Pages

Selasa, 14 Januari 2014

Mathlabul Ulum; Antara Tren Tradisionalisme dan Tren Modernisme



Oleh: Muhammad Rasyidi
        Transformasi model pendidikan dan pengajaran yang kian marak dewasa ini, dari model yang dianggap hanya sebatas pendidikan dan pola pengajaran yang stagnan dan monoton, tapi adapula model-model yang dianggap mempunyai kontribusi besar terhadap pertumbuhan peserta didik sehingga dengannya, peserta didik atau murid menjadi anak yang lebih produktif dibandingkan dengan mengaplikasikan model pembelajaran yang monoton, biasanya model pembelajaran yang produktif tadi, digunakan di sebuah lembaga yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya, seperti lembaga-lembaga yang bertaraf nasional maupun internasional.
Dalam sebuah tulisan yang mungkin sangat sederhana ini, penulis akan sedikit mengupas dan menghidangkan kepada para pembaca yang budiman, sebuah model pembelajaran yang sangat, sangat dan sangat tradisional sehingga mungkin model pembelajaran ini banyak dihiraukan dan didiskreditkan oleh kebanyakan pendidik. Model pembelajaran ini biasanya banyak diterapkan pada lembaga-lembaga kaum sarungan, kaum peci hitam tapi juga tak ketinggalan, yakni di pesantren-pesantren yang notabene peserta didiknya para penggiat sarung dan peci hitam, yakni sebuah model klasik tapi tak ketinggalan dengan apa yang berkembang di era modern.
Dalam tulisan sederhana ini, penulis kerucutkan sedikit model pendidikan ini yang diterapkan pada sebuah lembaga yang sangat sederhana, dan berada di tempat terpencil namun bisa menjadikan peserta didiknya mengetahui mana yang hak dan mana yang bathil, yaitu Pondok Pesantren Mathlabul Ulum Jambu Lenteng Sumenep Madura.
Dan juga, penulis akan menghidangkan bagaimana pola kehidupan dan kebersamaan dalam penjara suci yang lahir dari pola pengajaran klasik tapi menghasilkan kaum sarungan yang berkualitas dan menghasilkan peserta didik atau santri yang multi fungsi dan multi talenta.
Hikmah di balik petuah “huruf alif” di sini sama dengan huruf “alif” di Madinah”.
            Adalah Pondok Pesantren Mathlabul Ulum yang berada di sebuah desa yang bernama Jambu kec. Lenteng Timur, dimana pesantren ini dengan ketabahan dan kesabaran serta ke-tafaqquh fiddin-nya KH. Taufiqqurrahman Fathul Mu’in mendirikan dan merintis pesantren yang tetap teguh dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan tetap berafiliasi pada Nahdhatul Ulama’. Mengapa tidak, seorang KH. Taufiqqurrahman FM yang menjadi tokoh panutan di masyarakat khususnya masyarakat sumenep, ketua dewan Syuro NU Cab. Sumenep selalu disandang oleh kiyai yang notabene berlatar belakang dari keluarga NU ini.
            Ada sebuah kisah yang lucu dan penulis tertatih-tatih saat mendengarkan cerita dari pak kiyai sewaktu penulis menuntut ilmu di sana, dimana kisah ini melatar belakangi berdiri tegaknya Pondok Pesantren Mathlabul Ulum yang kebanyakan santrinya mengetahui akan kisah ini, dimana, sewaktu setelah KH. Taufiqurrahman lulus dari almamaternya Darussalam di Gontor Ponorogo, beliau berkeinginan untuk melanjutkan studinya ke sebuah Universitas di Madinah. Dan sebelum beliau melanjutkan studinya beliau bercerita kepada kedua orang tuanya akan keinginannya tersebut. Kesedihan dan rasa prihatin menghampiri kedua orang tua beliau, dikarenakan kadua orang tua KH. Taufiqurrahman tidak mempunyai banyak biaya untuk membiayai anaknya yang berkeinginan melanjutkan studinya ke Madinah tersebut. Dengan ketabahan dan rasa tanggung jawab sebagai orang tua, akhirnya orang tua KH. Taufiqurrahman menjual sebidang tanah guna membiyai anaknya (tanah yang dijual oleh orang tua beliau yang sekarang dibangun kantor POLSEK Bluto).
