan Taf’il yang berarti kembali ke asal (ruju’). Al-Jarjani mengartikan ta’wil kepada tarji’ (mengembalikan). Selain itu, Ta’wil juga berarti penjelasan. Firman Allah swt:
                 
Artinya:
“Tiadaklah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebeenaran) Al-Qur’an itu.Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu,berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu:”Sesungguhnya telah dating Rasul-rasul Tuhan kami membawa kebenaran”.(Qs.Al-A’raf:53).

Analisis di atas menggambarkan bahwa istilah tafsir dan ta’wil secara harfiah mempunyai makna yang sama yaitu penjelasan. Makna menafsirkn atau mena’wilkan Al-Qur’an berarti menjelaskan makna yang terkandung dalam lafadz dan ayat-ayatnya.
Ta’wil menurut istilah “memalingkan suatu lafadz dari makna zahir kepada makna yang tidak zahir juga di kandung oleh lafadz tersebut jika memungkinkan makna itu sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.”
Para ulama salaf berpendapat bahwa ta’wil itu sama dengan tafsir. Jika mereka mengatakan tafsir Al-Qur’an atau ta’wil Al-Qur’an maka pengertiannya adalah sama. Sedangkan para ulama Khalaf berpendapat bahwa ta’wil adalah memalingkan makna lafadz yang kuat (rajah) kepada makna yang lemah (marjuh) karena ada dalil yang menyertainya.



3. Tarjamah
Kata tarjamah dalam tuturan bahasa Arab meliputi berbagai makna bahwa pengertian katanya seringkali tergantung pada situasi dimana kata itu di ucapkan .Pengucapan Kata terjamah antara lain:
a) Menyampaikan pembicara kepada orang yang belum pernah menerimanya
b) Menjelaskan kalam dengan memakai bahasa kalam itu sendiri
c) Menjelaskan kalam dengan memakai bahasa selain bahasa kalam itu
d) Memindahkan kalam dari suatu bahasa ke bahasa lain
Secara istilah Tarjamah ialah pemindahan lafadz dari suatu bahasa ke dalam bahasa lain atau menjelaskan makna suatu ungkapan yang terdapat dalam suatu bahasa dengan menggunakan bahasa lain.
Sebagai kitab suci dan pedoman hidup bagi setiap umat islam,Al-Qur’an perlu di terjemahkan ke dalam berbagai bahasa,kendatipun bahasa terjamahan itu tidak dapat mewakili bahsa Al-Qur’an.Hal itu menjadi penting karena tidak semua umat islam dapat menguasa bahasa Al-Qur’an.Padahal mereka mesti membaca,mempelajari,memahami,serta mengamalkan isinya.Oleh sebab itu,masyarakat awam perlu di bantu melalui terjemahan tersebut.Jadi,terjemahan merupakan sarana penyampaian isi kandungan Al-Qur’an bagi umat islam.

B. Perbedaan dan Persamaan antara Tafsir,Ta’wil dan Tarjamah
1. Perbedaan antara tafsir dengan ta’wil
a) Tafsir berbeda dengan Ta’wil pada ayat-ayat yang menyangkut soal umum dan khusus.Pengertian tafsir lebih umum dari pada ta'wil karena ta’wil berkenaan dengan ayat-ayat khusus.
b) Tafsir menerangkan makna lafadz atau ayat melalui pendekatan riwayat sedangkan ta’wil melalui pendekatan dirayah.
c) Tafsir menerangkan makna-makna yang di ambil dari bentuk yang tersurat (ibarat) sedangkan ta’wil dari yang tersirat (bil isyarah).
d) Tafsir berhubungan dengan makna-makna ayat atau lafadz yang biasa saja,sedangkan ta’wil berhubungan dengan makna-makna yang sacral dan ilmu-ilmu ketuhanan.
e) Tafsir mengenai penjelasan maknanya telah di berikan oleh Al-Qur’an sendiri,sedangkan ta’wil penjelasan maknanya di peroleh melalui istinbhat (penggalian) dengan memanfaatkan ilmu-ilmu alatnya.
Maksud dari perbedaan di atas bukanlah perbedaan dalam arti luas, melainkan perbedaan yang di lihat dari segi spesifikasinya masing-masing dan dari segi sifat antara keduanya.Ta’wil dalam istilah para Mufassirin,pengertiannya di perselisihkan.Ada yang berpendapat bahwa ta’wil itu sinonim dari tafsir,karena di lihat dari segi tujuan antara keduanya tidak berbeda,tetapi sebagian ulama melihat perbedaan antara keduanya seperti uraian di atas.

2. Perbedaan antara Tafsir dengan Tarjamah
a) Pada tarjamah terjadi peralihan bahasa dari bahasa pertama ke bahasa tearjamah.Bentuk Tarjamah telah lepas dari bahasa yang di terjemahkan. Sedangkan tafsir selalu ada keterkaitan dengan bahasa asalnya.
b) Pada tarjamah boleh melakukan istidrhad, yaitu penguraian meluas lebih dari sekedar mencari padanan kata.Sedangkan dalam tafsir tidak hanya boleh melakukan penguraian meluas itu,tetapi justru uraian itu wajib di lakukan.
c) Tarjamah pada lazimnya mengandung tuntutan di penuhi semua makna yang di kehendaki oleh bahasa pertama.Sedangkan tafsir yang menjadi pokok perhatiannya adalah tercapainya penjelasan yang sebaik-baiknya,baik secara global maupun secara terperinci.
d) Tarjamah pada lazimnya mengandung tuntutan atas pengakuan bahwa semua makna yang telah di alih bahasakan oleh penterjemah adalah makna yang di tunjuk oleh bahasa pertama.Sedangkan tafsir soal pengakuan sangat relative tergantung pada kredilibitas mufassirnya.

3. Persamaan antara Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah
Adapun aspek yang membuat sama antara tafsir, ta’wil dan tarjamah adalah tujuan antara ketiganya yaitu sama-sama mencari maksud yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an agar mudah di fahami dan di mengerti yang kemudian di jadikan landasan dalam menetapkan suatu hukum.
C. Macam-Macam Tarjamah dan Contohnya.
Para ulama membagi tarjamah kepada dua bagian yaitu:
1. Tarjamah Harfiah
Adalah mengalihkan lafadz-lafadz dari suatu bahasa ke dalam lafadz-lafadz yang serupa dari bahasa lain sedemikian rupa sehingga susunan dan tertib bahasa kedua sesuai dengan susunan dan tertib bahasa pertama.
Mereka yang mempunyai pengetahuan tentang bahasa tertentu mengetahui bahwa tarjamah harfiah tidak mungkin dapat di capai dengan baik jika konteks bahasa asli dan cukupan semua maknanya tetap di pertahankan,sebab karakteristik setiap bahasa berbeda antara satu dengan yang lain dalam hal tertib bagian-bagian kalimatnya.Sebagai contoh,jumlah fi’liyah (kalimat verbal) dalam bahasa arab di mulai dengan fi’il (prediket) kemudian fa’il (subjek) Mudhaf di dahulukan atas mudhaf ilahi,dan maushuf atas sifatnya.Tidak demikian halnya dengan bahasa lain yang biasanya di awali dengan ubjek,kemudian prediket dan objek.

2. Tarjamah Tafsiriyah
Adalah menjelaskan makna pembicaraan dengan bahasa lain tanpa terikat dengan tertib lafadz-lafadz dari bahasa asal atau memperhatikan susunan kalimatnya.
Apabila para ulama melakukan penafsiran Al-Qur’an dengan mendatangkan makna yag dekat,mudah dan kuat,kemudian penafsiran ini di terjemahkan dengan penuh kejujuran dan kecermatan,maka cara demikian di namakan terjemah tafsiriyah dalam arti mengomentari perkataan dan menjelaskan dengan bahasa lain.

D. Pendapat Ulama Tentang Terjemah
Menurut Zamakhsyari, menerjemahkan makna-makna sanawi qur’an bukanlah hal yang mudah,sebab tidak terdapat satu bahasa pun yang sesuai dengan bahasa arab dalam petunjuk lafadz-lafadznya terhadap makna-makan yang ahli ilmu bayan di namakan “khawasut-tarkib”(karakteristik-karakteristik susunan).
Dalam Al-Muwaffaqat,Syatibi menyebutkan makna-makna asli dan makna-makna sanawi.Kemudian ia menjelaskan,menterjemahkan Al-Qur’an dengan cara pertama,yakni dengan memperhatikan makna-makna asli adalah mungkin. Dari segi inilah di benarkan menafsirkan Al-Qur’an dan menjelaskan makna-maknanya kepada kalangan awam.
Namun demikian,terjemahan makna-makna asli itu tidak lepas dari kerusakan karena satu buah lafadz dalam Al-Qur’an terkadang mempunyai dua makna atau lebih yang di berikan oleh ayat.Maka dalam keadaan demikian biasanya penerjemah hanya meletakkan suatu lafadz yang hanya menunjukkan suatu makna karena ia tidak mendapatkan lafadz serupa lafadz serupa dengan lafadz arab yang dapat memberikan lebih dari satu makna itu.Oleh karena itu Syatibi beranggapan bahwa hujjah tentang Kebolehan menerjemahkan Al-Qu’an tidaklah mutlak
Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Al-Aql wa Naql,adapun menyeru ahli istilah dengan istilah dan bahasa mereka tidaklah makruh apabila cara demikian di perlukan dan makna-makna yang di sampaikan tetap benar. Misalnya menyeru bangsa asing seperti bangsa Romawi,Persia dan Turki dengan bahasa dan adat kebiasaan mereka.Hal demikian boleh dan baik karena memang di perlukan.Tetapi para imam memandang makruh jika tidak di perlukan.Oleh karena itu Qur’an dan Hadits di terjemahkan bagi mereka yang memerlukannya .






BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Pengertian tafsir:Ilmu alat untuk menjelaskan makna Al-Qur’an dan sebagai hasil pemahaman terhadap Al-Qur’an berdasarkan ilmu alat.
Tta’wil:memalingkan lafadz dari makan yag zahir ke makna yang tidak zahir
Tarjamah:pemindahan lafadz dari suatu bahasa ke bahasa lain.