            Saat sebelum berangkat ke Madinah, KH. Taufiqurrahman FM, berniat ingin meminta restu dan do’a ke salah satu kiyai besar, panutan masarakat Madura, yaitu KH. Asnawi (ghafarallahu dzunubahu), agar dalam menuntut ilmu di sana senantiasa mendapat ridho Allah sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat. Sesampai di kediaman KH. Asnawi, Kiyai Taufiq mencurahkan keinginannya dan menceritakan kepada Kiyai Panutan Madura tersebut dengan sangat santun dan penuh tatakrama, akan tetapi keinginan kiyai taufiq muda yang diceritakan kepada beliau (kiyai Asnawi) seakan berbalik arah, seakan harapan dan keinginnanya hilang sekejap mata setelah kiyai Asnawi mengatakan (adebu) dengan santainya “mau ngapain jauh2 nuntut ilmu ke Madinah, huruf “alif” di sini sama dengan huruf “alif” di Madinah”.
            Setelah mendengar wejangan dari kiyai Asnawi, kiyai Taufiq muda hanya terdiam tanpa aksara, hatinya terasa gundah gulana bak orang yang lagi dilema asmara, dimana dia harus memilih antara meneruskan keinginannya studi ke Madinah dan mematuhi apa yang telah di katakan oleh Kiyai Asnawi –red-.
            Namun setelah bertafakkur secara matang dengan kesabaran dan ketabahan serta rasa ta’dzim kepada kiya-kiyai yang ada di Madura. kiyai Taufiq muda memilih untuk tetap pada garis penghormatan terhadap apa yang telah dikatakan oleh kiyai Asnawi tadi, yakni tetap berada di Madura untuk menuntut ilmu.
            Ternyata benar, petuah-petuah yang disampaikan oleh Kiyai Asnawi ini banyak mengandung hikmah. Secara garis besar ada dua hikmah apabila diamati dari petuah kiyai Asnawi ini. Pertama, dibalik petuah yang disampaikan oleh kiyai Asnawi ternyata ada modus (dalam bahasa remaja sekarang) yaitu; kiyai Asnawi mungkin melihat sosok kiyai Taufiq muda ini terdapat rasa tanggung jawab besar dalam dirinya, sehingga tak lama kemudian kiyai Taufiq muda diminta untuk menjadi pemimpin bagi putri kiyai Asnawi yaitu Nyai Ulfah Umamiyah (putri kiyai Asnawi Imam). Kedua, setelah menikah dengan putri kiyai Asnawi, terdapat hikmah besar yang mungkin menjadi torehan tinta bagi perjalanan hidup kiyai Taufiq muda ini, yaitu; mendirikan Pondok Pesantren yang diberi nama “Mathlabul Ulum” yang awalnya hanya sebuah lembaga pendidikan diniyah (sekolah sore).
            Dua hikmah inilah, yang mungkin tak bisa ditukar dengan keinginan kiyai Taufiq muda melanjutkan studi ke Madinah dengan petuah sederhana kiyai Asnawi “alif” di sini sama dengan “alif” di Madinah”.
Antara Tren Tradisionalisme Dan Tren Modernisme
            Seperti yang telah penulis sebutkan di atas bahwa, model pembelajaran yang dianut oleh kaum sarungan dan kaum penggiat peci hitam ini tidak terkesan apatis terhadap tren-tren klasik yang telah mengakar menjadi tradisi, dan juga tidak kalah saing dengan tren modernisme yang marak dewasa ini. Dengan kurikulumnya, Mathlabul Ulum ini telah menjembatani antara khazanah keilmuan ukhrawi (agama) dan khazanah keilmuan duniawi (umum). Pondok pesantren Mathlabul Ulum ini tidak hanya berkutat pada khazanah keilmuan agama saja yang notabene benyak diterapkan di pesantren-pesantren di tanah Jawa, akan tetapi pondok sederhana ini juga menerapkan dan mengajarkan pelajaran-pelajaran umum, sehingga para santri sekalipun bertahun-tahun berada di penjara suci, mereka juga tidak ketinggalan dengan apa yang berkembang di luar pesantren.
            Terbukti dengan mata pelajaran yang di terapkan di Ma’hadul Mu’allimin al-Islamie (MMI), di sana ada berbagai mata pelajaran yang harus dipelajari oleh santri, sehingga para santri dapat menyandang santri yang multi fungsi dan multi talenta. Tak ada yang namanya jurusan IPA dan tak ada yang namanya jurusan IPS, di MMI ini semuanya serba ada, mulai dari pelajarang yang bernuansa agamis dan pelajaran yang umum, sehingga para santri dapat memilah dan memilih mana yang akan ia tekuni dan mana yang ia senangi.
            Begitu pula dengan kehidupan para santri yang ada di penjara suci ini, sekalipun kurikulum yang diterapkan di pesantren ini adalah kurikulum modern, tapi para santri tetap gegap gempita dengan sarung dan peci hitam kebanggaannya, kebersamaan dan kekeluargaan serta kesederhanaan selalu melekat dalam pribadi setiap santri, tak kenal dengan namanya yang kaya dan yang miskin, kesetaraan dan kesejajaran itulah yang selalu mereka anut dalam berkehidupan sehari-hari. Berpenampilan rapih dan bersih serta berjalan dengan tegap seakan menjadi hal aksiomatik (Qhat’iyah) dalam pesantren ini, tradisi klasik seperti tahlilan, diba’an juga merupakan kegiatan rutinitas yang dilakukan oleh santri setiap malam jum’at, akan tetapi mereka juga tidak ketinggalan bagaimana mereka belajar retorika baik retorika berbahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Maka dengan seperti ini para santri benar-benar telah merasakan bagaimana benarnya adagium “al-Muhafadzatu ‘ala Qodimi as-Sholih wa al-Akhdu bilJadidil ashlah” (menjaga tradisi yang lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).
            Inilah pola kehidupan seorang santri ala Mathlabul Ulum Islamic Boarding School. Bangga dengan tradisi lamanya yang baik, tapi tak lupa dengan tradisi baru yang lebih baik. Harapan penulis semoga pesantren ini tetap konsisten pada jalan yang telah lama diterapkan dan tak goyah dengan model pendidikan yang diaplikasikan di pesantren-pesantren lainnya. Tetap jadi diri sendiri dan mandiri agar menghasilkan santri yang multifungsi.
Wassalam, semoga bermanfaat…….!!

Kamis, 26 Desember 2013

DEKONSTRUKSI WACANA “MADESU”



DEKONSTRUKSI WACANA “MADESU”
Oleh: Muhammad Rasyidi
            Terasa bising mungkin telinga seorang mahasiswa bila niat lurusnya dari kampung ke Jakarta hanya ingin menuntut ilmu dan sesampai di Jakarta tiba-tiba mendengar kata “MADESU” alias Masa Depan Suram, kata ini secara tidak langsung akan meneteskan secercah pesimisme pada diri mahasiswa itu sendiri dan akan menghilangkan jati diri seorang mahasiswa, karena dengan kata tersebut akan mematahkan semangat seorang mahasiswa apabila Jurusan yang sudah ia pilih ternyata mengalami “status Quo”. Dalam tulisan sederhana ini penulis akan menanam sedikit demi sedikit benih-benih optimisme dan membangkitkan gairah mahasiswa Tafsir Hadis Khususnya dan mahasiswa Ushuluddin pada umumnya, agar mereka tetap merasa bangga pada jalan ia pilih.
Quo Vadis Jurusan Tafsir Hadis
            Tafsir Hadis adalah sebuah jurusan yang biasanya berada pada kampus-kampus Islam di bawah naungan Fakultas Ushuluddin. Namun jurusan ini seakan mengalami krisis trust baik dari kalangan pemerintah maupun dari kalangan masyarakat, karena jurusan ini memang sedikit mempunyai peluang kerja baik di sekolah-sekolah atau di instansi manapun, padahal jurusan ini juga mempunyai hak otoritas untuk mengajar pelajaran yang berbasis agama di sekolah-sekolah Islam dan dari segi keilmuanpun mungkin jurusan Tafsir Hadis juga tak kalah saing dengan Jurusan-Jurusan lain yang berbasis agama, karena jurusan ini memang concern pada bidan kajian khazanah klasik dan ilmu-ilmu keagamaan.