SARAN

Dengan adanya makalah ini,penulis berharap agar para pembaca lebih mengetahui dan memahami masalah yang berkaitan dengan tafsir,ta’wil dan tarjamah.
0 komentar

makkiyah dan madaniiyah

MAKKIYAH DAN MADANIYAH

 Pengertian Surah Makkiyah dan Madaniyah

Ada tiga pengertian yang dipakai para ulama dalam mengartikan ayat Makkiyah dan Madaniyah diantaranya adalah sebagai berikut: Pertama : Surat Makkiyah adalah surat yang diturunkan di Makkah walaupun turunnya itu setelah hijrah. Sedangkan surat Madaniyyah adalah surat yang diturunkan di Madinah. Yang termasuk turun di Makkah adalah daerah-daerah yang masih dalam kawasan Makkah, seperti ayat-ayat yang diturunkan nabi Muhammad saw ketika di Mina, Arafah, dan hudaibiyah. Dan yang termasuk turun di Madinah adalah yang daerah-daerah yang masih dalam kawasan Madinah, seperti ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi ketika beliau berada di kawasan Badar dan Uhud.
Kedua : ayat Makkiyah adalah yang mengkhiitobi penduduk Makkah, sedangkan ayat Madaniyah adalah yang mengkhitobi penduduk Madinah. Dari pengertian ini dapat kami simpulkan bahwa sebenernya ayat-ayat Al-Qur’an yang dimulai dengan lafadz يا أيها ا لنا س adalah ayat Makkiyah, dan ayat yang dimulai dengan يا ا يها ا لذين ا منوا termasuk ayat Madaniyah, karena kebanyakan orang kafir berasal dari Makkah, sehingga mereka dikhitobi dengan يا أيها ا لنا س Sedangkan orang-orang yang beriman kebanyakan adalah penduduk Madinah, maka mereka dikhitobi dengan يا أيها الذين امنوا.
Ketiga : Sebenarnya ayat Makiyah adalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum Nabi hijrah ke Madinah, walaupun turunnya di lain kota Makkah. Sedangkan ayat Madaniyah adalah yang diturunkan setelah Nabi berhijrah, walaupun turunnya ayat tersebut di Makkah. Pembagian seperti ini dilihat dari pembagian waktu turunnya. Pembagian ini adalah pembagian yang benar karena disini terdapat patokan dan batasan yang berlaku secara umum yang tidak dipertentangkan. Maka kami menggambil kesimpulan bahwa pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat dan para sebagian ulama juga berpegang pada pendapat ini.
Tidak diragukan lagi, banyak para sahabat Nabi yang mengetahui benar mana bagian-bagian al-Qur’an yang Makkiyyah dan yang Madaniyyah. Pengetahuan mereka itu dapat lebih memperdalam lagi rincian sekecil-kecilnya yang dimuat dalam kitab-kitab tafsir dan buku-buku lainnya tentang ilmu al-Qur’an yang tidak sedikit jumlahnya. Beberapa diantaranya telah kami tunjukkan sebagai contoh dan pembuktian. Mengenai soal itu baiklah kami ketengahkan suatu pemikiran yang menunjukkan betapa banyak pengetahuan para sahabat Nabi tentang al-Qur’an. Ibnu Mas’ud misalnya, ia menegaskan:”Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, tak satu ayat pun yang turun yang tidak kuketahui mengenai siapa ayat itu turun dan dimana ayat itu turun”
Meskipun luas pengetahuan Ibnu Mas’ud mengenai al-Quran, tapi ia bukanlah orang satu-satunya dikalangan para sahabat Nabi yang menegaskan pernyataan seperti itu dengan sumpah. ‘Ali bin Abi Thalib pun menegaskan pernyataan serupa itu. Dapat dipatikan, diantara para sahabat Nabi tentu masih ada orang lain yang menyaksikan sebagaimana yang disaksikan oleh dua orang sagabat Nabi terkemuka itu. Bahkan mingkin diantara mereka pun ada yang mengetahui lebih banyak dari pada yang diketahui dua orang sahabat Nabi itu. Tidak mustahil pula kalau diantara para sahabat Nabi yang termasuk awam pun ada yang mengetahui riwayat Hadis tentang sesuatu yang luput dari pengetahuan para sahabat terkemuka. Karna itu, bersandar pada riwayat Hadis shahih tidak berarti mengingkari peranan fikiran dan ijtihad, terutama mengenai soal-soal yang tidak terdapat nashnya yang jelas di dalam al-Qur’an. Ijtihad untuk meneliti bagian-bagian al-Qur’an yang Makiyyah dan yang Madaniyyah dapat ditempuh melalui berbagai cara. Adakalanya terjadi perbedaan pendapat mengenai le-Makiyyah-an dan ke-Madaniyyah-an beberapa Surah tertentu. Demikian juga pengecualian ayat-ayat Makiyyah yang terdapat di dalam surah Makiyyah. Kadang terjadi pula perbedaan pendapat sehubungan dengan urutan ayat-ayat yang turun di Mekah dan yang turun di Madinah; atau mengenai cirri-ciri susunan kalimat dan pokok persoalan pada ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah. Perbedaan pendapat dalam soal-soal tersebut tidak dapat dipecahkan kecuali dengan jalan ijtihad.
kalau an-Nahhas memandang Surah an-Nisa itu Makiyyah karena didalamnya terdapat firman Allah:
•       
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya( an-Nisa, 58)
Yaitu ayat-ayat yang diturunkan di Mekah tentang persoalan kunci Ka’bah; as-Suyuthi tidak membenarkan pendapat tersebut dan menilainya lemah. Ia mengatakan: “Alasan itu tidak berdasar, sebab sebuah surah panjang yang sebagian besar ayat-ayatanya turun di Madinah, dikatakan sebagai surah Makkiyyah. Apalagi setelah adanya pendapat yang lebih kuat (dikalangan jumhur ulama) bahwa semua yang turun sesudah hijrah adalah Madaniyyah. Orang yang menelaan sebab turunnya ayat-ayat tersebut pasti menolak pendapat an-Nahhas. Alasan lain adalah sebuah Hadis yang di ketengahkan Bukhari berasal dari ‘Aisyah ra. Yang mengatakan: “Surah al-Baqarah dan an-Nisa turun pada waktu aku sudah berkumpul dengan beliau (Rasulullah Saw)”. Semua ahli riwayat sepakat bulat bahwa ‘Aisyah r.a. baru berkumpul dengan Rasulullah (sebagai suami istri) sesudah hijrah.
Jadi, kalau didalam setiap Surah Makkiyyah dan Madaniyyah terdapat ayat-ayat pengecualian, maka ada sementara ulama yang dalam mengecualikan ayat-ayat itu bersandar pada ijtihad, bukan bersandar pada nash. Hal itu tidak berlawanan dengan ucapan Ibnu ‘Abbas, bahwa: “Surah yang ayat-ayat pembukannya turun di Mekkah, ditulis di Mekkah; selanjutnya Allah berkuasa menambahkan didalamnya apa saja yang dikehendaki-Nya”, karena memasukkan ayat Makkiyyah kedalam Surah Madaniyyah, segi hikmahnya dapat diketahui melalui ijtihad. Misalnya, Surah al-Isra adalah Makkiyyah, namun para ulama mengecualikan sebuah ayat yang ada didalamnya, yaitu:
       
(Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadam.. al-Isra, 73)
Mereka memastikan ayat terebut adalah Madaniyyah, “turun mengenai beberapa orang utusan dari Tsagif yang datang kepada Rasaulullah Saw untuk meminta hal-hal yang melampaui batas. Mereka berkata:”Bairkanlah kami memuja-muja tuhan-tuhan (berhala-berhala) kami hingga kami mengambil apa yang dihadiahkan orang kepadanya. Bila hadiah-hadiah itu telah kami ambil, Berhala-berhala itu akan kami hancurkan dan kami akan memeluk Islam; dan jadikanlah lembah pemukiman kami sebagai lembah suci seperti Mekah, agar semua orang arab mengetahui bahwa kami lebih utama daripada mereka.” Berdasarkan berbagai sumber riwayat dan isnad-nya para ulama menentukan mana Surah Makkiyyah dan mana Surah Madaniyyah, kemudian mereka menyusun urutannya menurut waktu turunnya.
Namun mereka ragu ketika menentukan mana Surah yang pertama turun dan mana Surah yang terakhir. Akhirnya mereka sampai pada perbedaan pendapat tentang Surah al-fatihah yang dibaca kaum muslimin pada setiap rakaat di dalam shalat. Sebagian ulama berpendapat, Surah terebut adalah Makkiyyah, dan sebagian lain Madaniyyah. Ada juga kelompok ulama yang mengatakan Surah tersebut turun dua kali. Selain mereka ada juga yang memastikan bahwa Surah al-Fatihah merupakan Surah pertama yang turun di Mekah, dengan demikian maka al-Fatihah adalah Surah yang pertama turun. Tetapi sementara ulama memastikan adanya beberapa Surah yang turun dulu sebelum al-Fatihah. Mereka saling mengutarakan dalil dan hujjah (argumentasi) serta alasannya masing-masing, yang lebih banyak bersifat ijtihad daripada naql (nash-nash Hadis). Al-Wahidi misalnya, memandang musatahil kalau lebih dari sepuluh tahun tinggal di Mekah Rasulullah Saw menunaikan shalat tanpa al-Fatihah. Sepanjang sepengetahuan kami, al-Wahidi menulis bukunya yang terkenal, Asbabun Nuzul, hanya berdasarkan riwayat-riwayat Hadis dan Isnad-isnad-nya. Meskipun demikian, pintu ijtihad dan istinbath (menarik kesimpulan sebagai hasil ijtihad) senantiasa tetap terbuka, bahkan bagi mereka yang mengutamakan naql dan nash.
0 komentar