            Namun ini semua hanya sebatas tiupan angin yang menyapa dengan kecepatannya sehingga tak terlihat oleh mata. Mahasiswa Tafsir Hadis selalu dipandang sebelah mata oleh pemerintah sehingga tak heran dan tak bisa dipungkiri bila seorang mahasiswa yang hendak mendaftarkan dirinya di kampus-kampus Islam selalu mencantumkan jurusan Tafsir Hadis ini pada pilihan kedua.  
            Memang inilah nasib kita. Jangankan menyediakan lapangan kerja bagi alumni Tafsir Hadis, masalah gelar saja  sampai saat ini tak pernah menemukan titik temu, antara satu kampus dengan kampus yang lainnya gelarnyapun berbeda, di UIN Sunan Ampel dan UIN Alauddin Makasar misalnya dari tahun 2012 kemaren sudah menggunakan gelar S. Ud (Sarjana Ushuluddin) dan di Kampus UNSIQ Wonosobo juga berbeda, mereka menggunakan gelar SQ (Sarjana al-Qur’an), sedangkan di kampus kita ini masih tetap merasa gagah dengan gelar S. Th. I (Sarjana Theologi Islam), entah hal ini apakah ada rekomendasi khusus dari pemerintah terkait perbedaan gelar ini atau hanya sebatas testing belaka.
            Belakangan ini juga muncul isu tentang pemisahan jurusan antara Tafsir dan Hadis. Masalah ini juga telihat tidak serempak dan tidak kompak, antara kampus satu dengan yang lainnya sudah ada jurusan yang dipisah antara Tafsir dan Hadis dan adapula kampus yang masih tetap merasa nikmat dengan jurusan Tafsir Hadisnya. Di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dari Tahun ajaran baru kemarin sudah dipisah antara Tafsir dan Hadis sedangkan di kampus kita ini masih tetap duduk manis menikmati jurusan Tafsir Hadis.
            Penulis merasa bertanya-tanya akan hal ini semua. Apa kontribusi pemerintah khususnya Kementrian Agama kepada jurusan Tafsir Hadis ini, sehingga selalu mengotak atik gelar maupun jurusan yang sudah setengah baya ini??
            Mungkin itulah sebagian masalah yang melanda jurusan Tafsir Hadis yang sampai saat ini juga belum kunjung selesai, baik masalah yang terkait dengan gelar ataupun pemisahan antara jurusan Tafsir dan jurusan Hadis. Kemanakah jurusan ini akan dibawa oleh pemerintah yang terpenting adalah tanggung jawab seorang mahasiswa tetap tertanam kuat dalam dirinya.
Anda tersesat di Jalan Yang Benar
            “anda tersesat di jalan yang benar”. Terinspirasi dari kata ini, rasanya pantas apabila pepatah ini dilontarkan kepada segenap civitas akademika Jurusan tafsir Hadis, dimana mungkin mayoritas Mahasiswa yang masuk di Jurusan Tafsir Hadis secara terpaksa dan juga mungkin mayoritas mahasiswa yang diterima di Jurusan ini adalah pilihannya yang kedua. Mereka-merekalah yang tersesat bagai orang yang masuk hutan  dan merasa kebingungan karena tidak ada jalan lain yang harus ia lewati kecuali hutan itu, dengan secara terpaksa orang tersebut tetap melewati hutan itu.
            Akan tetapi, janganlah anda merasa pesimis sekalipun anda telah tersesat, di ujung hutan belantara sana ada panorama indah yang akan anda dapati dan tak pernah anda lihat sebelumnya, sehingga bila anda menatapnya seakan anda terpana diam tanpa kata. Mengapa tidak, jurusan Tafsir Hadis ini adalah jurusan yang multifungsi dan mahasiswanyapun multi talenta, terbukti sekalipun jurusan yang sudah setengah baya selalu didiskreditkan oleh pemerintah, para alumninya telah melalang buana ke berbagai instansi-instansi negeri maupun swasta, baik para alumni yang duduk manis di gedung Megah Senayan sana (DPR) atau pengamat-pengamat politik, dan bahkan di kementrianpun alumni Tafsir Hadis selalu mencicipinya.
            Prof. Dr Nazaruddin Umar, M. A selaku wakil Mentri Agama dan guru besar Fakultas Ushuluddin, beliau terlahir dari benih jurusan Tafsir Hadis, begitu juga dengan Prof. Dr Said Agil Munawwar, M. A yang juga sebagai Guru besar Fakultas Ushuluddin pernah mendapat jatah sebagai Mentri Agama dulu. Di ranah politik misalnya, adalah Afifuddin S. Th. I alumni Tafsir Hadis yang sekarang mengabdi di Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan pemimpin Ormas-Ormas Islam juga banyak yang terlahir dari Rahim Jurusan Tafsir Hadis atau dari Fakultas Ushuluddin ini, seperti Dr. Din Syamsudin yang sekarang masih tetap memimpin Ormas Islam Muhammadiyah, dan masih banyak lagi alumni-alumni Tafsir Hadis yang sukses di luar sana.
            Namun hal ini semua akan menimbulkan tanda Tanya besar, kenapa Jurusan yang selalu didiskreditkan oleh pemerintah ini, para Alumninya banyak yang menjadi orang-orang besar?. Semua ini tidak lepas dari tanggung jawab seorang mahasiswa yang sudah penulis sebutkan di atas. Seorang mahasiswa harus tetap teguh pendirian, tetap mengeratkan kepalan tangannya dan jangan pernah berfikir setelah lulus anda mau kemana. Buku dan menulis harus tetap selalu menjadi santapan utamanya dan juga kebiasaan diskusi harus selalu tetap menjadi agenda rutinitasnya. Itulah tugas dan tanggung jawab seorang mahasiswa yang harus selalu terpatri dalam dirinya.
Dekonstruksi Wacana “MADESU”
            Para tokoh besar penggerak bangsa made in Tafsir Hadis di atas tadi, apabila kita amati memang ada beberapa alumni setelah lulus kemudian bekerja ada yang tidak linier dengan jurusan yang diambil sewaktu kuliah dulu. Maka dari itu, meminjam Bahasa abang Iwan Fals dalam salah satu iklan kopi “Bongkar Kebiasaan Lama” artinya, yang semula kita apatis dengan kebiasaan membaca, diskusi, menulis. Hal ini harus dibongkar besar-besaran, harus diputar balik menjadi 180 derajat, harus bertaubat dan kembali kepada kebiasaan yang benar, agar para mahasiswa yang tersesat tadi, benar-benar menemukan panorama yang tak sekedar fatamorgana, agar menjadi mahasiswa aktif bukan mahasiswa pasif, agar wacana Masa Depan Suram menjadi Masa Depan Sukses.
            Masa depan mahasiswa di jurusan manapun, itu berada pada diri mereka sendiri, tangan-tangan merekalah yang menetukan masa depan mereka masing-masing, mahasiswa mempunyai hak otoritas masing-masing terhadap masa depan mereka sendiri. Bagaimana dan seperti apa mahasiswa tersebut menggapai masa depannya itu tergantung dari kinerja dan aktifitasnya selama menjadi mahasiswa. Jika yang ia kerjakan hanya sebatas canda, tawa, nangkring alias nongkrong, atau futsal (olahraga) yang berlebihan, dan lain sebagainya, maka yang akan ia dapat tak akan melebihi dari itu. Akan tetapi, masa depan suram akan berputar dan berbalik arah, bila seorang mahasiswa selalu bertanggung jawab terhadap masa depannya sendiri dengan mengerjakan hal-hal yang positif dan bermanfaat serta mengaplikasikan apa yang telah ia dapat selama dibangku kuliah.
            Maka dari itu, tepaplah semangat, tetaplah bergerak karena diam itu mati, tetaplah melangkah di jalan yang benar. Katakan anda tidak pernah kenal dan tidak pernah berjumpa dengan yang namanya “Masa Depan Suram”………!!!. 
Sekian terima kasih……

Sabtu, 14 Desember 2013

SEPOTONG SURGA DI “KAMPUNG PERGERAKAN”



            Nak….!! setelah lulus nanti kamu kuliahnya di STAIN Kediri aja yah, ibu dan bapak khawatir terjadi apa-apa kalau evi kuliahnya jauh-jauh
Begitu tutur orang tua evi saat kedua orang tuanya mengirim Evi di Pondok Pesantren Darul Muttaqien, di penjara suci tempat Evi menuntut ilmu.