ilmu munasabah

A.Pengertian Munasabah
kata munasabah merupakan mashdar dari kata ناسب – يناسب- مناسبة,yang secara bahasa artinya musyakalah(kemiripan) dan muroqobah(kedekatan).
Dan menurut istilah ulumul qur’an berarti pengetahuan tentang berbagai hubungan didalam alqur’an secara keseluruhan dan latar belakang penempatan tertib dan ayat suratnya.
Ilmu munasabah alqur’an berfungsi untuk mengetahui hubungan isi kandungan alqur’an, ilmu ini dibahas dalam ulumul qur’an ,karena naskah alqur’an menurut mushaf utsmani tidak disusun berdasarkan kronologi turunnya,hal ini menimbulkan pembahasan tersendiri didalam ulumul qur’an.
Timbul pertanyaan apakah susunan alqur’an berdasarkan petunjuk nabi atau yang biasa disebut dengan tauqifi,atau hanya ijtihad para penulis?
Sehubungan pertanyaan ini,ulama berpendapat bahwa susunan ayat alqur’an bersifat tawqifi.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa munasabah merupakan sebuah ilmu yang digunakan untuk mengetahui alasan-alasan penertiban bagian-bagian dari alqur’an. Ada juga yang berpendapat dan mengatakan munasabah merupakan usaha pemikiran ( ijtihadi )dalam menggali rahasia hubungan antar ayat atau surat yang dapat diterima akal.
Dengan demikian,ilmu ini menjelaskan aspek-aspek hubungan antara beberapa ayat atau surat. Adapun yang menjadi kriteria dalam menerangkan macan-macam munasabah ini sesuai dengan derajat kesesuaian atau yang biasa disebut dengan tamatsul atau tasyabuh antara aspek-aspek yang akan dibandingkannya. Jika munasabah itu terjadi pada masalah-masalah yang ada sebabnya dan ada keterkaitan, maka munasabah ini dapat dipahami dan diterima akal. Sebaliknya jik munasabah itu terjadi pada ayat-ayat yang tidak ada keterkaitan,maka itu tidak tidak bisa dikatakan dengan munasabah,



Karena sebagian ulama mengatakan:
“ munasabah adalah suatu urusan (masalah) yang dapat dipahami,jika ia dikemukakan terhadap akal niscaya akal menerimanya”.

المناسبة امر معقول اذا علي المعقول تلقته بالقبول

B. sejarah perkembangan ilmu munasabah
Abu bakar Al-naisaburi yang wafat pada tahun 324 H dikenal dengan orang yang pertama kali mencetuskan ilmu tentang munasabah di baghdad. Perhatiannya terhadap munasabah tampak ketika ia mempertanyakan alasan dan rahasia penempatan surat-surat dan ayat-ayat . Langkah Al-naisabudi yang memiliki perhatian besar pada munasabah ini merupakan upaya yang bernilai langka di masa itu bahkan dikatakan sebuah kejutan bagi kalangan ulama tafsir. Atas usaha dalam bidang ini maka ia dinobatkan sebagai bapak ilmu munasabah.
Dalam perkembangan selanjutnya munasabah meningkat menjadi salah satu cabang dari ulumul qur’an . dalam pembahasan ilmu ini masih dijelaskan secara parsial pada ulama-ulama sebelumnya namun pada ulama-ulama sesudahnya dijelaskan secara spesifik. Kitab Al-burhan fi munasabah tartib qur’an yang dikarang oleh Ahmad Ibnu Ibrahim Al-andalusi (wafat pada tahun 807 H) dipandang sebagai kitab yang secara khusus membahas munasabah. Sedangkan penulis-penulis berikutnya yang antusias dengan masalah ini diantaranya: Burhan AL-din Al-bikai yang menulis kitab nazham Al-durar fi tanasub Al-ayah was-suwar.
Selainkedua tokoh diatas yakni Ahmad Ibnu Ibrahim dan Burhan Abdin, penulis-penulis dimasa berikutnya sama-sama membahas munasabah,tetapi pembahasan mereka tidak secara khusus dalam satu kitab mereka. Pembahasan munasabah tersebut hanya ditempatkan dalam satu bab dari karya mereka misalnya Azzar Kashi yang membahas munasabah dalam Al-buraha yang berjudul ma’rifah Al-munasabah Bayan al-ayah,selanjutnya tokoh ulumul qur’an Assuyuti membahas munasabah dalam Al-itqon yang berjudul fi munasabah al-ayat . manna’ Al-qhotton dan shubhi sholeh membahas munasah dalam bahasan sababul nuzul, namu di era modern ini ada juga ulama yang secara khusus menulis munasabah dalam kitabnya yaitu Muhammad Al-khumari dalam kitabnya yang berjudul jawahir Al-bayan fi tanasub suwar Al-qur’an.
Beberapa istilah yang digunakan oleh para ulama untuk munasabah yaitu irthibath yang digunakan oleh Assaid qhuthub, Ithishol dan Ta’lil yang digunakan oleh Rashid rida, tartib yang digunakan oleh Al-alusi dan ta’alluq yang digunakan oleh Al-razi, istilah-istilah tersebut memiliki pengertian yang sama yaitu hubungan, relevansi dan kaitan .

C. Macam-macam Munasabah
Ditinjau dari sifatnya,munasabah terbagi menjadi dua bagian ,yaitu:
1. Zhahir al-Irtibath (persesuaian nyata) ظاهر الارتباط
Munasabah ini terjadi karena bagian Al-quran yang satu dengan yang lainnya tampak jelas dan kuat disebabkan kuatnya kaitan kalimat yang satu dengan yang lainya. Deretan beberapa ayat yang menerangkan sesuatu materi itu terkadang, ayat yang satu berupa penguat, penafsir, penyambung, penjelas, pengecualian atau pembatas dengan ayat yang lain, sehingga semua ayat itu tampak sebagai satu kesatuan yang utuh. Misalnya, kelanjutan ayat 1 dari surat Al-Isra’ yang menjelaskan tentang perjalanan malam Nabi saw. (isra’), yaitu ayat 2 yang menjelaskan diturunkannya kitab taurat kepada Nabi Musa, memiliki hubungan yang
Erat,yaitu keduanya sama-sama utusan Allah SWT.
                                   
1. Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
2. Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan kami jadikan Kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain aku,



2. Khafiy al-Irtiibath (persesuaian tidak nyata) خفي الارتباط
Munasabah ini terjadi karena antara bagian-bagian Al-quran tidak ada kesesuaian, sehingga tidak tampak adanya hubungan diantara keduanya, bahkan tampak masing-masing ayat atau surat berdiri sendiri, baik karena ayat-ayat yang dihubungkan dengan ayat lain maupun karena yang satu bertentangan dengan yang lain. Misalnya, hubungan antara ayat 189 dan ayat 190 dari surat Al-Baqoroh.
        ••             •       •                   
189. Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnyaakan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
190. Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Ayat 189 menjelaskan tentang bulan sabit (hilal), tanggal untuk tanda waktu dan untuk jadwal ibadah haji. Sedangkan ayat 190 menjelaskan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat islam. Sepintas, kedua ayat tersebut tidak ada relevansinya. Padahal kalau dicermati dapat diketahui munasabahnya, yaitu pada waktu haji umat islam dilarang berperang, kecuali kalau diserang musuh, mereka perlu melakukan balasan.

Adapun munasabah ditinjau dari segi materinya, terbagi dua bagian, yaitu:
1. Munasabah antar Ayat المناسبة بالاية
Sebagaimana telah dijelaskan dimuka bahwa ayat Al-quran disusun berdasarkan tawqify Nabi.
Munasabah antar ayat ini Misalnya, munasabah antara ayat 2 dan 3 surat al-Baqoroh:
                  
" kitab inilah yang tidak ada keraguan didalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa; yakni orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang dimilikinya.”

Berdasarkan dua ayat diatas, ayat pertama menjelaskan peranan alquran dan hakikatnya bagi orang yang bertaqwa, sedangkan ayat yang kedua menjelaskan karakteristik dari orang-orang bertakwa.

Contoh lainnya, munasabah antara ayat 103 dan 102 dari surat ‘Ali ‘Imran.
     •   •                              •           
102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Faedah munasabah ini untuk menjadikan dua ayat tersebut sebagai dua hal yang sama. Ayat 102 menyuruh bertakwa,sedangkan ayat 103 menyuruh berpegang teguh kepada Allah SWT.
Jadi, diantara dua ayat tersebut ada kaitan yaitu antara bertakwa dan berpegang teguh kepada Allah SWT..
2. munasabah antar surat المناسبة بالسورة
Sebagai halnya munasabah antar ayat Al-quran,munasabah antar surat alquran memilki rahasia sendiri. Munasabah antar Al-quran ini menyangkup:
a. hubungan antara satu surat dengan surat sebelumnya, seperti surat al-fatihah
   
Lalu dijelaskan di dalam surat al-baqarah bahwa jalan yang lurus itu ialah mengikuti petunjuk al-qur’an, sebagaimana disebutkan :
         


b. hubungan antara permulaan surat dan penutupan surat sebelumnya, seperti permulaan surat al-hadid dan penutup surat sebelumnya. yaitu surat al-waqi’ah:
          
    
Hubungan ini menyangkut tentang tasbih,yakni mensucikan Allah SWT.

c. Hubungan antara dua surat dalam soal materinya,yaitu materi surat yang satu sama dengan materi surat yang lain.Misalnya munasabah antara isi kandungan surat Al-Baqarah sama dengan kandungan surat Al-Fatihah.Kedua surat tersebut sama-sama menjelaskan tentang akidah,ibadah,muamalah,kisah dan janji dan ancaman.Bedanya,kandungan tersebut,dalam surat Al-Fatihah dijelaskan secara global,sedangkan dalam surat Al-Baqarah dijelaskan secara perinci.