            Evipun yang saat itu sudah kelas akhir di Pesantrennya merasa kebingungan setelah mendengar nasehat mulia dari orang tuanya tersebut, bak orang yang disuguhi jamu dan susu dan merasa kebinguangan yang manakah yang akan dia minum, sebab dia sudah mempunyai tekak kuat untuk melanjutkan studinya ke salah satu universitas favoritnya, dengan kegemarannya akan ilmu-ilmu agama yaitu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayaatullah Jakarta.
            Hari demi haripun ia lewati dengan penuh semangat di Penjara suci, agar ia bisa cepat lulus dan bisa lulus dengan hasil yang memuaskan. Ujian akhirpun sudah di depan mata dan Evi jarang keluar kamar, karena ia harus fokus untuk mempersiapkan ujian akhirnya.
            Alhamdulillah berkat kesemangatannya iapun lulus dengan predikat “mumtaz” di pesantrennya. Dengan wajah berseri ia pulang ke rumahnya dan memberikan kabar gembira kepada kedua orang tuanya, karena ia telah lulus dengan predikat mumtaz.
            Kebingungan dan kegalauan telah melandanya yang sedang dilema, dimana, ia merasa takut dikatakan tidak taat kepada orang tua, karena dia disuruh orang tuanya untuk kuliah di dekat rumahnya, sedang ia sangat ingin melanjutkan studinya di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta seperti kakak kelasnya yang juga kuliah di sana.
            Dengan keberaniannya, ia mencoba menghampiri ibunya dan menceritakan keinginan yang ia simpan di dalam lubuk hatinya.
            Evi       : ibu…..
            Ibu       : iya nak, Evi sudah shalat…??
            Evi       : Alhamdulillah sudah ibu
            Ibu       : oh… syukurlah kalau begitu nak…
            Dengan rasa tegang, Evi menghela nafas dalam-dalam dan mengucapkan bismillah dalam hatinya agar curahan hatinya bisa diterima oleh ibunya. 
            Evi       : ibu, evi boleh cerita gak….??
            Ibu       : silahkan nak, mau cerita apa…??
            Evi       : ibu… ada kakak kelas Evi dia orangnya pinter waktu di pondok dulu, sekarang dia sudah kuliah.
            Ibu       : kuliah dimana nak…??
            Evi       : sekarang dia sudah semester tiga kuliah di Jakarta ibu, dia sangat aktif di organisasi dan juga sering keluar daerah untuk mengikuti acara-acara penting yang diakan di luar kampusnya.
            Ibu       : oh… gitu, Evi juga harus lebih dari anak itu. Carilah ilmu kemana yang Evi mau, agar kelak nanti bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat, Nusa dan bangsa.
            Evi       : iya ibu, dengan doa’ dan restu ibu, Evi akan berusaha dengan seluruh kemampuan Evi, agar bisa menjadi seperti apa yang ibu ucapkan tadi. Dengan segala ta’dzim dan memohon restu ibu, Rasanya Evi juga ingin melanjutkan studi ke sana.
            Ibu       : tadi malam, ibu sempat membicarakan masalah itu sama bapakmu nak, dan bapak juga bilang, terserah Evi mau melanjutkan studinya kemana aja, asalkan Evi bisa menjaga diri baik-baik dan selalu ingat usaha orang tua di sini yang susah payah mencari nafkah untuk biaya kuliah Evi.
            Dengan rasa lega dan tenang Evipun bersyukur dan langsung memeluk ibunya, tak terasa cucuran air matapu jatuh dari matanya.
            Tepat seminggu setelah Evi meminta restu kepada ibunya, iya berangkat ke Jakarta untuk menuntut ilmu di Universitas dambaannya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan Evipun Alhamdulillah diterima di Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin.
            Awal perkuliahan, ia terpana tanpa sekalipun kedipan mata saat melihat sekelompok mahasiswa yang berjalan sambil bercanda ria kemudian duduk bersama sambil berdiskusi, dan di sana terpampang sebuah banner berukuran kecil yang bertuliskan “Masa Perkenalan Anggota Baru (MAPABA) PMII KOMFUSPERTUM” dengan tema yang mereka tulis pada banner tersebut “Menanamkan jiwa Nasionalis, Religius dan Idealis” dengan dihiasi gambar sosok Gusdur, dimana Gusdur memang tokoh dambaan dan tokoh favorit Evi sewaktu ia di Pesantren dulu.