D. Kedudukan munasabah dalam penafsiran Al-quran
Berbicara munasabah ini para ulama berbeda pendapat ada yang pro dan kontra. Diantara ulama yang mendukung munasabah ini adalah al-Buqai’. Ia, sebagai dikutip mustofa muslim, mengatakan bahwa ilmu munasabah sangat penting, ia merupakan ilmu yang agung, sehingga hubungannya dengan ilmu tafsir bagaikan ilmu nahwu dan ilmu bayan. Menurut al-Zarkasyi ilmu munasabah menjadikan bagian-bagian kalam saling menguatkan satu dengan lainnya. Ilmu ini, menurut al-Raziy, sangat bernilai tinggi selama dapat diterima akal. Sedangkan tokoh tafsir yang menentang keberadaan munasabah adalah Mahmud Syaltut dan al-Syathibi yang menganggap percuma usaha mencari hubungan apa yang ada diantara ayat dan surat dalam Al-quran.
Harus diakui bahwa ayat-ayat dan surat-surat dalam Al-quran tidak dapat dipisahkan, karena itu diperlukan pengetahuan tentang hubungan di antara ayat dan surat tersebut. Dalam hal ini ‘Izzud al-Din ‘Abd al-Salam mengatakan bahwa ketika menghubungkan antara kalimat yang satu dengan kalimat lainnya disyaratkan agar tepat dengan hal-hal yang benar-benar berkaitan, baik di awal maupun di akhir.
Penguasaan seseorang dalam munasabah akan mengetahui mutu dan tingkat kebalaghahan Al-quran dan konteks kalimatnya antara yang satu dengan yang lain. Bagaiman tidak, korelasi antar ayat akan menjadikan keutuhan yang indah dalam tata bahasa Al-quran, yang jika dipenggal keindahan tersebut akan hilang. Ini bukti bahwa Al-quran betul-betul mukjizat dari Allah bukan kreasi Muhammad. Sebagai dikatakan al-Razi bahwa kebanyakan keindahan-keindahan Al-quran terletak pada susunan dan hubungannya, sedangkan susunan kalimat yang paling indah (baligh) adalah yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Di sini jelas bahwa pengetahuan tentang munasabah dapat memudahkan orang dalam memahami makna ayat atau surat Al-quran secara utuh. Adanya penafsiran yang sepenggal-sepenggal terhadap ayat-ayat Al-quran akan mengakibatkan penyimpangan dan kekeliruan dalam penafsiran.
1 komentar

asbabun nuzul

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah dengan rasa syukur kepada Allah SWT, yang dengan rahmat dan inayah-Nya, makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik. Shalawat serta salam disampaikan kepada nabi Muhammad saw yang telah membimbing umatnya dari zaman kebodohan menuju zaman ilmu pengetahuan.
Makalah ini membahas tentang “ILMU ASBAB AN-NUZUL” disusun sebagai tugas kelompok pada mata pelajaran Dasar-dasar Ilmu Al-Qur’an.
Penulis mengucapakan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah membimbing dalam proses pembelajaran. Juga kepada semua pihak yang telah membantu sehingga terselesainya makalah ini.
Disadari bahwa makalah ini banyak kekurangan, untuk itu kepada segenap pembaca diharapkan kritik serta sarannya guna tercapainya makalah ini di masa yang akan datang.
Akhirnya, dengan senantiasa mengharap rahmat serta ridho Allah SWT, semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Jakarta, Oktober 2010

Penulis







DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
PENDAHULUAN..............................................................................................iii
PEMBAHASAN
1. Pengertian Asbab An-Nuzul..........................................................................1
2. Macam-macam Asbab An-Nuzul..................................................................1
3. Redaksi Asbab An-Nuzul..............................................................................5
4. Kaidah-kaidah dalam Asbab An-Nuzul.........................................................6
5. Kegunaan Mengetahui Asbab An-Nuzul.......................................................7
PENUTUP.........................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................13

















PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui, Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur, sesuai situasi yang menuntutnya. Karena itu, salah satu syarat pendahulu yang amat diperlukan untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an adalah mengetahui Asbab An-Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat).
Pembahasan ini meliputi, Pengertian asbab an-nuzul, macam-macam asbabun nuzul, kalimat-kalimat yang menunjukkan asbabun nuzul, cara-cara mengetahui asbabun nuzul, dan fungsi mengetahui asbabun nuzul.
2. Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini menjadi sangat penting untuk dibahas dan dikembangkan agar kita dapat mengetahui keadaan pada saat pewahyuan ayat-ayat Al-Qur’an, di mana ayat-ayat itu ketika diturunkan sangat terkait dengan konteks sejarah pada masa itu. Pembahasan tentang asbab an-nuzul ini dimaksudkan untuk mencapai efektivitas dalam memahami kandungan ayat Al-Qur’an.












علم اسباب النزول
A. PENGERTIAN ASBABUN NUZUL
Asbabun nuzul berasal dari kata asbab اسْبَاب(tunggal),berarti alasan atau sebab. Sedangkan نزول berasal dari kata نزل yang artinya turun. Asbab an-nuzul berarti pengetahuan tentang sebab-sebab diturunkannya suatu ayat. Ada juga yang berpendapat Asbabun Nuzul adalah:
مَا نُزِلَتِ الآيَةُُ اَوِ الآيَاتُ بِسَبَبِهِ مُتَضَمِّنَةً لَهُ اَوْ مُجِيْبَةً عَنْهُ اَوْ مُبَيِّنَةً لِحُكْمِهِ زَمَنَ وُقُوْعِهِ
“Sesuatu yang sebabnyalah turun sesuatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban tentang sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya peristiwa itu.”
Yakni, suatu kejadian yang terjadi di zaman Nabi SAW. Atau sesuatu pertanyaan yang dihadapkan kepada Nabi, dan turunlah satu atau beberapa ayat dari Allah S.W.T. yang berhubungan dengan kejadian itu atau dengan penjawaban pertanyaan itu. Baik peristiwa itu merupakan pertengkaran ataupun merupakan kesalahan yang dilakukan maupun suatu peristiwa atau suatu keinginan yang baik.
Menurut Al-Zarqani, asbab an-nuzul adalah “Suatu kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat. Atau suatu peristiwa yang dapat di jadikan petunjuk hukum berkenaan turunnya suatu ayat.”
Jadi, Asbabun nuzul adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat Al-Qur’an diturunkan. Makna Asbabun Nuzul secara lengkap yaitu: “Kejadian yang karenanya diturunkan ayat Al-Qur’an untuk menerangkan hukumnya dihari timbulnya kejadian-kejadian itu dan suasana, yang di dalam suasana itu Al-Qur’an diturunkan serta membicarakan sebab yang tersebut itu, baik diturunkan langsung sesudah terjadi sebab itu, ataupun kemudian lantaran suatu hikmah.
B. MACAM-MACAM ASBABUN NUZUL
Jenis-jenis Asbabun nuzul dapat dikatagorikan kedalam beberapa bentuk sebagai berikut:
1. sebagai tanggapan atas suatu peristiwa
Misalnya Urwah bin zubair mengalami kesulitan dalam memahami hukum fardhu sa’i , antara shafa dan marwah.
•                      •    
“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah . Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui.”(Q.S Al-Baqarah: 158)
Urwah bin zubair kesulitan memahami “tidak ada dosa” (لا جناح) didalam ayat ini. Ia lalu menanyakan kepada Aisyah perihal ayat tersebut, lalu Aisyah menjelaskan bahwa peniadaan dosa disitu bukan peniadaan hukum fardhu, peniadaan disitu dimaksudkan sebagai penolakan terhadap keyakinan yang telah mengakar dihati kaum muslimin ketika itu, bahwa melakukan sa’i antara shofa dan marwah termasuk perbuatan jahiliyah. Keyakinan ini di dasarkan atas pandangan bahwa pada masa sebelum islam, dibukit shofa terdapat sebuah patung yang disebut isaf dan dibukit marwah ada sebuah patung yang disebut nailah. Jika melakukan sa’i antara dua bukit itu orang-orang jahiliyah sebelumnya mengusap kedua patung tersabut. Ketika umat islam lahir, patung tersebut dihancurkan, dan sebagian umat islam enggan melakukan sa’i ditempat itu, maka turunlah ayat ini.
2. sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan yang kepada Rasul
                              •                       •                       •     
“Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan ; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua , Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(Q.S An-nisa: 11)
Ayat tersebut turun untuk memberikan jawaban secara tuntas terhadap pertanyaan Jabir kepada Nabi, sebagaimana diriwayatkan Jabir: “Rasulullah datang bersama Abu Bakar, berjalan kaki mengunjungiku (karena sakit) diperkampungan Banu Salamah. Rasulullah menemukanku dalam keadaan tidak sadar, sehingga Beliau meminta agar disediakan air, kemudian berwhudhu, dan memercikkan sebagian pada tubuhku. Lalu aku sadar, dan berkata: “Ya Rasulullah! Apakah yang Allah perintahkan bagiku berkenaan dengan harta benda milikku?” Maka turunlah ayat diatas.
3. sebagai jawaban dari pertanyaan Rasul
 •                   
“dan tidaklah Kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (Q.s Maryam:64)
Ayat tersebut turun untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan Nabi, sebagaimana diriwayatkan ibn Abbas bahwa Rasulullah bertanya kepada malaikat jibril,”Apa yang menghalangi kehadiranmu, sehingga lebih jarang muncul ketimbang masa-masa sebelumnya?” Maka turunlah ayat diatas.
4. sebagai tanggapan atas pertanyaan yang bersifat umum
Ayat al-qur’an di turunkan untuk memberi petunjuk perihal pertanyaan yang bersifat umum, yang muncul di kalangan sahabat nabi, Contoh:
                         •      
“mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci . apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Q.S Al-baqarah: 222)
Ayat ini turun perihal pertanyaan yang bersifat umum dari kalangan sahabat Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Tsabit dari Anas bahwa dikalangan Yahudi, apabila wanita mereka (istri) sedang haid, mereka tidak makan bersama istri mereka, atau juga tidak tinggal serumah. Para sahabat yang mengetahui masalah itu kemudian bertanya kepada Rasulullah tentang hal ini, maka turunlah ayat diatas.
5. Sebagai teguran kepada Nabi
      
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.” (Q.S ’abasa: 1-2)
Orang buta itu bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia datang kepada Rasulullah s.a.w. meminta ajaran-ajaran tentang Islam, lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan berpaling dari padanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat ini sebagi teguran kepada Rasulullah s.a.w.
C. REDAKSI ASBABUN NUZUL
Redaksi riwayat asbabun nuzul terbagi menjadi dua bagian , yaitu :
1. pasti (shorih)
Bentuk redaksi ini antara lain:
سَبَبُ نُزُوْلِ هذِهِ الآيَةُ كَذَا...
“Sebab turun ayat ini adalah....”
Atau ia menggunakan kata (maka) “fa ta’qibiyah” Setelah ia mengatakan peristiwa tertentu, misalnya:
حَدَثَ هذَا ... فَنَزَلَتِ الآيَةُ ...
“Telah terjadi....Maka turunlah ayat....”
سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ عَنْ كَذَا ... فَنَزَلَتِ الآيَةُ ...
“Rasulullah pernah ditanya tentang....Maka turunlah ayat....”
2. muhtamil (tidak pasti)
نُزِلَتْ هذِهِ الآيَةُ فِى كَذَا ...
“Ayat ini diturunkan berkenaan dengan...”
اَحْسَبُ هذِهِ الآيَةُ نُزِلَتْ فِى كَذَا ...
“Saya kira ayat ini diturunkan berkenaan dengan....”
مَا اَحْسَبُ نَزَلَتْ هذِهِ الآيَةُ إِلَّا فِي كَذَا ...
“Saya kira ayat ini tidak diturunkan, kecuali berkenaan dengan....”
D. KAIDAH-KAIDAH DALAM ASBABUN NUZUL
Asbabbun nuzul adalah peristiwa yang terjadi pada zaman rasulullah, dan oleh karena itu, tidak ada jalan lain untuk mengetahuinya selain berdasarkan periwayatan yang benar (sahih ) dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung turunnya ayat al-qur’an, Maka dari itu kita harus cermat, teliti dan berhati-hati dalam menerima periwayatan yang berkaitan dengan asbabun nuzul.
Cara mengetahui asbabun nuzul dapat menggunakan redaksi yang sharih (pasti atau jelas) yang telah di bahas dalam judul sebelumnya. Sering pula terjadi beberapa riwayat yang berbeda-beda tentang sebab turunnya suatu ayat . Untuk menanggapi hal demikian, para ulama mengemukakan langkah-langkah sebagai berikut;
1. Mengambil riwayat yang sharih/ tegas
Bila ahli tafsir(mufassir) mengemukakan dua riwayat, yang pertama menyebutkan sebab turunnya ayat secara tegas, sedangkan yang kedua tidak. Maka yang diambil sebagai sebab turunnya adalah riwayat yang pertama.
2. Melakukan study selektif (tarjih)
Bila terdapat dua riwayat menungkapkan sebab yang berbeda dari ayat yang sama maka yang di pegang adalah sanadnya yang sahih bukan yang dhaif. Bila kedua sanadnya sama-sama shohih, maka kita harus melakukan penelitian lebih lanjut, sehingga dapat diketahui riwayat yang terkuat diantara keduanya.
3. Melakukan studi kompromi (Jama’)
Langkah ini diambil bila kedua riwayat yang bertentangan itu sama-sama memiliki keshohihan hadits yang sederajat dan tidak mungkin dilakukan tarjih.
E. KEGUNAAN MENGETAHUI ASBABUN NUZUL
Asbab An-Nuzul mempunyai arti penting dalam menafsirkan Al-Qur’an. Al-Wahidi berkata:
لَا يُمْكِنُ مَعْرِفَةُ تَفْسِيْرِ الآيَةِ دُوْنَ الوُقُوْفِ عَلَى قِصَتِّهَا وَبَيَانِ نُزُوْلِهَا
“tidak mungkin menetahui tafsir ayat, jika tidak dilengkapi dengan pengetahuan tentang peristiwa dan penjelasan yang berkaitan dengan diturunkannya suatu ayat.”
Pendapat Ibnu Daqiq Al-‘Ied:
بَيَانُ سَبَبِ النُّزُوْلِ طَرِيْقٌ قَوِيٌّ فِى فَهْمِ مَعَانِى القُرْآنَ
“penjelasan terhadap asbabun nuzul merupakan metode yang kuat untuk memahami makna Al-Qur’an”
Jadi, seseorang tidak dapat mencapai pemahaman yang baik jika tidak memahami riwayat asbabun nuzul.
fungsi mengetahui asbabun nuzul antara lain sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui hikmah dan rahasia dibalik disyariatkannya suatu hukum
seperti penghafusan minuman keras secara bertahap:
  •      •  •      
“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan” (Q.S An-Nahl:67 )
          ••                   
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (Q.S Al-Baqarah:219)
             •                                •    • 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.” (Q.S An-Nisa: 43)
                                     
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Q.S Al-Maidah:90-91)
2. Membantu memberikan kejelasan dalam memahami Al-Qur’an dan menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab turunnya.
Misalnya Urwah bin zubair mengalami kesulitan dalam memahami hukum fardhu sa’i , antara shafa dan marwah.
•                      •    
“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah . Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui.”(Q.S Al-Baqarah: 158)
Urwah bin zubair kesulitan memahami “tidak ada dosa” (لا جناح) didalam ayat ini. Ia lalu menanyakan kepada Aisyah perihal ayat tersebut, lalu Aisyah menjelaskan bahwa peniadaan dosa disitu bukan peniadaan hukum fardhu , peniadaan disitu dimaksudkan sebagai penolakan terhadap keyakinan yang telah mengakar dihati kaum muslimin ketika itu, bahwa melakukan sa’i antara shofa dan marwah termasuk perbuatan jahiliyah. Keyakinan ini di dasarkan atas pandangan bahwa pada masa sebelum islam, dibukit shofa terdapat sebuah patung yang disebut isaf dan dibukit marwah ada sebuah patung yang disebut nailah. Jika melakukan sa’i antara dua bukit itu orang-orang jahiliyah sebelumnya mengusap kedua patung tersabut. Ketika umat islam lahir, patung tersebut dihancurkan, dan sebagian umat islam enggan melakukan sa’i ditempat itu, maka turunlah ayat ini.
3. mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an, jika hukum tersebut dinyatakan dalam bentuk umum.
Ini bagi mereka yang berpendapat Al-Ibrah bil khusus as-sabab la bi ‘umum al-lafzi (yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus, bukan lafaz yang umum). Contoh
 •     •       •        
“janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Q.S Ali Imran: 188)
Diriwayatkan bahwa Marwan berkata kepada penjaga pintunya, “Pergilah, hai rafi’, kepada Ibnu Abbas dan katakan kepadanya, sekiranya setiap orang di antara kita bergembira dengan apa yang telah kita kerjakan dan ingin dipuji dengan perbuatan yang yang belum dikerjakan itu akan disiksa, niscaya kita semua akan disiksa. “Ibnu Abbas berkata: Ayat ini turun berkenaan dengan ahli kitab. Kemudian ia membaca ayat
       • ••              
Lalu Ibnu Abbas melanjutkan ,”rasulullah menanyakan kepada mereka tentang sesuatu, tetapi mereka menyembunyikannya, dengan mengalihkan kepada persoalan lain. Itulah yang mereka tunjukkan kepada beliau. Kemudian mereka pergi, mereka menganggap bahwa mereka telah diberitahukan kepada Rasulullah apa yang ditanyakan kepada mereka. Dengan perbuatan itu mereka ingin dipuji oleh Rasulullah dan mereka bergembira dengan apa yang mereka kerjakan, yaitu menyembunyikan apa yang ditanyakan kepada mereka itu.”
4. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat, serta untuk memantapakn wahyu kedalam hati orang yang mendengarnya.
Hal ini karena berhubungan sebab akibat hukum, peristiwa dan pelaku, masa dan tempat merupakan satu jalinan yang dapat mengikat hati










PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari uraian makalah ini, penulis mengambil suatu kesimpulan
 Asbabun Nuzul adalah suatu kejadian yang menyebabkan (melatar belakangi) turunnya suatu atau beberapa ayat
 Jenis-jenis Asbabun Nuzul:
1. Sebagai tanggapan atas suatu peristiwa
2. Sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan kepada Rasul
3. Sebagai jawaban dari pertanyaan Rasul
4. Sebagai tanggapan atas pertanyaaan yang bersifat umum
5. Sebagai teguran kepada Nabi
 Kata-kata yang menunjukkan Asbabun nuzul seperti:
سَبَبُ نُزُوْلِ هذِهِ الآيَةُ كَذَا...
 Cara mengetahui Asbabun Nuzul:
1. Mengambil riwayat yang shorih (tegas)
2. melakukan studi selektif (tarjih)
3. Melakukan studi kompromi (Jama’)
 Kegunaan Asbabun Nuzul
1. Mengetahui hikmah dan rahasia dibalik disyariatkannya suatu hukum
2. Memberikan kejelasan dalam memahami Al-Qur’an dan menyimhkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab turunnya
3. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an
4. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat
2. Saran
Demikiankah makalah yang dapat penulis susun, penulis sangat menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi membangun perbaikan dan pengembangan. Dan semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan kita dan semoga bermanfaat. Amin
DAFTAR PUSTAKA
0 komentar

ululumul qur'an dan perkembangannya

PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam makalah yang berjudul’’U’LUMUL QUR’AN DAN PERKEMBANGANYA’’ini, kami akan membahas hal-hal yang berhubungan dengan ilmu yang membicarakan Al-Qur’an yang merupakan salah satu mata kuliah jurusan Tafsir Hadist semester satu(1)
Seiring bergantinya zaman,Al-Qur’an merupakan pedoman bagi islam sampai akhir zaman, dan salah satu kitab yag diturunkan kepada Nabi Muhummad saw yang kekal sepanjang massa.Marilah kita mengenal lebih jauh tentang bagaimana ilmu yang bersangkutan dengan Al-Qur’an agar kita lebih mengetahui U’lumul Qur’an, Pokok bahasan dan sejarah Al-Qur’an.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan dari pernyataan diatas, dalam makalah ini penulis mencoba membahas hal-hal yang berkaitan denganya yaitu:
1. Pengertian Ulumul Al-Qur’an
2. Pokok-Pokok Bahasannya
3. Sejarah Perkembannganya










Ulumul Qur’an dan Perkembangannya
1. Pengertian Ulumul Qur’an
A. Pengertian Ulumul Quran secara Bahasa
Kata ulum merupakan bentuk jama dari kata ilmu yang mempunyai arti pengetahuan dan pemahaman ( al-fahm wa al-idrak ) , atau juga bias diartikan sebagai ‘ilmu-ilmu karena kata ilmu sudah menjadi kata baku bahasa Indonesia yang diadopsi dari bahasa Arab.
Sedangkan adapun kata al-Qur’an dari segi bahasa terdapat tiga pendapat :
1. Kata al-Qur’an merupakan isim mashdar dari kata kerja ‘qara’a’, dan searti dengan lafadz al-qira’ah (bacaan) .
Pengertian seperti ini semakna dengan firman Allah SWT :