Kemudian Evi melanjutkan lambaian tangannya ke lantai 3 untuk mengikuti perkuliahan. Sesampai di kelas, evi masih teringat dengan sekelompok orang yang sedang berkumpul dan sambil berdiskusi tadi, Evipun kurang konsentrasi mendengarkan penjelasan mata kuliah yang diterangkan oleh dosen, karena dalam fikirannya masih terngiang gambar sosok Gusdur seperti apa yang sudah ia lihat di banner sebelum ia masuk kelas tadi.
Setelah mengalami kegelisahan dan rasa penasaran, Evi menanyakan kepada sekelompok orang yang sedang berkumpul tadi setelah ia keluar kelas. Namun ada seorang lelaki yang terlihat antusias untuk menyambut Evi dan semangat untuk menjawab pertanyaan Evi tersebut, dengan tebar pesona seakan lelaki itu ingin mendekatinya, Evipun bertanya kepada lelaki itu.
Evi       : kak…!! Mau Tanya nih, Ini ada acara apa yah…??
Kakak  : oh iya dek silahkan duduk, ini ada acara pelatihan untuk mahasiswa baru. Kita ini adalah anggota oraganisasi yang bernama PMII, adek kalau mau ikut silahkan daftar aja.
Evi       : oh iya kak, Boleh…boleh….. Evi daftar yah….!! Gratis gak?
Kakak  : untuk pelatihan ini dikenakan Rp. 15. 000, dengan fasilitas penginapan selama 3 hari, makan, serta sertifikat dan transportasi. Pelatihannya Dari tanggal 19-21 September bertempat di Bogor Puncak dek….
Evi       : oh iya kak Evi daftar. Makasih ya kak, yaudah Evi Pulang dulu. Assalamualaikum…
Kakak  : iya dek sama-sama, Waalaikumsalam, semangat yah….!!
Setelah ia bertanya dan mendaftar acara yang tercantum pada bener tadi, iya merasa lega dan merasa gembira sekali, karena dengan ia daftar di organisasi yang tadi ia ikuti akan menjadi langkah awal bagi Evi, untuk menyalurkan apa yang ia dapat selama di pesantren dulu dan menggali ilmu serta pengalaman yang terdapat di PMII.
Hari demi hari ia lewati, dengan segala aktifitasnya satu persatu Evi mulai kenal dengan teman-teman sesama mahasiswa baru, saling bercanda ria dengan teman barunya, serta saling silaaturrahmi ke kosan teman-temannya. Namun hal itu semua tak terasa ternyata esok harinya adalah tanggal 19, dimana Evi harus mengikuti acara MAPABA yang sudah ia daftar dari jauh-jauh hari. Dengan itu Evi bersiap-siap dan mengkemas semua barang-barangnya untuk bekal ganti baju saat MAPABA nanti.
Gemuruh angin, seramnya langit, seketika itu tampaknya akan turun hujan, namun hal itu tak mengurangi tekad bulat yang sudah Evi Genggam, iapun tetap melangkahkan kakinya ke Bestmen Fakultas Ushuluddin tempat seluruh peserta MAPABA berkumpul sebelum berangkat. Ke puncak tempat MAPABA akan dilaksanakan.
Sesaat Evi sampai di Bestment Ushuluddin, ia melihat banyak dari teman-temannya yang juga ikut acara tersebut, Evipun menghampirinya dan menyalami teman-teman barunya yang ia kenal. Kemudian semuan teman-temannya mulai menaruh barang bawaannya ke dalam mobil TNI yang mentereng dan berjejer di depan Fakultas Ushuluddin seakan ingin pergi ke medan perang melawan tentara FBI, dan satu pesatu semua peserta MAPABA menaiki mobil seksi tersebut, setelah semua peserta telah menaiki mobil para peserta mulai berangkat menuju lokasi acara.
Sesampai di lokasi MAPABA Evi serasa terpana dengan bertengadah melihat keindahan Puncak Bogor yang mengingatkan dia di kampung halamannya. Semilirnya angin dan sejuknya cuaca membuatnya semakin beresemangat untuk mengikuti acara MAPABA tersebut.