•       •  

“ Sesungguhanya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al-Qiyamah : 17-18)
Ayat di atas menunjukkan bahwa lafadz ‘quranahu’ searti dengan lafadz ‘qiraatahu’ (membaca). Lafadz ‘quran’ ikut wazan ‘fu’lan’ sebagaimana lafaz ‘ghufran’ .
2. ‘Al-Quran’ merupakan bentuk kata sifat dari kata ‘al-qar u’ yang bermakna ‘al-jam’u’ (kumpulan) karena al-Quran merupakan kumpulan dari inti kitab-kitab terdahulu, bahkan ada yang menyatakan bahwa al-Quran merupakan kumpulan dari semu ilmu .
Sebagaimana isyarat Allah dalam firman-Nya :


…  •      … 

“dan Kami turunkan Kitab (al-Quran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu … “ (QS. an-Nahl : 89)
Dan firman-Nya:
… •      … 

“… tidak ada sesuatu apa pun yang Kami luputkan di dalam aal-Quran …” (QS. Al-An’am : 38)
3. ‘Al-Quran’ merupakan nama tersendiri ( ‘alam syakhsh)’, artinya kata al-Quran bukan merupakan kata bentukan dari kata manapun.
Tetapi dalam hal ini, pendapat yang paling tepat adalah pendapat yang pertama. Sehingga kalau kita gabungkan dari pengertian-pengertian di atas, ulumul quran berarti ilmu-ilmu al-Quran. Frasa ini (ulumul qur an) mengandung dua kemungkinan makna, yaitu : ilmu-ilmu yang bersumber dari al-Qur an, dan ilmu-ilmu yang membicarakan tentang al-Qur an. Dari kedua pengertian ini, pengertian yang kedua (ilmu-ilmu yang membicarakan tentang al-Qur an) merupakan pengertian yang digunakan dalam kajian ini (ulumul qur an). Sedangkan pengertian yang pertama lebih dikenal sebagai isi kandungan al-Qur an, seperti ilmu tauhid/’aqidah, ilmu fiqh, ilmu akhlaq/mu’amalah, ilmu sosial/kemasyarakatan, dan ilmu lainnya.
Ulumul Quran membahas al-Quran dari segala segi yang ada relevansinya dengan al-Quran. Karena itu diberi nama Ulumul Quran dengan bentuk jama’, bukan ilmul Quran dalam bentuk mufrad.

B. Pengertian Ulumul Quran secara Istilah atau Gabungan
Para ulama telah banyak yang merumuskan definisi ulumul quran. Diantara definisi tersebut yaitu :
1. Ulumul Quran menurut az-Zarqani :
“ Pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Quran al-Karim darisegi turunnya, susunannya, penghimpunannya, penulisannya, pembacaannya, tafsirnya, kemukjizatannya, nasikh-mansukhnya, menolak kesangsian-kesangsian darinya, dan lain-lain.”
2. Ulumul Quran menurut al-Qaththan
“ Yang dimaksud dengan ulumul quran ialah ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Quran baik dari segi sebab-sebab turunnya al-Quran, pengumpulan dan susunannya, tentang makkiyah dan madaniyah, nasikh-mansukh,muhkam dan mutasyabbih, dan ilmu-ilmu lainnya yang terkait dengan al-Quran .”
Dari kedua definisi tersebut, dapat diketahui bahwa perbedaannya hanya terletak pada macam-macam ilmu yang dicontohkan sebagai bagian dari ulumul quran. Hanya saja az-Zarqani mencontohkan sembilan macam ilmu sedangkan al-Qaththan hanya mencontohkan enam macam ilmu. Namun dua macam ilmu yang disebutkan al-Qaththan (al-makky wa al-madany dan al-muhkam wa al-mutasyabbih)tidak terdapat pada definisi az-Zarqani. Sehingga, jika diakumulasikan akan terdapat sebelas macam ilmu.
Selain kedua definisi tersebut, masih banyak lagi para ulama ahli ulumul quranyang mengemukakan pendapat tentang definisi ulumul quran. Akan tetapi, kiranya kedua definisi tersebut (menurut az-Zarqani dan al-Qaththan) dipandang cukup memadai untuk memahami definisi ulumul quran.
2. Pokok-Pokok Pembahasan Ulumul Quran
Dari kedua definisi yang telah dikemukakan sebelumnya terlihat ada sebelas macam contoh nama-nama ilmu Quran yang disebutkan, yaitu :

a. Ilmu Nuzul al-Quran, adalah ilmu yang membahas al-Quran dari segi penurunannya, baik menyangkut proses turunya maupun cara penurunanya. Termasuk di dalamnya ilmu asbab an-nuzul adalah ilmu yang membicarakan tentang latar belakang historis turunnya suatu ayat atau beberapa ayat al-Quran.
b. Ilmu Tartib al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang pengumpulan al-Quran, baik dari segi proses pengumpulanya maupun cara-caranya.
c. Ilmu Jam’ al-Quran, adalah ilmu yang membahas tentang pengumpulan al-Quran , baik dari segi proses pengumpulannya maupun cara-caranya.
d. Ilmu Kitabah al-Quran adalah, ilmu yang menceritakan tentang bahsan tata cara penulisan al-Quran.
e. Ilmu Qira’at al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang al-Quran dari segi melafalkannya yang dinisabkan pada nama-nama qiraat termasuk didalamnya ilmu tajwid.
f. Ilmu Tafsir al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang cara menjelaskan dan menguraikan isi kandungan atau makna ayat-ayat al-Quran. Sedekat mungkin sesuai dengan apa yang dimaksud oleh penuturnya (Allah swt). Namun sebatas kemampuan manusia.
g. Ilmu I’jaz al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang keistimewaan al-Quran yang berfungsi sebagai bukti kenabian Muhammd saw.
h. Ilmu an-Nasikh wa al-Mansukh, adalah ilmu yang membicarakan tentang penghapus atau pembatalan hukum yang terkandung dalam suata ayat dan pemberlakuan hukum pada ayat lainya. Hal ini terjadi apabila dua ayat dipandang mengandaung hukum yang kontradiktif.
i. Ilmu Daf’ al-Syubhah, adalah ilmu yang membicarakan tentang cara menolak hujatan yang mencela eksistensi al-Quran, sehingga membuat orang mukmin ragu terhadap kewahyuannya dan otentisitasnya/keasliannya.
j. Ilmu al-Makkiy wa al-Madany, adalah ilmu yang membicarakan tentang klasifikasi ayat-ayat al-Quran berdasarkan tempat turunnya, di Makkah atau di Madainah, dan juga berdasarkan waktu turunnya, sebelum hijrah atau sesudah hijrah.
k. Ilmu al-Muhkam wa al-Mutasyabbih, adalah ilmu yang membicarakan tentang adanya ayat-ayat al-Quran yang jelas dan tagas kandungan maknanya, serta ayat-ayat yang maknanya masih samar, tidak jelas dan menimbulkan multi interpretasi.
Sebenarnya ulumul quran tidak terpatok pada sebelas ilmu tersebut, masih banyak lagi cabang-cabang ulumul quran yang lain. Bahkan al-Qadhi Abu Bakr ibn al-Arabi dalam kitabnya (Qanun at-Ta’wil) menyebutkan ulumul quran itu memiliki cabang sebanyak 77.450 (tujuh puluh ribu empat ratus lima puluh ribu) ilmu .
3. Sejarah Perkembangan Ulumul Quran
A. Masa Nabi Muhmmad SAW
Pada waktu Nabi Muhammad SAW masih hidup, ulumul quran masih belum ada. Sebab pada waktu itu Rasulullah SAW masih hidup sehingga jika terdapat suatu pertanyaan atau permasalahan mengenai al-Quran bisa ditanyakan langsung kepada Rasul kemudian diingat dalam pikiran dan hati para sahabat.
Selain alasan di atas, belum adanya kebutuhan untuk menulis kitab-kitab tentang ulumul quran merupakan alasan di balik belum munculnya ulumul quran pada masa Nabi.
B. Masa Sahabat
Ada beberapa alasan mengapa para sahabat tidak menuliskan segala sesuatunya yang mereka terima dari Nabi Muhammad SAW, yaitu :
1. Para sahabat Nabi memiliki daya hafal dan daya ingat yang tinggi sebagaimana orang Arab pada umumnya. Sehingga apa yang mereka terima dari Nabi mereka simpan dalam ingatan.
2. Sebagian dari sahabat Nabi adalah orang yang buta hurup atau buta aksara.
3. Rasulullah pernah melarang sahabat-sahabatnya untuk menulis yang selain al-Quran. Seperti sabdanya :
“ Janganlah kalian menulis sesuatu tentang diriku selain al-Quran. Barang siapa yang sudah menuliskan selain al-Quran , maka hendaklah ia menghapuskannya. Dan ceritakanlah (sesuatu yang berasal) dariku, maka ia tak berdosa. Namun barang siapa yang mendustakanku secara sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka”
Karena alasan-alasan itulah ulumul quran belum ditulis sebagaimana hadits.
Untuk lebih jelasnya perkembangan ulumul quran pada masa sahabat, pada bagian ini akan dijelaskan sedikit lebiih rinci perkembanga ulumul quran pada masa khulafa ar-Rasyidin :
1. Masa Abu Bakr as-Shiddiq ra dan Umar ibn al-Khaththab ra
Pada masa Abu Bakr as-Shiddiq masih belum ada ulumul quran yang berkembang, hanya saja pada masa Abi Bakr naskah-naskah al-Quran yang ditulis pada sekretaris Nabi SAW dikumpulkan dan disimpan atas saran Umar ra seiring banyaknya para kuttab dan huffadz yang gugur dalam medan perang.
2. Khalifah Utsman bin ‘Affan ra
Pada zaman Khalifah Utsman ra wilayah Islam sudah meluas, bahkan sampai pada bangsa-bangsa yang tidak mengenal bahasa Arab. Karena itu, Khalifah Utsman mulai khawatir al-Quran menjadi rancu (kacau) bila tidak dihimpun dalam sebuah mushhaf. Sehingga naskah yang ada di rumah Hafshah dikeluarkan untuk kemudian ditulis ulang dan disusun kembali.
Dengan upaya seperti itu, Khalifah Utsman telah meletakkan landasan yang kelak kita sebut dengan istilah ilmu rasm al-Quran /rasm al-Utsmany , salah satu cabang ulumul quran.
Penulisan dan pengiriman naskah standar itu atas usul Hudzaifah ibn Yaman yang melihat adanya perseteruan /perselisihan antara penduduk Syam dan Irak dalam hal bacaan al-Quran. Ini pula yang menjadi inspirasi terbentuknya ilmu al-Qiraah yang membahas aliran-aliran dalam melafadzkan al-Quran .
3. Khalifah Ali bin Abi Thalib ra
Sayyidina Ali melihat orang-orang non-Arab melakukan penyimpangan dalam berbahasa Arab hingga tingkat yang mengkhawatirkan. Oleh sebab itu, Khalifah Ali ra memerintahkan Abu al-Aswad ad-Da’uly untuk menyusun suatu metode demi menjaga bahasa al-Quran dari kecacatan. Dengan demikian muncullah ilmu nahwu dan salah satu cabang ulumul quran, yaitu ilmu I’rai al-Quran .
Uraian di atas hanya sejarah singkat lahirnya beberapa cabang ulumul quran. Untuk lebih ringkasnya, berikut ini adalah orang-orang yang berpengaruh dalam lahirnya cabang-cabang ulumul quran :
1. dari golongan sahabat : Khulafau al-Arba’ah, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al- Asy’ary, dan Abdullah bin Zubair;

2. dari golongan tabi’in
a. Murid-muridnya ibnu Abbas di Makkah : Sa’id bin Zubair, Mujahid, Ikrimah, Maula ibnu ‘Abbas, ‘Atha bin abi Rabah,
b. Murid-muridnya Ubay bin Ka’ab di Madinah : Zaid bin Aslam, Abu al-‘Aliyah, dan Muhammad bin Ka’ab.
c. Murid-muridnya Abdullah bin Mas’ud di Irak :Alqamah bin Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, ‘Amir asy-Sya’by, al-Hasan al-Bashry, Qatadah bin Da’amah as-Sadusy.
Mereka banyak meriwayatkan tentang ilmu tafsir, ilmu gharib al-quran, asbab an-nuzul, al-makky wa al-madany, dan an-nasikh wa al-mansukh .
Seiring berjalannya waktu, ulumul quran semakin dibutuhkan sehingga banyak ulama ulumul quran yang menyusun kitab ulumul quran, baik secara keseluruhan maupun secara spesifik. Di bawah ini adalah ulama-ulama yang menyusun kitab dari abad ke abad :
1. Abad Kedua
• Syu’ban ibn al-Hajjaj
• Sufyan ibn ‘Uyainah
• Waki’ ibn al-Jarrah
Mereka adalah penulis-penulis awal di bidang tafsir.
2. Abad ketiga
• Ali bin al-Madiny (w. 234 H ) : tentang asbab an-nuzul
• Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam (w. 224 H) : tentang an-nasikh wa al-mansukh
• Ibn Qutaibah (w. 276 H) : tentang musykil al-Quran
3. Abad keempat
• Muhammad bin Khalaf al-Hufi (w. 309) : pengarang kitab al-Hawy fi ‘ulum al-Quran (merupakan orang pertama yang menggabungkan bebrapa cabang ilmu al-Quran dalam satu kitab)
• Abu Bakr Muhammad bin al-Qasim al-Anbary (w. 328 H) : tentang ulum al-Quran
• Abu Bakr as-Sijistany (w. 330 H) : tentang gharib al-Quran
• M.uhammad bin Ali al-Adfawy (w. 338 H) : tentang al-istighna fi ulum al-Quran
3. Abad kelima hijriyah
• Abu Bakr al-Baqilany (w. 403 H) : tentang I’jazul Quran
• Ali bin Ibrahim ibn Sa’id al-Hufy (w. 430 H) : tentang I’rab al-Quran
• Al-Mawardi (w. 450 H) : tentang imtsal al-Quran
4. Abad keenam hijriyah
• Abu al-Qsim Abdu ar-Rahman as-Sabily : tentang mubham al-Quran
5. Abad ketujuh hijriyah
• Ibn abdu as-Salam (w. 660 H) : tentang majaz al-Quran
• Alamuddin as-Syakhawy (w. 640 H) : tentang ilm al-qiraat
6. Abad kedelapan hijriyah
• Ibn al-Qayyim (w. 751 H) : tentang aqsam al-Quran







4. Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bawa:

1.Al-Qur’an menurut bahasa adalah Qaraa artinya bacaan, menurut sifat adalah kumpuln atau sekumpulan ayat atau suray yang menceritakan tentang kisah nabi perintah dan larangannya,menurut isim alam bukan kata bentukan tetapi isim alam.
Menrut Azzarqani ulumul Qur’an ilmu yang membahas tentang kajian Al-Qur’an,segi turunya,susunan pengumpulanya,penulisan,bacaanya,penafsiran,kemukjizatan,nasikh dan mansukhnya,dan penolakan penyebab ragunya akan adanya Al-Qur’an,menurut Manna’ Khalil Qattan ada enam ilmu saja yaitu:sebab turunya,pengumpulan susunanya,makkah madaniyyahnya,nasikh dan mansukhnya, muhkam mutasyabihnya,dan ilmu lain yang terkait dengan al-Qur’an.

2.Pembahasan Al-Qur’an yang mencakup tentang:
Ilmu nuzul qur’an,ilmu tartib qur’an.ilmu kitabah qur’an,tafsir Qur’an,i’jaz qur’an,nasikh dan mansukhnya,syubhahnya,makkiy dan madaniyyahnya, dan muhkam mutasyabihnya.
Ada dua pengelompokan menuurut sifatnya: ektensial:ilmu yang membicarakan tentang keberadan Al-Qur’an.sedangkan essensial:ilmu yang membicarakan tentang isi kandungan Al-Qur’an
.
3.Membahas tentang sejarah perkembangan Al-Qur’an pada masa nabi Muhammad saw, sahabat Nabi abubakar, Umar, Ustman, dan Ali bin Abi thalib.



5. PENUTUP

Dari uraian diatas maka penulis menyadari bahwa banyak terdapat kesalahan,kekurangan, dikarenakan terbatasnya referensi buku yang kami dapat, untuk itu penulis mohon kritikan dan saran yang sifatnya konstruktif demi kesempurnaan makalah ini.
3 komentar

al-qur'an sebagai sumber ilmu pengetahuan

AL-QURAN SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN AGAMA
1.Pengertian
Al-quran adalah kalamullah yang di turunkan kepada nabi muhamad saw, di jadikan sepagai petunjuk dan pedoman sekaligus sebagai mukjijat dan rahmat bagi seluruh alam.yang di dalamya termuat berbagai asas dan dasar-dasar yang telah di tetapkan oleh allah swt . di lihat dari fungsiya bahwa al quran sebagai pentunjuk yang memuat ilmu ilmu, terutama ilmu tentang agama .
2.Pembagian
sebagai mana yang di katakan oleh Az zarkasi , bahwa al-quran itu memuat tiga dasar pokot ilmu tentang agama yaitu:
a. Tauhid
sebagaimana yang di trangkan rosullah dalam sunahya yang di riwayatkan oleh bukhari bahwa “ seyogyanya yang pertama kau ajarkan adalah tentang ke tauhidan kepada allah, apabila suatu kaum itu sudah paham tentang tauhid maka berikanlah habar bahwa allah perintahkan kepada mereka untuk shalat lima waktu”.
b. Tadzkiir
sebagaimana yang telah allah jelaskan dalam surah Adz-dzariyat ayat 55:
 •    
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”.
c. Al-ahkam




AL-QURAN DAN ILMU PENGETAHUAN UMUM
Al-quran adalah kitab suci yang di jadikan sebagai rahmat untuk segala bidang dan segala aspek. Selain memiliki kekuatan dalam segi kebahasaan dan pemberitaan,al-quran juga memperlihatkan ke istimewaanya melalui ilustrasi-ilustrasi ajaranya yang memberi isyarat ke arah pengembangan pengetahuan dan teknologi. Di antara cabang cabang ilmu yang memperoleh perhatian serius dari al-quran dan terekontruksi secara baik oleh saintis adalah : Fisika , biologi, astronomi, kimia dan geologi.
1.fisika
Al-quran bukan buku ilmu penetahuan dan buku fisika .tetapi al-quran dapat mengungak ilustrasi tentang kehidupan alam yang kemudian di tangkap para ilmuan sebagai isyarat ilmu pengetahuan. Menurut Ahmad baiquni ,bahwa:” al-quran memberikan isyarat bagaimana peroses awal alam ini di ciptakan.”sebagaimana yang Allah isyaratkan dalam al-quran dalam surahal-Anbiya’/21:30:
    •          •      
“ Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?”