Dengan kesederhanaan dan kebersamaan seakan semua peserta MAPABA adalah keluarga Evi sendiri. Dengan kertas yang digelar sepanjang lapangan hanya digunakan sebagai alas makan. Campuran kerupuk emas dan kritingnya mie instan membuatnya merasakan benarnya adagium al-barokatu ma’al jama’ah”. Evi merasa terharu dan merasa mempunyai amanah besar yang ia emban dari Mbah Khasyim Asy’ari untuk membesarkan Nahdhatul Ulama yang beliau dirikan.
Di lokasi MAPABA ada hal yang membuat Evi tersenyum dan bertanya. Karena di antara salah satu seniornya ada yang benar-benar mirip dengan artis sekaligus penyanyi yang ia favoritkan yaitu Judika. Wajahnya memang mirip, hanya badannya yang mungkin perlu ditarik agar agak lebih tinggi sedikit. Evi selalu tersenyum saat ia melihat kakak seniornya tersebut yang mungkin mirip Judika “KW2”. Tapi, senyuman dan rasa penasarannya seakan berkurang dan tergantikan dengan rasa kaget setelah Evi mengetahui bahwa orang yang selalu ia senyumi diam-diam ternyata adalah Presidennya sendiri, yaitu Presiden BEMJ Tafsir Hadis.
Kebersamaan, kekeluargaan dan kekompakan seakan tergantikan dengan kesedihan, karena acara MAPABA sudah tinggal hitungan jarum jam lagi. Penutupan MAPABApun sudah dilaksanakan. Semua peserta berada di ruangan untuk mengikuti acara penutupan. Dan satu hal lagi yang membuat Evi terharu, dimana, saat lantunan keindahan Mars PMII dinyanyikan dengan seksama, seakan ruh KH. Khasyim Asy’ari benar-benar merasuk dalam jiwa Evi dan seakan ruh KH. Khasyim sedang melihat antusias anak-anaknya. Sungguh merdunya lagu itu, sungguh syahdunya lagu itu. Saat mendengarkannya sambil mengenang bagaimana perjuangan ulama-ulama Nahdhiyyin dulu memperjuangkan berdiri dan tegaknya bendera Nahdhatul Ulama’.
Setelah penutupan, semua peserta mengemas barang-barangnya dan membawanya ke dalam mobil. Dan setelah semua berada di dalam mobil beranjaklah mobil eksotis itu ke kota perjuangan yakni Ciputat alaihissalam.
Kesedihan yang melanda Evi saat meninggkalkan teman-temannya, ternyata hal itu semua hanya sekejab saja. Evi berprasangka bahwa teman-temannya akan berpisah dan tidak akan berkumpul lagi. Ternyata prasangka itu hanyalah sekejap melintas di benak Evi. Saat di ciputatpun peserta dan panitia serta para senior selalu berkumpul. Ziarah bersama ke luar batang, jalan bersama dengan kuda besi yang berjejer bak orang yang lagi konvoi kampanye CAPRES, denga bendera kuning sangsaka PMII yang selalu dibawa kemanapun Evi jelan bersama dengan temannya di PMII KOMFUSPERTUM. Makanpun juga masih ala MAPABA. Evi merasa tak bosan makan kerupuk emas dengan kritingnya mie Instan, semua itu terasa nikmat di dahaga. Ngecrek bersama, tahlilan setiap malam jum’at serta diba’an, saling membantu antar teman yang lagi terkena musibah, takziyah bersama ke rumah temannya yang lagi terkena musibah, silaturrahmi ke komisariat fakultas lain dengan mendatangi lokasi MAPABA yang dari komisariat lainnya.
Semua hal itu Evi rasakan dengan sangat gembira dan bangga menjadi kader PMII, kekhawatiran dan ketakutan tak pernah melintas dalam dirinya, karena sekalipun ia adalah perempuan Evi merasa banyak teman yang selalu melindunginya dan menganggap Evi seperti keluarganya sendiri, begitu juga sama halnya yang dirasakan dengan teman perempuan Evi lainnya.
Evi merasa ada bingkisan khusus yang sengaja dipaketkan oleh pos dari surga, karena semua yang ia rasakan adalah kesemangatan hidup, kebersamaan serta kekeluargaan. Dan bingkisan itu telah Evi dapatkan dan telah Evi genggam di sebuah kampung sederhana namu bisa membuat orang terpana, kampung para pejuang namun bisa membuat orang menjadi tercengang, yaitu di KAMPUNG PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)….

Sekian terima kasih……