Menurut penjelasan allah tersebut, dapat di tafsirkan bahwa terdapat dua kata yaitu al-asma’ adalah gugusan bintang bintang yang berada di luar pelanet bumi,sedangkan dari kata ardh berarti pelanet bumi yang di tempati oleh manusia. Menurut baiquni dari kata kemudian kami pisahkan adalah peristiwa ledakan dasyat yang muncul akibat suhupanas yang di timbulkan karna gesekan gesekanatas atom hidrogen yang memadat ,sesuai dengan analisis adri penelitian ilmu fisika bahwa awal dari kejadian alam ini dari peroses kondensasi hidrogen yang sangat panas,lalu terjadi ledakan yang sangat dasyat yang membuat hamparan-hamparan galaksiyang kemuduan memadat karna suhu dingin. Isyarat keilmuan seperti ini bagi manusia jaman sekarang yang sudah menerima informasi pengetahuan cukup banyak,akan menimbulkan kekaguman yang luar biasa kepada al-quran dan selanjutya akan mempertebal ke imananya kepada sang pencipta yang maha sempurna.
2. Biologi
Salah satu tema penting yang di bahas dalam al-quran, terutama dengan peristiwa reproduksi manusia yang dalam pembahasan ilmu modern termasuk ke dalam ilmu biologi,yang selanjutya sebagai dasar ilmu ke dokteran.
Allah menciptakan manusia dengan bentuk yang sangat sempurna. Allah menyatakan kejadian manusia berawal dari setetes seperma yang membuahi seltelur wanita dalam rahim yang cukup kokoh. Sebagaimana di yatakan dalam surah al-Mukmin ayat 13:
     • 
“ kemudian kami jadikan saripati air mani(yang di simpan)dalam tempat yang kokoh(rahim).”
Setelah memakan beberapa waktu maka jadilah perkembangan yaituperkembangan embiro.sebagaiman di gambarkan dalam al-quran surah al-Mukmin ayat 14:
                      
“kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah , lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging,dan segumpaldaging itu kami jadikan tulang belulang,lalu tulang – belulang itu kami bungkus denagn daging.kemudian kami jadikan dia mahluk yang (berbentuk)lain. Maka maha suci allah pencipta yang paling baik”.
Dari ayat tersebut jelaslah bahwa al-quran sangat memperhatikan tentang sesuatu yang berkaitan dengan ilmu umum,yang telah allah gambarkan tentang penciptaan manusia dari setetes air manjadi bentuk yang sempurna .

3. Astronomi
Adalah salah satu di siplin ilmu yang menekankan pembahasanya pada benda-benda langit.
Peryataan penting allah tentang benda benda ruang angkasa adalah bahwa dia telah menundukan benda benda langit dan benda benda bumi untuk semua umat manusia.peryataan ini di ungkapkan dalam surah al-Jatsiyah ayat 13:
  •         •      
“dan dia telah menundukan apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi (semua rahmat) dari-nya.sesungguhya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir”.
Salah satu fungsi dan kegunaan dari gugusan bintang di rung angkasa sebagaimana di ungkapkan dalam alquran yaitu sebagai petunjukbagi kehidupan manusia di muka bumi . salah satu kegunaanya di gunakan oleh sebagian nelayan dan petani.
Penelitian dalam bidang ilmu perbintangan, menurut Maruice Bacuaille , seharusnya tidak berhenti setelah di temukanya bintang bintang tersebut sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia d muka bumi, tapi juga harus menyikapi secara positifdengn melitah ruang angkasa sebagai nalur (alam) yang dapat di manfaatkandengan baik untuk kehidupan manusia.

4. Kimia
Ilmu kimia merupakan ilmu yang teknis dan merupakan ilmu yang terapan.pencampuran kimiawi merupakan sunatullah,hukum allah untuk kehidupan alam semesta. Sebagi mana yang di isyaratkan oleh al-quran dalan surah al-Anbiya’ ayat 30 :
    •          •      
"Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?”
Contoh nyata saat awal ada pecahan bumi, di pelanet ini tidak ada kehidupan,karna suhunya yang sangat panas . lalu terjadi peroses kondensasi sehingga ada yang memadat menjadi permukaan bumi dan di antaranya ada yang tertarik dengan kuatnya cahaya matahari sehingga menonjol ke atas dan terjadilah gunung gunung. Ketika peroses kondensasi inilah terbentuk unsur unsur bumi yaitu:
a.metan
b.amonia
c.H 2 ( hidrogen)
d.O2 ( oksigen)
Interaksi antar unsur hidrohen dan oksigen inilah yangmenimbulkan air. Oleh sebab itu dalan ilmu kimia air di lambangkan dengan simbol H2O .
Dalam air ini yang di bantu sinar Matahari dan kilatan listrik dari halilintar , terjadi awal kehidupan dengan timbulnya jasad hidup dalam air, antara lain asam amino, yang kemudian menjadi mahluk hidup yang bersel satu,dan terus berkembang sehingga muncul binatang darat sampai terjadi mahluk mahluk karna terjadi perubahan perubahan dan kode genetik pada keromosom keromosom induk .
5. Geologi
Diantara yang mendapat perhatian khusus dari al-quran dalam kajian geologi adalah tentang gunung,yang merupakan bagian penting dalam keseimbangan gerak dalam alam semesta . al-quran menyatakan secara ekplisit bahwa gunung adalah sebagai pasak bumi sebagai mana firman nya dalam surah an-Naba’ ayat 6-7
       
“Bukankah kami telah jadikan bumi sebagi hamparan dan gunung gunung sebagai pasak”.
Pernyataan tersebut dapat di jelaskan lebih lanjutoleh ilmu geologi, bahwa di bawah lapisan kerak bumi terdapat lapisan lithosfir ( pada batas kedalaman70 km di bawah samudra dan 100-150km di bawah permikaan benua)berpa lempengan lempengan kers yang mengapung di atas astonosfer plastis, dan bergerak secara bebas.
Al-quran menjelaskan bahwa gunung adalah pasak bumi, karna mampu memerankan fungsinya sebagai penjaga keseimbang posisi benua saat lempengan penopangnya berbenturan dalam lapisan lithosfir, daidak menimbulkan benturan dalam benua tetapi lapisan benua tersebut menjadi menonjol ke dorong ke atas dan lebih tinggi dari permikaun bumi yang lainya . rumusan teori goelogi ini di temukan pada abadke 19, atau kira-kira 13 abad setelah al- quran di turunkan.
6. Ilmu kesehatan
Sehat merupakan setiap kebutuhan manusia di seluruh zan .salah satu yang menjadi perhatian serius Al- quran adalah pembinaan budaya hidup sehat melalui penbinaan tradisi hidup bersih . salah satu cara yang Al – quran ajarkan adalah dengan berwudlu. Sebagaiman yang tercantum dalam surat al maidah ayat 6:
                                                                
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”
[403] Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.
[404] Artinya: menyentuh. menurut jumhur Ialah: menyentuh sedang sebagian mufassirin Ialah: menyetubuhi.
Di samping melakukan pembinaan tradisi hidup berssih dalam menjag ke sehatan fisik ,Al- quran juga memerintahkan untuk membiasakan berpakaiyan bersih pula, baik ketika menghadap ke pada-nya sebagai mana yang tercantum dalam surah al maidah ayat 31:
                          • 
“ kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya[410]. berkata Qabil: "Aduhai celaka Aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" karena itu jadilah Dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.”

[410] Dipahami dari ayat ini bahwa manusia banyak pula mengambil pelajaran dari alam dan jangan segan-segan mengambil pelajaran dari yang lebih rendah tingkatan pengetahuannya.
maupun dalam berinteraksi dengan manusiasebagaimana yang tercantum dalam surah :
  
“Dan pakaianmu bersihkanlah,”
Setelah terjaganya kesehatan fisik dan pakaian maka Al-quran memerintahkan dengan menjaga kesehatan dari dalam dan dari luar.
7. Ilmu pertanian
Allah menyatakan bahwa hamparan bumi merupakan lahan potensial untuk di jadikan lahan peroduktif oleh manusia , melalui penanaman tumbuhan yang di butuhkan untuk kepentingan hidup seluruh mahlukya terutama manusia.




AL-QUR’AN DAN TEORI ILMU PENGETAHUAN

Al-quran dan teori ilmu penetahuan apabila di kaitkan akan menimbulkan ketakjuban yang tak terhingga . contohnya:
a.langit dan bumi dahulunya satu
Dalam surat al -An-biyaa’ ayat 30, al-qurqn menegaskan bahwa pada mulanya antara langit dan bumi adalah satu :
    •          •      
“ dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?”
Teori Big Bang mengatakan : Bahwa alam semesta itu dulunya satu.kemudian akhirnya terpecah seperti sekarang ini.
a. Segala sesuatau di ciptakan berpasangan
Sebagaimana firman allah dalam surah yasiin ayat 36:
             
“ maha suci tuhan yang telah menciptakan pasangan pasangan semuanya baik dari apa yang di tumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa apa yang mereka tidak ketahui.”
Ilmuan inggris , Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi di ciptakan secara berpasangan. Penemuan ini yang disebut “parite” mengatakan materi berpasangan bersama lawan jenisnya contohnya:
Anti- Materi memiliki sifat sifat yang berlawanan dengan Materi.elektron anti-materi bermuatan positifdan perotonya bermuatan negatif, dan sebaliknya .

b. Gunung yang bergerak
Al-quran ayat 88 surah al-Ra’d:
      •        
“ dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang Menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan".
Seorang ilmuan jerman yang bernama Alfred wegener mengemukakan bahw a benua-benua pada permukaan bumi menyatupada masa masa awal bumi, namun bergeser ke arah yang berbeda beda sehingga terpisah saat mereka bergerak saling menjauh.
c. Langit yang mengembang
Dalam al-quran , yang di turunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang,mengenembangya alam semesta di gambarkan sebagai berikut:
     
“ dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan kamidan sesungguhnya kami benar- benar meluaskannya.”(Q.S./51:47)
Sejak terjadinya peristiwa big beng,alam semesta telah mengembang secar terus menerus dengan ke cepatan maha dasyat. Para ilmuan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang di tiup.
Pada awal abad ke 20 fisikawan rusia, alexanderfriedmann,dan ahli kosmologi belgia,Geogre Lamaitre secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senan tiasa berkembang dan bergerak.


















KESIMPULAN DAN PENUTUP

Dari semua penjelasan di atas dapat kami simpulkan bahwasannya al-quran bukan hannya sebagai kitab suci tapi merupakan sumber dari semua bidang disiplin ilmu. Baik dari segi agama ,umum , maupun teori-teori yang berkembang pada kalangan ilmuan. Dengan semua kejadian yang terjadi pada alam semesta pada hakekatnya telah tertera dalam al-quran ,baik zaman yang sudah lalu maupun zaman yang akan datang.semoga penjelasan di atas dapat menambah keyakinan dan kekaguman terhadap al-quran yang di jadikan sebagai petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam.
Alhamdulilah kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dari semua kekurangan dan kesalahan ,semoga dapat menjadikan kita lebih memahami dan mengerti semua yang allah sampaikan dalam al-quran al karim.
 
;